
Sebelum bertemu dengan Emily
Nathalia membuka matanya, rasa sesak dan mencekik dirinya, membuatnya semakim tergugu dalam tangis, sedangkan tak jauh darinya Dr. Lanscaster menatapnya dengan senyum haru.
"Kau bisa Mrs. Morales" ucap Dr. Lanscaster memberi semangat, akhirnya setelah berhari hari wanita itu bisa melewati pedihnya hypnotrapi.
Nathalia tak peduli pada ucapan dokter itu, ia hanya menangis sejadi jadinya. Berharap timbunan kepedihan di dadanya hancur dan keluar bersama jatuhnya air matanya.
"Maafkan aku" ucap Nathalia lirih Nyaris tak terdengar.
Genggaman tangan Nathalia di tasnya semakin erat bersama dengan langkahnya yang terasa berat. Ia melangkah untuk keluar kamar perawatan dokter Dr.Lancaster
Sudah beberapa hari ini Nathalia kembali melakukan terapi, tiba tiba langkahnya terhenti saat melewati ruang operasi.
Bisa saja hari ini Lauro ada jadwal bedah. Itu membuat Nathalia enggan dan benar benar tak siap untuk melihat Lauro sekarang, segera ia berbalik tapi sosok dengan wajah garang sudah menghalangi tubuhnya.
"Kau kenapa?" Tanya ketus Emily yang telah berdiri tepat di depanya.
"Ak... aku tak apa apa" Nathalia gugup ingin berbelok mengindari tatapan tajam Emily tapi tak berhasil.
Sesegera itu Emily menarik tangan Nathalia untuk mengikutinya. Seharusnya jika tidak dalam kondisi ini pasti Emily akan mendapat amukan dari Nathalia, tapi sekarang.
Nathalia hanya bisa terdiam dan mengikuti langkah cepat Emily yang menariknya pada lorong kecil dekat tangga yang jarang di pakai. Karena sebagian orang mungkin sekarang lebih sering memakai lift.
"Bicara kau sekarang! Kau sedang menghindari Laurokan?" Tanya Emily yang gemas karena sudah berhari hari tak sengaja memperhatikan gadis ini
"..." Nathalia tertunduk lesu dan memilih menyenderkan tubuhnya menghantam tembok dingin ini, terlalu banyak yang ingin Nathalia ucapkan tapi ia tak tahu harus memulai dari mana.
"Oke aku tahu, pasti karena L membuat ibumu celaka bukan?" Tanya Emily yang berusaha menahan emosinya, ayolah... siapa pun tahu semua itu hanyalah kecelakaan.
"..." tetap Nathalia kukuh untuk tak menjawab.
"I know everything, I know you're hurt but... I hope you're trying to be realistic" Emily tahu posisi Nathalia, mungkin terlalu kasar jika ia mengutarakan pendapatnya yang sebenarnyakan?
"..." lagi lagi Nathalia seperti mengabaikannya, wanita itu tetap diam dan menunduk menatap lantai dingin hingga membuat Emily makin gemas.
"Tha? Tak ada satu manusia pun yang ingin melakukan kesalahan! L juga tak ingin melakukan itu pada ibumu. Kau harus tahu bagaimana ia selama ini menjalani hidupnya setelah itu."
"..."
"Tak bisakah kau siapkan sedikit maaf untuknya Tha? Bukan cuma kau yang terluka. Kau harus tahu bagaimana L menjalani hidupnya yang mengerikan ini"
Sayup sayup tangisan Nathalia cair, tubuhnya bergetar menahan Emosi. ia tak tuli untuk mendengar semua bentakan Emily.
"Aku saksi perjalanan hidupnya, hanya saja evgania sudah mencuri hatinya lebih dulu. Aku memilih tinggal di spain kau kira untuk apa huh?!" Salak Emily berapi - api, mendapati Nathalia yang selalu mengabaikanya.
"Aku hanya ingin L tak menjalani hidupnya yang mengerikan ini sendiri! Dari dia menjaga wanita itu, seharusnya aku tahu bukan Evgania yang menjadi dalang kesendirian L" ucap Emily lelah, apakah sekali lagi ia harus melihat L tersiksa setelah di tinggal pergi Evgania.
Dan sekarang Nathalia? Dua wanita berwajah sama, tidak! ini benar benar tidak boleh terjadi.
"Haruskah aku bersujud padamu? Agar kau bisa memaafkan kakakku?" Emily mengatup bibirnya bersama dengan jatuh kristal bening di pipinya.
Emily tahu beratnya masa kecil Lauro, dengan memperhatikan Lauro membuatnya tahu bahwa sebuah takdir buruk juga tengah menghantam pria itu "jika kau memikirkan aku mengejarnya karena aku menyukainya, kau salah. Aku hanya ingin L menjalani hidupnya dengan benar.
"Bisakah kau tak membiarkan dia terluka lagi tha?" Emily memohon hampir bersujud di hadapan Nathalia, dan dengan cepat di tahan oleh Nathalia
"Aku... aku hanya ingin tak ada yang menyakitinya lagi termasuk egoku sendiri" ucap Nathalia lirih menatap mata Emily dengan tatapan penuh kepedihan.
"L menjalani hidupnya karena merasa bersalah" Nathalia terisak. Menghapus air matanya mencoba menjelaskan semua.
"Padahal semuanya karena aku"
Flash back on
Nathalia kembali memasuki Ruang bernuansa yellow ini, terlihat begitu damai dan tentram. Lalu duduk di atas sofa khusus dan merebahkan kepalanya di sandaran.
Dr. Lanscaster tersenyum dan duduk di kursi singel tak jauh dari Nathalia "seperti biasa Mrs. Morales... rilexs"
Dr. Lanscaster memulai terapinya
"Kali ini kau harus berani masuk lebih dalam Mrs. Morales, kau harus berani melawan semua rasa takutmu. Jadikan semuanya pelajaran. Masuk lebih dalam dan temukan hujan, gadis kecil dan ibumu"
Layaknya menganti chanel tv semua ingatan itu telihat berganti ganti, tumpang tindih dan ingin di pelihatkan lebih dahulu. Belum lagi bayangan tetang Axelin yang membuat tubuh Nathalia bergetar. Ia ingin berlari meninggalkan kenangan pahit dan terus menyalahkan dirinya atas kematian Axelin. Ia merasa tak bisa bernafas tapi sugesti dari Dr. Lanscaster menunutunya untuk masuk lebih dalam.
Ingatan Nathalia berhenti pada satu titik. Ketika ia duduk di atas kursi teras "Ayah dan ibu akan berpisah" ucap james\-\- ayah Nathalia, kali ini menatap Nathalia yang sibuk dengan kegiatanya.
"Owh..." ucap Nathalia kecil masih asyik meminum minuman dinginya. Ia tak terkejut apa lagi merasa takut karena ia belum mengerti tentang duka sakitnya menjadi dewasa.
Pria itu mengela nafas pelan"Ayah mungkin tak akan kembali lagi"
Ucapan ayahnya merengut perhatian Nathalia "Ayah kemana? Apa tempatnya sekarang jauh sekali?" Tanya Nathalia kecil mulai antusias karena menahan rindu setiap bulan saja ia tak kuat apa lagi ia harus menunggu lebih lama lagi.
Seperti saat ini, hari ini ia baru bertemu pria bertubuh sedikit gempal ini, lalu besok ia pasti akan di tinggal lagi, sudah hampir setahun ini yang ia tahu ayahnya bekerja di luar kota dan mendapat libur hanya satu hari dalam satu bulan.
"Hmm" pria itu berdehem cukup keras untuk mencari posisi nyaman untuk perkataan selanjutnya, ia cukup paham ini memang tak baik untuk anaknya. tapi ia harus mengatakan selamat tinggal pada putri kesayanganya " ibu dan ayah sudah tidak cocok lagi mungkin lebih baik berpisah"
Untuk gadis berumur sepuluh tahun, mungkin Nathalia tak begitu mengerti apa arti berpisah, tapi tak bisa bertemu lagi dengan ayahnya adalah hal yang paling ia takuti.
"Lalu bagaimana dengan ibu?" Gadis itu sedikit menahan rasa takut yang baru muncul dari tubuhnya, mungkinkah ibu akan meninggalkannya juga?
Bagimana ia akan hidup? Tanpa kedua orang tuanya?
"Kau bersama ibu, kurasa kau akan lebih layak bersamanya dari pada bersamaku"
"Bagaimana jika aku merindukanmu?" Gadis itu mulai menangis, ketakutan seorang anak adalah tak bisa melihat yang dulu tampak indah, pasti akan ada yang tersakiti atas sebuah kepergian.
Setiap rencana perpisahan pasti akan menyiksa anak anak yang seharusnya tak mengerti keputusan orang dewasa.
Pria paruh baya itu menghela nafas pelan, ia tahu ini takan baik untuk anaknya, namun baik untuknya maupun istrinya sudah mengambil keputusan untuk bercerai.
"Ba... Bagaimana jika a..aku ingin jalan jalan bersama kalian lagi, aku janji tak meminta apa pun aku hanya ingin kalian" gadis itu menangis dan memohon atas sebuah keinginan polos, gadis kecil yang kebagiaanya terpaksa terengut akan keegoisan orang tuanya.
Tbc
Maaf bagi yang pernah menjalankan hypnotrapi bisa komen bagaimana kondisi di lapangan karena ini hanya hasil riset ay..
Selalu ingat jangan mengharapkan karya sempurna dari ay 😂