Take My Life

Take My Life
chapter 63



"Hmm... aku tahu dad" Lauro berbicara pada Johan di line telfon dengan terus berjalan memasuki lorong panjang di rumah sakit ini. Pria tampan itu berada di rumah sakit hanya sekedar menemani Darsha dan melihat Nathalia.


Tapi sayang, wanita yang begelar sebagai istrinya itu tak ada di kamar perawatan ibunya


Bagaimana hubunganmu dan atha? Apa Nathalia menjauhimu?


"Aku baik baik saja, dan Nathalia tak pernah menjauh" ucap Lauro berbohong. seperti biasa, ia ingin orang - orang berfikir bahwa dia selalu baik baik saja.


Tapi ku dengar hubunganmu dan dia sekarang mulai merenggang


"Kau mematai matai kehidupanku daddy?"


Johan tergelak menerima tuduhan putranya, No... apakah kau tak percaya padaku?


"Jadi?" Tanya Lauro penasaran


Hmm.. sejenis virus di rumah sakit yang ku dengar.


Sudah Lauro duga "Owh... sepertinya aku harus menyumpal mulut manusia di rumah sakit ini ya" Lauro tegelak memikirkan ucapanya, ia menurunin satu persatu anak tangga di sebelah dinding kaca raksasa ini "kita hanya masih sibuk masing - masing, aku akan mencari tahu yang sebenarnya terjadi dadd"


Jangan sombong, kau harus baik baik padanya, pastikan Nathalia merasa kau sudah menyesal dengan semuanya, mengerti?


Lauro menaiki railing tangga untuk duduk di pembatas tangga yang berbelok "ya... ya... ya..." ucap Lauro malas "okelah dadd aku tutup"


Lauro menghela nafas dalam dalam. Seraya memikirkan kejadian barusan, ia sudah memohon pada Dr. Lanscaster untuk hasil rekam medis istrinya. Ya... Lauro baru mengetahui bahwa Nathalia kembali menjalani terapi.


Tapi sialnya dengan sumpah jabatan dan permintaan Nathalia membuat Dr. Lanscater memperkuat dalih tak ingin memberikah hasil rekam medice itu.


Lauro berdecih lalu menatap keadaan luar di balik kaca. Kesibukan kota Valencia terlihat jelas dari atas sini. Seharusnya Lauro bisa mendapatkan hasil rekam medice itu dengan kekuatan yang ia punya.


Tak perlu di jelaskan bukan apa kekuatanya besarnya di rumah sakit ini? Bahkan memindahkan Dr.lancaster ke cabang rumah sakit ini di kota kecil ia mampu. Tapi sayangnya Lauro tak searogant itu.


Sayup sayup ketukan sepatu berjalan mendekat membuat Lauro menilik ke depan, ternyata itu Emily dan Nathalia. Lauro hampir turun dan menengahi perdebatan kedua wanita ini hingga perkataan Emily mengurungkan niatnya.



"Oke aku tahu, pasti karena L membuat ibumu celaka bukan?" Suara Emily yang tadinya menggelegar kini mulai memelan tapi Lauro tahu gadis mungil itu sedang menahan Emosinya.



"..." tetap Nathalia kukuh untuk tak menjawab.



"I know everything, I know you're hurt but... I hope you're trying to be realistic" ucap Emily frustasi



"..." Nathalia tetap diam dan menunduk menatap lantai dingin hingga membuat Emily makin gemas.



"Tha? Tak ada satu manusia pun yang ingin melakukan kesalahan! L juga tak ingin melakukan itu pada ibumu. Kau harus tahu bagaimana ia selama ini menjalani hidupnya setelah itu."



"..."



"Tak bisakah kau siapkan sedikit maaf untuknya Tha? Bukan cuma kau yang terluka. Kau tak tahu bagaimana L menjalani hidupnya yang mengerikan ini"



Sayup sayup tangisan Nathalia cair, tubuhnya bergetar menahan Emosi. ia tak tuli untuk mendengar semua bentakan Emily. Dan itu membuat Lauro sudah turun dari railing dan berjalan pelan menuruni anak tangga.



"Aku saksi perjalanan hidupnya, hanya saja evgania sudah mencuri hatinya lebih dulu. Aku memilih tinggal di spain kau kira untuk apa huh?!" Salak Emily berapi \- api, mendapati Nathalia yang selalu mengabaikanya.



"Aku hanya ingin L tak menjalani hidupnya yang mengerikan ini sendiri! Dari dia menjaga wanita itu, seharusnya aku tahu bukan Evgania yang menjadi dalang kesendirian L" ucap Emily lelah



"Haruskah aku bersujud padamu? Agar kau bisa memaafkan kakakku?" Emily mengatup bibirnya bersama dengan jatuh kristal bening di pipinya.



"jika kau memikirkan aku mengejarnya karena aku menyukainya, kau salah. Aku hanya ingin L menjalani hidupnya dengan benar.



"Bisakah kau tak membiarkan dia terluka lagi tha?" Emily memohon hampir bersujud di hadapan Nathalia, dan dengan cepat di tahan oleh Nathalia.



"Aku hanya ingin tak ada yang menyakitinya lagi, termasuk egoku sendiri" ucap Nathalia lirih menatap mata Emily dengan tatapan penuh kepedihan. Hingga membuat kaki Lauro yang turun pelan dari anak tangga terhenti, terlebih ia ingin tahu apa yang sedang Nathalia tutupi




"Aku harus bagaimana?" Tanya Nathalia frustasi dengan wajah kebingungan karena konflik hati tak berkesudahan.



"Lauro menjalani kehidupannya yang mengerikan karena aku"



"Ia merasa bersalah karena aku padahal yang salah sesungguhnya adalah aku, aku tak ingin ada yang menyakitinya lagi, bahkan tidak dengan egoku" Nathalia memukul dadanya yang terasa sesak dan air mata penyesalan luruh di pipinya



"Dia pantas bahagia, seharusnya rasa untuku tak pernah ada, karena semuanya hanyalah kesalahan"



"Apa maksudmu?" tanya Emily tak mengerti



"Ibuku memang berniat membuangku saat itu, aku di tinggalkan di taman tepat di hari ulang tahunku satu maret dua ribu delapan"



"Ibuku kecelakaan tanggal empat maret dua ribu delapan" jelas Nathalia frustasi, kenapa harus Lauro masuk dalam lingkaran setan kehidupanya.



"Jika saja Lauro tak masuk dalam bencana hidupku pasti dia akan hidup bersama wanita baik sekara\-\-" Lauro mendekapnya Nathalia,


Lalu menatap Emily "thank you baby" lauro mengerakan bibirnya pada Emily dan menghapus air mata gadis itu dengan tangan kiri masih mendekap tubuh Nathalia.


Emily memang biang masalah di hidup Lauro tapi Lauro tahu, gadis itu benar benar baik.


"Tenanglah..." Lauro mengelus rambut Nathalia pelan.


"L... maaf..." tangis Nathalia pecah merasa terlalu lelah menghindari Lauro.


Emily melangkah pergi, ia cukup sadar untuk tak menjadi pihak ketiga. Mungkin L dan Nathalia memang butuh komunikasi yang jelas setelah semua ini.


"Sttt..." Lauro melepaskan dekapanya dan menangkup pipi Nathalia dengan tanganya, menatap lekat - lekat manik mata istrinya "tenanglah hmm..."


"A... ak" nathalia menangis tergugu sehingga membuat Lauro makin mengasihaninya.


"Aku dengar semuanya" Lauro tersenyum bahkan tak ada setitikpun aura kemarahan yang terpancar dari wajahnya.


"Maafkan aku" Nathalia menunduk benar benar merasa bersalah


"Kau tak salah apa pun sayang" ucap Lauro menarik tubuh istrinya dalam dekapanya.


"Ta..."


"Kau percaya pada takdir? Aku tahu Tuhan punya rencana baik untuk kita. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.


"Jatuh cinta padamu bukan sebuah pilihan, aku tidak pernah memaksakanya. Itu datang tiba tiba dan aku putuskan untuk selalu ku perjuangkan" ucap Lauro lebih jelas. Membuat Nathalia yang tadi menangis mendadak beku.


Oke tha apa kau lupa jika suami mu ini adalah playboy paling mematikan? Bibir itu bagai selalu di olesi Lotion karena sangat wangi dan lembut.


EVERYTIME


"Bagaimana kau bisa setenang ini?" Nathalia takjub dengan Lauro yang selalu tenang menghadapi apa pun.


"Karena sekeras apa aku menangisi hidupku tak membuatku bahagia"


"Bagaimana jika suatu saat kau harus meninggalkanku?" Nathalia mendongak menatap wajah Lauro, masih dalam pria itu


"Mati" tanya Lauro bingung


"No" bantah Nathalia cepat. Bahkan ia tak ingin memikirkan ini


"Owh berpisah?"


Nathalia mengangguk mantab seperti tak sabar untuk mendapati jawaban suaminya.


Please jangan bahas takdir lagi!


"Aku hanya perlu mengatakan bahwa aku telah tersesat dalam dirimu, jadi aku tak punya jalan keluar untuk meninggalkanmu" ucap Lauro dengan senyum manisnya membuat semburat memenuhi wajahnya.


I love you Lauro Rexi Morales


TBC