
“Saya melihat jika banyak orang yang ke gereja untuk
sekarang, bagaimana jika kita menetapkan tarif masuknya?” ucapan Cleo
memberikan sebuah surat untuk kepala pendeta.
Kepala pendeta kebingungan akan hal itu, dia seperti menatap
Cleo masih diam dengan raut yang mengintimidasi. Beberapa saat kemudian kepala
pendeta membaca surat yang di berikan Cleo sebelumnya. Itu adalah sebuah dekrit
dimana orang yang ingin melakukan pengobatan kepada Calista harus membayar
untuk masuk.
Melihat hal ini tentunya membuat kepala pendeta tak percaya.
“Kamu mencoba untuk mengambil keuntungan dari mereka yang kesakitan?!” tanya
pendeta Cleo dengan nada meningginya.
“Tidak, tentu saja tidak. Tapi yang berobat banyak juga dari
bangsawan, Anda harus memikirkan bagaimana kita membersihkan gereja ini,
membuat perjamuan, dan memberi makan mereka yang membutuhkan,” jelas Cleo
berusaha untuk meyakinkan. “Cobalah Anda pikirkan lagi, kita akan lebih banyak
membantu orang-orang,” lanjutnya.
“Mengambil berkat untuk keuntungan pribadi adalah sebuah
dosa besar Cleo. Kita bahkan sudah kelebihan sumbangan akan hal itu. Para
bangsawan, mereka tidak perlu di minta untuk memberi,” balas kepala pendeta.
“Lalu, bagaimana Anda memberikan kekuatan itu pada orang
asing pendeta. Anda tau banyak pendeta yang ada di sini, tapi Anda memberikan
berat kepadanya untuk menjadi sanit?”
pertanyaan balik Cleo mulai merasa kesal.
“Bukan saya yang memilihnya, tapi dewi menunjukkan
semuanya.”
“Apa yang telah dia berikan pada gereja! Tidak ada!” teriak
Cleo kesal.
“Jiwanya.”
Cleo terdiam sesaat menggennggam tangannya kuat. Dia menatap
kepala pendeta tajam, lantas pergi dari sana. ‘Orang tua itu, harus aku
singkirkan selamanya,’ batin Cleo berucap saat dia pergi dari sana.
Perjamuan agung merupakan tradisi makan malam untuk para
pendeta di gereja itu. Mereka mulai berkumpul, begitu juga dengan Calista yang
di undang dating meskipun dia bukanlah pendeta. Cleo masih belum terlihat di
sana, hingga perjamuan akan di mulai dia baru dating untuk berkumpul.
Kepala pendeta memberikan beberapa kalimat untuk para
pendeta, khusunya yang lebih muda dimana merekalah yang akan meneruskan menjadi kepala pendeta. Hingga perjamuan dating, para
biarawati memberikan hidangan seperti biasa. Namppak dari kepala pendeta memang
dia yang sedikit berbeda dari yang lainya.
Tak ada hal apapun terjadi, berselang beberapa waktu kepala
pendeta mulai tersedak dan keudiam jatuh. Semua orang biang ininadalah pertanda
buruk karena pendeta jatuh saat perjamuan agung. Dengan cepat Calista dating untuk melihat apa
yang akan terjadi, tapi kepala pendeta menahannya.
“Anak ku, ini adalah waktunya. Aku menyerahkan tugas ini
padamu, tolong selalu ingat apa yang di ajarkkan,” kalimat kepala pendeta
terakhir sebelum meningga dunia.
Perjamuan agung menjadi kelam krena kehilangan. Semuanya
bersdih, tapi tidak dengan Cleo karena dialahh yang membuat kepala pendeta
meniggal. Cleo addalah pendeta muda yang berbakat, dia juga dekat dengan kepala
pendeta jadi saat kepala pendeta maka dialah yang akan di angkat untuk
mengisinya. Rapat para pendeta akhirnya di mulai, memang seperti dugaan Cleo
yang mau sebagai kepala pendeta di sana.
“Baiklah pendeta Cleo, dengan ini saya nyatakan Anda untuk
menjadi kepala pendeta juga meme-“
“Tunggu!” teriakan itu sontak membuat semuanya terdiam dan
melihat kearah sumber suara. Calista, seorang yang tidak di undang untuk masuk
“Nona Calista, kami tau Anda adalah anak emas kepala pedeta
sebelumnya, tapi akan lebih tidak masuk akal jika Anda ingin menggantikan po-“
“Saya tidak ingin menjadi kepala pendeta, saya hanya ingin
menyerahkan ini. Dekrit dari kepala pendeta sebelumnya hang di berikan pada
saya, lihatlah,” sela Calista kembai.
Semuanya heran dan menatap satu sama lain. Dalam surat itu
terlihat jelas terdapat stemple yang menandakan jika itu adalah surat asli.
Pembagian kekuasaan yang sebelumnya belum pernah terjadi. Cleo mungkin akan
menjadi kepala pendeta, dialah yang memimpin upacara keagamaan ataupun
perjamuan lainya. Akan tetapi, Calista yang berhak memutuskan dalam perjanjian
atau pengambilan keputusan di dalam gereja.
“AKH! Kenapa, saat sudah meninggalpun kamu masih saja
merepotkan. Untuk sekarang sepertinya aku harus memusnahkan hama yang lainya,”
gumam Cleo.
Sesaat dia mengambil botol racun yanh ada di mejanya. Itu
adalah racun yang dia gunakan untuk membuh kepala pendeta sebelumnya. Dia ingin
membunuh Calista sepenuhnya, tapi saat dia meninggal dunia pasti akan banyak
kecurigaan padanya. Sebuah ide dari Cleo untuk meracuni Calista secara
perlahan, sedikit demi sedikit.
Beberapa bulan berlalu, perut Calista sudah mulai terlihat
jelas, tapi itu tak membuat Cleo mengurungkan niatnya untuk membunuh Calista.
Dia malah takut jika sampai nanti Calista melahirkan anak, kekuasaanya akan
semakin besar. Cleo semakin tak sabar untuk melihat Calista meninggal, hingga
dia berhasil melahirkan dengan selamat. Sosok anak perempuan yang cantik. Semua
orang mengagumi kecantkan Amora, kecuali Cleo.
Semakin lama dia meihat Amora, dia semakin tau jika Amora
adalah ancaman besar dengan kepintarannya. Entah siapa yang mengajarinya
membaca, berhitung, bahkan ahli dalam pengobatan. Di samping itu, terlihat
jelas jika racun dalam diri Calista semakin lama semakin kuat. Calista menjadi
lemah, tapi begitu Amora tetap berusaha untuk membuat Calista hidup.
Ini bisa saja merusak rencana Cleo, oleh sebab itulah dia
menghubngi ayah dari Amora dan
menjelaskan keadaan Calista. Ya, Cleo sudah tau sipa ayah dari Amora. Seorang
duke yang kuat yang kuat dari utara. Bertahun-tahun Cleo mencarinya, hingga
sekarang dia tau dan memanfaatkan itu. Dengan alasan Calista sakit maka dia
akan di bawa pergi dari sini, bahkan Amora.
Sayang sekali, belum sempat di pindahkan Calista sudah meninggal dunia, tapi ini juga hal yang baik
bagi Cleo karena dia benar-benar bisa menjadi kepaa pendeta mutlak tanpa adanya
gangguan. Namum, sebuah hal buruk terjadi. Orang-orang sudah jarang pergi ke
gereja karena tidak ada Calista. Para bangsawan juga pergi untuk mencari para
sanit baru. Gereja dalam keadaan terpuruk sekarang.
“Ini semuanya adalah salah mu! Andaikan kamu tidak pernah
membawa Wanita itu!” teriak Cleo di atas makam kepala gereja sebelumnya.
Tawaan singkat terdegar dari seorang Wanita. Terlihat jelas
kini dia ada di belakangnya. Menggunakan jubah dan topeng, membuat Cleo juga
tidak bisa melihat dengan jela siapa dia.
“Pengabdi yang naif,” ucapnya.
“Apa maksudmu!”
“Anda pasti tau kan apa yang saya maksud?” balik pertanyaan
Wanita itu berikan. “Cobalah ini maka itu akan membuat Anda mendapatkan apa
yang Anda mau,” lanjutnya.
Sampainya di rumah Cleo melihat buku itu, terlihat dari
covernya itu terbuat dari kulit entah manusia atau hewan. Lengket, itulah yang
Cleo pikirkan. Hingga beberapa saat kemudian dia mulai membacanya perlahan.
Saat itu dia paham bagaimana bisa mendapatkan sebuah kekuatan Calista Kembali.