
Nathalia kecil merasa sangat hancur saat melihat james mengangkat koper besar seolah itu pertanda ia takan pernah kembali lagi. Ini terhitung baru beberapa jam ayahnya mengatakan soal perpisahan.
"Ayah..." Nathalia tergugu di ambang pintu mencoba menahan kepergian james, tapi apalah dayanya saat semua hal yang belum ia ketahui harus menghiasi hidupnya tiba tiba.
Nathalia beralih pada Darsha yang duduk di meja makan membelakangi pintu utama.
"Ibu... aku mohon tahan ayah..." Nathalia kecil memohon untuk Darsha melakukan sesuatu, tapi nyatanya Darsha sudah layaknya patung. Wanita itu tak bergeming.
"Ayah..." Nathalia kembali berlari ke ambang pintu melihat James telah memakai sepatunya "ayah... ayah jangan tingalkan aku, aku menyanyangimu" james hanya terdiam kaku tak berniat menatap Nathalia yang sudah histeris
Tangis kepedihan dan ketakutanya yang Nathalia perlihatkan tak mampu mencairkan kerasnya hati kedua orang tuanya
Lalu ia kembali lagi menguncang tubuh ibunya berharap ibunya sadar karena sebentar lagi james akan meninggalkan mereka "ibu... ibu... ku mohon dengarkan aku. Ayah... ayah... ayah akan pergi ibu... tolong tahan ayahku ibu.. bantu aku" merasa putus asa Dasha tak menangapinya Nathalia kembali berlari ke arah james.
"Ayah" james sudah turun ketanah dengan mengeret kopernya,menatap tubuh james yang perlahan telah menjauh.
"AYAH... KEMBALI PADAKU... JANGAN TINGGALKAN AKU" Nathalia terduduk menangis histeris melihat hal yang tak ingin ia alami.
"Siapa pun tolong aku" ucap Nathalia lirih karena kelelahan menangis
Setelah beberapa hari, rumah mereka yang biasa terasa nyaman. Kini berubah menjadi tempat mengerikan. Semuanya berantakan karena kebiasaan baru darsha adalah menghancurkan semua barang saat ia marah.
Darsha terlihat menyedihkan. Dia hanya akan duduk di kursi meja makan lalu tiba tiba marah dan menghancurkan semua barang. Hingga Nathalia kecil harus menangis di dalam kamar meratapi semuanya.
Hingga suatu hari tepat di hari ulang tahunnya tanggal satu maret. Dalam tidurnya Nathalia merasa ada seseorang mengelus rambutnya. Hingga mata Nathalia terbuka dan mendapati ibunya duduk di sampinya dengan sebuah roti di tangan.
"Kau lapar?" Tanya darsha dengan nada rendah.
"I...ibu" Nathalia bangkit dari tidurnya lalu memeluk ibunya. Dari pada rasa lapar ia lebih dahaga atas sikap ibunya yang seperti ini.
"Selamat ulang tahun sayang" ucap Dasha membalas pelukan Nathalia dengan mengelus rambut pirang putrinya.
Nathalia di perintahkan oleh Darsha untuk siap siap secepatnya karena mereka akan merayakan ulang gadis itu di luar.
"Ibu, apakah tak sebaiknya kita membersihkan rumah dulu" tanya Nathalia kecil sembari memasang sepatunya.
Dasha menoleh kearah Nathalia lalu melihat kearah rumah mereka yang memang seperti kapal pecah dan mengendikan bahu tak perduli.
"Biarkan ibu saja nanti yang membersikan"
Di dalam perjalanan panjang darsha hanya terdiam menatap di balik kaca bus ini. "Ibu kita kemana?"
"..." Darsha tak memberikan jawaban pura pura menulikan telinganya.
"Kita akan bertemu ayah?"
"Jangan sebut \*\*\*\*\*\*\*\* itu" nada dingin sudah darsha perlihatkan sehingga membuat Nathalia kecil sedih terlebih ayahnya di katai seperti itu.
Mereka turun dari bus dan masuk ke area bermain di taman. Nathalia kecil takjub melihat ramainya orang dan ada beberapa badut yang sedang menghibur.
Ia jarang sekali di bawa ketempat seperti ini. Biasanya mereka hanya berkeliling kota dengan motor ayahnya. Dan Nathalia sangat senang akan hal itu.
"Ibu aku ingin main itu" tanya Nathalia kecil menunjuk sebuah permainan
Nathalia mengangguk lalu bermain sesuka hatinya, menikmati permainan yang ada. Mulai menyapa beberapa orang. Ia termasuk gadis yang ceria padahal baru beberapa hari ini ia meraskan sedih yang luar biasa.
"Ibu beli minum dulu" ucap Darsha sebelum meninggalkan Nathlia yang masih asik menekuk dan meluruskan kakinya agar ayunan itu terus mengayun.
Seraya mata bulat seperti bulan punama itu menatap lurus kedepan seolah enggan melepaskan kepergian seseorang. Ya, disana Darsha dengan dress biru yang terlihat sedikit lusuh, berjalan perlahan menjauh.
Nathalia kecil mengalihkan tatapanya, melihat banyaknya orang disana, dengan Ice cream dan makanan di tanganya. Tapi tidak denganya, ia hanya menikmati hari indah cerah ini dengan terus mengerakan ayunannya. Dia ingin terbang tinggi setinggi burung untuk mencapai kebebasan.
Waktu berjalan hingga kini matahari seolah telah lelah menampakan wajahnya, dan sosok darsha belum juga muncul, sedangkan cahaya mathari terlihat murung bersembunyi di balik awan dan begitu tega meninggalkan Nathalia kecil yang memeluk kedua lututnya, tak jauh dari ayunan seraya menunduk dengan wajah penuh linangan air mata.
Entah sudah berapa lama ia menangis, tempat yang tadi terlihat ramai dan 'bising' sekarang hanya tinggal beberapa orang saja perlahan tapi pasti suasana makin mencekam. Dan yang paling penting wajah dan matanya terlihat bengkak.
Tak ada yang peduli padanya, atau sekedar menanyakan kemana arah gadis ini pulang. Mereka terlalu tenggelam dengan dunia mereka sampai telinganya terlalu tuli untuk mendengar isakan tangis gadis kecil yang mulai kedinginan.
Hingga suara petir menyambar membuat tubuhnya perlahan bergindik ngeri dan berlari mencari tempat persembunyian di bawah pelukan pohon rindang.
"I...ibu aku takut"...
Langit hitam kelam spertinya menyeret semua kebahagiaan. Ia sukarela menyebarkan ketakutan, belum lagi kilatan cahaya menjalar di langit menampilkan kemurkaannya. lalu dentuman petir membuat siapa saja bergindik ngeri.
Peristiwa alam yang sering kali terjadi, tapi tetap menjadi momok menakutan bagi siapapun. apa lagi gadis kecil di bawah pohon rindang ini.
Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan dan perlindungan disana. Karena rintik hujan masi setia menampar bumi.
Lalu beberapa tetes air yang tak mampu tertahan oleh dedaunan lemah juga menyampaikan basah itu pada gadis ini sehingga pakaian gadis kecil ini terasa lembab.
"Ayah..." gadis itu terus merapalkan kata ayah dan ibu bagai mantra. Berharap salah satu dari mereka akan menolongnya.
"Ibu..." tapi tak ada satu orang pun disana. Yang ada hanya rintik hujan dan lampu jalan yang setia menyala.
"Ibu kau dimana? Hiks... hiks.."
"Ayah apa kau tau aku disini?" Suara gadis malang itu bergetar menahan dinginya angin dan ketakutan menyapa dalam hitam pekat gelap malam.
Tapi tanyangam ingatan Nathalia berganti begitu saja, saat itu ia menerima hasil rekam medice ibunya dan disana tertulis Darsha masuk ke rumah sakit ini tempat tanggal empat maret
Itu berarti...
"Coba terima semua masa kecilmu Mrs. Sehingga kau bisa memaafkanya" bisikan itu seperti akan mengantarkan Nathalia pada adegan lain, sebuah tayang tanyangan semu kelam masa lalu berubah ubah menampakn gambar satu persatu hanya saja Nathalia tak kuat lagi lalu matanya terbuka, dan dadanya sakit.
Flash back off
"Aku harus bagaimana?" Tanya Nathalia frustasi dengan wajah kebingungan karena konflik hati tak berkesudahan.
"Lauro menjalani kehidupannya yang mengerikan karena aku"
"Ia merasa bersalah karena aku padahal yang salah sesungguhnya adalah aku, aku tak ingin ada yang menyakitinya lagi, bahkan tidak dengan egoku" Nathalia memukul dadanya yang terasa sesak dan air mata penyesalan luruh di pipinya
"Dia pantas bahagia, seharusnya rasa untuku tak pernah ada, karena semuanya hanyalah kesalahan"
"Apa maksudmu?" tanya Emily tak mengerti
"Ibuku memang berniat membuangku saat itu, aku di tinggalkan di taman tepat di hari ulang tahunku satu maret dua ribu delapan"
"Ibuku kecelakaan tanggal empat maret dua ribu delapan" jelas Nathalia frustasi, kenapa harus Lauro masuk dalam lingkaran setan kehidupanya. Disaat kehidupan pria itu tak benar benar bahagia sebelumnya.
"Jika saja Lauro tak masuk dalam bencana hidupku pasti dia akan hidup bersama wanita baik sekara--" sebuah tangan kokoh menarik tubuh Nathalia untuk masuk dalam dekapanya.
TBC
Makasi tetap menikmati karya ini sampai saat ini sayangku 😘