Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 11 : Awal Mula Perang Besar.



"AMORA!!!"


Teriakan itu seketika membuat Amora jatuh. Dirinya kembali ke bentuk semula, pingsan dan jatuh dalam kegelapan. Dalam silir dia merasakan sebuah perasaan hangat. Dengan sedikit titik cahaya yang membuatnya membuka mata.


"Amora?" panggil lembut seorang wanita.


Amora melihat dengan jelas sosok itu, Amora yang nyata. Visual dari novel yang dia buat sebelumya. "Amora, sedikit saja bantulah saya. Saya tak ingin meninggal," ucapnya kembali.


Bibir Amora terbuka, dia merasa bersalah dengan derita yang dia ciptakan oleh tokoh dalam novelnya. "Maaf, saat saya di sini saya merasakan bagaimana kehidupan mu yang berat itu karena alur yang saya buat," jelas Amora.


Seketika dia merasakan kepalanya di usap, merasakan sebuah kehangatan dalam pelukan.


"Tak masalah, sekarang kamu di sini kamu bisa merubahnya. Aneh bukan? Kita memiliki nama yang sama tapi garis takdir yang berbeda," ucapnya.


"Saya memiliki garis takdir yang di tulis oleh Dewa, Tuhan, atau semacamnya. Sedangkan kamu di garis takdir mu di tulis oleh manusia biasa, saya hanyalah manusia. Yang saya pikirkan bagaimana perkembangan plot yang membuat banyak orang tertarik, tidak memikirkan kebahagiaan tokoh yang saya tulis."


"Menurut saya tidak, kamu adalah dewanya Amora. Saya selalu berdoa, saya percaya padamu. Jika nanti saya meninggal, sang dewa akan menggantikan dengan yang lebih baik."


"Bagaimana jika saya tambah merusak?"


"Saya pikir tidak, karena kamu yang menulis ceritanya. Saya percaya padamu, Amora."


Perlahan cahaya itu kembali menjadi redup. Semula Amora dapat melihat visual dari novelnya, sekarang kembali ke semula. Perlahan suara-suara yang dia keluarkan juga menjadi syahdu, lembut, lirih, lantas menghilang. Di gantikan dengan tangisan dan teriakan dari seorang yang dia kenal.


"Amora! Kamu sudah bangun, Amora... Saya benar-benar mengkhawatirkan mu. Maaf, maaf jika tak bisa menjaga mu...." ucapan Chandler seketika saat Amora terbangun lantas memeluknya.


"Chandler, kamu pergilah berikan Amora ruang," ucapan Duke Thedelso langsung melihat menggantikan Amora di posisi Chandler sebelumnya. "Apa kamu merasakan sesuatu sayang?" tanya nya.


"Ayah... Apa yang terjadi?" tanya Amora seketika, melihat semua orang seperti terdiam paku dan tidak mengatakan apa-apa.


"Yang terpenting kalian selamat, itulah yang ayah harapkan," pelukan hangat dari Duke Thedelso tak terelakkan. Belum lagi dengan Chandler yang ikut di antara mereka. Sempurna, seperti keluarga kecil yang bahagia. Dengan ayah dan kedua anaknya, meskipun tanpa sosok wanita yang menjadi ibu mereka.


Belum lama pelukan itu, Duke Thedelso melihat seorang di ambang pintu. Melihatnya memberikan kode untuk mendekat.


"Ayah akan pergi sebentar, Chandler kamu tunggu di sini dengan Amora," jelas Duke Thedelso langsung beranjak dari ranjang Amora.


"Saya tau bahkan tanpa Anda beritahu," balas Chandler.


Sesaat Duke Thedelso langsung keluar dari kamar Amora. Melihat Malverick ada di depan pintu menunggunya.


Maverick Durgeon adalah ayah dari Theodor atau bisa di sebut juga raja dari Guinea. Teman baik Thedelso sejak awal masuk sekolah karena hubungan ayah mereka, membuat keakraban dari mereka seperti saudara. Thedelso selalu setia pada Maverick bahkan saat dia di tugaskan untuk berperang saat masih menjadi pangeran mahkota. Sering di katakan sebagai anjing kerajaan membuat Thedelso sering menjadi bahan untuk tombak pemberontakan.


"Yang Mulia," ucap Thedelso memberikan salamnya.


"Saya mengenalmu secara bertahun-tahun Thedelso, tapi baru kejadian sekarang. Kita harus membereskan jasad Pendeta Alfredo, lalu pengikutnya. Belum lagi dengan perjanjian yang harus kita perbaharui," jelas panjang Maverick pada Thedelso.


"Saya pikir saya akan mengajukan nya pada pendeta agung, tapi sekarang pendeta itu sudah tiada."


"Itu salah mereka karena bertindak gegabah, kamu mendapatkan darah pendeta agung?"


"Saya sudah menyimpan nya."


...FLASHBACK....


Setelah mendengar penjelasan dari Chandler terlihat wajah Duke Thedelso langsung berubah. Keringat mulai jatuh dari wajahnya. Tak berselang lama dia mulai melangkahkan kaki beranjak dari tempat duduk nya.


"Ayah, ayah akan kemana?" tanya Chandler yang masih saja kebingungan.


"Ayah akan melakukan apa yang seharusnya ayah lakukan dari lama," ucap Duke Thedelso langsung pergi meninggalkan Chandler. Selang beberapa saat, Duke Thedelso berhenti. Tepat di ambang pintu, sembari mengepalkan tangannya. "Chandler selama ayah tidak ada ayah harap kamu bisa menjaga Amora," lanjutnya.


Dengan tatapan kaget juga sendu Chandler menganggukkan kepalanya. "Saya akan berusaha."


Seketika deru langkah kaki Duke Thedelso terdengar. Saat dirinya berlari dengan sekuat tenaga. "Edelweis, ambil kuda kita pergi ke istana!" jelas Duke Thedelso kembali langsung memerintahkan tangan kanannya itu.


"Ada hal yang sangat mendesak tuan?"


"Ya, kita bicarakan itu nanti. Sekarang kita berpacu dengan waktu hingga para pendeta itu kemari."


Lantas Duke Thedelso dan Edelweis langsung menaiki kuda mereka. Melaju dengan cepat, bahkan terbentuk debu di antara jalanan tanah.


Beberapa saat mereka sampai di istana. Para penjaga yang tau Duke Thedelso dan Edelweis langsung saya membiarkan mereka masuk. Dengan bergegas Duke Thedelso masuk, mencari ruang kerja Maverick.


"Yang mulia!" teriak Duke Thedelso seketika membuka gerbang.


Terlihat Maverick yang tengah duduk diam, melihat ke arah Duke Thedelso tajam. "Sepertinya kita terlalu dekat sampai kamu seperti ini."


"Ini sangat penting, menyangkut kerajaan dan juga gereja," jelas Duke Thedelso.


Maverick paham jika temannya itu tidak pernah bercanda. Bahkan dia selalu nampak serius dalam melakukan apapun. Sesekali Maverick bertindak gegabah, tapi dalam perhitungan yang membuat sebuah peraturan besar.


"Kamu pergilah sekarang, kamu juga," perintah Maverick pada sekertaris nya, juga dengan Edelweis.


Keduanya sama-sama keluar, menyisakan Duke Thedelso dengan Maverick.


"Ada apa, ini seperti bukan kamu Thedelso, kamu selalu tenang," jelas Maverick lantas duduk di sofa tempat yang nyaman dan tidak terlalu formal.


"Yang Mulia, Anda masih belum tau?"


"Apa? Kenapa kamu malah bertanya seperti itu?"


"Chandler bilang jika Amora memiliki spirit tertinggi saat dia pergi ke gereja. Pasalnya itu terjadi saat pemberkatan di lakukan oleh sanit di sana," jelas Duke Thedelso ikut duduk di depan Maverick.


"Apa-! Kenapa? Jika kamu tau seharusnya kamu mencegah dia untuk pergi ke gereja apalagi saat pemberkatan, kamu tau kan The-"


"Itu ada bawaan lahir, pilihan dewa. Sejak masiu bersama Calista mereka tidak memiliki pendeta Sanit dan tak pernah ada pemberkatan, jadi inilah yang pertama," sela Duke Thedelso.


Selaan itu membuat Maverick terdiam. Hal yang sangat agung, spirit nomor satu apalagi itu adalah pembawaan dari lahir. Hal itu tambah membuat anggota dewan Gereja suci mengincar Amora sebagai sanit di sana.


"Dimana Theodor, bukankah dia bersama Chandler dan juga putrimu? Kenapa dia masih belum kembali?" selipan pertanyaan yang membuat Duke Thedelso sama-sama diam.