Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 27 : Inilah Waktu Untuk Pulang [FLASHBACK]



"Ha... Kamu pasti memikirkan bagaimana jika ada perang kembali, harusnya kamu tidak usah cemas dia adalah Duke Thedelso dia pasti akan menyelesaikan semuanya dengan mudah," ucapan Abigail seolah menenangkan Calista.


Abigail tidak tau apa yang tengah Calista pikirkan sekarang. Masa depannya, jika saja dirinya benar-benar di nyatakan hamil.


Beberapa waktu telah berlalu. Hari juga sudah malam. Tuan El pulang dengan membawa beberapa obat baru untuk anak-anak panti asuhan. Dengan cepat Calista menjelaskan maksud dirinya.


"Calista, apakah kamu sudah melakukan sesuatu?" tanya Tuan El seperti tau apa yang tengah di alami Calista.


"Itu...."


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Abigail yang ikut masuk mendengar itu terlihat wajahnya menjadi cemas.


"Tidak sayang, sepertinya kita akan mendapatkan cucu baru," ucap Tuan El dengan semangat.


Begitu juga dengan Abigail. Dirinya tak menyangka akan mendengar berita ini. "Kita harus cepat memberitahu semua orang, ah-! Tuan Duke-"


"Madam Abigail...." sela Calista saat Abigail mulai mengambil pena dan kertas untuk menulis surat. "Saya mohon jangan lakukan itu, Anda sendiri yang bilang jika kerajaan sedang tidak baik apalagi saat di temukannya sanit baru. Saya mohon, jangan beritahu siapapun."


Abigail hanya terdiam, kesenangan dan kehangatan tiba-tiba berubah menjadi hawa dingin yang sunyi. Calista tak bisa menahan air matanya, dirinya hanya tidak kuat kenyataan itu sudah membuat dirinya takut.


"Anakku Calista."


"Saya mohon Madam, biarkan saya mengurus anak ini sendiri."


Malam itu Calista menginap di panti asuhan. Tidak ada yang terjadi. Hanya sebuah mimpi tentang dirinya dan seorang putri.


Pagi hari Calista membantu Madam Abigail untuk membuat sarapan kepada anak-anak panti. Dirinya melihat beberapa orang yang masih ada, memeluk Calista rindu. Hingga menjelang siang hari, Calista pulang. Seperti biasa dia berjalan kaki, melihat orang-orang yang menatapnya jijik.


Tatapan itu dia dapatkan setelah identitas asli Duke terbongkar. Menjadika dia seolah wanita dari pria yang sudah memiliki pasangan.


"Kenapa kamu begitu lama, Calista," sambutan dari seseorang yang Calista kenal.


"Tuan...." ucapan Calista gemetar, entah kenapa dia kembali lagi. "Bukankah Anda sibuk?"


Rencana Calista benar-benar gagal. Dirinya ingin pergi, menjauh dari tempat ini. Baik jauh dari orang-orang yang berseteru dengan Kerajaan.


Calista tau tempat hidupnya sekarang bukanlah tempat yang tenang. Meskipun jauh dari ibukota, tetap saja persaingan antara gereja dan kerajaan masih terasa.


"Calista, sudah saya bilang ayo ikut saya ke i-"


"Kenapa kamu selalu keras kepala seperti ini Calista! Kamu tau saat di ibukota itu akan lebih menjamin anak kita," jelas Thedelso langsung membuat Calista bungkam.


Benar saja jika Thedelso tau dirinya hamil. Entah informasi secepat apa membuat dia bisa langsung tau dan datang kemari.


Calista memeluk perutnya pelan. "Apakah Anda tidak sadar? Jika gereja sudah menemukan sanit lain, perseteruan antara gereja dan juga kerajaan akan memanas, saya hanya ingin hidup dengan damai," jelas Calista berusaha untuk menjelaskan apa yang dia maksud.


Tangan Thedelso yang semula memegangi lengan Calista kuat kini mulai melepas. Begitu juga dengan napas Thedelso yang terengah berat tepat di kepala Calista.


"Salahkah saya jika saya memang terlahir seperti ini Calista, inilah kehidupan saya."


Rintihan itu keluar dari seorang yang biasanya mengangkat pedang mereka. Entah laki-laki atau perempuan tetap jika dia musuh tidak akan bisa lari dari kematiannya.


Itulah yang Calista takutkan. Dirinya di besarkan oleh panti asuhan yang sangat terikat oleh gereja. Sejak kecil Calista di ajarkan sebagai pengabdi, untuk sekarang melihat Thedelso di depannya bahkan dirinya merinding.


Tiba-tiba ketukan pintu rumah membuat keduanya tersentak. "Tuan Duke, maaf mengganggu waktunya. Saya harap Anda bisa kembali ke rombongan, Yang Mulia akan mencari Anda," teriak seseorang setelah berteriak seperti itu.


"Tidak, tidak bisa! Bagaimana saya meninggalkan kamu dalam keadaan hamil Calista?!" teriak Thedelso mulai cemas. Dirinya seorang kehilangan kesabaran saat berbicara dengan Calista.


"Sejak kapan Anda tau kehamilan saya? Apakah Anda memata-matai saya?"


"Ini tidak seperti yang kamu kira, saya cemas saat meninggalkan kamu sendirian. Tolong mengertilah Calista, ikutlah dengan saya ke ibu kota."


"Pergaulan di sana tidak cocok untuk saya, saya lebih suka di sebuah tempat yang tenang seperti ini," ucapan Calista lembut berbeda dengan nada keras kepala yang tadi. Dirinya melihat sekitar, merangkul tangan Thedelso yang masih menahannya untuk pergi. Sesaat dia memegangnya di pipi, lantas mengecupnya perlahan. "Lagipula, Anda sudah memiliki putra bukan? Saya tumbuh di panti asuhan, tempat dimana tidak ada kasih sayang, saya tidak ingin putra Anda merasakan hal yang sama dimana ayahnya masih hidup untuk itu. Kembalilah, putra Anda pasti tengah menunggu Anda sekarang," lanjutnya.


Setelah kembali ke mansion nya Thedelso selalu berbalas pesan rahasia dengan Madam Abigail ataupun Tuan El. Mereka menceritakan keadaan Calista, dimana benar saja keadaan gereja dan kerajaan mulai memanas. Hingga sebuah perjanjian di cetuskan, kedamaian baru ada untuk kerajaan tapi tidak untuk Thedelso.


Kenyataan saat dia menerima surat dari Madam Abigail jika Calista pasti ke negri sebrang. Entah kemana, dia bahkan tidak memberitahu Madam Abigail. Kemungkinan jika Calista tau apa yang dia dan Thedelso lalukan selama ini.


Bertahun-tahun berlalu, efek dari menduda Thedelso dengan banyaknya lamaran terhadap dirinya. Banyak bangsawan yang mengirimkan surat lamaran menawarkan para putri mereka yang menawan. Entah apa yang Thedelso pikirkan sekarang, ketakutan akan kehilangan membuat dia bosan untuk mencari pasangan. Belum lagi dengan kabar Calista yang benar-benar tidak ada meskipun dia sudah mencarinya.


Kerajaan kembali di hebohkan dengan adanya wabah yang menjalar di pinggiran desa. Sebagai abdi Thedelso mencoba untuk menanganinya. Banyak terselip surat permintaan bantuan dan terimakasih yang datang untuk Thedelso, hingga satu surat yang membuat dia tercengang. Surat dari seorang pendeta di negri sebrang, tanpa adanya kekuasaan hanya para penduduk yang saling membantu untuk membangun negri itu.


Dalam surat itu berisikan jika dirinya adalah pendeta bernama Cleo, dimana ada seorang wanita dengan anak perempuannya bernama Calista yang meminta tolong. Sebuah kabar yang menggembirakan tapi juga menyakitkan bagi Thedelso. Kenyataan jika Calista sendiri sudah menyadari penyakitnya, dan dia tidak akan bertahan lama lagi. Permohonan untuk membawa seorang anak bernama Amora, yang tidak lain adalah anak dari Thedelso sendiri.


Untuk sampai ke sana di perlukan banyak waktu. Sedangkan Thedelso masih belum bisa pergi karena urusan kerajaan. Mau tidak mau dia hanya bisa mengirimkan pelayan, dokter, juga pengawal untuk sementara waktu. Hingga dia sadar sebuah surat terakhir di tulis oleh Calista sendiri yang meminta dia untuk datang dan membawa Amora.


"Saya tau ini adalah kesalahan saya, keegoisan saya membuat saya pergi untuk membawa Amora. Akan tetapi, sungguh saya tidak bisa lagi menjaganya. Berbagai pengobatan sudah saya lakukan, tapi tadi malam saya bermimpi jika inilah waktu saya untuk pulang."