Take My Life

Take My Life
chapter 68



Siapa bilang uang adalah segalanya?


Lihat sekarang pria dengan kaos oblong di depan outlet bocadillo itu terlihat tak berdaya. Jika Lauro nekat membeli outlet sederhana ini lagi, sudah pasti ia akan menjadi topik hangat warga net.


Jika Tadi Lauro berhasil menghacurkan segala impian kencan normal Nathalia, karena normalnya seorang Lauro sangat sangat jauh berbeda dengan normalnya manusia pada umumnya.


Dari membeli toko permainan hanya karena Nathalia menginginkan satu boneka di mesinΒ  pencapit boneka, hingga meledakan kembang api di langit kota seperti sedang merayakan suatu perayaan besar. Ini sudah normal jika di lihat dari sisi Lauro morales.


Tapi sepertinya uang Lauro tidak berlaku pada sederet orang yang sudah berkumpul di depan outlet kecil ini, bahkan tak tanggung tanggung antrian panjang itu sampai ke trotoar.


Tadi Lauro berkali kali sudah menyakinkan Nathalia bahwa dia bisa membuatkan bocadillo spesial, atau menunggu hingga antrian itu habis dan Lauro bisa membeli outlet kecil itu dan menutupnya hanya untuk istrinya


Nathalia yang duduk di sebuah tenda tergelak puas saat Lauro mengibas ngibaskan kerah lehernya, untuk mendapatkan hawa segar dari antrian panjang itu


Bisa jadi sudah hampir sejam pria itu berjalan lambat di antrian ini, kini Lauro berada di barisan kedua tapi sebuah keributan di bahu jalan menarik perhatianya.


"Dasar buta! Apa kau tak punya mata huh?" Murka seorang wanita sesaat setelah menolak seorang pria tuna netra hingga terjatuh.


"M... maaf" ujar pria paruh baya itu kebingungan dengan mencari tongkatnya.


Langsung saja, hal itu membuat Lauro melangkah lebar meninggalkan antrianya dan berusaha membantu pria tua, hingga Nathalia pun melongo melihat aksi suaminya


Jika tadi Lauro selalu memberi alasan untuk tak membeli bocadillo di sini bukan karena antrianya, melainkan karena tempat sederhana itu seperti tak mengutamakan kehigenisan.


Tapi pak tua tuna netra itu?


Oke, semua orang bisa melihat pakaian lusuh pria tuna netra itu, jauh dari kata bersih sepertinya pria baru terjadi di sebuah tempat kotor.


Lauro mengambil tongkat dan segera membantu pria tua netra itu untuk berdiri.


"Maaf... saya kotor tuan" ucap si pria dengan berusaha mundur, karena tanpa melihat pun semua orang tahu bahwa Lauro adalah kalangan kelas atas. Aroma tubuh dengan parfum mahal itu menjadi bukti.


"Saya juga kotor tuan" balas Lauro yang tersenyum dan melirik sinis pada dua wanita di belakangnya, yang Lauro yakini adalah ibu dan anak, dan yang terpenting satu wanita terlihat sedang hamil.


Lauro terlalu heran apa mereka berdua ini telah menjual hatinya atau memang tak memiliki hati sejak lahir?


"Kau mau kemana? Bisa ku bantu?"


"Ti... tidak usah tuan, saya sedang menunggu moto - city (ojek)"


Entah ilham dari mana Lauro malah mengatakan "kebetulan saya moto - city tuan, bisakah saya membantumu?" Ucap Lauro bukan tanpa sebab, dengan kondisinya yang seperti ini Lauro yakin banyak sekali manusia tak punya hati yang tega menyakitinya.


Seperti dua wanita ini, saat Lauro mengaku sebagai moto - city kedua wanita itu malah mencibir dengan mengatakan "orang miskin akan selalu berkumpul dengan orang miskin" hampir saja Lauro menampar bibir tak sopan itu, tapi Lauro sadar bahwa tak boleh menyakiti wanita apa lagi hewan.


Ya sangat tidak baik menyakitin hewan seperti mereka! Untung saja kedua wanita itu pergi jika tidak, Lauro pasti sudah suka rela menyebutkan daftar kekayaanya.


"Benarkah?" Tanya pria itu sumringah, Lauro sudah bersiap mengambil ponselnya untuk menghubungi orangnya agar bisa membantu pria tuna netra ini "bisa kau antarkan aku ke texaco?" Mendengar ucapan pria itu Lauro langsung menyimpan ponselnya bersama dengan itu juga Nathalia datang mendekat.


"Bisa tuan, apakah bisa kau menunggu sebentar? Aku akan mengambil motorku dulu" ucap Lauro sekaligus menarik Nathalia menjauh.


"Dia kenapa?" Tanya Nathalia


"Bisakah kau menunggu sebentar? Aku akan mengantarkan paman itu, hanya ke perusahaan kontruksi dekat sini sayang" Lauro melirik jam tanganya "hanya sepuluh menit" janji Lauro


"Aku akan menunggu di sini"


"Berjanjilah untuk tak kemana mana, hmm" tegas Lauro dan di balas anggukan oleh Nathalia. Setelah mengucapkan 'aku mencintaimu dan mencuri ciuman di kening Nathalia Lauro berlari ke arah motornya.


"Hati hati tuan" ucap Lauro mulai menuntut pria tua itu. Lauro bahkan tak peduli pada sederatan orang yang sedang memperhatikan mereka.


Lauro tampak kebingungan, bahkan dalam hidupnya dia lupa kapan terakhir kali menaiki moto - city, bisa di bilang tak pernah. Pria tampan itu mulai menjalankan motornya membelah kota dan meminta pria paru baya itu memegang pundaknya.


"1 euro" jawab Lauro seenaknya.


"Wah.. kau masih memasang tarif lama. Kau harus menaiki tarif mu nak, jika motornya seperti ini aku yakin penghasilanmu akan besar, kita hidup di negara yang segalanya mahal"


"Yang penting selalu ada tuan" ucap Lauro tergelak, berbohong mungkin hal yang tak baik tapi dengan berbohong semua akan terlihat mudah. Seperti sekarang, ia merasa dengan dekat pria paruh baya ini tanpa melibatkan derajat.


"Kau pria yang baik, pasti banyak wanita yang menginginkanmu"


"Aku sudah menikah tuan"


"Wah... ku fikir kau masi single. Pasti beruntung sekali wanita yang menikah dengan mu"


"Tidak tuan, akulah yang beruntung mendapatkanya, dia terlalu cantik baik dan segalanya buatku"


"Wah... sepertinya kau orang yang sangat mencintai istrimu, Semoga kalian selalu bersama"


"Amiin" bersama dengan itu motor Lauro masuk ke sebuah parkiran perusahaan kontruksi.


"Terima kasih, bisakah kau ambil sendiri uangnya nak? Seperti yang kau lihat aku tak bisa melihat" ucap pria tuna netra itu setelah turun dari motor Lauro dan menyerahkan sebuah dompet kecil berwarna hitam.


Lauro mengambil uang logam di dalam dompet dan perlahan meletakan selembar uang lima ratus Euro kedalam dompet pria itu


"Semoga tuhan memberkatimu"


"Semoga tuhan selalu melindungimu" ucap Lauro lirih nyaris tak terdengar.


Inilah yang membuat Lauro tak pernah mengeluh akan rasa sakit perjalanan hidupnya. Karena masih banyak mereka yang di uji tuhan tapi masi sanggup tersenyum.


Selalu syukuri maka hal baik akan mengikutimu tanpa di minta. Tuhan tak pernah tidur hanya saja ia selalu mengajarkan kita untuk dewasa.


Lauro telah sampai di mana tadi dia meninggalkan Nathalia. Dan dia tak menangkap sosok cantik yang sejak tadi ia fikirkan.


"Tha?" Lauro mulai mengedarkan kepalanya ke segala arah berharap menemukan istrinya secepatnya. Lauro mulai turun dan mencari Nathalia di depan outlet bocadillo tapi nihil.


Bahkan Lauro telah menerobos kerumunan orang yang sedang menikmati pertunjukan musisi jalanan.


sudah lima belas menit berlalu dan tidak juga ketemu, benak Lauro berdebar takut bahkan nafasnya telah memburu, Lauro mengusap kasar wajahnya lalu ia teringat akan sistem pelacak.


"Dia masih ada di sekitar sini"


Lauro terus berjalan menyusuri terotoar, lalu berbelok mengikuti jalan sepi. Dimana Nathalia sekarang? Benaknya terus bertanya. Bahkan nafasnya telah memburu saat rasa kekhawatiran kian menyerbu. Karena perjlanan makin sunyi


Tapi apa yang di tangkap oleh kornea matanya membuat rahang Lauro mengetat dan tanganya terkepal. Dimana Nathalia sedang di hadang sekumpulan pria.


TBC


Kan ada apa ini??


L besok nyari istri yang kek ay ya πŸ˜‚ baik dan rajen menabung.. nabung dosa πŸ™ˆπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­