
Sorot Mata Nathalia tak pernah lepas menatap wajah Lauro, seandainya saja sorot mata bisa membunuh. Lauro sangat yakin jika saat ini ia sudah mati berdarah-darah karena tatapan tajam Nathalia.
Ya... mungkin Lauro akan memilih untuk melakukan operasi cito sekarang dari pada harus melayani drama seorang wanita yang sedang cemburu, dan sayangnya jadwal operasi hari ini akan di lakukan jam tiga sore.
Lauro berjalan mendekati Nathalia. "Apa salahku sayang?" Rasanya Seperti seorang hamba yang berjalan kearah malaikat pencabut nyawa.
"Kau terlalu bersikap baik pada wanita lain?" Ketus Nathalia.
"Apa tadi?... LLLLLL" Ucap Nathalia dengan intonasi manja dokter Zamora dengan gayanya yang terlalu berlebihan, hingga ia sendiri merasa jijik.
"Kumohooooon, kau tau? Hampir saja aku ingin menyumpal mulutnya dengan sepatuku" ketus Nathalia sekaligus membuang mukanya saat Lauro sudah duduk di sebelahnya. Dari ujung matanya Nathalia bisa melihat sekarang ia menjadi bahan tertawaan untuk Lauro.
Lihat bertapa senangnya Lauro menertawakanya!
"Kau cemburu?" Tanya Lauro terang - terangan
"Menurutmu?"
Lauro tergelak makin keras karena mendapati sikap cemburu seorang wanita padanya " maaf..." oke Lauro sadar saat Nathalia mendengus dan hampir berdiri meninggalkanya.
"Maaf sayang"
"Begini, aku harus bagaimana menghadapinya sayang? Dia rekan kerjaku" jelas Lauro
"Biasa saja!... kau bisa liat data pasien itu, jika tidak bisa kasi kembali dan suruh dia pergi" well... sekarang Nathalia memberikan ia torurial untuk menjadi seorang Elroy atau Kenzo. Atau lebih parah dari dua orang itu.
Lauro tersenyum dan mengusap rambut Nathalia "Tidak bisa semudah itu sayang, aku adalah seorang dokter. Attitude yang baik dalam pekerjaanku adalah suatu kewajiban. Lagian Zamora memang seperti itu. Dia sedikit manja" lauro menujukan tanganya menujukan kadar kemanjaan rekan kerjanya.
"...."Nathalia masi cemberut.
"Begini, hmm... aku tidak akan selingkuh atau apa pun jenisnya itu. Apa lagi dengan Zamora, Ck... si manja itu sudah memiliki suami dan anak sayang"
Mendapati sikap pengabaian dari Nathalia membuat Lauro gemas.
"Hey..." suara Lembut Lauro mengudara sembari menarik dagu Nathalia untuk menatapanya "lihat aku..."
"Kau hanya bosan lalu hal yang tidak bisa kau terima seperti tadi bisa jadi masalah besar. Padahal itu adalah hal yang biasa"
"Bagaimana jika kau tergoda?"
"Bagaimana jika kau se--?" Oke... cara terbaik menghentikan curhatan otak kosong Nathalia adalah menutup bibir itu dengan bibir sensual Lauro.
Menyesap pelan sehingga membuat Nathalia mengalungkan kedua tanganya di leher Lauro. Lauro tersenyum menarik bibirnya dan mencium sekilas lalu mendudukan Nathalia kembali.
Ini tidak baik, Lauro paham akan itu, terlalu sering melakukan itu juga tak baik untuk kesehatan Nathalia.
"Aku mencintaimu, hanya itu yang harus kau tahu. Percayalah padaku" ucap Lauro pelan untuk membuat Nathalia berfikir positif.
"Kau pasti tidak, bagaimana dengan mereka?" Bantah Nathalia secepatnya, jangan lupakan jika Nathalia adalah wanita yang memiliki gengsi setinggi gunung selain itu ia adalah wanita paling keras kepala yang pernah terlahir di bumi.
"Sebuah hubungan akan berjalan, tak hanya bermodalkan perasaan, tapi komitmen dan kepercayaan sayang" balas Lauro dengan sabar.
"Sekuat apa pun kau gengam jika itu bukan milikimu, pasti akan terlepas juga"
"Jangan terlalu takut kehilangan atau melepaskan karena walaupun pun kau berlari menghindariku, jika aku memang sudah takdir mu kau tak bisa kemana-mana sayang"
"Kau lupa bagaimana kita?" Jelas Lauro yang mencoba mengingatkan bagaimana pertemuan dan perkenalan mereka selama ini. Bukankah sudah banyak cara Nathalia lakukan untuk mengehentikan pernikahan mereka. Tapi lihatlah sekarang mereka bisa sampai ketitik ini.
Nathalia terdiam, mungkin hanya Lauro yang bisa menjelaskan hal selembut itu dan pasti di terima oleh Nathalia seutuhnya tanpa memikirkan gengsinya lagi.
Lauro menarik Nathalia untuk masuk dalam dekapannya "Kau pulang?" Tanya Lauro, bukan bermaksud mengusir hanya saja ia tak tega melihat Nathalia di makan oleh kebosananya sendiri.
Nathalia mendongak menatap wajah Lauro "Aku tak tahu harus kemana, aku bosan"
"Inilah maksudku menyuruhmu untuk melajutkan pendidikan. Kau bisa memiliki hidup baru, menatanya kembali agar bisa bermanfaat untukmu dan orang lain"
"Untuk apa aku sekolah lagi? Untuk apa karir jika aku sudah memiliki segalanya?"
"Jangan terlalu bergantung pada siapa pun di dunia ini, bahkan bayangmu tega meninggalkanmu saat gelap tiba"
See.. benar! Hanya Lauro yang bisa membuat Nathalia yang tak berkutik sedikitpun, bahkan ia tak bisa lagi mempertankan Egonya. Karena semua yang Lauro katakan benar adanya.
"Aku harus apa?"
"Menata hidupmu kembali, melakukan sesuatu yang berguna"
"Bagaimana caranya?"
"Melanjutkan pendirikanmu"
"Tapi aku tak tahu harus memilih apa"
"Kah bisa memikirkannya sayang, lagi pula bulan depan baru mulai semester terbaru, jadi kau punya banyak waktu untuk memikirkan apa yang kau sukai"
"Aku tau apa yang aku sukai?"
"Apa?"
"Kau" jawab Nathalia dengan cengiranya, hingga membuat Lauro terdiam, mengigit bibir bawahnya untuk tak tertawa saat ini.
Oh.. begini rasanya di rayu, bahkan lauro geli memikirkan dirinya sendiri yang selalu menebarkan gombalan maut untuk para gadis, dulu.
"Ha.. aku tahu harus memilih apa?"
"Hmmm"
"Aku jadi dokter bedah jantung saja"
Lauro melongo mendapati pikiran ajaib Nathalia, bagaimana bisa dia memilih pekerjaan Lauro seperti memilih makanan di pinggir jalan.
Bahkan memikirkannya saja membuat Lauro bergindik ngeri. Mau berapa banyak nyawa yang mati di tanganya.
"Hmm... memangnya apa yang kau tau tentang pekerjaanku?"
"Diagnosis kondisi pasien, kasi obat dan beres" ucap Nathalia seenaknya.
See.. Lauro sudah paham dengan yang tertata rapi di kepala Nathalia. Bagaimana bisa 'hanya' itu yang ada di kepalanya? Lauro mencubit kedua pipi Nathalia hingga wanita itu mengaduh.
"Bisa" jawab Nathalia mantab.
"Baiklah, ayo" Lauro berdiri dan menarik tangan Nathalia.
"Kemana?"
"IGD"
"What?..." Nathalia terkejut lalu di sambut cengiran oleh Lauro.
...
Percuma rasanya Nathalia memberontak karena ia sudah di seret dokter stanger ini sampe ke depan pintu kaca dan terbuka saat mereka berjalan masuk.
Rintihan sakit berbagai orang disana mengudara. Seorang dokter yang lewat di antara mereka menunduk sebentar, seolah memberi hormat pada Lauro lalu bergegas pergi.
"Lihat itu" ucap Lauro menunjuk seorang pasien dengan kepala yang baru di perban.
Begitu banyak manusia yang memiliki takdirnya sendiri, dan dengan tenaga yang tersisa melakukan hal terbaik untuk bertahan hidup.
Nathalia melihat wajah lelah perawat laki laki dan perempuan, dan beberapa dokter yang sedang ada jadwal jaga di IGD. Lalu ia juga teringat akan wajah lelah Lauro yang biasa saat baru kembali dari ruangan operasi.
Sungguh Nathalia tahu apa pekerjaan suaminya, ia sering menonton drama untuk tahu apa yang sering terjadi di ruang operasi. Walaupun ia tak pernah berada di ruangan operasi.
Maksud Nathalia mengatakan itu tadi, mungkin ia bisa menjadi salah satu dari mereka. Bagian dari rumah sakit ini.
Lauro berjalan cepat mendekat salah satu tirai bed pasien.
"Ada apa?" Tanya Lauro.
"Dokter frans membutuhkan darah, kita kekurangan darah AB. Bank darah akan tiba sekitar dua jam lagi" jelas perawat dan di angguki oleh perawat lainya.
"Darahku AB" ujar Nathalia dengan suara pelan. Berharap tak ada yang mendengar, ia takut tapi sepertinya ia tak bisa diam saat ada orang yang membutuhkannya.
Apalagi berhadapan dengan pintu kematian.
Suster dan Lauro langsung menatap Nathalia dengan tatapan penuh harap. Dan itu membuat Nathalia mau tak mau harus menyodorkan tanganya walau terlihat sekali ia tak rela.
Nathalia berbaring di ranjang pasien dengan Lauro di sampingnya.
"Tekanan darah, 120/90" Ucap perawat yang memeriksa kondisi Nathalia.
Lalu lauro menyetuh pergelangan tangan Nathalia dan melirik jam di pergelangan tanganya. Untuk mengecek deyut nadi Nathalia.
"Oke" ucap Lauro pada perawat.
Perawat bergegas mengambil jasnya dan masker lengkap dengan sarung tanganya.
"Kita ambil sampelnya dulu sayang" ucap Lauro terlalu tenang untuk situasi yang menurut Nathalia terlalu horor.
"L aku takut" Nathalia menarik Lauro untuk berlindung.
"It's oke, semua akan baik baik saja. Ini akan sakit sedikit seperti di gigit semut" jelas Lauro.
Bagaimana bisa jarum di samakan dengan gigitan semut! L!!!
"Bagaimana jika aku mati?"
Lauro tergelak, mungkin saat setelah menikah ia terlalu banyak tertawa memang karena benar-benar lucu. Karena selama hidupnya ia belum pernah bertemu wanita sepolos Nathalia.
Bagaimana dengan mental ini ia ingin menjadi tenaga medis?
"Permisi Nona?"
"L..." Nathalia menyentuh kemeja Lauro dengan tangan kanan sementara tangan kirinya di pegang oleh perawat.
"Kau ingin aku yang mengambilnya?" Tawar Lauro
"No!!! jangan tinggkalkan aku"
"Tidak sayang"
"Biar perawatnya saja, kau tetap di sini, peluk aku!!!" Rengek Nathalia.
Perawat itu hanya tersenyum dan mulai meluruskan tangan Nathalia. lalu mengikatnya dengan tourniquet, untuk memperlambat aliran darah.
Saat perawat mulai menyentuh untuk mengidetifikasi letak pembuluh vena, Nathalia setengah berteriak lalu menarik Lauro memeluknya.
Lauro mengeleng dan tertawa, bagaimana bisa wanita dengan nyali seperti ini bisa memotong Nadinya, dulu? .Sungguh penyakit depresi benar benar berbahaya.
"Kau belum di apa apakan sayang" ucap Lauro dengan melirik suster. Meminta pengertian oleh bayi besar berstatus sebagai istrinya.
"Tenang nona" seru si perawat.
Bagaimana aku bisa tenang saat ada manusia yang akan menusukku dengan jarum?
Petugas membersikan area dengan alkohol, lalu memakai jarum untuk mengambil darah.
Nathalia memeluk Lauro sangat erat, untuk menyalurkan sakitnya.
"Sudah" ucap si perawat menutup bekas suntikan dengan plaster.
"Sudah?" Tanya Nathalia. Bukankah darahnya mau di ambil mengunakan kantong? Kenapa terlalu cepat?
"Ini belum pengambilan darah, baru pengecekan apakah darahmu layak atau tidak sa--"
"What?" Jadi setelah ini ia kembali akan menikmati jarum sekali lagi?
Nooooooo
TbC