
"Hey... kau yakin aku tak boleh ikut?" Tanya Ray yang baru saja menghentikan mobilnya tepat di depan pelantaran rumah sakit.
"No..." tegas Nathalia seraya mengeleng, wanita itu sibuk mengambil tas dan ponselnya.
"Kau pulang saja" ucap Nathalia yang telah keluar dan membungkukan tubuhnya tepat di depan pintu mobil melihat kearah Ray.
"Tha... ingat kau bukan orang asing, kau adikku, kau selamanya akan menjadi tuan putri di keluarga Romanove" ucap Ray meyakinkan adiknya
Tapi perkataan itu membuat Nathalia jengah, mungkin hari ini sudah terhitung puluhan kali ia mendengarkan saudara angkatnya itu meyakinkanya.
Ia senang tapi bukankah itu malah memperjelas jarak di antara mereka.
"Oke... Ray.. pulanglah, jaga papa. Dia tidak pernah menjualku" Nathalia tersenyum miring setelah tadi ia membahas semua ini pada Ray
Perkataan Nathalia membuat Ray sedikit malu dan mengusap tengkuknya yang tak gatal. Selama ini ia berfikir bahwa Rich jahat karena Rich selalu membiarkan Ray berfikir sendiri tanpa berniat membela dirinya.
Nathalia melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung menjulang tinggi ini. Ruangan yang luas dengan orang - orang yang sibuk dengan segala aktifitasnya. Berjalan berbelok untuk masuk pada lift yang baru saja terbuka
Ting...
Suara lift berbunyi pertanda ia telah sampai pada lantai yang di tuju. Ia tak sabar ingin bertemu dengan Lauro. Pria luar biasa yang telah mengubah hidupnya.
Senyum tipis menguasai bibir tipisnya. Tapi ketika tanganya membuka knop pintu. Ruangan itu kosong, sehingga membuat Nathalia mengela nafas. Inilah sulitnya memiliki suami super sibuk.
Hmm sebenarnya bukan salah Lauro, karena Nathalia mencarinya tepat di jam kerja.
"Anda mencari dokter Lauro?" Tanya seseorang membuyarkan lamunan Nathalia, wanita cantik itu bergerak melihat perawat yang menyapanya, dengan menutup pintu.
"Iya"
"Dokter Lauro di ruang pasien nonya darsha" jelas perawat itu
"Owh, dia sedang mengecek pasien" entah itu penyataan atau pernyataan hanya Nathalia sendiri yang tahu.
"Bukan" balas perawat itu ramah, "nyonya darsha bukan pasien dokter Lauro. Itu pasien dokter Garry karena ia mengalami cedera serius pada kepalanya yang membuat ia koma sudah dua belas tahun katanya," perawat itu tesenyum miris menyayangkan kondisi pasien malang itu. karena ia baru saja bekerja terhitung dua tahun di rumah sakit ini Sepertinya Ny. Darsha kerabat dokter Lauro. Apa anda tak mengenalnya?"
"Dua belas tahun?" Tanya Nathalia yang di balas anggukan dari perawat itu. Nathalia ingat wanita yang terbaring itu.
"Owh aku akan kesana, terima kasih"
🏍🏍🏍🏍
Suara Elektrokardiograf adalah satu-satunya bunyi yang bergema di dalam ruangan yang di dominasi warna putih ini. Selain deru angin pendigin udara dan tarikan nafas yang terdengar halus.
Lauro hanya bisa menunduk melihat tangan kurus dalam genggamananya, seorang wanita paruh baya lengkap dengan selang oksigen dan selang infus mengihiasi tubuhnya.
"Aku tahu kau mendengar ini, aku yakin kau juga akan segera bangun..." ucapan ini yang selalu Lauro ucapkan selain kata 'apakabar' dan aku 'menyayangimu'.
Wanita yang terbujur lemah dengan kerusakan otak parah dan berujung dengan koma ini adalah satu-satunya penyesalan terbesar Lauro. Ia bahkan tak berani mengendarai mobil sendiri sebagai bukti penyesalanya.
Lauro mengangkat tangan yang bebas dari infus itu, mengecup pelan "cepatlah sembuh dan marahi aku sepuasmu" lalu mata Lauro melihat foto kecil di nakas di sebelah ranjang pasien.
"Dia sudah mengetahui identitasnya, bagaimana caraku menjelaskan padanya?" Terlihat jelas kegelisahan dari wajah Lauro, seolah rasa takut benar benar merayap pada tubuhnya.
"Aku pendosa yang merampas hidup kalian, bagaimana bisa aku diam saja saat di saat dia kebingungan?
"A... aku takut dia akan pergi meninggalkanku"
"Seandainya saja aku tak menabrakmu mungkin dia tak akan menjalani semua rasa sakit ini, mungkin kalian masih bahagia sekarang" ucap Lauro terus bermonolog
"Bagiamana caraku menjelaskan padanya"
"Aku menyayangi kalian" ucap Lauro akhirnya
Lauro bangkit dari duduknya, mengelus rambut kering yang mulai di tumbuhi rambut putih, mencium lembut kening dingin itu dengan lembut.
"L..." suara Nathalia bergetar menahan Emosi yang baru tercipta. Kenyataan yang tertampang di depan mata membuat Nathalia mulai menyusun kepingan ingatan yang terkadang di suguhkan dalam alam mimpi
Gadis kecil di Taman, perceraian orang tua, hujan, dia yang di angkat oleh romanove dua belas tahun silam, dan wanita ini yang di terbujur kaku selama dua belas tahun. Apakah semua itu kenangan Nathalia yang terlupakan?
Lalu L...?
Apa hubungan L dan wanita ini?
Nathalia terkesiap, berdiri kaku melihat wanita terbujur lemah itu, lagi air matanya terjatuh tanpa permisi. Nathalia menyentuh pipinya yang basah. Lalu matanya menoleh pada foto kecil di atas nakas tepat di sebelah wanita yang masi setia terpejam.
Sepertinya mirip dengan foto yang Maria tunjukan pagi tadi, hanya saja wajah gadis dalam foto itu masi terlihat ceria.
Apakah yang ada di dalam foto itu juga dia saat masi kecil. Setelah dua belas tahun apakah wanita yang terbaring selama dua belas tahun ini adalah ibunya.
Nathalia menoleh kesamping, sedikit bingung. Kenapa Lauro telah bertekuk lutut di sampingnya seperti seseorang yang sedang meminta pengampunan.
"Maafkan aku" Lauro menunduk tak berani melihat ke arah istrinya
"Ini semua salahku, lanjutnya dengan menggenggam kedua tanganya dia atas paha.
"Apa maksudmu L?" Nathalia benar - benar bingung dengan adegan yang baru tercipta
"Dia adalah ibu kandungmu, seseorang yang tak sengaja harus ku rampas hidupnya" L mengatakan dengan menangis tergugu.
Bagai di hantam batu besar kepala Nathalia terasa pusing, gejolak campuran rasa mengeliat di dada Nathalia, Membuatnya sesak seperti kehabisan udara. Ia jatuh terduduk tepat di depan Lauro. Bahkan kalimat itu bisa membuat pertahanan kakinya melemah. Air matanya jatuh.
Jujur Nathalia kecewa, tapi ia lebih tak bisa melihat wajah Lauro yang seperti ini. Pria itu telihat kebingungan dan ketakutan, apakah sebesar ini penyesalan yang pria ini simpan selama ini.
Terlepas wanita itu adalah ibu kandung Nathalia, jujur seluruh rasa Nathalia saat ini berpihak pada masa kini bukan masa lalunya.
"Tha, aku harus apa untuk kau memaafkanku?" Suara Lauro kembali mengudara dengan air mata berubah menjadi aliran penyesalan, melihat wanita yang kebingungan dengan mata basahnya.
Wanita yang selama ini harus ia regut hidupnya. Bahunya berguncang menahan sesak dalam dada. Kedua bibirnya terkatup bergetar karena menahan tangis. Wanitanya yang malang begitu banyak rasa sakit yang sudah ia berikan pada wanita ini
"Bagaimana caraku membayar semua rasa sakitmu tha
"Bagaimana cara aku harus menembus salahku tha?" Tanya Lauro lirih
"Hukum aku tha, pukul aku tapi bisahkan aku minta kau jangan pernah meninggalkan aku?" Mungkin terlalu berlebihan permintaan Lauro saat ini karena satu kejadian ia merampas kehidupan dua wanita ini tanpa iba.
Nathalia tak sanggup lagi, kepalanya sangat sakit saat ini. Saat ucapan Lauro mengudara ingatan tentang masa kecil keluar bagai kaset rusak yang ingin di tampilkan. Saling meyerbu dan saling tindih untuk di tampilkan lebih dulu.
Akhirnya dunianya gelap, beruntung dengan tangan kokoh Lauro melesat cepat untuk menangkap tubuh Nathalia
"Tha?"
Lauro segera bangkit dan mengangkat tubuh Nathalia kearah sofa