
Beberapa saat kemudian goresan pena Airy lakukan dengan sempurna. Beberapa saat kemudian Airy selesai menggambar apa yang Amora maksud.
"Ini dia," ujarnya menunjukkan hasil gambar buatannya.
"Bagus sekali Airy, sungguh ini menyesankan."
"Anda benar-benar menyepelekan saya?!"
"Tidak, sudahlah sekarang sudah malam. Kamu tidur dulu ya Airy, kita bebicara besok lagi. Terimakasih sudah membuatkan ini."
"Selamat malam Nona."
Percakapan itu berakhir dengan Airy yang menghilang begitu saja. Beberapa saat kemudian tanpa di sadari Amora juga mulai mengantuk. Dirinya merebahkan badan di ranjang dengan melihat gambar buatan Airy.
"Ini indah, aku harap bisa sesuai apa yang aku kira," gumam Amora memeluk gambar itu.
Tanpa di sadari Amora mulai terlelap dalam tidurnya. Besok harinya tiba, jadwal pelajaran Amora adalah etika di pagi hari, pelajar pedang dan kemampuan dasar tentang pertahanan diri, serta sihir di sore hingga malam. Tepat semuanya di didik oleh madam Schwarz, kecuali tentang ilmu pedang.
Siang harinya, Amora berlatih dengan Tremy. Selain Tremy juga anak-anak cocok untuk menjadi pasangan lawan bagi Amora Tremy juga tau dasar-dasar pedang untuk anak-anak.
"Baiklah, cukup untuk sekarang. Lanjutkan besok, Amora besok sepertinya kamu harus latihan untuk kekuatan pergelangan tangan," jelas Edelweis selaku orang yang mengawasi pendidikan pedang Amora.
"Terimakasih Sir Edelweis," jawab Tremy dengan menundukkan kepalanya.
"Terimakasih Tuan Edelweis," jawaban Amora senyuman seperti biasa.
Seketika Tremy menggenggam tangan Amora. Terlihat jelas dia ingin mengajaknya pergi dari sana. "Amora, ayo pergi kamu harus bersiap untuk pelajaran selanjutnya," ucapnya.
"Eh-?! Iya, sebentar. Tremy, kamu duluan saja ada sesuatu hal yang ingin saya katakan pada Tuan Edelweis," jawab Amora.
Tanpa di sadar Amora melepaskan tangan Tremy. Dilihatnya sosok anak perempuan yang menjauh, di sisi lain Tremy masih terbujur kaku karena terkejut.
'Saya..... Di tolak?' batin Tremy membayangkan hal yang tidak-tidak.
Di lain sisi, Amora mendatangi Edelweis yang bersiap untuk pergi. Dirinya juga melatih para kesatria baru di kediaman Duke. Terlepas dari itu, dirinya merasa sedikit tarikan pada baju miliknya. Setelah di lihat itu adalah Amora.
"Tuan Edelweis, Anda sibuk? Saya ingin minta tolong," ucapan Amora setelah sadar jika Edelweis menatapnya penasaran.
Sesaat Edelweis membukkukan badannya. Menyejajarkan dirinya, lantas melihat Amora dengan senyuman tulus. Bagi seorang kesatria, tugasnya yang utama adalah menjalani tugasnya dengan sempurna termasuk melayani keluarga tempat dia mengabdikan diri.
"Apa yang bisa saya bantu untuk Anda Nona?" tanya Edelweis.
"Saya ingin minta tolong, Tuan Edelweis tau tempat dimana membuat senjata yang kualitasnya tinggi?"
"Senjata kualitas tinggi? Tentu saja, para kesatria di keluarga Thedelso memiliki persenjataan yang paling bagus, Anda tidak usah khawatir."
"Tidak, saya tidak khawatir saya hanya ingin minta tolong."
"Minta tolong? Dengan pembuat senjata?" tentu saya pertanyaan itu yang di layangkan oleh Edelweis.
Anak seusia Amora memang sering di latih untuk pertahanan diri, tapi tidak pembuat senjata. Apalagi untuk status tinggi Amora yang biasa selalu di lindungi terlebih dahulu oleh para kesatria.
"Heem, saya ingin membuat ini. Saya tidak tau apakah gambarnya jelas atau tidak, tapi saya harap ada yang membuatkan senjata itu untuk saya," ujar Amora menjelaskan apa yang dia inginkan.
Awalnya Edelweis menganggap itu adalah sebuah kertas biasa. Tanpa di sadari, itu seperti cetak biru dari sebuah senjata. Bahkan lengkap dengan bagian-bagiannya dan juga deskripsi bagian itu. Lagi-lagi Edelweis terheran-heran, bagaimana anak usia Amora bisa memikirkan senjata seperti itu bahkan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Apa ini Nona?!" tanya Edelweis keheranan.
"Itu... Panah," jawaban singkat Amora.
"Panah?"
"Iya panah, jadi menurut saya, saya tidak terlalu pandai dalam hal pertarungan jarak dekat. Akan tetapi, tidak ada panahan di sini jadi saya bingung. Menggunakan panahan juga perlu akurasi yang tajam, dan kekuatan dalam menarik talinya. Seperti yang Tuam Edelweis bilang, kekuatan tangan saya masih belum cukup kuat jadi saya memanfaatkan daya lontar jadi kita hanya perlu membidiknya lalu menekan tuas untuk melepaskannya," jelas panjang Amora dengan menunjukkan bagian-bagian yang dia maksud.
Edelweis lagi-lagi diam, dirinya terlalu kagum dengan pemikiran Amora. Kesatria Duke menganggap jika pertarungan jarak jauh adalah tindakan pengecut, tanpa mempertimbangkan beberapa hal akan lebih mudah untuk panahan atau yang lain.
Sebelumnya kesatria keluarga Duke Thedelso di anggap sebagai Archer kerajaan, selalu di panggil karena kemampuannya dalam pertempuran. Setelah melihat ini, Edelweis semakim membuka pikirannya. Selain dengan kekuatan mereka juga harus menggunakan pikirannya.
"Tuan Edelweis?" tanya Amora kembali saat Edelweis masih terdiam karena terkejut.
"Iya Nona!"
"Anda baik?"
"Saya baik-baik saja, hanya saja bagaimana Anda bisa memikirkan hal seperti ini?"
"Saya hanya memikirkannya, Tuan Edelweis bisa membantu saya? Saya butuh sebenarnya ini untuk hadiah kakak, tapi karena saya belum pernah mencobanya saya bingung. Untuk sekarang saya ingin membuat yang sederhana, lalu mencobanya jika jadi saya ingin memesan yang lebih baik dari segi tampilan, jika tidak saya akan membuat ulang," penjelasan panjang Amora.
Terlihat Edelweis yang masih ragu untuk itu. Dia beranjak dari posisinya, lantas tersenyum pada Amora. "Saya akan minta Tuan Duke terlebih dahulu, Anda bisa menunggu?" tanya Edelweis.
"Tentu saja, terimakasih Tuan Edelweis."
Lantas Amora pergi dari sana, dengan langkah kaki kecil dia menuju kamar bersiap untuk kelas selanjutnya. Di lain sisi Edelweis menggenggam kuat kertas dari Amora. Selain jenius, Amora juga banyak berkembang. Dia mempelajari senjata bahkan bagaimana menyikapi kelemahannya.
Edelweis mulai beranjak dari sana. Bukan untuk pergi ke tempat latihan para kesatria, tapi ke ruang kerja Thedelso. Perlahan dia mengetuk pintunya, meminta izin untuk masuk.
"Lain kali kamu masuk saja Edelweis, terlalu banyak pekerjaan di sini. Jadi, pekerjaan apa yang ingin kamu berikan pada saya lagi?" tanya Thedelso langsung menatap Edelweis dingin.
"Kenapa Anda berburuk sangka seperti itu, saya ingin mengatakan sesuatu."
"Apakah hal yang penting?"
"Saya tidak yakin, tapi...." ujar Edelweis menggantungkan ucapannya. Memberikan kertas yang sebelumnya di berikan dari Amora.
"Apa ini?!" tanya Thedelso terheran-heran dengan apa yang di lihatnya. Senjata yang belum pernah dia lihat sebelumnya. "Panah?" tanya Thedelso langsung paham debgan arti sentaja itu. "Kamu ingin kesatria Duke menggunakan panah? Kamu tau Edelweis ji-"
"Putri Anda yang memberikan itu pada saya," sela Edelweis lantas membuat Thedelso langsung terdiam. Dia sama seperti Edelweis sebelumnya, tak percaya dengan gambar Detail itu.
"Kamu yakin?" tanya Thedelso.
"Jika Anda tak percaya Anda bisa bertanya sendiri, Nona Amora bilang ini untuk ulang tahun Duke muda."
Tatapan tak percaya kini menjadi tatapan terkejut dengan raut wajah dingin Duke. "Apa yang kamu bilang...."