Take My Life

Take My Life
chapter 65



Lauro menghela nafas pelan sekaligus berkacak pinggang melihat pemandang kitchen island miliknya yang begitu mengenaskan.


Terhitung sudah tiga tahun Lauro menempati tempat ini tapi tak pernah sekalipun hal ini terjadi. Well.. mari kita berterima kasih pada Nathalia yang membuat Lauro harus mengganti semuanya.


Setelah berbicara pada orang di sambungan telefon, Lauro berjalan mendekati Nathalia yang duduk di sofa ruang keluarga, berhadapan langsung dengan dinding kaca yang langsung menantang langit biru.


"Masih sakit?" Tanya Nathalia begitu mendapati Lauro yang sudah duduk tepat di sebelahnya.


"Sedikit" ucap Lauro, merebahkan tubuhnya di sandaran sofa dengan memijat pangkal hidung.


"L..."


"Hmm..."


"Kau marah?" Tanya Nathalia ragu. melihat perubahan sikap Lauro, saat tadi dia bersiap ingin mencium Nathalia tapi sedetik kemudian pria itu malah berjalan menjauhinya dan memilih menelefon orang untuk memperbaiki dapur mereka.


"Untuk apa?" Lauro menoleh memperhatikan wanitanya.


"Hmm..." gumam Nathalia dengan menautkan jari telunjuknya.


"Aku hanya takut kau tertular sayang, aku sedang sakit" Lauro tersenyum lemah dan mengusap pipi Nathalia, lembut.


"Jangan memikirkan hal yang tak penting" tegas Lauro menatap awan yang bertebaran "satu jam lagi mereka akan datang dan membereskan semuanya" jelas Lauro mengatakan tentang dapur mereka.


"L..."


"Hmm...?"


"L..."


pria tampan itu menegakkan tubuhnya dan bergerak untuk menghadap Nathalia. Lauro terlalu gemas untuk menebak isi kepala seorang wanita,


"Apa yang ingin kau katakan, sayang?"


"Apa kau berfikir aku sehat?" Ucapan Nathalia lirih nyaris tak terdengar.


Lauro menyentuh pergelangan tangan Nathalia "jantungmu sehat"


"Bukan..."


"Jadi?"


"Hmm..." Nathalia bergumam lagi, sepertinya terlalu sulit untuk mengatakan hal yag harus ia katakan.


"Kau sudah minum obat?" Tanya Lauro yang langsung di balas anggukan dari Nathalia.


"Sudah jelas kau sehat sayang"


"Kita menikah sudah berapa lama?" Tanya Nathalia membuat Lauro terdiam. Mampus! Ini adalah pertanyaan keramat dari wanita. Well.. Jika Lauro salah itu sama saja dengan dia meneguk sianida.


"Hmm.. tiga bulan?" Jawab Lauro pelan dengan wajah tak yakin langsung di balas tatapan tajam oleh Nathalia.


Lauro tertawa miris seolah menertawakan dirinya sendiri, dengan tèrus memaksa otak geniusnya memproses kapan mereka menikah.


Kapan?


"Enam bulan" ucapan Lauro membuat Nathalia ingin beranjak dari sofa jika saja tangan kokoh Lauro tak segera menahanya.


Bagaimana bisa pria itu melupakan hari pernikahan mereka? Ayolah... wanita mana yang tak sedih jika itu terjadi.


"Dua ratus delapan puluh satu hari, sembilan bulan lebih tujuh hari atau setara dengan enam ribu tujuh ratus empat puluh empat jam kau resmi menjadi milikku" jelas Lauro dengan satu kali tarikan nafas. Akhirnya ia bisa melewati kuis mematikan istrinya.


Thanks to dewi fortuna yang selalu berpihak pada otak geniusnya. Lauro tak lupa hanya saja ia tak terlalu ingat.


Tolong jelaskan bedanya di mana L?!


Nathalia yang tadi sempat sedikit kecewa, kini mendadak wajahnya berubah sumringah dan terbesit rasa bangga.


"Kau sengaja melupakannyakan?"


Lauro menggeleng membatah semua fikiran Nathalia "aku ingat, hanya saja otakku menolak untuk menerima bahwa kita sudah menikah selama itu. Benar benar tidak masuk akal"


Natahlia menatap heran pada pria tampan di depanya, Lauro menyentuh keningnya seolah pembahasan mereka ini benar benar masalah paling berat di hidupnya.


"Kita memang sudah menikah selama itu sayang" ujar Nathalia


"Benarkah? Tapi kenapa rasa cintaku ini terlalu penuh seperti baru kemarin menikahimu" ucapan Manis Lauro menimbulkan semburat merah di pipi Nathalia dan reflek wanita cantik itu mengigit kedua bibirnya.


Nathalia memang harus tahu jika menjadi istri Lauro, ia harus siap mental menerima serangan seperti ini, setiap harinya!


Tolong ini masih terlalu siang!


"Aku hampir kalah" Lauro menjatuhkan tubuh atletisnya ke sandaran sofa dengan mengusap wajahnya dengan kedua tanganya terlihat begitu frustasi.


Gombalan apa lagi L!


"Jangan mengigit bibirmu, kau harus tahu bahwa aku sudah berusaha keras untuk tak menyentuhmu saat ini sayang, jangan siksa aku, please" Lauro memasang wajah bersunguh sunguh dan membuat Nathalia mematung, tapi sedetik kemudian Nathalia mencubit perut Lauro yang terbalut kaos oblong putih. Hingga pria dengan senyum paling manis itu mengaduh.


Pria tampan ini mungkin takan berhenti menyerang Nathalia dengan ucapan manisnya jika Nathalia tak menghentikanya.


"Aku serius" ucap Nathalia ingin mengalihkan topik


"Kau fikir cintaku main main?"


"L..." Nathalia memberikan peringatan


"Owh oke Nyonya" Lauro mengerakan tangan di depan bibir seperti seseorang yang sedang mengunci bibirnya


"Ehem.. L"


"Hmm?"


"Apa kau tak ingin memiliki anak?


Deg... Lauro tiba tiba terdiam, memikirkan tentang ucapan Nathalia barusan. Hal yang juga selalu ia fikirkan selama ini.


"Bukankah selama ini kau tak pernah memakai hm.."


Lauro mengangguk, sebenarnya ia sudah mendiagnosis ini dari jauh hari.


"Apakah aku ma--"


"Besok kita cek ke dokter obgyn ya"


"Tapi..."


"Begini, kau sedang terapi dan mengkonsumsi obat yang bisa saja mengubah hormonmu? Selama haidmu masih teratur ku rasa semuanya baik baik saja"


"Apakah tak berbahaya?"


"Kita sekarang sedang mengobati dirimu jugakan? dan ku harap tak berpengaruh... mungkin kita harus bertahap melakukan pengobatanmu"


"Munafik jika aku mengatakan aku tak ingin, semoga tuhan berbaik hati menitipkannya pada kita, sudahlah jangan fikirkan hal yang tak seharusnya" ucap Lauro sembari mengusap kepala Nathalia lalu berjalan untuk sampai di tangga.





"Mau kemana?"


"Surgaku"


Nathalia terheran menatap lantai atas. mungkin hampir satu tahun Nathalia telah berada di penthouse ini tapi sepertinya sebuah ruang di atas tangga ini tak pernah terjamah olehnya. Tempat itu terlihat sangat mengerikan menurut wanita cantik ini.


"Tempat apa itu?" Nathalia sudah berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Lauro, bukannya menjawab pria bak titisan dewa itu hanya berjalan terus hingga sampai di depan sebuah pintu cokelat.


See... benar menurut Nathalia tempat ini benar benar mengerikan! Wait... apakah Lauro adalah type psycopath yang menyimpan potongan tubuh manusia di dalam ruangan itu? Seperti novel yang belum lama ia baca. Memikirkan itu membuat Nathalia merinding.


pintu coklat tertutup rapat ini polos tanpa ukiran apa pun seperti pintu yang lain. Atau ini seperti ruangan masa kelam Lauro seperti novel roman picisan?


Evgania?


Nathalia memikirkan nama gadis itu dan perkataan Lauro yang mengatakan bahwa itu adalah surganya.


Mungkin itu adalah hal paling masuk akal. Sehingga Nathalia merasa sakit pada hatinya. Benarkan Lauro masih mencintai Evgania?


Jika petanyaan itu berlaku padanya, Nathalia juga tak tahu harus menjawab apa. Hanya satu yang ia tahu bahwa ia tak bisa berpisah dari pria yang telah hilang telan pintu cokelat ini.


Nathalia mendorong pintu itu lalu sebuah cahaya silau menyambut matanya, karna ruangan luas itu berdindingkan kaca super besar, memperlihatkan keadaan kota dari sini.


Ruangan itu memiliki dua rak buku besar di sisi kanan dan kiri dindingnya, tingginya menjulang hinga ke langit - langit. Dan ada beberapa rak buku yang sama tingginya berada di tengah - tengah ruangan. Dan ada satu buah tangga kayu beroda berfungsi untuk memgambil buku di rak paling atas.


"Perpustakaan pribadi?"


"Surga" suara Lauro di depan dinding kaca, pria tampan itu telah duduk manis di atas sofa lengkap dengan kaca matanya yang membuat pria itu terlihat makin tampan, sehingga Nathalia terpesona.


"Kau bisa melubangi kepalaku jika menatapku seintens itu sayang" ucap Lauro lagi karena bisa ia lihat dari ujung matanya bahwa Nathalia terdiam menatapnya.


"Ck! kau terlalu berlebihan"


"Termasuk ketampanankukan?"


"Whatever" Nathalia berjalan menyusuri rak buku untuk melihat buku apa saja yang bisa menarik perhatianya.


"Kau suka membaca?" Tanya Lauro


"Hmm bisa di bilang begitu, tapi aku sendiri tak yakin, dengan melihat daftar buku mu ini" Nathalia berjalan menyusuri rak itu untuk melihat batang buku "ku rasa tidak dengan seleramu" Nathalia berjalan menyebrang ke Rak buku di sebelahnya untuk melihat yang sama.


"Kenapa?"


"Come on L aku bukan dokter, aku membaca karena aku butuh hiburan. Yang ku butuhkan adalah komik, Novela atau Novel bukan buku berat seperti ini" Nathalia menyentuh deretan buku yang ia yakini tentang kesehatan


"Seharusnya kau tak membaca buku buku seperti itu, sayang" ujar  Lauro sambil berjalan mendekati Nathalia "mungkin bagi sebagian orang akan sulit membedakan antara kenyataan dan fantasi karena itu, sangat tidak bermutu"


"Tak ada yang tak bermutu dalam cerita cerita itu L" Nathalia membatah perkataan Lauro sebelumnya dengan nada tegas "isinya cerita cerita mengasikkan tentang orang yang jatuh cinta, terlalu banyak hal menarik yang bisa kau pelajari di buku buku itu, cobalah! ku rasa kau pasti akan ketagihan"


Lauro tersenyum, lalu berjalan mundur hingga dia terbebas dari dua rak ini "sudah ku duga jawabanmu itu" lauro menujuk rak yang di dinding paling kanan "semua karya fiksi ada di sana, bacalah sesukamu"


"Ternyata kau juga menyukainya?"


"Emily yang meletakanya"


Nathalia mengangguk paham lalu berjalan mendekati rak yang di tunjukan Lauro "kau pernah membaca ini?" Nathalia mengeluarkan sebuah novel dari rak dan menujukanya "ini adalah salah satu novel yang paling tidak ku suka"


"Kenapa?" Lauro berjalan mendekati wanitanya


"Kisahnya terlalu berat, apa dia tak tahu bahwa hidupku sudah berat?" Nathalia terlihat menghela nafas.


"Tapi kau tetap membacanyakan?"


"No, aku tak sanggup melanjutkanya"


"Biasakan membaca hingga akhir, jangan biarkan kau terjebak dalam fikiranmu yang sempit" lauro mengambil buku itu dari tangan Nathalia dan membaca Blurb di belakang buku "kurasa ini adalah salah satu kisah inspiratif, mungkin kau harus membaca hingga akhir untuk kau bisa mempelajari pesan dari buku ini"


"Ya... ya... ya sepertinya ini akan jadi tempat favoritku juga" Nathalia melihat di jejeran buku "tadinya aku berfikir ruangan ini adalah ruangan masa lalumu seperti--"


"Benar" ucap Lauro menurunkan kaca matanya dan mengalihkan tatapnya untuk menatap Nathalia


"Kau menyimpan rahasia disini?"


"Hmm" Lauro terdiam sejenak berfikir "bisa di bilang begitulah"


Tentu saja perkataan itu membuat hati Nathalia tertohok keras. Apa suaminya akan memamerkan rasanya cinta untuk Evgania. Nathalia terdiam saat mendapati Lauro berjalan mendekatinya.


"Tempat ini yang membuatku kuat, berada di tempat ini aku merasa aku sedikit tenang, karena hanya di tempat ini aku bisa memikirkan tentangnya"


Benar! Mungkin lebih baik Nathalia tak pernah masuk kedalam ruangan ini. Dari awal ruangan ini benar benar menakutkan. Dan inilah buktinya.


"Jika masuk ke dalam ruangan asing, usahanya untuk mengenal ruangan itu dengan memperhatikan sekitarnya"


"Ma...maksudmu?"


"Dialah wanitaku dari masa lalu" tunjuk Lauro ke dinding luas sejajar dengan pintu. Di sana terpajang puluhan mungkin ratusan foto seorang wanita


Dari berbagai ukuran dan model, bingkai - bingkai foto itu terpanjang menutupi dinding di atas, kiri dan kanan pintu.


"Dia..." Nathalia tak sanggup menahan keterkejutanya.


TBC


Kan kan 🤣 kenapa sih selalu gantung 🤣


Komen yg lain ya udh ay wakilin itu 🤣


Hay hola halo sayangku 😘


Maaf ay lama banget.


Awalnya karena terlalu seru ngatur alur story baru



Ini story Zayn 🙈 karena banyak yang minta ay usahain bikin nih 😘 semoga aja bagus



Nah ini story maxim 🙈 pengen zayn duluan atau maxim duluan 🤣 S&K berlaku.. elah 🤣🤣🤣🤣


Trus kmren pas ay mau fokus ama L, ay mesti keluar kota 🙈 papa ay lagi pengen nginap di RS 🙈


Jadi berantakan deh jadwal ay 🙈 smga bsk ay bisa up ampe tamat ya.. doain jan mrh🤣 ntr kriput loh


Makasih udh mau nungguin ay 😘 kibas rambut dlu