Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 43 : Anda Terlalu Kasar Sekarang!



“Anda merindukan saya?” ucap Tremy tiba-tiba datang tepat di depan Amora.


“Tremy! Itu kamu?” helaan napas Amora melihat siapa di depannya. Dalam tatapan semu Amora memegangi wajah Tremy. “Ini sungguh kamu? Saya pikir tidak bisa melihat mu lagi.”


“Kebetulan bukan? Keluarga saya di undang oleh Tuan Duke, saya di minta oleh ibu saya untuk melihat Anda, mengejutkan Anda tidak ada di pesta saya mendengar jika Anda di kurung oleh Tuan Duke dan ternyata ini tempatnya,” jelas Panjang Tremy.


Tidak seperti biasa Amora mendengarkan Tremy dengan seksama. Dirinya yang selalu terlihat ceria bisa sediam ini. “Saya seperti orang mati Tremy,” celetuk Amora. “Saya ingin pergi,” lanjutnya.


“Anda bisa memintanya, kenapa tidak mengirimkan Airy pada saya?”


“Kamu tidak tau Tremy, saya sudah melakukan itu dan kaka hampir membunuh Airy banyak hal yang terjadi.”


“Jika Anda mau Anda bisa pergi, saya akan membantu,” ucap Tremy.


Sebuah hal baik seperti akan datang pada Amora. Tremy berbisik akan rencannya, mata Amora melebar seketika. Perasaan ragu mulai timbul di sana. Jika Amora pergi kemungkinan jika dia bisa hidup lebih lama, tapi bagaimana dengan Chandler ataupun orang lain di mansion duke. Sebuah hal yang buruk jika nantinya Diana memberikan hal buruk di mansionnya.


Sebelumnya dirinyalah yang membuat mansion aman dari Diana. “Saya tak bisa,” ucap Amora.


“Sungguh? Amora, Anda kadang harus mementingkan diri Anda sendiri. Tak bisakah Anda lihat?! Anda di kurung di sini,” ucap Tremy dengan perasaan cemas dan sedikit marah.


Tremy tidak bisa mengerti cara pikir Amora, dialah yang menjadi korban tapi masih memikirkan orang lain. “Ayah mempercayakan mansion ini bukan, kamu bahkan tau jika dia mengorbankan dirinya. Bagaimana dengan saya?”


“Anda bisa pergi kapan pun Anda mau, saya ak-“


“Dia tidak akan pergi kemanapun, Tuan Schwaz.”


Suara menggema dalam kamar Amora. Suara berat itu membuat keduannya sama-sama melihat ke arahnya. Chandler dengan Barier tepat berdiri di depan pintu kamar. Tatapan marah Chandler tidak bisa di sembunyikan lagi.


Tangan Amora gemetar, dengan perasaan gugup dia memegangi tangan Tremy. Tremy yang sadar akan situasainya membuat dia menatap Chandler untuk mengalihkan pandangannya pada Amora.


“Bukankah hal yang tidak sopan Tuan Schwaz? Anda masuk ke kamar seorang bangsawan muda bahkan yang lebih tinggi dari mu,” ucap Chandler penuh dengan tekanan.


Langkah kaki mereka maju, Chandler melihat tangan Amora yang memegangi tangan Tremy. Perasaan marahnya semakin terlihat, bahkan menampilkan wajah tak suka. “Lepaskan, dan silahkan pergi saya masih sopan di sini,” lanjut Chandler.


“Maaf atas ketidak sopanan saya, saya dengar nona muda Thedelso sakit jadi saya berpikir untuk melihatnya.”


“Kabar buruk macam ap aitu, dia hanya butuh istirahat.”


“Jika begitu kenapa Anda malah mengurungnya saat ini? Bukankah ini adalah hari yang Bahagia, Nona Amora bahkan sudah mempersiapkan hadiah yang sangat luar biasa,” timpal Tremy.


Sebuah panah dengan sistem pelontar, hanya menggunakan satu pelatuk seperti senapan. Sebuah benda yang modern saat itu, bahkan para pembuat senjata belum ada yang memikirkannya. Awal jenius itu berasal dari Amora sebagai hadiah kedewasaan Chandler awalnya. Akan tetapi, semuanya berubah saat kutukan Diana mulai menyebar pada Thedelso.


“Kamu memikirkan apa, Amora,” suara berat itu membuyarkan pikiran Amora. Bayangan akan kematian Duke Thedelso tepat di depan matanya karena dirinya.


“Apakah saat saya pergi, kakak bisa Bahagia seperti apa yang kaka inginkan?” kalimat yang Amora ucapkan setelah beberapa lama terdiam.


Semuanya terkejut mendengar itu, termasuk Chandler. Matanya membulat, aura marah malah semkain Nampak pada Chandler. Lehernya menegang menahan amarah dengan senyuman yang dia paksakan.


“Kamu siapa berani mengucapkan hal seperti itu, apakah viscount rendahan ini yang mengajak mu?!” teriakan Chandler langsung mengambil tangan Amora dan menggenggamnya kuat. “Andaikan ayah ku tidak membawa mu kemari, maka dia akan hidup sampai sekarang. Jika mau mau pergilah, tanpa sadar kamu hanyalah pembawa sial,” lanjutnya.


Spontan Chandler pergi tanpa ucapan apapun lagi. Semuanya terdiam, menatap kepergian Chandler yang sudah menjauh. “Amora, tolong kamu jangan pikirkan Amora Tuan Duke ha-“


“Hanya butuh waktu sebentar untuk pengalihan kekuasaan yang sangat mendadak jadi kakak butuh waktu untuk menangani itu,” selaan ucapan Amora. Kalimat itulah yang biasanya Barier katakana untuk membela Chandler di hadapannya. Barier seperti tidak bisa berkata. Dirinya tersengang dengan reaksi Amora.


Di tambah dengan senyuman Amora membuat Barier semakin tercengang. “Saya tau Barier, terimakasih untuk selalu mengingatkan saya,” lanjutnya.


“Saya akan menyusul Tuan Duke untuk meminta maaf pada Anda,” jawab Barier yang pergi dari kamar Amora.


Lagi-lagi, hanya Terisa dua orang. Tremy dengan Amora yang masih sama-sama terdiam. Cengkraman tangan Chandler masih terasa nyeri bagi Amora, dia mengusapnya perlahan terlihat seperti memar di lengan.


“Anda akan pergi?” tanya Tremy menggenggam bagian lengan yang memar lantas menyembuhkannya.


“Nanti ada hal yang perlu saya lakukan,” jawab Amora datar.


Lain hal dengan dengan Tremy dan Amora yang mulai merencanakan untuk kabur, Barier fokus untuk mengejar Chandler. Tepat ada di kamar Amora sebelumnya, Chandler membuka kemari kecil di sebelah ranjang. Terlihat jelas sebuah senjata dengan ukiran yang cantik, begitu juga sangat antic. Belum ada senjata seperti itu, sebuah hadiah mewah yang Amora untuk kakaknya. Awalnya sepertu, hingga sebuah kutukan.


Seperti ungkapan beberapa pelayan jika senjata itu bersinar saat di pegang Amora. Saat itu juga Amora terlihat berbeda dengan sentaja yang berubah. Kematian akan Duke Thedelso tidak bisa di pungkiri jika berita kutukan senjata itu.


Barier yang dating secara terburu, melihat Chandler yang masih diam menatap senjata itu.


“Bukankah Anda terlalu kasar pada Nona Amora? Saya tau Anda ingin bersandiwara, tapi tidak sekejam tadi. Anda sungguh kelewatan,” ucap Barier langsung.


“Ini sangat cantik, penuh kasih sayang saya piker yang terlihat itu bukan kutukan melainkan keajaiban dari sebuah kasih sayang,” jawab Chandler yang jauh dari pertanyaan yang Barier layangkan.


Barrier sadar jika Chandler masih di dunianya sendiri, banyangan yang dia ciptakan. Tidak akan mendegar apa yang dia tanyakana. Seketika Barier duduk di sofa yang ada di sana, melihat Chandler yang masih berdiri di tempat yang sama. Sesaat kemudian tatapan Chandler beralih pada Barier.


“Selamat dating Kembali,” ujar Barier sebagai ejekan.


“Sepertinya kamu tau benar tau saya Barier,” ucap Chandler sembari duduk di hadapan Brier. Senyuman simpul antara keduanya.


“Tolong jangan bercanda, saya menghabiskan masa remaja saya untuk Anda,” jawab Barier menampakan wajah sombongnya. “Jadi Tuan Duke Thedelso, adik Anda mungkin akan pergi sekarang lalu apa yang akan kamu lakukan?!”