Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 32 : Undangan Pesta Dansa



Tanpa sadar malam itu Amora tertidur lelap karena kelelahan. Tremy melihat Amora, mengusap kepalanya menunggu perintah ibunya untuk kembali. Tremy melihat Amora dengan napas tetaturnya. Di sisi lain saat pikiran Tremy juga cemas apalagi saat ibunya memberikan tugas itu.


...FLASHBACK...


Saat Tremy baru saja bertemu dengan Amora di mansion Duke. Tepat saat ibunya di minta langsung oleh Duke Thedelso untuk datang. Perjalanan pulang Tremy sedikit terkekeh pelan benar-benar melihat Amora dengan jelas.


"Kamu merasa senang Tremy," ucapan Abigail melihat kelakuan aneh Tremy.


"Nona Duke itu memang secantik yang di bicarakan," ucapan Tremy menatap ibunya.


"Jika seperti itu kamu sepertinya akan menikmati tugas yang di berikan oleh Duke."


Wajah Tremy langsung berubah seketika. Dia tau jika ibunya bukanlah orang yang suka untuk bercanda. Melihat wajah ibunya juga cemas dengan tatapan dingin pada Tremy.


"Apakah ada alasan khusus kenapa kita kesana ibu?" tanya Tremy langsung menyadari keadaan.


"Tidak hal yang sulit, tapi sepertinya kutukan itu sudah masuk ke kediaman Duke. Dia meminta saya untuk menjadi guru bagi Amora, juga meminta kamu untuk melayani putrinya. Karena kemampuan kamu Tremy dengan sihirmu yang kamu kuasai bisa menjaga Amora hingga Chandler kembali. Kamu akan menerima tugas itu, Tremy?"


...FLASHBACK END....


Tanpa di sadari Tremy langsung teringat kejadian itu. Dia membuka matanya, melihat keadaan yang masih sama. Dia tau keadaan Duke Thedelso dari ibunya. Lain hal dengan mansion yang selalu mengatakan jika semuanya baik-baik saja pada Amora.


"Jika benar-benar tidak bisa, bagaimana apakah kamu sudah siap untuk menerima kenyataannya, Amora?"


Pagi harinya Amora terbangun di kasurnya. Dia ingat jelas jika tadi malam dia tertidur saat melihat bintang dengan Tremy. Beberapa pelayanan seperti biasa masuk ke kamarnya, mengucapkan selamat pagi pada Amora.


"Emma," panggil Amora.


Emma adalah kepala pelayan bagi Amora. Saat dia membutuhkan sesuatu Amora akan memanggil Emma terlebih dahulu.


"Emma bagaimana tadi malam saya pulang?" tanya Amora penasaran.


"Anda? Tuan Schwarz muda membawa Anda, lalu pergi begitu saja."


Amora menganggukkan kepalanya paham. Lantas dia beranjak lalu mandi dan bersiap untuk sarapan. Di ruang sarapan Amora dengan Thedelso duduk di tempat seperti biasa dengan Edelweis yang tepat di belakang Thedelso.


"Selamat pagi ayah!" ucapan Amora dengan senyuman sapaan saat beberapa pelayan tengah mempersiapkan sarapan.


"Selamat pagi, bagaimana malam kamu sayang?"


"Bagus, Tremy membawa saya untuk melihat bintang."


"Sungguh? Bintang itu jarang di lihat di sini."


"Ya, kamu pergi ke suatu tempat, sejuk sekali. Sesekalu ayah harus melihatnya, saat kakak pulang kita akan melakukan bersama ya ayah," jelas Amora berbicara dengan semangat.


Thedelso dengan senyuman nya mendengarkan dengan seksama. Begitu pula dengan Edelweis yang menatap keduanya.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus ayah lakukan, lagipula kamu belajar dengan giat. Ayah bangga padamu Amora, sungguh Amora apapun yang terjadi ingatlah ayah selalu bangga karena kamu adalah anak ayah," penjelasa tulus dari Thedelso. Dia mulai mengusap kepala Amora.


"Tuan," beberapa saat kemudian Edelweis mulai berbisik pada Thedelso. Tak lama saat itu Thedelso mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Ayah benar-benar tidak memiliki waktu sekarang ya, selamat pagi sayang," ucapan Thedelso dengan kecupan di akhir kecupan di dahi Amora.


Thedelso pergi begitu saja dengan Edelweis. Berjalan menyusuri lorong tempat dia akan bekerja. Tanpa di duga tiba-tiba Thedelso menyenderkan badannya di tembok. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat yang berjatuhan dari sana.


"Anda baik-baik saja Tuan Duke?" tanya Edelweis mencoba untuk membantu. "Kekuatan kutukan semakin mengikat Anda, Anda bisa tidak menemui nona untuk sementara waktu. Saya ak-"


"Jangan, dia adalah anak yang peka jika seperti itu dia pasti sadar jika ada sesuatu yang salah dengan saya. Melihat kali ini, dia juga sepertinya merasa ada yang tidak beres. Lagipula Edelweis saya tidak tau kapan saya akan menahan ini, setidaknya sampai kedewasaan Chandler," sela Thedelso langsung.


Dengan sempoyongan dia mulai berjalan. Sudah beberapa tahun ini Thedelso mendapatkan kutukan langsung dari Diana. Demi untuk menjaga putra mahkota dia berani mempertaruhkan dirinya sendiri. Awal-awal memang tidak memiliki efek apapun, tapi sejak tiga tahun terakhir efeknya semakin mengikat.


Thedelso jadi paham kenapa Diana ingin memberikan kutukan itu pada pangeran. Terlihat jelas jika Diana sangat iri dengan Amora. Jika suatu hari nanti Theodor naik tahta, maka Amora akan dalam bahaya. Kepekaan dari Thedelso mengorbankan dirinya sendiri demi masa depan putrinya.


'Calista, maaf jika saya juga tidak bisa memenuhi janji saya untuk menjaga Amora sepenuhnya. Mungkin nanti Chandler yang akan melanjutkannya.'


Pagi yang seperti ini adalah hal biasa bagi Amora. Dirinya melihat Thedelso makin lama terlihat seperti kelelahan. Selesai makan dirinya langsung kembali ke kamar. Membaca beberapa buku dan melihat keadaan sekitar.


'Sudah beberapa tahun rasanya benar-benar tenang, apakah semuanya baik-baik saja? Aku tidak perlu takut akan kematian lagi? Jika seperti itu aku tidak perlu memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di sini,' batin Amora menggema dengan anggukan kepala tanda setuju.


"Nona?" panggil Emma sebagai kepala pelayan di sana.


"Emma! Astaga kamu mengagetkan saya!"


"Maafkan saya, ini ada surat dari Tuan Marquess Muda," jelas Emma memberikan sebuah surat bewarna navy dengan hiasan pita di atasnya.


"Tumben sekali, padahal jika dia kesini juga tak masalah meskipun ini adalah hari libur," ujar Amora sembari membuka surat itu.


Perlahan Amora membacanya. Siapa sangka jika dia di undang untuk pesta dansa di sebuah rumah bangsawan. Memang hanya Tremy yang di undang, tapi dia juga membawa Amora sebagai pasangan.


"Pesta ya...." Gumam Amora. Dia baru sadar jika dia sudah larut dalam kehidupan sehari-hari membuat dia lupa jika pesta seperti ini adalah hal yang wajar. Dia belum sempat untuk membangun relasi, bahkan dirinya sendiri tidak pernah membuat pesta. Bukannya tidak mampu, hanya saja Amora tidak terlalu ingin bertemu dengan banyak orang.


"Emma," panggil Amora kembali.


"Iya nona?"


"Bagaimana pesta itu? Saya belum pernah ke pesta di saat usia saya sekarang sudah lima belas tahun. Saya tak ingin pergi ke tempat seperti ini, saya tidak suka," jelas Amora panjang.


"Apakah Tuan Marquess muda mengundang Anda untuk ke pesta?"


"Iya."


"Anda tidak boleh menolaknya, saya pikir Tuan Marquess muda juga jarang pergi ke pesta seperti itu, makanya dia mengajak nona karena dia belum pernah membawa pasangan. Sekalinya dia mengajak dan itu di tolak pastinya itu adalah pengalaman buruk bagi Tuan Marquess muda," jelas Emma panjang.