Take My Life

Take My Life
chapter 49



Nathalia baru selesai membersihkan dirinya, setelah berpakaian lengkap ia memilih keluar kamar menemui Lauro yang sudah turun terlebih dahulu.


Mereka sudah berada di penthouse, bahkan hari ini Lauro sudah harus kembali ke rumah sakit.


"Hmm harum" seru Nathalia memasuki ruang makan, saat aroma wangi makanan memenuhi penciumanya.


"Duduklah" ujar Lauro singkat menyambut kedatangan Nathalia. Pria terlalu fokus dengan macbook dan sesekali menyesap coffe yang ada di atas meja.


Pria itu terlalu tampan dalam balutan kemeja Navy, terlalu bersinar hingga Nathalia berniat mengantongi Lauro agar tak di lirik wanita manapun.


Nathalia duduk lalu menyambar sendok dan garpunya mulai melahap makanan.


"Hari ini kau kemana?" Tanya lauro yang  mulai mengalihkan tatapannya ke arah Nathalia.


"Hmm... kerumah sakit" jawab Nathalia enteng.


Lauro menaikan alisnya "ada yang sakit?" Mencoba meneliti tubuh istrinya.


Nathalia menatap Lauro sebentar lalu menggelang. Dan kembali melahap makanannya.


"Lalu?"


"Kau sakit?" Bukanya menjawab Nathalia malah balik bertanya.


"Aku baik baik saja" ujar Lauro yang makin kebingungan.


"Lalu kenapa kerumah sakit?"


Hell... pertanyaan macam apa itu tha?


"Menurutmu kenapa aku kerumah sakit huh" ucap Lauro mencubit pelan pipi Nathalia, gemas.


"Karena paseinmu"


"Lalu kau?" tanya Lauro begitu penasaran.


Nathalia memberikan cengiranya "Karena suamiku" yang langsung di balas gelak tawa oleh Lauro.


"Ohya...." Lauro mengendarkan padanganya mencari seseorang, saat melihat seorang maid sibuk membersikan sofa.


Lauro berdiri tanpa sepatah kata pun, lalu berjalan mendekati meja di ruang tamu.


Nathalia sempat heran kenapa dia tak menyuruh maid saja? Lalu sedetik kemudian ia mengendikan bahu untuk tak peduli. Memang apa urusanya. Urusanya sekarang adalah melahap makanan ini hingga habis.


"Apa itu?" Tanya Nathalia saat cornea matanya menangkap kedatangan Lauro.


"Dokumen"


"Penting? Hingga kau harus mengambilnya sendiri? Padahal solana-maid ada disana kenapa tak menyuruhnya saja.


Lauro tersenyum dan duduk "nona solana sedang sibuk" dengan isyarat untuk menyuruh Nathalia melihatnya. Lalu Nathalia mengangguk paham dan melanjukan makannya.


Nathalia lupa jika Lauro adalah duplikat malaikat, senangnya bisa mengekori Lauro kesurga jika mati.... pikir Nathalia diam-diam terkekeh.


Setelah memilah beberapa amplop putih "Ini" Lauro menyodokan satu amplop pada Nathalia.


"Ap-- universitas of valencia, untuk siapa?" Tanya Nathalia bingung.


"Hmm" lauro meletakan kedua tanganya di atas meja untuk menumpu dagunya "ku rasa kau harus kembali belajar sayang"


Wait! Apa?


Belajar?


Kau bercanda L?


Kau serius?


Nathalia terkejut "untuk apa?"


"Kau harus mempunyai kegiatan yang positif sayang" jelas Lauro.


"Karena kau takut aku mengekori mu terus?" Sindir Nathalia dengan menyenderkan tubuhnya di kursi.


Lauro tergelak, inilah sulitnya berbicara pada seorang wanita yang selalu menggunakan hati, terlebih wanita itu adalah Nathalia yang mengidap gangguan bipolar.


Lauro ingat saat ia mendatangi psikiater yang menangani Nathalia, membaca hasil rekam medis bahwa Nathalia juga memiliki gangguan pada ingatan masa lalu. Walaupun belum tentu benar sebab Nathalia tak meneruskan pengobatan dengan alasan sudah 'sembuh'


Lauro menarik kursinya untuk lebih dekat pada Nathalia "Begini, rumah sakit bukan tempat sehat untuk kau jelajahi sayang" menyentuh pipi Wanita itu dan mengusap pelan.


"Kau bisa belajar mejalani kehidupan yang positif, punya banyak teman dan bisa melakukan hal yang kau sukai"


"Hanya itu?" Nathalia mulai bosan jika ini sudah pembahasanya, ia lebih suka bersama Axelin yang tak memperbolehkan ia sekolah lagi.


"Pendidikan itu perlu" tegas Lauro.


"Contohnya?" Nathalia mulai jengah.


Lauro menghela nafas pelan "Kau bisa mejalankan kehidupanmu dengan baik, contohnya mengisi waktu luang yang bermanfaat, merubah pola fikir dan mampu mengikuti perkembangan zaman"


"Suami memang tulang punggung keluarga, tapi seorang istri adalah pondasi keluarga, karena seorang anak berhak lahir dari seorang ibu yang berpendidikan"


Tunggu... damn! apa sekarang Lauro mengatakan Nathalia bodoh? 


"Bukan berarti kau tidak cerdas, kita harus punya nilai kehidupan sayang. Anggap saja ini permainan yang harus kau lalui untuk sampai ke titik terbaik. Karena setelah itu kau bisa memilik karir dan kesibukan yang bermanfaat  untuk dirimu juga orang lain"


"No" Lauro menggeleng, bahkan tak ada terbesit sedikit pun di fikiranya tentang itu, Lauro hanya ingin Nathalia hidup lebih sehat.


"Bahkan aku tak pernah memikirkan itu, sayang. Aku hanya ingin di masa depan kau punya kendali akan dirimu sendiri "


"Aku terlahir dari keluarga romanove, dan sudah menjadi menantu keluarga morales lalu apa yang harus ku khwatirkan?" Jelas Nathalia.


Oke semua orang pasti paham bagaimana makmur hidup Nathalia karena di dompleng keluarga kaya.


Lauro terdiam ia melongo karena isi kepala Nathalia saat ini. Ya... memang pada dasarnya semua anak dari keluarga kaya yang tak pernah di tuntut untuk menjadi mandiri akan berfikir seperti Nathalia.


"Kenapa diam? Apa aku terlalu pintar?" Ucap Nathalia girang.


Malas berdebat Lauro memberikan susu di atas meja "minum susumu"


Mungkin ia harus membujuk Nathalia untuk melanjutkan pendidikannya lain kali. Dengan cara yang lain.


.....


Lauro baru saja memasuki ruangan kerjanya setelah memeriksa beberapa pasien, dia membuka jas putih itu lalu menyampirkan di atas kursi kebesaranya.


Lalu di sofa tak jauh dari meja kerjanya seorang wanita sedang berbaring. Sibuk dengan majalah di tangan.


Well.. sekarang Lauro seperti seorang anak yang bermain di temani seorang ibu.


Mengabaikan Nathalia yang sedang asyik, Lauro fokus pada komputer di atas meja, meneliti kelainan jantung seorang pasien, hingga sebuah ketukan menarik perhatianya.


"Masuk" seru Lauro memberi izin.


Seorang wanita cantik dengan jas dokter masuk kedalam ruangan dengan sebuah berkas di tangan.


"Pagi dok"


"Pagi dokter zamora" sambut Lauro dengan senyum super manis menurut Nathalia. Sehingga membuatnya memutar bola matanya, jengah. Dan itu terlihat jelas di antara majalah dan tanganya.


"Hmm... makin tampan dok" goda dokter Zamora.


"Hmm kurasa aku lupa kapan aku pernah terlihat jelek" balas Lauro tak kalah ramah, dengan senyum lebar jika tak ada halangan Nathalia yakin bibir itu bisa menyentuh telinga.


"Narsis seperti biasa dok" lalu di hadiahi gelak tawa dokter zamora yang membuatnya semakin cantik.


Dan itu membuat Nathalia makin muak,


permisi di sini masi ada orang!, ingin sekali ia menerikan itu. Tunggu harga dirinya masih di atas dan akan selalu di atas. Seorang Nathalia biasa di perhatikan bukan mencari perhatian.


"Owh... terimakasih pujianya dok" balas Lauro dengan gelaknya.


Dokter Zamora memberikan sebuah Map putih "baru" yang langsung di sambut pertanyaan oleh Lauro


"Hmm..." zamora mengangguk  "dia memiliki kelainan jantung, ku rasa dia lebih baik kau yang menangganinya" jelas Zamora si dokter spesialis jantung. Karena pada dasarnya dokter jantung dan dokter bedah jantung adalah dua profesi yang berbeda.


"Dokter Noe?" Tanya Lauro karena ia tak bisa menerima pasien lagi di saat pasiennya juga sudah banyak. Sementara di rumah sakit bukan hanya dia dokter bedah toraks.


"Aku sedang tidak baik padanya" suara Zamora mengecil lalu di hadiahi tatapan lain oleh Lauro. Zamora tahu ini akam terjadi.


"Hmm... sejak kapan kau harus mementingkan kepentingan pribadimu ketimbang kepentingan pasien?"


"L..." pinta manja Zamora. Sembari merapatkan tangan memohon


"No! Cobalah"


"Kumoho--" Zamora terkejut ketika suara benda terjatuh mendomaninasi udara di dalam ruangan, sehingga menghentikan ucapanya.


Nathalia telah duduk dan melemparkna majalah itu di meja dengan merengangkan kedua tanganya. Seolah ia telah melakukan hal terbaik dengan menyelamatkan dunia.


"Dia..." tanya Zamora yang terkejut ketika ada orang lain ďisana.


Sejak kapan? Padahal saat ia masuk ia tak melihat siapapun selain lauro


"Istriku" jelas Lauro


"O..oo" zamora cukup paham dengan situasi saat ini, buru buru dia mengambil berkas dan permisi.


Lauro menjatuhkan tubuh bidangnya ke senderan kursi dan tergelak mendapati tatapan mengerikan dari Nathalia.


"Kau selingkuh!" Tegas Nathalia


Kan... sudah Lauro duga!


Inilah maksud Lauro menyuruh Nathalia belajar lagi, karena rasa bosanya membuat wanita itu berfikir untuk menyudutkan dirinya.


Selingkuh! bagian mana?


TBC


Hay... 😘😘😘😘 ay mau kasi yang manis manis ini 😘 ini ay dtg bawa 5 chapter ayo duduk manis 😘😘😘🥰


Like abraham matteo