Take My Life

Take My Life
chapter 64



Tidak ada takdir buruk, yang ada hanya sebuah perjalanan untuk menjadi lebih kuat, setiap badai tuhan berikan anugrah pelangi terindah. Dan setiap duka tuhan berikan senyuman terindah.


Kita tak punya hak untuk memilih hidup seperti apa, tapi kita punya kendali untuk mengatur kehidupan kearah yang bagaimana.


Selalu syukuri semuanya maka hal baik akan mengikuti perjalananmu tanpa di minta, Nasehat itulah yang selalu Lauro berikan pada Nathalia.


Pagi ini hari pertama dalam minggu ini, apa lagi jika bukan hari senin. Hari paling horor bagi Nathalia. Karena biasanya suami dengan senyuman paling manis di muka bumi akan sibuk sekali. Tapi sepertinya tidak untuk pagi ini. Karena pria tampan itu masih setia menutup mata.


"L, kau tak kerumah sakit?" Ucap Nathalia lembut dengan terus mengucir rambutnya di depan kaca besar.


Lauro masih setia di alam mimpi, Nathalia tak bisa mentolerinya lagi langsung saja Nathalia buka gorden besar ini hingga cahaya matahari menyerbu memasuki ruangan.


Tapi yang di lakukan Lauro adalah menutup wajahnya dengan bantal, Nathalia terlihat gemas dan akhirnya menarik selimut itu hingga pinggang suaminya.



"L... kau tak kerumah sakit? Ini sudah jam sepul-- Aa" perkataan Nathalia terpatahkan dan terganti menjadi sebuah teriakn ketika tangan Lauro menarik tubuhnya.


"L kau demam?" Tanya Nathalia sedikit khawatir saat kulit mereka bertemu, dan suhu panas tubuh Lauro menyerbu kulit Nathalia.


"Owh... maaf" Lauro melepaskan tubuh Nathalia, saat sadar bahwa kondisinya sedang tidak sehat, menarik selimut lalu berbaring memblakangi Nathalia.


"L... kau demam?" Tanya Nathalia sekali lagi dan sekarang ia terlihat bingung, wanita cantik itu duduk dan memeriksa dahi Lauro yang terasa panas.


"Oh my god,  panas sekali" Nathalia kebingungan. demi tuhan, ia belum pernah sekali pun menjaga orang sakit.


"L... kita kerumah sakit. Ayo..." Lauro ingin menarik tubuh Lauro berniat menggendong. Tapi apakah dia lupa bagimana perbandingan tubuhnya dan pria ini.


Lauro yang merasakan amat pusing, terduduk sebentar dan menatap wajah Nathalia yang terlihat begitu mengemaskan. Tapi syukurlah kondisinya yang down membuatnya tak memikirkan hal yang ia inginkan


"Aku hanya butuh istirahat sayang, aku sudah meminum obatku tadi pagi dan aku sudah mengambil cutiku hari ini" jelas Lauro yang berusaha membuka matanya untuk menatap wajah cantik istrinya.


"Aku harus apa L?" Nathalia terlihat begitu khawatir.


"Lakukan sesukamu, aku hanya perlu tidur sebentar saja"


"Bagaimana dengan sarapan?"


"Kau lapar?"


"Bukan..." bantah Nathalia secepatnya dengan menggeleng "Kau butuh sarapan" jelasnya kemudian


Lauro meneguk salivanya dan merasakan perih di tenggorokanyan "aku tak selera makan, kau bisa memesan untukmu sendiri sayang, jangan sedih" tangan Lauro terangkat hingga berhenti di pipi Nathalia "aku baik baik saja"


Lauro berbalik untuk mengambil gelas minum di atas nakas tapi sayangnya gelas itu kosong


"Mau kemana?" Tangan Nathalia menghentikan pergerakan Lauro.


"Minum"


"Kaukan bisa menyuruhku?" Ketus Nathalia, see... wanita ini akan marah dan sedih dalam waktu yang sangat singkat.


"Tolong" ucap Lauro memaksakan senyuman di wajahnya yang pucat.


Setelah beberapa menit berlalu Nathalia kembali degan sebuah baki yang berisikan teko dan segelas air.


"Minumlah" perintah Nathalia dengan memberikan segelas air pada Lauro


"Terima kasih sayang"


"Kau tidur?" Tanya Nathalia yang melihat Lauro sudah bergelung di dalam selimut. Dan Lauro hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Hmm... aku pesankan makanan?" Tanya Nathalia dengan melihat ponsel di tangan


"Terserah kau saja" balas Lauro dengan mata yang telah tertutup.


🏍🏍🏍🏍


Lauro terjaga saat suara dari lantai bawah mengudara dan itu terdengar jelas saat pintu kamar ini tak tertutupi  dengan benar.


"Sayang..." panggil Lauro lirih dengan mencoba menudukan tubuhnya yang sedikit lemah dan rasa pusing yang menyerbu.


Terdengar suara rintihan dari bawah membuat Lauro segera bangkit dari tidurnya dan berlari mencari arah sumber suara. Bisa jadi itu adalah Nathalia yang sedang kesakitan.


"Sayang" Lauro berlari menuruni anak tangga memaksa kesadaran tetap bepihak padanya meskipun rasa nyeri di sekujur tubuh masih menyerbu.


Melihat Nathalia yang sedang mengisap jarinya di depan kithen island membuat Lauro menghelan nafas lega. Tapi saat matanya melihat kompor gas tanam di depan gadis itu menyala dan di temani oleh kobaran kain yang terbakar membuat Lauro kembali berlari dan menarik tubuh Nathalia untuk keluar dari ruang dapur


Tepat sesaat kemudian sebuah Alrem menyala dan jutaan air turun menguyur kitchen island.


Sementara Lauro dan Nathalia terjatuh ke lantai dengan tangan besar Lauro melindungi kepala Nathalia agar tak terbentur lantai.


Ini sudah seperti laga film Action. Hanya saja ini sungguh tidak menarik karena mereka keluar dari dapur dan bukanya medan perang.


Lauro menghela nafas lega, Nathalia terlihat shock dan sedikit gemetar.


"Itu bukan hujan" ucap Lauro dengan secepatnya menarik tubuh Nathalia untuk berdiri karena sebentar lagi air yang mengalir akan memgenai tubuh mereka.


Lauro menuntun Nathalia dengan sabar, mungkin sebagian pria akan marah saat ini, karena biasanya cara ampuh menyampaikan kekhawatiran adalah lewat Emosi yang membara, tidak untuk Lauro. Pria tampan ini bisa mengontrol Emosinya untuk tak melukai wanita. Ia cukup mengerti bahwa wanita adalah makhluk paling lembut hatinya.


"Sudah aman --" ucapan Lauro berhenti saat serbuan pelukan dari Nathalia menyergap tubuhnya.


"Maafkan aku.. jangan marah"


Lauro terkekeh geli dengan sembari menepuk pundak Nathalia. "Bagaimana aku bisa memarahimu jika kau semanis ini? Dan untuk apa aku marah??"


"Aku mengacaukan Penthouse mu"


"Tak masalah sayang, kita bisa membereskanya nanti. Terpenting sekarang kau baik baik saja.


"Kau sedang apa tadi?" Tanya Lauro menatap Nathalia yang telah terlepas dari pelukanya


"Aku ingin membuatkan mu bubur, dan  aku kebingungan sehingga tak sengaja jariku menyenggol panci panas dan aku tak tahu jika akan seperti ini" Nathalia kembali menangis.


"Bukankah kau ingin memesan makanan tadi?"


"Aku ingin menjadi istri seperti novel yang selalu ku baca" jawaban Nathalia membuat Lauro mengerutkan dahinya, karena tak paham. Memangnya apa yang di ajarkan novel itu.


"Aku ingin menjadi istri tanpa cela L, aku ingin bisa masak, seperti wanita wanita pada umumnya"


"Sayang, dengar! Selama pria punya uang, wanita tak punya kekurangan" ucap Lauro tersenyum manis.


Wajar saja jika Lauro berkata seperti itu. Karena sekali Nathalia memasak ia harus merogoh kantong untuk menganti seluruh perabotan kithen island. Mungkin lebih baik jika Nathalia memesan makanan saja.


Itu adalah alasan paling masuk akal.


"Bagaimana jika kau jatuh miskin"


"Mungkin jika kau terlalu sering memasak membuatku akan cepat miskin" Lauro terkekeh geli mencoba mengoda Nathalia yang di hadiahi tatapan tajam dan wajah mendengus.


"Aku bercanda sayang, next aku bisa mengajarkamu atau kau bisa ikut khursus memasak"


"Kau bisa?" Tanya Nathalia


"Tak ada yang sulit untuk itu?" Balas Lauro enteng


"Mama tak bisa masak" ucap Lauro tergelak saat menginggat ia mencicipi masakan mertuanya tempo hari. "Tapi dia tetap menjadi istri dan ibu terhebat buat keluarganyakan?"


"Wanita itu harus perempuan bukan harus bisa memasak, karena manusia punya keahlian di bidangnya masing masing, jadi berhenti untuk menjadi tokoh fiksi yang terlihat apik tanpa cela"


"Dan aku tak memiliki keahlian apa apa" Nathalia menunduk meratapi kebodohanya


"Ada..."


"Apa..."


"Kau begitu mahir ketika di ranjang" ucap Lauro dengan suara parah dan itu membuat alrem tanda bahaya di dalam diri Nathalia aktif.


Suaminya mulai...


TBC