Take My Life

Take My Life
chapter 54



Ay kambek centakuh 😘


Sebelum baca wajib tekan like dulu ya 😂 bolehkan 😘


Happy reading


Nathalia menegadang melihat langit. Semilir angin Laut menarik pelan rambutnya. Menatap dalam awan hitam yang mulai merapat.


Nathalia kira kepergian Axelin adalah luka terbesarnya, tapi apa yang ia ketahui beberapa waktu yang lalu seperti membuat luka yang lebih besar dan menganga lebar dari yang sebelumnya.


Melihat deru air yang menampar tembok batu penyanggah jembatan.


Huh... jika saja dulu, saat semua ini terbongkar dan Lauro belum bersamanya. Mungkin Nathalia akan suka rela menghempas tubuhnya ke bawah sana.


Tapi hadirnya Lauro entah kenapa membuat Nathalia bisa berfikir lebih jernih. Kendatipun begitu sebuah kata bahwa Lauro mengatur perjodohan ini membuat Nathalia sedikit marah.


Karena secara tak langsung pria itu sudah memasang perangkap untuk mengatur hidupnya.


🏍🏍🏍🏍


Lauro merasa jantungnya berhenti berdetak. ketika mendapat kabar bahwa sekarang Nathalia pergi dengan perasaan kecewa.


Lelah karena melakukan operasi enam jam tak terlalu ia rasakan. Fokusnya saat ini di rebut paksa oleh sosok Nathalia. Ia tak ingin Nathalia menghadapi semua luka ini sendiri, lagi!


Karena pada kenyataannya, bahkan sejak awal dirinya adalah 'biang kerok' terjadinya masalah pada Nathalia.


Lauro takut wanita itu akan nekat seperti dulu. Oh god... Lauro tak berniat untuk kehilangan Nathalia sekarang, terlebih saat perasaan baru benar benar muncul. bahkan sampai saat ini Lauro masih menyembunyikan sesuatu hal besar dari Natahlia.


Lauro baru saja dari makam Axelin, sepertinya benar gadis itu baru dari sana. Karena seikat bunga lily masih segar di tinggalkan pemiliknya.


"Dimana kau sayang" lirih Lauro mencari keberadaan istrinya.


Lauro membelah kota dengan kecepatan tinggi. Begitu lihai menyalip beberapa mobil disana.


Ia tak peduli pada umpatan yang terlontar pengendara mobil yang merasa terganggu pada aksi balapnya. Bahkan pria tak pernah peduli lagi pada nyawanya.


Jika saja cara menyembuhkan luka Nathalia adalah kematianya. Lauro bersedia melakukan itu


Sungguh!


Tha kumohon jangan. Lauro merapalkan kata ini bagai mantra berharap Nathalia mendengar.


Terlalu pecundang dan pengecut, ya Lauro memang sepengecut itu untuk membeberkan semua rahasianya. Karena takut kehilangan adalah satu alasan yang pasti.


Lauro masuk ke jalan jembatan laut. Ini hampir menuju jalan kota lain. Lauro tak peduli bagaimanapun caranya ia harus menemukan Nathalia meski keneraka sekalipun.


Lalu apa yang di tangkap kornea matanya meluturkan sedikit kecemasannya.


Lauro melihat mobil Nathalia yang di tinggalkan pemiliknya begitu saja, dengan pintu yang terbuka di pinggir jalan jembatan laut ini.



Lauro melepaskan helmnya lalu melemparnya begitu saja, berniat untuk menemukan Nathalia secepatnya, langkahnya terhenti dan senyum di bibirnya tercipta saat menemukan seseorang yang ia cari berdiri tegak dengan kedua tangan menumpu pada pagar jalan. sesekali angin nakal memainkan rambut panjang Nathalia.



Lauro sangat tahu wanita ini sedang tidak baik baik saja, dan semuanya karena dirinya, seandainya saja ia tak melakukan kesalahan terbesar ini, mungkin saja Nathalia tak harus bertemu pada dua hati. ya seharusnya hanya satu karena tuhan punya banyak cara menghentikan hati yang lain tanpa alasan yang pasti.


"kau ingin bunuh diri?" suara santai Lauro membuyarkan fikiran Nathalia. gadis itu berbalik besiap menangkap kedatangan Lauro.


"bukan urusamu!" ketus Nathalia



lauro berdiri dengan menyenderkan kepalanya pada tiang penyanggah jembatan, menatap Nathalia, wanita itu menatap Hamparan luas dengan tatapan yang sulit di artikan.


"tentu saja itu urusanku, karena kau adalah istriku, memangnya suami mana yang akan senang hati mempersilahkan istrinya mati?" Lauro masih terkekeh geli, bukannya tak punya hati, Lauro mencoba becanda untuk mengurangi ketegangan situasi ini.


Walaupun ini bukan waktu yang pas.


"jangan mengangguku!"


"aku tidak akan menganggumu sayang, aku hanya mengikutimu, jika kau ingin bunuh diri mungkin aku harus mencobanya juga sepertinya menarik" ucap Lauro menatap demburan ombak di bawah jembatan yang dengan suka rela menghempaskan diri di batu tiang jembatan.


what the hell... Nathalia benar benar tak mengerti dengan jalan pikiran Lauro, kenapa dia bisa menjadi dokter bedah dengan otak seperti itu.


Lauro memukul Pelan pagar besi pembatas jalan sehingga menciptakan bunyi, lalu kakinya naik ke bagian dasar penyanggah besi "begitu kita meloncat, otak kita akan merespon bahwa kita dalam bahaya, dan serangan panik akan muncul secara tiba tiba"


"lalu kita akan reflek mencari posisi Vertikal dengan mendongakkan kepala, tangan juga akan mengapai permukaan air, mencari celah untuk bernafas, lupakan tentang berteriak seperti yang selalu kau tonton di serial tv. itu takan terjadi karena kemungkinan berteriak atau bersuara sangat kecil"


membayangkan apa yang Lauro jelaskan membuat Nathalia mencengkram erat pagar pembatas jalan.


"air akan masuk kedalam mulut dan menyebabkan epiglotis, susah bernafas dan membuat kita hilang kesa--"


"Stop! apa kau sedang memberitahukan tutorial mati dalam Air L?"


"hmmm..." Lauro menjeda ucapannya "semacam itulah, kau takut?"


Nathalia membuang wajahnya, ia sangat tak ingin berdebat dengan makhluk tuhan bernama Lauro Rexi morales. apa lagi dengan suasana hatinya saat ini.


"maaf, aku melakukan ini karena aku ingin menjagamu" ucap Lauro pelan.


"Aku yang mendatangi papa untuk melakukan perjodohan kita" jelas Lauro kemudian sehingga membuat Nathalia berang.


"apa untungnya kau menjagaku? Apa untungnya kau masuk dalam hidupku!" Bentak Nathalia


"Awalnya hanya karena bersalah, dan jujur selama ini aku memang berpura pura mencintaimu, sampai aku lupa bahwa aku sedang berpura pura" Lauro menatap Nathalia.


Nathalia sadar ini bukan pertama kali bibir sensual Lauro mengeluarkan Rayuan recehnya tapi entah kenapa tatapan Lauro saat ini terasa asing, tatapan itu terlihat sangat Tulus dari biasanya.


"aku ingin kita mulai semua dari awal, karena aku tahu jelas apa yang kau rasakan"


Tiba tiba ucapan di akhir Kalimat Lauro membuat Nathalia berang. ia benar benar tak menyangka semua yang ia jalani saat ini hanya penuh dengan kebohongan


"kau Tahu apa dengan hidupku?! kau bahkan tak pernah tahu dengan apa yang aku jalani" Teriak Nathalia frustasi. Bahkan dia cukup jenuh dengan sikap Lauro yang selalu melihat semua masalah dari sudut yang sederhana.


karena apa yang Nathalia rasakan tak sesederhana itu.


"Aku tau rasanya" ucap Lauro sesantai yang ia bisa lalu berjalan maju menyentuh pagar jalan.. semilir angin menerpa wajahnya.


"Ck!" Nathalia tersenyum meremeh "memangnya apa yang kau tahu tentang aku?!"


"Aku ada di sana, saat kau kehilangan dia" ucap Lauro menatap lekat lekat mata Nathalia.


Axelin?


Sejujurnya bukan Axelin luka Nathalia saat ini.


"Jujur, aku tak pernah berfikir akan masuk ke tahap ini, aku hanya ingin melindungimu. Karena setelah kehilangan dia ku lihat kau begitu hancur dari yang ku lihat sebelumnya"


"Aku hanya ingin kau tertawa, melupakan bahwa sebenarnya kau sedang terluka.


"Ku kira aku bisa bersikap biasa padamu seperti aku bersikap pada wanita lain.


"Tapi aku salah, aku terlalu meremehkanmu yang telah mencuri hatiku dalam diam" jelas Lauro yang menertawakan dirinya sendiri terjebak dalam permainan ingin melindungi karena rasa bersalah.


"Apa karena wajahku yang mirip dengan cinta pertamamu?" Pertanyaan sakartis memotong setiap untaian manis Lauro yang di anggap Nathalia begitu memuakan.


Kasian sekali nasibmu L, kau tertipu oleh wajahku yang telah hancur sebelumnya.


"Kau pasien dokter javiar, yang melakukan perbaikan hidung, kelopak mata dan pipi, apa ada yang ku lewatkan?" Lauro menghentikan ucapan dan tersenyum "aku sudah mengenalmu jauh sebelum kau memperbaiki wajahmu"


TBC


Maaf jika lama tapi ay up 5 chapter lagi ini.. maap ay balik lagi nyari data dari awal 🙈 bikin penyelesaianya berat banget keknya... semoga sbisa mudah di cerna wkwk


jangan lupa komen yang banyaaaaaaak