Take My Life

Take My Life
chapter 07



Setelah membantu mengevakuasi Axelin. Lauro kembali beralih pada Nathalia yang kini terlihat benar benar rapuh dengan di temani Evan.


Evan hanya terdiam melihat sosok Nathalia. Karena mustahil baginya seseorang sudah mati mustahil hidup kembali. Atau mustahil ada orang yang mirip sembilan puluh persen tanpa adanya hubungan darah.


Lauro berjalan gontai mendekati Evan dan Nathalia. Saat pria itu hampir sampai Nathalia mulai kehilangan kesadaran beruntung Lauro dengan cepat menangkap tubuh mungil itu.


"Dia --"


"Bukan" kata lauro datar.


Lauro tahu apa yang akan terucap dari bibir Evan. Karena wajah wanita yang sedang berada dalam pelukanya saat ini, sangat mirip dengan sosok cinta pertama Lauro, yaitu Evgania Elsa Mclan.


Tanpa kata Lauro mengangkat tubuh Nathalia dan membawa tubuh itu masuk kedalam mobil Evan untuk menuju kerumah sakit. Evan yang menyadari kebungkaman Lauro hanya ikut terdiam.


Evan sangat kenal pada sahabatnya ini. Hangat dan jahil tapi jangan pernah bermain dengan emosi dan kegundahanya. Bisa jadi pisau bedah itu akan di gunakan untuk membunuhmu, bukan untuk menyelamatkanmu.


Evan akan menunggu Lauro untuk membuka mulutnya sendiri dari pada harus bertanya. Evan mengerti apa yang Lauro rasakan sekarang.


Evgania adalah cinta pertama Lauro walaupun ia tak pernah merajut kasih dengan gadis itu tapi nyatanya cintanya yang terpendam itu membuatnya menyesal seumur hidupnya. Bahkan sampai 11 tahun berlalu Lauro tetap tak bisa menganti sosok Evgania pada yang lain.


🎀🎀🎀🎀🎀


Matahari muncul dengan cerah seolah tak peduli pada hati yang kini tengah di rundung duka. Ia bersinar seolah mengatakan 'tenanglah' tapi nyatanya itu tak tersampaikan pada gadis yang terduduk di kamar dengan dominan warna biru itu


Nathalia duduk di ranjangnya sambil memegang sebuah jaket yang mungkin aroma tubuh seorang pria itu sudah hampir hilang dari jaket dalam genggamannya.


Sudah hampir dua bulan kepergian Axelin tapi sepertinya luka itu tak juga mengering malah bertambah akibat rindu kini mulai memainkan perannya. Kesakitan yang tak mungkin bisa di alami siapa pun.


Harapan tiada pasti selalu menghiasi benak Nathalia. Dengan menepis segala ketidak mungkinan dan harapan percuma, nyatanya gadis itu tetap berharap Axelin datang dan memeluknya.


Natalia merindukan sosok Axelin. Sosok yang 3 tahun lalu menemaninya. Selalu menenangkanya bahkan bisa di katakan pria itu tak pernah membuat Nathalia menangis.


hanya sekali! ya saat terakhir kali saat pertemuan terakhir mereka. Axelin leonidas adalah pria terbaik yang pernah hadir dalam hidup Nathalia. Cinta pertama Nathalia yang ia kira akan berakhir bahagia. Tapi nyatanya cinta itu menyeret Nathalia pada jurang kegilaan.


Keadaan yang seolah enggan berikan jalan. Membuat tak ada pilihan lain bagi Nathalia untuk menerima satu kenyataan menyakitkan. Tapi egonya tetap tak peduli.


Nathalia memeluk jaket hitam legam itu dan mata greynya juga tak henti henti untuk menatap sebuah foto di atas meja. Di foto itu terlihat jelas kebahagian yang nyata. Axelin bersembunyi di belakang Nathalia karena memang sebenarnya pria itu tak suka di foto dan Nathalia yang melindungi wajahnya dari sinar matahari dengan tangan kirinya.



Dan kenangan dari foto itu membuat Nathalia bersusah payah menangis dalam diam. Ia ingat saat itu saat mereka liburan tak terduga di rusia karena Nathalia dengan nakalnya menyusul Axelin yang memang ada perjalanan bisnis kesana.


"Kau bohong!"


"Hiks ... Kau bilang takan pernah meninggalkanku"


"Hiks hiks Kemana kau saat ini?"


"Kenapa kau tak juga kembali?"


"Bukankah aku segalanya bagimu?"


"Hiks ku mohon bawalah aku"


Kalimat demi kalimat yang selalu menghiasi bibir Nathalia. Seolah gadis itu tak akan pernah bosan untuk mengucapkanya. lirih nyaris tak terdengar hanya ada isak tangis yang memilukan.


Bulu mata lentik yang basah itu kembali tertutup dan kristal bening menerobos keluar membasahi pipinya. Wajah itu menyiratkan luka yang mendalam. Benar ada luka yang tak bisa sembuh dalam hitungan hari bahkan bisa jadi luka itu abadi dan selalu siap menemani hari harimu.


Mungkin telah lelah Nathalia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang tanpa melepaskan jaket itu. Perlahan tapi pasti mata basah itu tetutup.


Aku tidak meninggalkanmu..


Aku tidak berbohong...


Hanya saja waktuku menjagamu telah usai...


Aku ada disini baby...


Jangan seperti ini. Bangkitlah sayang bahkan saat aku tak lagi bersamamu


Aku menunggumu...


Aku mencintaimu baby...


Mata indah itu terbuka. Dengan sentakan cepat Nathalia segera bangkit dari tidurnya.


"Axelin... kau dimana?!"


"Aku mendengar suaramu!!!" Nathalia setengah berteriak. Mata indah itu mengedarkan pandanganya kesekitar kamar. Seolah mencari seseorang yang dulu pernah menjaganya


Ia tak menemukan siapapun.


"X!!!"


"AXELIN KAU DIMANA?!!!"


"KU MOHON KEMBALI!!!... X!!!" tangis Nathalia pecah. Dari arah pintu berlarian seorang pria tampan dengan potongam rambut undercut


"Hey.. atha... tenanglah.." pria itu mencoba menenangkan Nathalia dengan mencengkram erat kedua bahu Nathalia


"Axelin telah tiada sayang" kata pria itu mendekap tubuh Nathalia yang bergetar akibat menangis. Dan membalas pelukan pria tampan itu.


"Ray.. aku mendengar suara X...."


"Tidak atha.. dia telah tiada... Bukankah kau juga hadir di pemakamanya. Ku mohon berhentilah" kata raynold eza Romanov dengan mencengkram kedua bahu adik kesayanganya.


Ray begitu frustasi karena lagi lagi adiknya mengalami ini. Bahkan Ray tak lagi bisa berani meninggalkan Nathalia sendirian.


"Percayalah Ray.. aku mendengar... aku mendengar suaranya" kata Nathalia seperti kehilangan kewarasanya.


Sementara itu Ray hanya mengeleng dengan mata yang berkaca. Ia begitu hancur melihat kondisi adiknya saat ini. Bahkan piskolog tak bisa membantunya. Jiwa yang Sehat itu harus lahir dari diri sendiri sedangkan Nathalia begitu larut dalam puing puing kenangan yang telah sirna.


"Tidak atha!.. sadarlah adikku!... Sadarlah.. X telah tenang disana. Jangan seperti ini!" Ray hanya bisa mengusap rambutnya frustasi.


"Berhentilah atha.. aku sama hancurnya denganmu... ku mohon atha... biarkan dia tenang.."


"Tidak ray... X akan datang.. X menungg---"


PLAAAK!!


Tanpa sadar Ray melayangkan satu tamparan keras pada pipi adik kesayanganya. Sungguh emosi dan rasa kalut telah menguasai dirinya saat ini.


Ia tak tahan melihat kondisi adiknya. Tapi beberapa saat kemudian Ray tersadar saat Nathalia memegangi pipinya dan menatap ray dengan tatapan penuh benci.


"Nathalia"


"Atha.. maaf.. maafkan aku.. aku.." Ray merasa sangat berdosa telah melakukan hal bodoh itu pada adiknya.


Nathalia tak percaya bahwa Ray berubah menjadi orang jahat. Ia mengeleng dan kembali menangis. Ia mengabaikan panggilan Ray dan berlari keluar kamar. Sedangkan kan Ray menatap tangannya yang dengan berani menyakiti adiknya sendiri.. adik kesayanganya!


Raynold begitu menyayangi adiknya itu bahkan Ray pernah menghancurkan mobil pacarnya karena mendengar kekasihnya itu membicarakan kejelakan Nathalia di belakangnya. Baginya tak ada satu manusia pun yang berhak menjelekan adiknya apa lagi menyakiti. Never! Bagi Ray Nathalia adalah nyawanya.


Ray begitu bahagia saat sahabatnya mampu berubah lebih baik dan mampu menerima sikap buruk Nathalia. Manja, sensitif dan keras kepala tapi ternyata waktu Axelin tak telalu lama bisa menerima sikap Nathalia karena kini pria itu pergi.


Pergi untuk selamanya. 'Hancur' Satu kata itu juga cukup mengambarkan perasaan raynold karena kehilangan sahabat dan melihat kehancuran adiknya secara bersamaan.


Nathalia berlari menuruni tangga itu dengan air mata membasahi pipinya, hatinya begitu hancur. Nathalia berlari ke taman dapur di samping mini bar ia bersembunyi. Itu adalah tempat persembunyian Nathalia dari kecil. Tak kala ia menjahili kakaknnya atau pengasuhnya.


Nathalia adalah gadis yang ceria dan bahagia. Ayah dan ibunya memang sibuk dengan urusanya masing masing namun Nathalia tak pernah merasa kekurangan kasih sayang, apa lagi dari raynold.


Aku menunggumu


Kata kata itu kembali terngiang di benak Nathalia. Tanpa sadar pandangan Nathalia tertuju pada benda pipi dan tajam dalam sebuah kotak khusus di atas meja.


Nathalia termenung lama melihat benda itu. Ntah apa yang sedang ia fikirkan yang jelas matanya tak teralihkam dari tempat itu. Dapur juga sepi karena pelayan telah selesai dengan kegiatannya.


TBC


ini story ringan kok konfliknya g berat 🤣🤣🤣 sabar ya part awal emng lagi musim hujan 🤣


bagi yang takut kecewa karena Sad ending.. gini ya sygku 😘 ay ini tidak pandai bikin story sad ending dan g pernah niat bikin story sad ending 🤣 jadi mohon santuylah 🤣 ay juga g berani bikin sad ending.. bisa di sleding ay kalo bikin sad ending .. ih serem 🤣🤣🤣


maapkan namanya ada yang sama 🤣


Raynold eza romanove (take my life)


Raiya liron orlando (Remember me & Maxim)


Ray febriano mahawira (Gadis Ray)


ay itu paling susah nyari nama MC ama judul 🤣 jadii maapken saiia kalo namanya tersekesan double 😘


bagi yang belum kenal ama Raiya liron orlando bisa baca Remember me 🤣🤣🤣 promoteroooos