
Chandler paham Amora tak baik-baik saja. dengan tatapan alus, mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya. "Tak masalah, kakak ada di sini."
Ucapan Chandler di perhatikan oleh Theodor. Pasalnya dia belum pernah menampilkan itu pada seorang perempuan. Meskipun Amora adalah adiknya, tetap saja mereka bukan adik kandung.
"Kamu akan tetap di sana?" tanya Chandler saat dirinya dan Amora sudah berjalan masuk.
"Kamu jahat sekali, padahal saya tengah memikirkanmu dengan adikmu," ucap Theodor sembari tersenyum simpul ke arah Amora.
"Jangan pikirkan saya yang mulia, pikirkan saja diri Anda."
"Haha itu jahat atau perhatian Chan?"
"Anggap saja perhatian, terimakasih."
Ucapan dari Chandler menjadi gelagak tawa di antara Chandler dan Theodor. Seperti mereka paham, ada beberapa hal yang mereka lakukan hanya dengan tindakan.
Chandler dan Theodor memang sudah akrab dari kecil. Imbas dari kedua ayah mereka yang berteman baik. Dalam pikiran Amora dia mulai merasa bersalah, pasalnya hubungan ini rusak akibat satu perempuan. Dialah yang membuat skenario saat Chandler, Theodor, dan Diana bertemu. Sikap dan alus dan rencana kematian yang manis, membuat Amora hanya bisa tersenyum miris.
'Maafkam saya, setelah ini saya lah yang akan memperbaikinya,' batin Amora melihat gerbang gereja yang mulai terbuka.
Sesaat kemudian Amora mulai masuk, dengan gandengan tangan dari Chandler. Di sambut dengan nyanyian alus para penyanyi gereja.
Beberapa saat mereka masuk. Melihat altar dengan satu anak yang memiliki rambut pink yang mempesona. Duduk depan altar, saat tengah di do'akan.
Amora, Chandler, dan Theodor dapat barisan paling depan. Mungkin dengan pangkat Theodor sebagai putra mahkota membuat mereka menempatkan tempat yang paling bagus.
"Atas nama dewa, saya sucikan kalian semuanya. Pemberkatan, untuk kalian semuanya," Ucapan Diana.
Suara yang lembut dan memennagkan, baru kali ini Amora bahkan kagum dengan karakter utamanya. Tak heran dia menjadi tokoh yang bersinar.
Saat pemberkatan ini, hal yang paling di tunggu adalah melihat spirit dari seorang Sanit. Mengeluarkan asap bewarna biru yang niscaya bisa menyembuhkan.
Dengan tulus Amora diam, menutup matanya lantas berdoa. 'Tuhan, dewa, siapapun di sana pasti tau jika saya bukanlah Amora yang sebenarnya. Saya di sini akibat ketidaksengajaan, saya ingin minta tolong. Saya percaya jika saya di sini pasti untuk sesuatu, jika benar saya bisa merubah alurnya, maka berilah saya sedikit kekuatan agar saya bisa merubah alur yang saya buat sebelumnya.'
Batin Amora berucap, sesaat dis membuka mata. Melihat ada asap lain yang menyelubungi nya. Selain ada asap biru, ada juga emas kekuningan. Warnanya lebih pekat bahkan terlihat mengkilap.
Dalam sanit memang memiliki tiga tingkat kekuatan. Kuning, hijau, biru. Kuning melambangkan kemakmuran, dan kesejahteraan. Hijau melambangkan kesuburan, dan biru adalah kesehatan. Dalam tingkatan sanit inilah yang membuat sebuah kerajaan konon bisa memakmurkan rakyatnya.
Setelah melihat ke arah Chandler, terlihat wajahnya yang panik juga terkejut. Begitu pula dengan para pendeta yang ada di depan Amora.
Wajah Chandler menatap tak percaya, lantas dia merasakan tepukan tangan di pundak nya. "Amora, kamu... Kamu itu siapa!" Teriak Theodor yang ada di sebelah lain Amora. Memalingkannya, lantas menatap Amora terkejut seperti yang lain.
"Apa maksud Yang Mulia!" Tanya Amora kembali memundurkan badannya ketakutan.
Hingga badan Amora di gandeng oleh Chandler, dimana Amora yang masih diam ketakutan. "Tenanglah Theo, kamu jangan membuatnya takut," Ucap Chandler.
Sesaat Chandler mulai menggenggam tangan Amora, mengusapnya perlahan. "Jujurlah Amora, sejak kapan kamu memiliki spirit?" Tanya Chandler.
"Apa-?! Spirit?! Saya tak punya!" Jelas Amora kebingungan.
"Spirit kadang memang tidak terlihat, tapi jika bergesekan dengan spirit lain itu akan memunculkan kekuatannya. Jadi kemungkinan, itu adalah spirit lahir murni," Ujar seorang pendeta menghampiri Amora. "Perkenankan saya untuk membimbing Anda dalam menjaga spirit Anda," Lanjutnya.
Amora masih saja diam, dia tak tau harus mengatakan apa. Pasalnya semuanya terjadi dengan cepat, membuat Amora masih tak bisa untuk mencerna apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
"Maaf, kami akan pulang!" Ucap Theodor langsung membawa Amora pergi. Di lanjutkan dengan Chandler di belakang mereka.
Di atas altar seorang gadis muda tengah mengeramkan tangannya. Diana merasa malu saat ada sanit lain bahkan tingkatan yang tinggi ada satu gereja dengannya. Meskipun Diana adalah sanit, tapi dia adalah anak yang di persiapkan untuk itu.
Dalam dunia spirit ada dua cara anak-anak bisa menjadi seorang sanit. Yang pertama adalah dengan mempersiapkan, di latih dan menjadi pengabdi gereja yang sesungguhnya agar mendapatkan spirit. Yang satu lagi adalah dari lahir atau bisa di sebut dengan takdir. Pilihan langsung dari dewa untuk melayangkan kekuatan spiritual nya.
Diana, dia adalah salah satu dari dua cara itu. Percobaan sejak ibunya mengandung sudah mengabdi ke gereja. Apapun untuk gereja, hingga Diana juga di latih seperti itu. Menjadikan dia adalah sanit termuda dengan spirit menyembuhkan.
Naik ke kereta, Amora duduk di sebelah Chandler. Dia hanya terdiam masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Saat tau Amora memiliki spirit, apalagi spitit murni mereka pasti berusaha untuk membuat Amora sebagai pengabdi gereja," Ucap Theodor di sela keheningan mereka.
"Saya tak pernah menyangka jika Amora adalah sanit."
"Kaka, jadi ada apa?"
"Apakah kamu tak menyadarinya?" Tanya Chandler.
"Kamu saat berdoa, mengeluarkan spirit emas kekuningan, spirit tertinggi di antara jajaran spirit. Apakah kamu tak merasa?" Tanya Theodor langsung.
"Ah-? Saya? Memiliki spirit?" Tanya Amora masih kebingungan.
"Bukankah sudah di bilang jika spirit bisa keluar jika merasakan spirit lain, kemungkinan Amora tidak tau karena dia belum pernah merasakan spirit yang keluar. Jika ini adalah spirit murni...." Penjelasan Chandler sembari mengusap keningnya.
"Orang-orang gereja akan membawa Amora," Sambung Theodor melihat kearah Amora.
Tatapan berbeda dari sebelumnya. Sebuah tatapan serius, begitu juga dengan Chandler.
"Kaka, Amora tak ingin pergi!" Ucapan Amora langsung memeluk Chandler.
"Tenanglah, kamu tak akan kemanapun begitu juga dengan ayah tak akan membawamu pergi," Ucap Chandler.
Lain hal dengan Chandler, Theodor masih diam seperti tak percaya. Dia menghela napas sesaat, sembari melihat ke luar jendela.
Beberapa saat keributan dalam kereta menjadi keheningan total. Amora yang kelelahan dengan kepala di pangkuan Chandler. Tangan Chandler menepuk pelan punggung Amora, melihatnya sesaat lantas menatap luar jendela.
"Apakah kamu yakin dengan jawabanmu tadi?" Tanya Theodor tiba-tiba seperti menyembunyikan sesuatu.
"Saya tidak tau, tapi jika saya bilang tidak tau maka itu akan membuat Amora lebih cemas," Jawab Chandler dengan posisi yang masih sama.
"Sepertinya kamu sangat menyayangi Amora, sejak kapan kamu menjadi lembut?"
"Sejak saya tau ada orang selemah ini untuk saya lindungi."