
Ay..... kambek 🤣🤣🤣🤣
Maaf kisah ini tak bermaksud menyingung siapa pun...
.
.
.
Langit hitam kelam spertinya menyeret semua kebahagiaan. Ia sukarela menyebarkan ketakutan, belum lagi kilatan cahaya menjalar di langit menampilkan kemurkaannya. lalu dentuman petir membuat siapa saja bergindik ngeri.
Peristiwa alam yang sering kali terjadi, tapi tetap menjadi momok menakutan bagi siapapun. apa lagi gadis kecil di bawah pohon rindang ini.
Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan dan perlindungan disana. Karena rintik hujan masi setia menampar bumi.
Lalu beberapa tetes air yang tak mampu tertahan oleh dedaunan lemah juga menyampaikan basah itu pada gadis ini sehingga pakaian gadis kecil ini terasa lembab.
"Ayah..." gadis itu terus merapalkan kata ayah dan ibu bagai mantra. Berharap salah satu dari mereka akan menolongnya.
"Ibu..." tapi tak ada satu orang pun disana. Yang ada hanya rintik hujan dan lampu jalan yang setia menyala.
"Ibu kau dimana? Hiks... hiks.."
"Ayah apa kau tau aku disini?" Suara gadis malang itu bergetar menahan dinginya angin dan ketakutan menyapa dalam hitam pekat gelap malam.
Lalu ia teringat peristiwa dua minggu lalu, saat ayah mengajaknya berbicara di kursi teras rumah kecil mereka.
"Ayah dan ibu akan berpisah" ucap pria itu kali ini menatap gadis kecil yang sibuk dengan kegiatanya.
"Owh..." gadis kecil itu masih asyik meminum minuman dinginya. Ia tak terkejut apa lagi merasa takut karena ia belum mengerti tentang duka sakitnya menjadi dewasa.
Pria itu mengela nafas pelan"Ayah mungkin tak akan kembali lagi"
Ucapan ayahnya merengut perhatian gadis itu "Ayah kemana? Apa tempatnya sekarang jauh sekali?" Tanya gadis kecil itu mulai antusias karena menahan rindu setiap bulan saja ia tak kuat apa lagi ia harus menunggu terlalu lama.
Seperti saat ini, hari ini ia baru bertemu pria bertubuh sedikit gempal ini, lalu besok ia pasti akan di tinggal lagi, sudah hampir setahun ini yang ia tahu ayahnya bekerja di luar kota dan mendapat libur hanya satu hari dalam satu bulan.
"Hmm" pria itu berdehem cukup keras untuk mencari posisi nyaman untuk perkataan selanjutnya, ia cukup paham ini memang tak baik untuk anaknya. tapi ia harus mengatakan selamat tinggal pada putri kesayanganya " ibu dan ayah sudah tidak cocok lagi mungkin lebih baik berpisah"
Untuk gadis berumur sepuluh tahun gadis ini, mungkin ia tak begitu mengerti apa arti berpisah, tapi tak bisa bertemu lagi dengan ayahnya adalah hal yang paling ia takuti.
"Lalu bagaimana dengan ibu?" Gadis itu sedikit menahan rasa takut yang baru muncul dari tubuhnya, mungkinkah ibu akan meninggalkannya juga?
Bagimana ia akan hidup? Tanpa kedua orang tuanya?
"Kau bersama ibu, kurasa kau akan lebih layak bersamanya dari pada bersamaku"
"Bagaimana jika aku merindukanmu?" Gadis itu mulai menangis, ketakutan seorang anak adalah tak bisa melihat yang dulu tampak indah, pasti akan ada yang tersakiti atas sebuah kepergian.
Setiap rencana perpisahan pasti akan menyiksa anak anak yang seharusnya tak mengerti keputusan orang dewasa.
Pria paruh baya itu menghela nafas pelan, ia tahu ini takan baik untuk anaknya, namun baik untuknya maupun istrinya sudah mengambil keputusan untuk bercerai.
"Ba... Bagaimana jika a..aku ingin jalan jalan bersama kalian lagi, aku janji tak meminta apa pun aku hanya ingin kalian" gadis itu menangis dan memohon atas sebuah keinginan polos, gadis kecil yang kebagiaanya terpaksa terengut akan keegoisan orang tuanya.
....
Nathalia tersadar, ia merasa hantaman kuat menyerbu kepalanya, ia membuka matanya lalu seketika keadaan kantor Lauro seperti berputar.
Bahkan sudah hampir empat tahun ini mimpi aneh tentang anak kecil itu tak pernah hadir. Karena harinya telah penuh oleh Axelin, namun saat Axelin pergi ia malah terus memipikan tentang petir, hujan tangisan anak kecil dan tabrakan semua tergabung menjadi satu.
Seperti biasa, saat mimpi aneh itu datang tanganya bergetar dan kepalanya sakit yang terkadang bisa membuatnya menangis.
"Ini bukan mimpi biasa" gumam Nathalia.
Ia berdiri mencoba menetralisir sakit kepalanya, ia mengamati jam di dinding mencoba menlihat dengan jelas.
Ini sudah hampir Enam jam ia menunggu Lauro, tapi tak jua ada tanda tanda pria dengan tampang bak titisan dewa dari mitologi yunani itu akan hadir,
apakah pria itu lupa jika ada dia sini?
Nathalia berdiri meski sakit masi bersarang di kepalanya. ia berjalan perlahan, keinginannya bertemu seseorang lebih beras dari pada bertemu Lauro sekarang, entahlah bahkan ia tak mengerti.
Nathalia berjalan mengabaikan siapapun yang melihat dan menyapanya, karena siapa yang tak kenal padanya karena sebelum hari ini ia juga sudah datang dengan baju pengantinya.
Baru saja ia keluar dari lift dan memasuki lorong yang menuju kamar inap pasien VVIP. seseorang mencekal tanganya, hingga ia terkejut, terbukti jika tak ada halangan mata bulat itu hampir jatuh dari tempatnya.
"L" satu huruf yang terlontar dari bibir tipis Nathalia.
"Kau mau kemana sayang?" pertanyaan lembut dari pria yang masi mengenakan baju dokter beda hijau berlengan pendek lengkap dengan penutup kepalanya.
"A... aku" bagai seorang maling yang tertangkap basah oleh warga Nathalia gugup, sebenarnya bukan itu, ia gugup bagaimana ia bisa menghadapi Lauro sekarang, ini terlalu tiba tiba.
Nathalia seperti butuh persiapan khusus untuk menghadapi suami. Karena wajah itu membuat jantung Nathalia berdetak tak menentu Seolah tampan suaminya itu bertambah setiap menitnya.
Dengan tatapan Lauro mampu membuat Nathalia melupakan tujuan awalnya.
"Bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini?" Ucap Nathalia sembari memperbaiki rambutnya. Ia tak ingin terlihat membosankan.
"Takdir" ucap Lauro mengoda dan tersenyum membuat Nathalia harus menahan untuk tak menerkam pria ini.
"Ah dasar gombal" Nathalia memeluk lengan Lauro dan menyenderkan kepalanya pada otot bisep suaminya.
"Kenapa kau bisa tahu aku di sini" tanya Nathalia lagi di sela perjalanan mereka.
"Takdir sayang"
"Kau berbohong!" Ucap Nathalia seraya mencubit pelan perut Lauro yang terasa keras.
Lauro tergelak dan mengusap kepala Nathalia, gemas "ku rasa manusia telah menciptakan alat bernama CCTV sayang"
Jawaban Lauro membuat Nathalia merona, jadi pria itu memantaunya? Dan itu membuat Nathalia menjadi salah tingkah
Mereka berjalan dengan sesekali bercanda mesra menuju ruangan Lauro yang terletak dua lantai dari lantai ini, sepertinya hanya mereka raja dan ratu penguasa bumi ini karena yang lain hanya pelayan yang setia.
Lihat saja sekarang mereka seperti tak peduli banyaknya tatapan yang mereka lewati.
Saat tangan Lauro membuka Handel pintu ruang kerjanya, kornea matanya menangkap sepasang pria dan wanita yang telah duduk santai di ruangannya. Dan itu membuat Nathalia kesal.
TBC
Siapa ya kira kira 🤣🤣🤣🤣