Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 39 : Mansion yang Dingin.



Amora mengerjap matanya, saat dia ingat jika semuanya tidak seperti semula. Langit sudah kembali malam, entah berapa lama dia tertidur di ranjangnya.


"Emma," panggil Amora. "Emma," panggilnya kembali.


Sesaat Amora mengusap lehernya, perasaan mengganjal ada di sana. Ingin dia minum sebentar, tapi tak ada orang. Dengan lengan kecilnya dia membawa lampu pelita. Sesaat menyusuri lorong untuk menuju ke dapur.


"Ini sepi sekali, apakah biasanya Emma seperti ini?" tanya Amora pada dirinya sendiri.


Tidak ada penjaga, tidak ada pelayan. Semuanya hening, bahkan lampung remang-remang dari cahaya malam. Sesaat kemudian saat sudah jauh dari kamar, Amora merasakan angin kencang mulai datang. Menjatuhkan lampu minyak di tangannya. Semuanya sepi seperti semula.


"Sial, bagaimana aku maju atau kembali," ucap Amora sesaar melihat serpihan kaca di lantai.


Amora mencoba untuk menjentikkan jarinya, saat kedua tangannya di tahan oleh seseorang. "Kamu jangan menggunakan ini sembarangan," ucap dari seorang yang Amora kenal.


Chandler, entah darimana dia tiba-tiba datang dengan pedang du tangannya. "Kakak, saya ingin pergi ke dapur karena ingin minum. Lalu angin datang, lampunya jatuh dan pecah jadi saya mencoba untuk menggunakan sihir cahaya," jelas Amora.


Setelah kematian Thedelso rasanya semua berbeda. Chandler tidak melanjutkan sekolahnya, begitu pula dengan mansion yang sepi karena pemecatan maid juga pengawal. Rasanya dingin bagi Amora, perasaan hangat yang hilang seketika membuat dia sedikit merindukan rumahnya dulu. Di kehidupan sebelumnya, dia tidak merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah, tapi sekarang berbeda.


"Amora, kamu kenapa melamun?" tanya Chandler kembali saat melihat Amora diam beberapa saat.


"Ah, kaka saya ingin ke dapur," jawab singkat Amora setelag meraih tangan Chandler lalu berdiri. Sesaat fokus Amora teralihkan saat dia melihat pedang di tangan Chandler. "Kakak, untuk apa malam-malam membawa pedang?" tanya Amora penasaran.


"Ah-! Saya hanya berlatih sebentar dengan Barier tadi, kamu ingin ke dapur Amora? Biar saya antar," jawab cepat Chandler langsung mengantar Amora.


Dalam gelap mereka berdua, tanpa lilin, tanpa pelita, ataupun sihir yang membuat cahaya. Chandler bercerita banyak hal, bahkan waktu Amora berpikir jika suasana mansion kini dingin dia tidak yakin. Keberadaan Chandler membuat suasana hangat itu kembali.


"Emmm, enak kakak saya akan gemuk jika makan malam-malam," gumam Amora dengan memasukan makanan ke mulutnya.


"Tak masalah, bentuk tubuh itu tidak penting Amora. Ingatlah jika kita hanya butuh satu sama lainnya, Amora," jelas Chandler juga ikut makan bersama Amora.


"Kakak, apakah kakak tidak merasa aneh? Semenjak kematian ayah, saya rasa tempat ini semakin sepi," jelas Amora langsung makan tanpa melihat ke arah Chandler.


Hal yang tidak di perhatikan Amora, Chandler menghentikan makannya. Dia melihat sekitar, matanya tajam melihat ke salah satu arah. Tepat di pojok ruang dapur, Chandler mengerem kesal.


"Kamu bahkan tidak membiarkan saya untuk bersama dengan orang yang saya sayangi," gumam Chandler perlahan.


Amora sedikit mendengar itu. Dia menatap Chandler dengan tatapan bingung. "Kakak mengatakan sesuatu?" tanya Amora dengan wajah bingungnya.


Chandler yang semula menatap dingin kini tersenyum simpul pada Amora. "Tidak ada, saya benar-benar bersyukur memiliki adik seperti kamu Amora. Ingatlah sesuatu, bisakah kamu percaya pada kakak mu?"


"Saya selalu percaya pada kakak, memang kenapa?"


"Baguslah, jika seperti itu kakak tidak perlu cemas."


"Apa yang kakak sembunyikan?!" tanya Amora dengan tatapan marah bercampur sedih di matanya.


"Maksudnya?"


Ucapan Amora terhenti saat tangan Chandler memerangi wajahnya. Tangan hangat Chandler sesaat membuat Amora diam. Dia tidak bisa menahan tangisnya, saat senyuman paksa dia lakukan untuk menampilkan wajah senyuman.


"Saya tidak ingin kehilangan orang yahg saya sayangi, pertama ibu, lalu ayah, tolong katakan sesuatu kakak," ucap Amora pelan memenagi tangan Chandler.


"Kematian ayah pasti sangat memukul mu Amora, tapi ingatlah bukan kamu yang membunuh ayahayah," ucap chandler seraya menempatkan jarinya di leher Amora. Entah apa yang terjadi, itu membuat Amora diam. Dia merasakan tenang, lantas tertidur lelap dalam beberapa saat.


"Maaf Amora, tapi ada hal yang tak seharusnya kamu tau," lanjut Chandler. Sesaat Chandler melihat ke arah titik yang membuatnya tak nyaman. Memperlihatkan seseorang datang dari sana. "Saya harap ini adalah sesuatu yang penting, Barier," ucapnya.


"Tuan Chandler, pangeran datang," jawab Barier singkat.


"Theodor? Dia sudah bisa keluar?!"


"Dia ada di kamar nona Amora, selama ini dia mengamati Nona Amora diam-diam. Para bawahan Tuan Chandler juga menangkapnya setelah pengintaian beberapa saat," jelas Barier.


Chandler langsung pergi ke kamar Amora. Dengan menempatkan Amora pada Barier untuk di bawa ke kamarnya. Sesaat dia sampai di kamar adiknya itu, melihat sosok yang tengah di ikat kuat dengan beberapa penjaga.


Tanpa pikir panjang, Chandler langsung menggunakan sihirnya. Memperlihatkan sesuatu masa lalu untuk memastikan jika orang yang di ikat benar-benar Theodor.


"Theo! Ini kamu! Lepaskan dia, saya sudah memeriksanya," ucap Chandler memerintahkan.


"Sudah saya bilang, ini saya apakah setidak percaya itu kamu pada saya Chandler?!" tanya Theodor meregangkan badannya. "Dimana Amora?" tanya nya kembali.


"Saya membawa Amora ke kamar saya lagipula mengintip kamar perempuan bukanlah hal yang sopan Yang Mulia," jawab Chandler penuh penekanan.


"Saya hanya ingin memastikan jika dia aman."


"Terimakasih atas perhatian yang mulia, tapi keamanan adik saya adalah urusan saya sekarang. Lagipula sejak kapan Anda bisa keluar istana?"


"Semenjak Diana terluka. Tidak lupa saya ke makam Duke untuk berterimakasih, atas jasanya saya bisa keluar kerena kekuatan Diana yang melemah. Chandler, saya ada beberapa hal yang ingin di bicarakan. Berdua saja," jelas Theodor memasang wajah seriusnya.


Sesaat Chandler memerintahkan semuanya untuk pergi. Meskipun mereka adalah prajurit yang Chandler bawa sendiri, dia masih tidak percaya. Prajurit bayangan yang dia ambil dan dia latih secara diam-diam. Memastikan jika mansion nya akan baik-baik saja dari serangan. Sayang sekali persiapan itu terlalu lama, tanpa sadar Diana sudah melancarkan aksinya.


Bersedih tidak akan menyelesaikan masalah. Setelah pertarungan itu Chandler membersihkan mansion. Perlu waktu untuk membereskan semua hama di sama. Dia tidak bisa menunjukkan pada Amora secara terang-terangan jika dia membersihkan dengan cara membunuh semua pelayan. Dengan sihir yang dia bisa Chandler membuat Amora tertidur.


Chandler mendengarkan Theodor dengan seksama. Memperlihatkan sebuah rencana yang bagus tapi juga bisa meregangkan hubungan dia dan Amora.


"Saya sudah tau rencana ini dari Barier, Anda mau saya melakukan itu?!" tanya Chandler masih tidak yakin.


"Obsesi Diana dengan alur cerita sesuai dengan keinginan dia. Mungkin saat membuat dia lengah, kita bisa membunuh dia secepatnya," balas Theodor.


"Bagaimana dengan Amora, bagaimana jika nanti dia benar-benar berpikir jika saya mencampakkan nya?"


"Sebuah resiko harus di lakukan, itu terserah kamu Chandler. Saya juga akan ikut membantu untuk memperhatikan Amora, kamu tau bukan saya juga tertarik dengannya."