
"Nona Duke mengirimkan saya kesana karena percaya akan kemampuan saya, dia mengirim saya ke sana untuk menjauhkan saya jika suatu saat nanti terjadi penyerangan pada mansion ini lagi," jelas Amelia.
"Tetap saja, saya harap Anda berhati-hati di sana. Nona Schwarz," balas Barier menatap Amelia dengan tulis.
Kedua mata mereka saling bertemu. Senyuman simpul bahagia tidak bisa Amelia sembunyikan lagi, bahkan Barier juga membalas dengan hal yang sama. Kekehan Amelia memecah perasaan hening mereka dengan angin dingin yang mengibaskan rambut panjang Amelia ataupun Barier.
"Tentu saja, saya akan berhati-hati," jawab Amelia.
Di antara mereka yang masih berbicara, dari kejauhan Amora tengah melihat mereka dengan perasaan berbunga. Amora sadar jika keduanya memiliki perasaan saat Barier menceritakan apa yang terjadi saat di Akademi. Amora juga mendengarkan cerita Tremy yang secara tidak sengaja mengkonfirmasi jika mereka sama-sama memiliki perasaan.
"Ah... Hubungan yang serasi," ucap Amora melihat keduanya.
Pipi Amora terlihat dengan jelas memerah bahkan jika hanya melihat keduanya.
"Itu aneh, mereka yang memiliki hubungan tapi kamu yang malu?" ucap Ernest yang bersandar di bahunya.
"Dasar, hewan tua seperti kamu tidak akan mengerti percintaan anak masa muda," balas Airy yang berada di tangan Amora.
Kekehan singkat Amora dengan keduanya, melihat Ernest yang mulai nyaman di badannya. Lain hal dengan Airy, dia benar-benar seperti anak kecil. Dia malah iri dengan Ernest yang sebelumnya di elus oleh Amora dan sekarang dia ingin merasakannya.
"Ingat ya Amora, kamu tidak boleh lebih dekat dengan si tua ini daripada aku!" ucap Airy sembari mengusapkan kepalanya pada badan Amora.
"Kamu masih terlalu dini Airy! Bahkan kamu tidak sadar apa yang terjadi," balas Ernest mulai kesal dengan ucapan Airy.
"Aku tidak peduli."
"Dasar-" Ernest yang sebelumnya ingin mengeluarkan api birunya pada Airy seketika di hentikan oleh Amora. Dia menutup mulut Ernest.
"Kamu juga Ernest, astaga harusnya kamu lebih bijak," ucap Amora.
Wajah ejekan terlihat jelas dari wajah Airy pada Ernest. Ernest juga sama merasa kesal pada Airy, tapi seperti yang Amora katakan umurnya jauh dari Airy harusnya dia lebih bisa bijak.
Sesaat helaan napas terlihat jelas dari Ernest, sia mengusapkan kepalanya kepada Amora untuk mengejek Airy juga. "Jadi Nona Amora, kenapa kamu mengirim Nona Viscount itu ke hutan perbatasan?" tanya Ernest membuka kembali pembicaraan mereka.
Tatapan Amora tepat lurus ke arah Amelia dan Barier yang masih di sana. Raut wajah Amora yang memerah kini berbalik serius.
"Harusnya aku sudah meninggal sekarang, tapi ini belum. Daripada aku menyerah sekarang, lebih baik aku mengantisipasi apa yang akan terjadi agar orang yang aku sayang juga tidak meninggal," jelas Amelia.
Semuanya terdiam, mereka paham dengan apa yang di ucapkan oleh Amora. Airy dan Ernest tetap saja mereka peka terhadap keadaan. Dua hewan sihir ini yang tau jika Amora sekarang adalah pengarang dari cerita ini. Harusnya dia paham apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saat aku mengirimkan Amelia ke perbatasan, aku juga meminta Tremy untuk pergi. Setidaknya orang-orang di sana merasa jika mereka di anggap di tanah Duke," ujar Amora sembari berjalan ke kamarnya.
Amora melihat sekitar dengan para pelayan yang sudah nampak berbeda. Mereka merasa senang kehadiran hewan sihir ternyata berguna bagi mereka, khususnya bulu-bulu halus untuk menjadi jaket penghangat.
"Amora selanjutnya apa?" tanya Ernest membuka kembali pembicaraan antar mereka.
"Ya, mencegah pertarungan antara Tremy dan pihak Kekaisaran," jawab Amora.
"Diamlah atau kamu akan menjadi seperti ini," ujar Ernest menujukan abu dari bulu Airy.
"Ih, jahat sekali. Oh ya aku lupa, kamu kan memang terlahir jahat. Apalagi dalam cerita sebelumnya kamu mendukung Diana," balas Airy masih menggoda Ernest.
Ernest sudah tidak tahan dengan ucapan Airy. Dia lantas ikut terbang dengan dengan mengeluarkan api birunya. Tanpa pikir panjang Airy juga berubah menjadi burung Phoenix yang memerah legam. Dengan sekali kibasan api merah dari sayap Airy terlintas di atasnya.
"Lemah!" ejek Airy dengan senyuman nya.
"Dasar tidak sopan!" teriakan Ernest juga membalas Airy.
Keduanya saling terbang di lorong hingga ke taman. Amora cukup terkejut dengan apa yang terjadi, meskipun dia tau mereka tidak akan saling menyakiti satu sama lain.
"Ernest! Airy!" teriak Amora mencoba untuk memenangkan mereka berdua.
Seperti mereka tidak bisa di ganggu untuk sementara, bahkan Amora. Dia melihat keduanya yang masih sibuk dalam urusannya. Ernest yang sudah merasa puas untuk di ejek, bahkan Airy yang terus mengejek Ernest.
Keduanya saling beradu hingga seekor elang merah datang menghampiri mereka. Elang merah itu adalah hewan sihir milik Chandler, dengan sigap membawanya dalam cengkramannya. Membawa Airy tepat langsung ke tanah.
"ERNEST!" teriak Airy meminta tolong dengan wajah paniknya. "Ernest... Ernest, tolong aku~" suara Airy gemetar seperti meminta tolong tepat saat mereka sudah ada di tanah.
Dengan kibasan perlahan Ernest mulai turun dari sana. Melihat Airy yang masih terdiam dalam cengkraman kaki Elang merah.
"Kamu tidak takut padaku, tapi pada sua takut? Padahal aku lebih kuat daripada hewan sihir itu," balas Ernest dengan ejekan. Terlihat Ernest yang mengejek Airy dan tidak ada niatan untuk membantunya.
"Kalian membuat Nona Amora khawatir, saya di perintahkan tuan untuk membereskan kalian," balas Elang merah itu. Sesaat dia membuka paruhnya berniat untuk memakan Airy.
"WHA!!! AMORA!!!"
Seketika paruh itu terhenti tepat di kepala Airy. Dengan senyuman di barengi dengan kekehan Ernest.
"Hanya becanda," ucapnya.
"Dia itu penakut," ucap Ernest menimpali.
Airy sadar jika dia telah di bodohi oleh kedua hewan sihir itu. Sesaat cengkraman kaki tersebut. Tatapan marah Airy langsung terbang menuju Amora.
"Lihat mereka, mereka sengaja," bisik Airy mengadu.
Amora melihat Ernest dan hewan sihir milik kakaknya itu. Dia melihat Elang Merah milik Chandler menundukkan kepalanya. Wajah kagum Amora melihat etika hewan sihir itu membuat Amora merasa minder akan tingkah laku Airy ataupun Ernest.
"Valkyrie, kamu benar-benar sopan ya," ucap Amora sembari mengusap kepala Valkyrie.
Valkyrie, itu adalah nama yang di berikan Chandler untuk hewan peliharaan nya itu. Sosok penjaga yang menjadi lambang bagi daerah kekuasaan Duke.
"Saya pikir kamu akan terganggu tadi, maaf malah Valkyrie sedikit bermain."