
Keesokan harinya benar seperti apa yanh di katakan oleh Duke Thedelso, jika mereka akan pergi ke kuil suci untuk bertemu dengan sanit di sana. Tentu saja Amora tau saat itulah Diana yang menjadi sanit, dia yang akan langsung menarik perhatian tidak lain kepada Chandler dan Theodor nanti. Kisah yang akan berlanjut, saat penulisnya bertemu dengan dua tokoh sekaligus. Awal cerita pun akan di mulai.
Pagi-pagi sekali Amora sudah di persiapkan untuk menyambut Theodor yang akan datang.
"Kamu masih mengantuk?" tanya Chandler sadar dengan uapan lembut bibir Amora.
"Amora belum pernah bangun sepagi ini," jawabnya dengan mata yang masih setengah terbuka.
Jangankan di sana, bahkan kehidupan asli pun Amora tidak tidur dengan benar. Dia tidur cepat bangun di malam hari, lalu tidur kembali menjelang pagi. Jam delapan atau sembilan baru bangun bersiap untuk pergi ke kampus. Apalagi saat dia di novel, hanya bangun, makan, tidur, membuat jadwal tidur Amora benar-benar semaunya.
Lagi-lagi Chandler tidak berkata banyak. Dia malah memeluk pinggang Amora untuk menjaganya agar tidak jatuh. Kereta kerajaan akhirnya datang, dengan sambutan hangat seseorang pangeran turun dari sana.
Duke Thedelso dan Edelweis juga menyambutnya, dengan senyuman Duke Thedelso memberi hormat. "Hormat saya kepada yang mulia Theodor," ucap Duke Thedelso.
...Cr. Pinterest ( Tia`Vetia)...
"Salam saya untuk Pengeran Theodor," salam dari Chandler pada Theodor.
"Kalian, astaga paman Thedelso, dan Chandler kalian tak perlu se formal ini pada saya. Lagipula ini bukanlah kunjungan resmi, tolong jangan," ucap langsung Theodor menyambut hangat Duke Thedelso dan Chandler yang memberi hormat.
Di sisi lain, pandangan Theodor langsung mengarah pada Amora. Melihatnya ke arah Amora. Lantas Amora langsung tersentak membuat dia bersembunyi di balik Chandler.
"Paman Theodor, apakah dia putri Anda?" tanya Theodor langsung mendekati Amora dengan Chandler sebagai pembatas nya.
"Benar, nama sia adalah Amora. Mohon di maklumi, karena dia belum pernah menerima pelajaran etika sebelumnya," jawab Duke Thedelso.
Senyuman simpul mulai tercipta dari Theodor. Melihat ke arah Amora. Tatapan lembut juga kagum, beberapa saat lantas dia mencoba untuk menggenggam tangan Amora, tapi di hentikan oleh Chandler. "Maaf atas kelancangan saya, tapi Anda bisa lihat adik saya merasa tak nyaman. karena itu," jelas Chandler tegas menggenggam tangan Theodor.
"Sepertinya kamu benar-benar menjaga adikmu Chan," jawab Theodor dengan penuh nada ejekan.
"Ya, yang seperti Anda lihat."
Tatapan saling tersenyum mereka tampilkan, tapi lain hal yang mereka pikirkan. Seolah akan saling membunuh, membuat Amora sedikit ngeri melihatnya. Aura yang tiba-tiba hitam di antara keduanya. Setau Amora ini terjadi saat mereka memperebutkan Diana. Dimana Diana lebih memilih Theodor dan itu membuat Chandler kesal.
Tak banyak ucapan di antara keduanya. Akhirnya mereka bertiga, Amora, Chandler, dan Theodor pergi ke kuil suci.
Perjalanan yang menyeramkan bagi Amora, terlihat Chandler dan Theodor yang tak saling berbicara tapi menampilkan aura marah mereka. Ini jauh dari apa yang Amora pikirkan. Hubungan Theodor dengan Chandler memang akan berakhir, tapi bukan sekarang. Itu tepat saat Diana datang, membuat hubungan mereka yang di bilang sangat akur menjadi berantakan.
"Amora, benar? Saya pikir kamu diam karena kamu duduk di sebelah kakak mu itu, jika mau saya menawarkan tempat duduk di sebelah saya," ucap Theodor membuka pembicaraan.
"Apa yang Anda maksud pangeran, bahkan selain disini dia sudah terbiasa duduk dengan saya," timpal Chandler kesal.
"Oh benarkah, kamu yakin itu bukan karena dia terpaksa?"
"Untuk apa, saya tak pernah memaksa dia."
"Sa-saya senang duduk di sini, hanya ragu ada orang asing lain dan Anda adalah pangeran. Saya pikir akan tak sopan dengan perilaku saya, jadi saya diam," jelas Amora dengan nada pelan membuka Theodor langsung menatapnya. Dia menatap penuh Amora, seperti ada sesuatu yang dia rasakan. Membuka bibirnya perlahan seperti menyiratkan kagum.
Di sisi lain, Chandler malah tertawa. "Pffftt... Orang asing," ucap Chandler dengan ejekan dan wajah tawa yang dis sembunyikan.
"Chandler diamlah! Astaga apakah kamu tak suka bertemu dengan saya? Wanita yang lain berlomba untuk bertemu, sedangkan kamu malah malu?" tanya Theodor mulai menyiratkan auranya.
Di sisi lain Amora hanya diam. Dia tersenyum secara terpaksa. Seperti mengiyakan kepedean dari Theodor sendiri meskipun dia tak mengatakan apa-apa. Chandler benar-benar merasa tertawa puas, dia mengusap kepala Amora dan memberikan kedipan lantas acungan jempol.
"Bagus sekali Amora," ucap Chandler dengan bisikan.
"Dia benar-benar adikmu Chandler, apa yang kamy ajarkan?" tanya Theodor merasa malu.
"Saya tak mengajarkan apapun. Hanya saja, seperti yang Anda bilang dia adalah adik saya, tentu saja dia seperti saya. Tidak suka dengan kepedean Anda, rasakan sekarang setidaknya ada satu perempuan yang menolak kharisma Anda," jelas panjang Chandler.
Theodor hanya menutup matanya, sedikit tersenyum tipis menandakan dia suka. Kekehan pelan dari Chandler perlahan sirna. Menampilkan aura yang lebih cerah dari sebelumnya.
"Bagaimana saat pesta kedewasaan saya melamar Amora," ucap Theodor.
Amora lantas membulatkan matanya. Dia tak pernah mengira hal itu akan terjadi. Tentu saja, Theodor hanya menyukai Diana, bukan tokoh sampingan seperti dirinya.
"Saya menolak, saya ingin menikahi orang yang saya cintai," ucap Amora cepat.
"Ya, saya menyukai Anda Nona Amora."
"Tidak... Saya menyukai kakak...." ucapan Amora malah membuat Chandler terkejut sekarang.
"Wah, sepertinya saya akan mencium pemberontakan jika saya tetap menikahi kamu ya Amora."
"Eh? Saya tak berniat untuk memberontak."
"Bukan saya, tapi kakakmu Chandler."
Ucapan Theodor mengarah pada Chandler yang masih diam menutupi wajahnya yang memerah. Perilaku yang belum pernah Chandler tunjukkan, hanya tatapan hangat membuat Amora diam.
"Saya tak pernah berpikir untuk membuat pemberontakan pada Dinasti Anda, tapi jika berani mungkin bisa," ucap Chandler yang masih bergumam tidak melihat ke arah Amora.
Di sisi lain, Amora tak mendengar apa yang di ucapkan oleh Chandler. Masih melihat Chandler dengan polos, lantas memalingkan wajahnya pula.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di kuil suci tempat sanit kecil di lahirkan. Dada Amora tiba-tiba berdetak dengan kencang, menandakan ada sesuatu yang membuatnya gusar. Alasan kenapa dia di bunuh oleh chanyeol, adalah Diana salah satunya.
"Amora kamu tak apa?" tanya Chandler sadar wajah cemas Amora.
"Heem!" jawab Amora hanya dengan anggukan.
Chandler paham Amora tak baik-baik saja. dengan tatapan alus, mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya. "Tak masalah, kakak ada di sini."