
Sebelum party wedding di malam hari, Nathalia terkejut karena permintaan Lauro yang mendadak, Dengan gaun pengantin ini Lauro mengajak Nathalia kerumah sakit. Tak peduli dengan reaksi Nathalia pria itu tetap membawanya.
Nathalia merasa Mungkin dia adalah pria work holic atau dia tak bisa lepas dari rumah sakit walaupun hari ini adalah hari pernikahanya. Atau dia berniat pamer karena tak jomblo lagi dan menghapus artikel tentang lauro mengidap penyimpangan seksual atau gay! Terlalu banyak yang Nathalia fikirkan untuk menyetarakan apa yang sedang bertenger di kepala Lauro saat ini.
Nathalia juga tak mengerti bagaimana bisa artikel konyol itu bisa punya ide menjijikan itu terdahap presiden playboy di spanyol ini.
Nathalia cukup senang ternyata gaun itu layer ekor panjangnya bisa di lepas. Dan menambah kelegaanya karena tak harus bersusah payah dengan mengikuti ide gila Lauro, bahkan Nathalia sudah berfikir cukup keras kenapa Lauro memilih untuk kerumah sakit dan dia tidak di izinkan menganti gaun sialan ini?
Nathalia berjalan di samping Lauro karena saat ini pria itu menggenggam tanganya untuk masuk kedalam rumah sakit. Lalu di ikut beberapa orang, oh tidak! Ternyata banyak sekali pria berjas yang bejalan di belakang mereka dengan troli penuh dengan makanan. Nathlia tak bisa memastikan karena sepertinya terlalu banyak.
Karena sudah sejauh ini mereka berjalan meninggalkan pintu utama masih ada saja beberaapa pria berjas hitam yang masuk dengan membawa troli juga oenuh dengan makanan.
Nathalia sempat malu dengan tatapan banyaknya orang yang mereka lewati. Ia merasa sekarang ia sedang melakukan fahsion show dengan tema dress wedding di rumah sakit.
Tolong L ini tidak lucu!
Apa tidak ada yang lebih masuk akal untuk menjelaskan situasi ini semua?
"L kau sedang apa? Rumah sakit bukan tempat bermain!" Bisik Nathalia dengan terus mengikuti langkah kaki Lauro. Ia sudah cukup lelah berfikir sesukanya dan tak menemukan jawaban untuk itu.
"Aku tidak bermain" ucap Lauro santai lalu mempercepat langkahnya.
"Lalu apa ini?" Bantah cepat Nathalia
"Aku hanya ingin berbagi kebahagian, karena berdiam diri di rumah sakit itu melelahkan. Dan memberi mereka makanan mungkin bisa mengurangi kesedihan mereka" ucap Lauro tanpa melihat Nathalia.
Ucapan Lauro barusan membuat Nathalia merasa bersalah. Bagaimana ia selalu memikirkan hal buruk tentang Lauro, ternyata pria itu memiliki hati setulus ini?
Nathalia sempat menoleh kebelakang melihat beberapa pria dengan jaz hitam membagikan sejumlah makanan pada orang orang yang ada di sana, pengunjung, staf rumah sakit bahkan semua yang ada di sana kebagian kotak makanan yang sudah Lauro siapkan. Dan puluhan pria lagi datang masi mendorong troli mengikuti mereka.
Waktu terasa berjalan cepat bahkan Nathalia tadi tak merasakan sakit di kakinya karena tawa bahagia yang baru bisa ia lihat hari ini hanya karena sekotak makanan.
"Berhenti dulu!" Pinta Lauro
"Kenapa?" Tanya Nathalia bingung.
Lauro menarik tangan Nathalia menuntun gadis itu untuk duduk di atas kursi tunggu di samping kamar pasien. Lauro berjongkok di depan Nathalia melepaskan hell bening yang sedari tadi Nathalia pakai.
Lalu seorang wanita berjalan dengan mendorong meja kecil stainles mendekat. Lauro mulai membersihkan kaki Nathalia yang ternyata sudah lecet dengan peralatan di atas meja yang ia tak tahu apa itu.
"Auuugh..." Nathalia sempat meringis saat Lauro mengoleskan semacam salep. Karena terasa sangat pedih.
"Bagaimana kau bisa baik baik saja tadi, dengan luka seperti ini?" Tanya Lauro sangat dingin, bahkan Nathalia merasa yang bertanya tadi itu bukanlah pria yang tadi pagi mengucapkan janji suci.
Jika boleh jujur, Nathalia sekarang takut merasa sesuatu yang aneh dengan sikap Lauro. Perubahan sikapnya terlalu mendadak. Apakah pria itu marah? Tapi karna apa?
Nathalia bungkam terus menatap wajah yang kini tengah fokus menutup lukanya dengan kasa. Tampan! Nathalia akui jika pria di hadapanya terlalu sempurna untuk gadis bumi.
"Perhatikan dirimu... jangan pernah terluka lagi" ucap Lauro sebelum ia memasangkan sepasang sendal jepit merah mudah di kaki putih Nathalia.
What!!!
Sandal jepit? Bahkan Nathalia belum pernah memakai benda itu di rumahnya. bagaimana mungkin ia memakai sendal jepit dengan gaun pernikahanya saat ini?
Tapi segala penolakan itu urung Nathalia lakukan karena wajah Lauro tak bersahabat. Ternyata Lauro normal! Pria itu bisa marah hanya karena dirinya terluka. Luar biasa!
Karena demi tuhan, Nathalia masih bisa jalan! ini hanya luka kecil.
"Apa aku harus mengedongmu?!" Tanya Lauro dengan masi sikap dinginya. Walaupun aneh Nathalia tetap menurut. Malas berdebat Nathalia berusaha naik di atas kursi roda yang sedari tadi di pegangi Lauro. Benar saja saat ia berdiri ia merasakan sedikit nyeri di kakinya. Itu membuat Nathalia bersyukur mempunyai suami seorang dokter.
Suami?! Anggap saja begitu...
"Gadis pintar" ucap Lauro dengan senyumnya lalu mengacak puncak kepala Nathalia dengan gemas.
....
Hari menjelang sore, jujur Nathalia tak merasa lelah karena gedung sebesar ini ia datangi hanya untuk membagikan makanan, setiap ekspresi pasien yang berusaha tersenyum di setiap rasa sakit membuat dadanya menghangat. Mungkin saat ini Nathalia harus bersyukur karena masih di berikan satu kali kesempatan untuk hidup.
Lihat saja setiap pasien yang ia temui tadi, mereka harus berjuang melawan penyakit yang mengrogoti seluruh tubuhnya.
Di tambah lagi saat ini ia hanya harus duduk manis di atas kursi roda yang sedari tadi di dorong oleh Lauro.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua yang entah mau kemana, karena Lauro terus mendorong kursi roda itu di lantai ruang inap VVIP ini.
Lauro berhenti di depan kamar. Tangan Lauro tercekal saat hendak membuka pintu ruang pasien.
"L kita tak membawa apa pun" ucap Nathalia menyadarkan Lauro.
Lauro tersenyum lalu beralih mendorong kursi roda Nathalia untuk memasuki kamar pasien.
Suara Elektrokardiograf adalah satu-satunya bunyi yang bergema di dalam ruangan yang di dominasi warna putih ini. Selain deru angin pendigin udara dan tarikan nafas yang terdengar halus.
Ruangan itu terlihat temaram karena hanya di terangi lampu di atas kepala pasien. Sebelum lauro mengambil remot di atas nakas lalu menghidupkan seluruh lampu.
Di atas ranjang hanya ada seorang wanita paruh baya, terlihat cantik walaupun pucat. Nathalia tak melihat siapa pun disana hanya ada Lauro, dia dan pasien itu. Bagaimana tidak ada satu keluarga pun yang menjaga wanita ini.
Kemana keluarganya.
"Siapa dia?" Tanya Nathalia lirih, dan entah kenapa Nathalia berusaha bangkit dari kursi rodanya hanya untuk melihat wajah wanita yang tenang dalam tidurnya dengan semua alat penunjang kehidupan.
Nathalia tak tahu mengapa hatinya saat ini. Entah kenapa air mata Nathalia lolos begitu saja. Nathalia meraba pipinya terasa basah. Bahkan dia sendiri bingung akan yang terjadi saat ini.
"Seseorang" ucap Lauro penuh arti. Lalu Lauro mengusap rambut putih itu, mengecup kening itu sekilas lalu seolah berhenti di telinga wanita itu seperti membisikan sesuatu.
"Dia kenapa?"
"Koma"
Nathalia cukup terkejut dan entah kenapa hatinya merasa sedih. " berapa lama?"
"Dua belas tahun"
TBC
eak2 🤣🤣🤣 apa ini L?? kok g bisa ngomong baek2 "seseorang" pala lu petak. semua orang tau kali klo itu manusia.. bukan sekucing sekambing sebunga ya jelaslah seseorang.. cuman sapa bambang?🤣
tenang readrs udh ay wakilin marahin si L 🤣🤣🤣🤣
jangan ada yang nanya ini kapan sih icik2 ehemnya 😂 percayalah ay ini wanita lemah dan rapuh g pande ay nulis 21+++++ itu 😂 g hot jadi jgn di tunggu ya... ay g pande nulis hot gitu.. ay masi polos kaka 😂