Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 48 : Nyanyian dan Tarian



"Apakah ini benar, andaikan ada ruang pengaduan. Dewa, saya ingin mengadu jika saya bukanlah Amora tapi saya ingin merubah masa lalunya agar sia bahagia," jawab Amora.


Sesaat Amora menutup matanya sembari menakupkan kedua tangannya dengan sungguh.


"Amora!" Teriakan itu sontak membuat Amora langsung membuka matanya. Itu adalah Chandler, dengan terengah-engah dia langsung berlari ke arah Amora. "Apa yang kamu lakukan?" Lanjut ucapannya.


"Aku hanya-"


"Apapun itu, jangan lakukan lagi."


Tegas suara Chandler terlihat dari sana. Amora saja tak paham, dengan cepat langsung membawa Amora keluar dari gereja itu. Tatapan Chandler seperti marah tapi juga takut, tangannya gemetar seperti merasakan sesuatu


"Kak Chandler, ada apa?" tanya Amora masih kebingungan.


"Kamu tak paham Amora, memang kamu memiliki kekuatan untuk memberkati mansion ini, kamu selalu melakukan itu tapi bagaimana dengan dirimu sendiri Amora? Jauhi gereja itu!" jelas panjang Chandler sembari terus membawa Amora menjauh dari gereja.


Tak lama Chandler masuk ke kamar Amora, memperlihatkan hal yang sama di sana. "Kak Chandler?"


"Kemarin kamu berbicara apa dengan Barier? Sesuatu masalah salju kamu tau kamu tidak terlalu menyukai nya sebelum itu," ucap Chandler mengganti topik.


Tentu saja itu adalah hal yang aneh bagi Amora. Sejak kapan Chandler memperhatikannya, itu adalah hal yang paling aneh menurut Amora. Apalagi ini adalah pembicaraan berdua dengan Barier.


"Kak Chandler? Kakak tau dari mana? Apakah Barier mengatakan sesuatu?" tanya balik Amora.


"Jika dia sudah mengatakan nya maka saya tak perlu bertanya padamu sekarang," jawab Chandler masih menunggu jawaban Amora.


Amora mengusap lengannya, hawa dingin sudah bisa menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Amora masih diam, dia tak yakin untuk memberitahu pada Chandler apa yang dia rencanakan. Entah harus percaya atau tidak masih membuat Amora janggal.


"Ada sesuatu hal kak Chandler, aku hanya ingin berjalan-jalan dengan Barier," ucapan Amora malu-malu.


"Tunggu! Kamu ingin berkencan dengan Barier?!" jawaban Chandler lantang juga terkejut dengan pemikirannya sendiri.


Begitu juga dengan Amora, dia menatap tak percaya. Wajah tersipu tak bisa Amora sembunyikan dengan apa yang Chandler katakan. "A-apa yang kakak katakan! Tidak! Astaga, hanya ingin berjalan-jalan," jawab Amora gugup.


"Jika kamu hanya ingin berjalan-jalan tak perlu gugup seperti itu," jawab Chandler langsung perlu pergi dari kamar Amora.


Amora melihat Chandler yang berjalan menjauh masih bingung dengan apa yang terjadi. 'Ada apa dengan dia,' batin Amora.


Tak berselang lama, di sana terlihat jika titisan salju mulai turun. Saat itu kamar Amora belum ada perapian yang di nyalakan. Mata Amora terselip pada balkon di balik jendela kamar nya.


"Ayah, Ibu, berkati aku. Aku belum pernah hidup sejauh ini, dalam cerita ku juga tak ada lanjutan bagi hidup Chandler dan Amora, tapi tolong lindungi aku dengan masa depan yang sudah aku tau sebelumnya," ucapan Amora sembari menari secara perlahan.


Hal nyaman dan tenang membuat Amora seperti terjaga. Banyak hal yang dia lewati karena terlalu fokus pada tingkah laku Chandler sebelumnya. Ingatan saat kematian, saat dia bertemu dengan Calista. Sebuah pertunjukan apik juga manis dari seorang ibu dengan pianonya.


"Hemm... Heemmmmm," senandung Amora untuk mengiringi tariannya.


Tak lama salju yang semula salju turun di kepala Amora terhenti sesaat. Amora sadar jika Barier ada di sana menutupi Amora dengan jubahnya.


"Barier?" ucap Amora gugup.


"Tuan Chandler meminta saya untuk menjaga Anda, tapi lihat Anda bahkan bermain di sini. Anda bisa sakit nona," jawaban Barier. "Ya, sepertinya perapian di kamar Anda belum ada, saya akan meminta pelayan untuk menyalakan itu. Lebih baik Anda masuk jika Anda sakit saya tak tau apa yang akan Tuan Chandler lakukan pada saya," lanjutnya.


"Nanti dulu Barier, kamu tau aku sebelumnya bermimpi tentang ibuku, ha... Seperti nya sudah lama ya aku tidak menjenguk ibuku," balas Amora malah menyangga badannya di ujung batasan balkon.


"Anda bisa meminta Tuan Chandler untuk menemani Anda pergi ke timur nanti."


"Benar, mungkin nanti bisa," balas Amora.


Tak ada balasan lagi dari Barier. Tetap saja dia masih menempatkan jubahnya di atas Amora. Tak ada pembicaraan berarti, hanya menikmati sore seperti biasa.


Amoral masih diam, dalam pikirannya banyak hal yang ingin dia tanyakan. Sebuah kejadian kemarin, dan hubungannya dengan Diana. Sekarang salju sudah turun semakim cepat, kemungkinan para monster juga akan keluar sebentar lagi. Kemudian para rakyat di perbatasan merasakan ketidakadilan dari Theodor. Akan tetap, cerita saat itu Amora dan Chandler sudah meninggal tidak untuk sekarang.


"Aku bisa merubah semuanya, ataupun mencegah sebelum terjadi. Benarkan, Barier?" tanya Amora membuka pembicaraan antara mereka. "Besok kita pergi menemui mereka, aku harap belum terlambat," lanjut Amora.


Anehnya Barier tak menjawab apapun yang Amora katakan. Sungguh hal yang aneh, pasalnya dia selalu membuat jawaban yang membuat Amora tenang. Tanpa pikir panjang, Amora melihat sekilas tempat Barier berdiri sebelumnya. Chandler, orang yang tadi sempat pergi entah kenapa datang kembali.


"KAKAK!" ucap Amora dengan memundurkan badannya. Entah sejak kapan Chandler ada di sana. Ekor mata Amora menatap ke dalam kamarnya, Barier berdiri tepat di sebelah ranjang Amora. "Se-sejak kapan kakak di sini?!" tanya Amora balik masih me menetralkan napasnya.


"Ya, kamu terlalu fokus pada pemandangan hingga tak sadar saya datang," jawaban Chandler masih sama memposisikan dirinya untuk melindungi Amora dari hujan salju seperti sebelumnya. "Saya hanya ingin lihat apakah kamar kamu sudah di berikan perapian atau belum, saya ingat sangat dingin di sini tapi malah melihat kalian berdua," lanjutnya dengan raut tak suka.


"Sejujurnya saua tidak terlalu tahan dengan hawa dingin nona, syukurlah Anda datang. Jika begitu Saya izin pergi dan meminta pelayan untuk menyalakan perapian," ucap Barier tanpa ucap panjang langsung menundukkan badannya lantas pergi dari sana, meninggalkan Chandler dengan Amora berdua.


Sejujurnya Amora ingin menahan Barier untuk pergi, ada hal yang ingin dia bicarakan tapi Barier bergegas pergi seperti di kejar sesuatu. Tatapan Amora beralih pada Chandler yang masih menatapnya. "Kamu ingin pergi menemui ibu mu Amora, sudah lama tak kembali ke timur kan? bagaimana jika kita pergi."


"Tunggu kawasan di sini aman dulu baru aku bisa pergi dengan tenang kakak," jawaban Amora singkat.


"Selama kamu ada di sini akan selalu aman Amora, berjanjilah untuk tidak kabur. Mansion dan tempat ini membutuhkanmu. Mungkin sebelumnya cara saya salah, tapi saya berjanji untuk melindungi mu dengan cara yang benar, Amora."