Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 6 : Kedekatan yang Tak Wajar.



Sejak pesta minum teh itu, entah kenapa Amora dan Chandler malah semakin dekat. Itu membuat Amora tambah tidak senang. Dia takut akan terjadi sesuatu padanya, apalagi jika dia dekat dengan Chandler otomatis dia akan dekat dengan kematiannya juga.


Sehari setelah kepergian ayahnya, Amora hanya duduk diam di perpustakaan. Membaca beberapa buku dengan tenang, padahal pikiran Amora terlalu penuh karena memikirkan Duke Thedelso yang belum pulang.


"Kamu mencemaskan sesuatu?" ucap seseorang tengah tepukan di punggungnya. Itu adalah Chandler, lantas membuat Amora sedikit diam.


"Kakak, tidak ada Amora tengah membaca buku," jelas Amora sembari membuka lembar berikutnya di buku itu.


"Kamu tengah membaca buku? Tapi kenapa kamu memikirkan hal lain Amora?" ucapan Chandler dengan keintiman yang dia lakukan. Mendekatkan dahinya pada Amora, lantas mengusap bibirnya perlahan.


Amora cepat membuat jarak antara mereka, dengan muka memerah dia tak bisa berkata-kata. "Apa yang kakak lakukan!" teriak Amora cemas dengan apa yang di lakukan Chandler. "Saya hanya ingin memeriksa apakah kamu akan baik-baik saja, pasalnya kamu merenung bukan membaca. Lihat, sekarang wajahmu memerah," Ujar Chandler dengan penuh alasannya.


"Ja-jangan sentuh, astaga kak Chandler!"


"Amora, kamu membenci saya?"


Amora terdiam, begitu juga dengan Chandler. Dia tak bermaksud untuk mengatakan hal kasar, apalagi membuat Chandler merasa dihenci. Di sisi lain, Amora juga tak ingin terlalu dekat dengan Chandler apalagi sampai menyukainya.


"Amora belum pernah seperti itu dengan laki-laki, di sini," ucap Amora perlan menunjukkan dahinya tempat dimana Chandler tadi meletakkan dahinya juga. Membuat mereka dekat seperti akan berciuman. "Dan di sini, bibir Amora belum pernah di sentuh," lanjutnya.


Chandler hanya diam, menatap Amora yang masih meringkuk menatap ke bawah malu. Kekehan pelan mulai Chandler lakukan, lantas memeluk Amora. "Jadi ini pertama kalinya kamu di perlakuan seperti wanita?" tanya Chandler.


"TIDAK-! Mama selalu memperlakukan ku seperti wanita!" teriak Amora mencoba untuk melepaskan.


"Baik, lalu kenapa kamu bilang ini adalah pertama kalinya kamu di sentuh laki-laki? Padahal papa selalu melakukannya."


"Papa itu papa Mora."


"Bagaimana dengan saya, sudah saya bilang saya adalah kakak kamu Amora."


Sedikit perasaan kecewa membuat Amora diam menundukkan kepalanya. Chanyeol benar-benar menganggap Amora hanya anak kecil yang entah darimana datang sebagai adiknya. Di sisi lain sebelum cerita di mulai mungkin kehidupan mereka seperti ini. Entah hingga Chandler pulang dari Akademi dan tau tentang kematian Duke Thedelso.


"Kakak...." panggil Amora pelan.


"Hm?"


"Apakah jika nanti Amora di tuduh membunuh, kakak akan percaya?" tanya Amora pelan. Dirinya tak tau bagaimana harus mengungkapkan. Jujur dia ingin menyayangi Chandler juga sama dia menyayangi Duke Thedelso. Hanya saja, Amora merasa takut jika kematiannya benar ada lantas itu membuatnya tambah sakit karena di bunuh oleh orang yang di sayang.


"Apa? Amora kamu mengatakan apa?!" kalimat Chandler membuat Amora langsung terbangun.


Dia tersenyum pada Chandler lantas memeluknya. "Tidak ada, Amora hanya mencemaskan ayah, kenapa ayah belum pulang juga? padahal jarak antara Istana dengan mansion tidak jauh," jelas Amora mengganti topik.


Tentu dia tak bisa ingat dengan jelas, karena dia juga tak menjelaskan bagaimana kematian Duke Thedelso. Hanya saja kereta kuda yang dia tunggangi rodanya kendur, membuat dia terjatuh.


"Ayah biasa untuk menginap di istana. Yang Mulia jarang menanggil ayah kecuali dia ada benar-benar hal penting, jadi ayah akan di sana untuk beberapa waktu bahkan minggu," jelas Chandler.


Amora hanya menganggukkan kepalanya paham. Lantas dia mulai membaca beberapa buku. Beberapa tulisan dan huruf di ajarkan oleh Chandler bahkan bahasa kuno dari kerajaan.


Yang Mulia Thenne adalah ayah dari Theodor. Dia merupakan raja yang adil, dan selalu apapun untuk rakyat. Dia juga sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra, bahkan sekarang kerajaan mulai mengembangkan sihir bagi mereka. Thenne sadar jika kekuatannya kurang, meskipun dia berhasil mempertahankan kerajaan, tapi Thenne tak bisa diam. Oleh sebab itu dia mulai membagi ilmunya kepada Thedelso, teman akrabnya. Apalagi tentang bahasa kuno, tempat dimana hanya bangsawan tinggi yang tau.


"Nona Amora, Tuan Thedelso sudah kembali," ucapanya Emma. Amora yang semula duduk diam, lantas beralih dari tempat duduknya. Dia mulai berjalan cepat, meninggalkan Chandler begitu saja.


"Amora!" panggil Chandler dengan sedikit nada tinggi.


"Hm?"


"Tunggu, Bagaimanapun juga kamu adalah bangsawan sekarang. Kamu harus menjaga etika, meskipun belum di beri guru etika setidaknya kamu harus memiliki dasar-dasar," ucap Chandler lalu mendatangi Amora. Dia mulai melipat tangannya, dimana mengarahkan Amora untuk menggandeng nya. "Setelah ini jalan dengan perlahan, jika kamu kesusahan angkat sedikit tapi uangan terlalu tinggi. Badan kamunuuga harus tegap, karena kamu adalah bangsawan. Mari, kita sambut ayah bersama."



...Cr. Pinterest...


Amora dan Chandler tepat menuju gerbang. Mereka menyambut hangat Duke Thedelso yang telah datang. "Kalian?!" ucapan terkejut Duke Thedelso melihat Amora dan Chandler.


Selain melihat mereka berdua yang terlihat akrab, Amora juga terlihat tenang. Tidak seperti biasanya yang selalu berlari bahkan memeluknya. Mungkin lebih terlihat seperti bangsawan kecil menurut Duke Thedelso.


"AYAH-!" kenyataan itu tak bertahan lama, saat Amora berlari kencang dan langsung memeluk Duke Thedelso.


"Saya telah mencoba," Ucap Chandler sembari membungkukkan badannya. "Saya senang ayah kembali dengan selamat, padahal hanya di tinggal satu hari tapi Amora selalu mencemaskan ayah," ucap Chandler melihat Amora yang masih memeluk Duke Thedelso kuat.


"Kamu takut Amora?" tanya Duke Thedelso setelah mendengar ucapan Chandler.


"Amora pikir ayah lari," jawabnya singkat.


Beberapa saat kemudian, Amora mulai melepaskan pelukannya. Di susul Duke yang mengusap kepala Amora, lantas mengusap kepala Chandler. "Saya senang kalian akrab dalam waktu yang singkat," jelas Duke Thedelso dengan senyuman di wajahnya.


"Ayah tampan!"


Semuanya terdiam saat Amora mengatakan hal itu. Kekehan pelan justru Duke Thedelso lakukan, apalagi dengan pujian dari Amora. "Terimakasih sayang."


"Bagaimana dengan saya?!" ucap Chandler tak ingin kalah.


"Kakak juga tampan, kak Barier juga tampan, Tuan Edelweis juga tampan, semuanya tampan!"


Pujuan itu membuat Chandler sedikit tidak puas. Pasalnya, dia ingin agar hanya dirinya yang berbeda. Ternyata, yang Amora maksud adalah semuanya.


"Hahaha... Baiklah, kemari. Yang Mulia mengajak kalian untuk pergi ke kuil suci, katanya ada Sanit seusia kalian, pergilah dan minta berkat untuk keselamatan kalian," ucap Duke Thedelso mengecup pipi Amora.


Dalam batin Amora bergejolak, jika itu adalah sanit yang di maksud, bisa saja dia adalah Diana. Amora terlalu gugup untuk tau, bahkan saat di kecup dia tak merasakannya. "Bagaimana dengan papa?" tanya Amora kebingungan.


"Papa itu sudah kuat, tenang saja."


"Amora masih takut, bagaimana jika papa juga meninggalkan Amora."


"Maka ada saya, Amora tak perlu takut."