Take My Life

Take My Life
chapter 47



Petikan senar gitar mulai membentuk sebuah nada, suara angin malam dan ombak yang saling bekejaran juga turut menemani kesendirian Lauro.


Pria yang menggenakan celana pendek dan kaos oblong itu asik memetik senar gitar di atas ayunan kayu bernuansa klasik.


"L..." seru Nathalia yang baru saja keluar dri pintu belakang.


Di belakang rumah tua masa kecil Lauro ini terdapat taman kecil, yang bersanding dengan sebuah tembok kokoh penahan air Laut saat pasang tiba.


"Kau tak tidur?" Nathalia mengambil duduk di atas ayunan si sebelah Lauro.


Lauro masih memetik asal senar gitar namun tetap membentuk satu melody.


"Aku masih belum ngantuk"


Nathalia mengangguk paham "kau bisa memainkanya?" Tanya Nathalia basa basi. entahlah, menurutnya sangat sulit bersikap biasa saat hatinya telah tercuri.


"Tak terlalu, aku hanya belajar sendiri, sepertinya menarik. Saat merindukanmu aku memainkannya agar sepi tak terlalu meyiksaku"


Oh... tolong kenapa kau sangat manis L,


Nathalia tak bisa berkata lagi, ia hanya bisa mengigit bibirnya untuk menyembunyikan sumringah senang yang ada di hatinya saat ini.


"Kau ingin mendengarnya?"


Nathalia menarik rambutnya untuk ia selipkan di belakang telinga seraya mengangguk. Bersiap menerima sikap Lauro yang membuatnya harus siap mental, untuk tak jatuh lebih jauh dari perangkap cinta yang di bikin suaminya.


Lauro membentulkan letak gitar dan sedikit merubah posisi untuk lebih nyaman menghadap Nathalia.


Satu persatu petikan gitar Lauro coba untuk menemukan kunci yang pas, hingga sebuah melody terbentuk dengan begitu sempurna.


Te amo con la fuerza del viento


Aku mencintaimu dengan kekuatan angin


Te amo en la distancia y el tiempo


Aku mencintaimu dalam jarak dan waktu


Lauro mulai menyanyikan lagu dari jencarlos  canela itu dengan tempo lambat.


Te amo en la alegría y el llanto


Aku mencintaimu dalam sukacita dan tangisan


Te amo tanto, no sabes cuánto


Aku sangat mencintaimu, kamu tidak tahu sebesar apa itu


Te amo con mi cuerpo y mi alma


Aku mencintaimu dengan tubuh dan jiwaku


Te amo como ya no se ama


Aku cinta kamu suka, kamu tidak cinta dirimu sendiri


Te amo sin poder compararte


Aku mencintaimu tanpa bisa membandingkanmu


Te amo como nadie ha de amarte


Aku mencintaimu seperti tidak ada yang harus mencintaimu


Te amo, te amo.


Aku cinta kamu, aku cinta kamu


Beruntung tempat itu terlihat temaram karena suasana malam yang mencengkam. dan lampu lampu sepanjang pagar laut yang tak terlalu jauh dari mereka.


"Jangan di tahan, kau berhak tersenyum karena aku melakukanya hanya untukmu"


Nathalia tak bisa menahan lagi, secepatnya ia bersender dan memeluk lengan Lauro. Sehingga membuat Lauro tergelak.


Meletakan gitar di samping ayunan lalu membawa Nathalia dalam pelukanya. seraya matanya menatap nyalang pada hamparan laut yang di telan pekat malam.


"L... terimakasi telah mencintaiku sebesar itu"


Lauro tak menjawab ia hanya mencium puncak kepala Nathalia, menujukan bahwa ia benar benar menyanyangi wanita ini.


"L misalnya aku tengelam di laut sana apakah kau mau menolongku?"


"Tergantung"


Nathalia mendongak meminta penjelasan "Maksudnya tergantung"


Mendapati jawaban Lauro Nathalia melepaskan pelukanya, kesal. Tapi sebuah tangan melingkar di perutnya, sebuah dagu hangat juga bertumbu pada bahunya menghentikan pergerakan Nathalia.


"Kenapa aku harus menolongmu jika itu keinginan mu"


"Aku akan mengabulkan apa pun permintaan mu, termasuk mati bersama"


Mungkin ada cerita yang harus terjaga agar hati tak kembali terluka. Biarkan aku menikmati masa ini sampai nanti saat semua hal harus ku pertanggung jawabkan. tapi satu hal yang harus kau tau. Aku tak pernah melepaskanmu. Batin Lauro.


....


Nathalia membuka ponsel Lauro. Membaca semua pesan dengan lancangnya. Tak ada yang terlalu berlebihan. Ternyata Lauro bukanlah seorang pria asik.


Pria itu selalu membalas semua pesan dengan kata yang sama. 'Ya','oke' dan baiklah. Ternyata di balik sifat playboynya pria itu termasuk pria cuek saat tak bertatap wajah.


Bukanya apa, Nathalia jadi sedikit lancang karena ia tak sudi berbagi miliknya dengan siapapun.


Lalu satu pesan yang di arsipkan membuat Nathalia penasaran. Ia terduduk dengan membaca pesan itu pelan pelan.


"Ia tengah terbujur kaku sekarang, apa tak terlalu berlebihan kau tetap masi menghiraukanya?"


"Siapa--"


Tiba tiba sebuah tangan kokoh merampas kasar ponsel itu. Ternyata Lauro.


"Kau sedang apa sayang" ucap Lauro dengan nada sedatar yang ia bisa. Lalu menghapus pesan itu dan melemparkan ponsel keatas ranjang secara asal.


"A.. aku" Nathalia kelagapan. Ia tak tahu harus bertanya apa. Ia begitu penasaran tapi melihat wajah lauro yang dingin membuat Nathalia mengurungkan niatnya.


"Wanita itu sakit" ucap Lauro berdiri di depan kaca rias. Ia tahu hal yang paling tak bisa di hindari wanita adalah penasaran. Dari pada fikiran liar Nathalia bekerja. lebih baik dia mengatakan hal yang paling malas ia ingat.


"Wanita yang melahirkanku" ucap lauro setelahnya seraya tersenyum miris.


Apakah wanita yang di rumah sakit adalah ibu kandung lauro?, tapi sikapnya,batin nathalia.


Lauro berbalik dengan senyuman manis seolah tadi ia tak mengatakan apa-apa "Bukankah kau ingin kepantai sayang?"


Nathalia mengingat bahwa tadi pagi ia sempat merengek ingin bermain ombak dan berkeliling pantai. Tapi apakah pantas setelah semua ini dia masih mengharapkan itu. Terlebih Nathalia begitu penasaran akan sebuah cerita yang menyebabkan luka.


Tapi...


Pasti adalah hal yang menyakitkan hingga lauro enggan menyebut wanita itu sebagi ibunya. Nathalia akan bersabar menunggu bibir itu mengatakan hal yang sejujurnya.


Pipi Nathalia terasa merah saat melihat apa yang terpampang di depan mata. Nathalia baru belajar menyesuaikan diri melihat Lauro selalu bertelanjang dada. Tapi saat ini ia di beri bonus lebih. saat lauro melepaskan handuk dengan boxer yang menutup aset berharganya


"Mrs. Morales kenapa kau memalingkan wajah?" Ucap lauro dengan nada geli.


Oke ini bukan hal yang baru,  bahkan di pantai itu hal yang lumrah. Tapi saat mereka hanya di kamar dan karena status mereka, membuat Nathalia merasa panas dingin.


"Sayang" Lauro sempat memeluk Nathalia tapi gerakan Nathalia menghindar perlu di acungi jempol


"Bisakah kita tunda sayang? Mungkin aku harus mengambil jatah dul--"


"No" bantah Nathalia cepat dengan wajah semerah tomat. Ia sudah seharian di kurung Lauro dan ia tak ingin menjalani hal yang membosankan itu. Lagi!


Dan itu membuat Lauro menatap tubuh Nathalia yang di telan pintu kamar mandi putih dengan tatapan manyun.


"Sayang bisakah kita mandi bersama?" Goda Lauro


"Tidak"


"Aku bisa membantu memandikan mu babe!" Ucap lauro lagi semakin keras.


"Tidak terima kasih L"


"Aku ikhlas babe" bujuk Lauro dengan ekspresi yang benar benar mengharap


"Tutup mulutmu L!!!"


Lauro merebahkan tubuhnya di atas ranjang menjadikan kedua tanganya sebagai bantal memperlihatkan dengan jelas sisi tubuh Lauro yang Atletis.


Lauro cukup heran kenapa Nathalia menolaknya? Bahkan sebelum ini seorang Lauro morales tak pernah mendapakan penolakan.


Lauro mengambil bantal menutup wajahnya.


Oh thaaa... kau membuat ku gila!!!


Bahkan tubuh datar Nathalia dulu tak pernah masuk dalam teman ranjangnya. Bagaimana bisa ia sekarang begitu menggilai tubuh istrinya?


Bisa di bilang dengan hanya Melihatnya meronan saja membuat Lauro bersusah payah menahan hasrat.


TbC


Maap jika lama bukan penyelesaian krna ini cma 1 konflik jdi sabar ya 😂😂😂😂