
Nathalia merasa sedikit tenang akhir akhir ini. Ini sudah seminggu pasca operasi yang di jalani ayahnya. Semilir angin menerpa wajahnya, dan membuat rambutnya menari di atas balkon rumah sakit ini.
"Tha" suara lembut ibunya di ambang pintu balkon membuyarkan lamunan Nathalia.
"Bisakah kita bicara sayang?"
Nathalia yang sedang memeluk dirinya sendiri karena dinginnya angin, mengangguk dan berjalan mengikuti ibunya untuk masuk di ruang perawatan ayahnya.
Disana, Rich Romanove sudah duduk di atas sofa dengan infus yang masi menemaninya. Duduk dengan menyenderkan seluruh tubuhnya di sandaran sofa. Terlihat sekali pria paruh baya ini lemah dengan bukti wajahnya yang pucat dan lesu.
Kedatangan Nathalia dan ibunya membuat pria itu bersusah payah mengembangkan senyumnya. Melambaikan tangan memberi isyarat pada Nathalia untuk duduk di sebelahnya.
Satu satu yang terbaik setelah kejadian ini adalah Nathalia tak pernah bermain dengan para pria dan meneguk minuman keras lagi. Gadis itu terlihat benar benar takut kehilangan prianya sekali lagi, Ayahnya!
"Terimakasih sudah menemani papa" rich mengelus rambut panjang Nathalia yang telah duduk di sebelahnya. Nathalia tak bisa menjawab apa pun. selama ini yang ada di fikiranya adalah dia yang paling menderita. Sampai ia tak tahu jika ayahnya memiliki penyakit bagai bom waktu.
"Tha, bisakah papa melihat mu bahagia sebelum papa pergi?"
Nathalia yang tadi menunduk kini melempar tatapan pada Rich dengan tatapan memohon.
"Jangan katakan itu pa!"
Rich menatap Maria yang berada di seberang meja, pria paru baya ini seperti sedang menimbang kata yang akan keluar selanjutnya.
"Papa rasa papa tak memiliki banyak waktu, untuk menunggu kau mendapatkan kebah-"
"Papa...!"
Rich tersenyum getir, melihat anak gadis yang dulu ia temukan kedinginan di taman bermain ini, kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Tapi sekarang gadis manis ini harus menjalani hidup yang tak di inginkan banyak orang.
"Mari kita berbicara fakta sayang, penyakit papa ini bom waktu, yang sewaktu waktu bisa membuat semuanya berakhir"
"Stop pa!" Nathalia berdiri, ia tak ingin mendengarkan sesuatu yang bahkan tak ingin di bayangkan oleh Nathalia. Cukup sekali ia merasakan kehilangan. Walaupun satu tahun berlalu nyatanya kenangan itu bagai belati tak kasat mata menghujam hatinya.
Rich mencoba menenangkan diri karena penolakan Nathalia, jangan katakan bahwa seseorang yang memiliki riwayat serang jantung akan mati karena terkejut seperti beberapa serial di televisi.
Itu tak berlaku. Bahkan jika berbicara tentang itu, tekejut bisa menyebakan kematian pada orang dari segala usia dan kondisi kesehatan. Orang muda dan orang yang sehat juga bisa mengalami kematian mendadak karena terkejut. Ya, fenomena ini tak hanya menyerang orang lanjut usia dan orang yang punya riwayat penyakit atau serangan jantung saja. Jadi jangan sembarangan mengejutkan orang.
"Atha!" Maria memberi tatapan peringatan.
"Ma..." Nathalia bahkan ingin menjawab tapi melihat Rich kembali sedih membuat Nathalia duduk dan memegangi tangan Rich.
"Maafkan papa"
"Papa fokus pada pengobatan, aku sudah bahagia menjalani ini semua. Dengan papa, mama dan Ray di sampingku"
"Tapi tak selamanya kami ada untukmu sayang" Maria membuka suara.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Dengan menjalani kehidupan baru?!" Tanya rich, tentu pertanyaan itu tamparan keras pada Nathalia mengingat bagaimana Ray bersusah payah menjaganya.
Nathalia menghela nafas, ini adalah topik yang selalu ia hindari. Apa tak ada satu manusia pun yang bisa mengerti dirinya? Jawabnya tentu tidak.
Karena hanya dia yang berada di posisi ini. Kehilangan seseorang tepat di depan matanya sendiri. Apa lagi karena menyelamatkannya oh shit! Nathalia tak sanggup menahan sesuatu yang mencekik lehernya saat ini.
Hening
"Maukah kau mengenal seorang pria lagi tha?" Maria membuka suara karena sepertinya Rich tak tega untuk mengatakannya.
"Untuk?" Mungkin Nathalia cukup tahu alur dari perkataan ini.
WHAT!!!
Nathalia menoleh, Satu perkataan Rich merengut habis perhatian Nathalia dari Maria. Ini sungguh tak lucu! Apa Rich dan Maria adalah manusia tak punya hati?
Ini baru Setahun Axelin meninggalkannya, dan apakah di era modren ini masi ada perjodohan? Bahkan dengan parasnya, Nathalia bisa menujuk siapa pun untuk menjadi suaminya.
"Papa hanya ingin kamu bahagia, setidaknya papa tenang meninggalkan kamu di dalam penjagaan pria baik"
"Tapi pa, ini belum waktunya..."
"Lalu kapan waktu? Apa harus mama dan papa mati dulu?"
Nathalia melarikan matanya keara meja, menghempas tubuh ke sandaran sofa. Ia cukup lelah jika sudah ini pembahasanya.
Alasan lain Nathalia tak pernah ingin berkumpul seperti ini dengan Rich dan Maria adalah, bahwa orang tuanya terlalu sulit untuk ia lawan dari berbagai sisi. Bisa jadi, di muka bumi ini hanya Maria dan Rich yang mampu mencekiknya dengan perkataan.
"Untuk apa menikah?, jika hanya untuk di tinggalkan?"
Maria memijat pucuk hidungnya, kepalanya terasa pusing menghadapi Nathalia yang baru ini "Apa kau tak pernah berfikir bagaimana kedepanya tanpa kami? Jika kau masih seperti ini?"
Maria melempar topik paling sensitif, Nathalia bahkan tak pernah befikir untuk di tinggal lagi. Nathalia bungkam, ia menatap lurus kearah Maria.
"Ini untuk kebaikanmu, Tah. Papa berharap putri kecil papa akan selalu bahagia. Papa mengerti apa yang kamu Rasakan. Papa tak meminta kamu menikah secepat itu. Papa hanya ingin kamu memulai hubungan dengan yang baru" Nathalia masi diam. Berharap Rich lelah berbicara dan dia bisa pergi.
"Karena dia telah tenang disana dan kau bisa memulai dengan yang baru"
Apa semudah itu pikiran mereka? Sperti menganti baju yang sudah usang?
Jangan di tanya bagaimana kesalnya Nathalia dengan kalimat barusan, dari skala satu sampai sepuluh kekesalan Nathalia berada di angka lima belas! Jauh dari skala.
Rupanya Nathalia tak cukup sabar, ia berdiri lalu melangkah pergi "Terserah! Aku akan mengikuti apa pun mau kalian!" Satu kalimat dengan nada bergetar itu terlontar dari bibir Nathalia sebelum ia berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
Toh tak ada yang mengerti perasaanya, tak ada yang tahu rasanya jadi dia, mendengar lebih lanjut akan menyakitinya. Karena terkadang Nathalia kesulitan untuk mengontrol emosinya. Ia bisa sedih, bahagia dan marah dalam waktu yang singkat.
Baru saja Nathalia mengeser pintu ruang pasien ini, seseorang sudah berdiri di depan ruangan ini dengan jas putih khas Dokter
"Malam!" Senyum itu, seperti hari sebelumnya menyambut pandangan Nathalia terhadap dokter tampan ini.
Menghela nafas, Nathalia berbelok dari langkah awal menghindari pria itu begitu saja. Namun langkah terhenti saat Lauro mundur dan menutup jalanya lagi.
"Mau kemana?" Ucap Lauro mengabaikan tujuan awalnya dan suster yang ada di belakangnya.
"Minggir!" Ini bukan baru pertama kali buat Nathalia berbicara seketus itu pada dokter yang merawat ayahnya. Tapi sepertinya dokter ini benar benar bodoh yang selalu ia tampilkan hanya senyum manis.
"Sudah makan?"
Seolah tampilan wajah datar dan malas Nathalia saat ini tak cukup menampilkan jika ia terganggu. Apa pria berahang kokoh ini menanyakan ini pada setiap wanita yang ia temui?
"Sudah"
Mendapati jawab dari Nathalia membuat Lauro mengigit bibir bawahnya karena geli.
Tapi yang terjadi berikutnya adalah Nathalia mendorong dada lauro dengan telunjukanya lalu melangkah meninggalkan Lauro. Lauro cukup senang dengan reaksi yang di tampilkan Nathalia. Memangnya wanita mana yang bisa bersikap seperti itu pada Lauro.
Hampir saja Lauro mengapai Nathalia untuk menggapainya.
TBC
demi dapetin karakter playboynya Lauro ay musti ngehubungin teman lama tukang gombal lagi 😒 tapi gpp ay suka karakter Lauro jadi 😂😂 semoga nakalanya sampe ya centah 😂😂😂😘