Take My Life

Take My Life
chapter 39



Sejak malam manis bersama Lauro, satu-satunya hal yang Nathalia ingikan adalah selalu bersama Lauro lagi dan lagi


Waktu Nathalia sekarang hanya di habiskan untuk memikirkan bagaimana selalu memperhatikan pria itu, karena sebuah rasa membuatnya mulai takut kehilangan, bisa saja Lauro akan menghianatinya karena di luar sana banyak wanita yang akan merampas Lauro darinya.


Sekarang Nathalia memiliki apa yang akan di nanti dan di fikirkan. Jika biasanya ia merasa hidupnya terlalu kosong, bentuk perasaan yang mengerikan hingga masa lalu masuk menikamnya lebih dalam.


Kali ini tak lagi, karena fikirannya dipenuhi dengan satu orang pria yang kini berstatus sebagai suaminya, seperti bagaimana cara dia memulai topik agar terlihat seperti istri yang baik atau bagaimana ia harus menata rambutnya setiap menit agar tak terlihat membosankan. Yang lebih penting bagaimana ia harus selalu menempel pada Lauro setiap waktu.


Tapi...


Sekarang ia sedih. Karena hari pertama mereka setelah resmi menikah, Lauro harus kembali kerumah sakit untuk menjalani operasi Cito atau lebih di kenal sebagai operasi darurat.


Tak semua dokter bersedia melakukan operasi Cito karena di anggap terlalu berbahaya lalu sering terkendala karena kurangnya pengalaman. Jadi Lauro sekarang berperan sebagai super hero yang membuat Nathalia harus geleng geleng kepala.


Pekerjaan paruh waktu Nathalia lakukan sekarang adalah melihat jam yang bertengger di dinding ruangan Lauro ini berputar. Ya, tadi setelah drama tak ingin melepaskan Lauro berangkat, sekarang ia berada di lantai tertinggi rumah sakit ini. Dimana akhirnya Lauro membawa Nathalia kerumah sakit.


Mungkin cinta selalu membuat kita mengabaikan prinsip kita yang seharusnya, ya buktinyanya sekarang, Nathalia yang dulu selalu menghindari kata menunggu karena terlalu membosankan dan melelahkan tapi akhirnya itu ia lakukan suka rela demi Lauro tersayang.


"Aughhhh aku bosan!" ucap Nathalia sekaligus merentangkan tanganya karena terasa lelah hampir dua jam ia bersandar di sofa cream itu.


Ia berjalan melihat pemandangan indah di balik dinding kaca di antara renggangan bamboo blinds ini.


Lalu langkahnya kembali bergerak melihat setiap sudut ruangan yang terlihat rapi dan nyaman hingga ia sampai di meja kerja Lauro.



Nathalia duduk dan memutar kursi layaknya anak kecil yang baru bertemu mainan baru.


Melihat benda yang berjejer rapi di atas meja, hingga Nathalia menyentuh meja untuk memperhatikan apakah ada debu atau tidak, sepertinya Lauro terlalu menjaga kebersihanya.


Pandanganya beralih pada rak buku di bawah meja, melihat beberapa buku di sana lalu perhatian fokus pada buku tebal yang mungkin lebih tebal dari kitab suci.


"Apakah L membaca buku seperti ini?" ucap Nathalia meletakan buku itu di atas meja lalu mulai meneliti satu persatu tulisan yang terjalin.


Belum habis membaca satu paragraf buku itu ia sudah menguap karena bosan terlebih ia tak mengerti karena buku itu memakai bahasa inggris.


"Apa di sini tak ada novel romantis atau komik? Ck! Kasian sekali hidupmu L terlalu membosankan" Nathalia menutup buku itu lalu mengeser secara Asal kesamping.


"Augh... aku bosaaaaaaaaaaaan!" Nathalia merebahkan tubuhnya kesandaran sofa, nyaman seperti di peluk Lauro. Sesekali kaki jenjang itu mendorong kiri dan kanan agar kursi putar itu bergerak.


Lalu tiba tiba


"Oh iya... silahkan masuk" ucap Nathalia seperti mempersilahkan sepasang manusia masuk, tentu saja hanya ada di hayalanya karena hanya ada dia sediri disana.


Lol... terlalu lama di tinggal Lauro membuat tingkat strez Nathalia naik satu tingkat sepertinya.


"Ada keluhan apa tuan?" Ucap Nathalia sambil terkekeh karena ia sendiri geli saat berperan seperti Lauro.


"Apa?!!! cara cepat untuk mati?!!!" Nathalia pura pura terkejut lalu bersedekap dengan membebaskan tangan kanannya menyentuh kepala seperti sedang memikirkan solusi terbaik.


"Aduh sepertinya sangat sulit" Nathalia menatap kedua kursi kosong itu dengan raut iba seperti benar benar ada pasien disana.


"Aku juga sudah mencoba untuk mati tapi tak berhasil, sepertinya hanya tuhan yang mampu untuk itu tuan" Nathalia melunjurkan tanganya seolah memberi arahan penenang untuk kedua pasien gaibnya.


"Seberat apa pun takdir buruk, teruslah berjalan kedepan karena hidupmu bukanlah kesalahan" Nathalia berkata bijak mecopy kalimat Lauro dengan raut wajah berduka.


"Di luar sana banyak lebih menderita dari kita"


"Kuatlah karena membunuh diri sendiri hanya menghalangi kebahagiaan yang seharusnya datang, contohnya jika aku mati pada saat itu aku takan pernah bertemu L, kau harus tau L adalah pria baik" Nathalia masih konsisten dengan raut wajahnya, raut wajah bersedih dengan duka mendalam. Lalu tiba tiba saja ia tertawa terbahak bahak memikirkan tentang  halusinasinya barusan.


"Apa L pernah mendapatkan pasien seperti itu, konsultasi ingin mati hahaha" Nathalia merasa seperti hidup kembali karena satu persatu persaan duka menumpuk itu hilang enyah entah kemana.


Nathalia kembali menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi dengan melihat lihat langit langit ruaangan. Hingga mata indah itu mulai tertutup dan mulai masuk kealam mimpi.


💥💥💥💥💥


Lauro berdiri di antara perawat sedangkan matanya fokus pada pasien yang sudah terpasang alat alat penunjang kehidupan.


"Bagaimana tekanan darahnya dok" jika ingin melihat Ekspresi serius seorang Lauro, kau akan menemukannya hanya di ruangan tenang namun mengerikan ini.


"80/60 dok" jelas dokter anastesi yang memantau tanda tanda vital pasien.


Lauro menghela nafas karena tekanan darah pasien sangat rendah "sudah suntikan Ephinerphine?"


(Ephinerphine:obat untuk meningkatkan teknanan darah)


"Sudah" jelas perawat Anastesi.


Sebelum melakukan pembedahan Lauro mengajak semua yang ada di sana berdoa, semoga tuhan melancarkan usaha mulia mereka untuk menyelamatkan pasien.


"Messer" pinta Lauro pada perawat di sisi kanan.


Lauro membuat sayatan sepanjang bagian tengah rongga dada dan membelah tulang dada, hingga jantung terlihat.


Elanor- Perawat operasi yang menjadi asiten Lauro membantu menempelkan beberapa kasa untuk menghentikan pendarahan pada rongga dada. Lalu dokter anastesi memberi arahan pada perawat untuk memberi obat untuk menghentikan kerja jantung.


Setelah jantung berhenti, pembuluh darah besar Lauro sambungkan ke mesin jantung paru (heart lung machine) untuk menggantikan kerja jantung menjaga pasokan darah ke seluruh tubuh.


Selanjutnya, Lauro mulai mencangkok (graft) pembuluh darah dari bagian tubuh lainnya, lauro memilih arteri di sekitar rongga dada, yang ditempelkan dari pembuluh darah arteri besar (aorta) ke pembuluh darah arteri koroner, sudah melewati daerah pembuluh darah yang menyempit, sehingga terbentuk jalur pintas baru yang tidak melewati arteri koroner yang tersumbat.


Walaupun hanya matanya yg terlihat karena kepala dan bagian hidungnya mengunakan masker dan penutup kepala khusus, pria ini masi terlihat sangat tampan. Mata indah yang tertutupi kaca mata khusus dokter bedah toraks menatap fokus pada pasien.


Ternyata tuhan selalu bersikap adil pada hambanya. Bagaimana pria sesempurna inj bisa melabuhkan hatinya pada wanita konyol seperti Nathalia?


Setelah pencangkokan pembuluh darah yang baru selesai, Lauro membuat jantung kembali berdenyut dengan alat  Automatic External Defibrillator.


Lauro dan rekan tim medis berjuang melawan rasa lelah dan fokus pada keselamat pasien, bahkan pegal di antara kaki tak di rasakan Lauro meski keringat dingin telah menghiasi kepalanya. Yang kemudian seorang perawat menghapus keringan itu.


Kemudian Lauro mulai menyatukan kembali tulang dada dengan kawat khusus yang akan permanen menempel di tulang dada, serta menutup sayatan di kulit dengan jahitan.


Setelah menyelesaikan bagian akhir dari pembedahan dan kondisi pasien bagus lengkungan di bibir Lauro tercipta meski di tutupi masker.


"Terimakasi atas kerja samanya, kalian luar biasa" ucap Lauro sebelum membuka sarung tangan dan pelapis baju bedahnya.


"Augh... augh kaki ku" ucap Lauro begitu saja keluar dari kamar operasi dan duduk di kursi yang tersedia disana, ini adalah Lauro yang asli.


Enam jam waktu yang ia habiskan berdiri dan fokus terengut untuk menyelesaikan nyawa seseorang untuk tak segera bertemu tuhan. dia harus istirahat sebentar sebelum menemui keluarga pasien di luar kamar khusus ini.


Karena hal yang terlalu sulit Lauro lakukan adalah beribawa layaknya seorang dokter handal. Well... mungkin akan terlalu serakah jika Lauro memiliki seluruh sifat keren, jadi tuhan selalu menyelipkan satu kejelekan agar manusia lain bisa mencaci makinya sepuas hati.


Mungkin kata jadilah diri sendiri tak berlaku untuk profesinya, memangnya kluarga mana yang akan menyerahkan hidupnya dengan dokter yang lebih layak di nilai sebagai preman ini. Tapi jangan menilai buku dari covernya, karena dokter yang terkenal urakan ini sudah masuk katagori dokter terbaik di spain.


Spain menduduki tingkat ke tujuh sebagai layanan kesehatan terbaik di dunia dan berada di peringkat kesatu di dunia dalam transpalantasi organ. Dan itu telah di akui oleh wikipedia dunia.


Jadi bukankah ini sudah membuktikan bahwa dokter tampan ini juga termasuk dokter terbaik di dunia.


TBC


Siapa yang gabut kaya Nathalia wkwkwkw hayoo ngaku



https://en.m.wikipedia.org/wiki/Health\_care\_in\_Spain


Maaf jika ada perawat OK disini.. maapkan ay yang Amatir sok2an pen nulis medis 🤣 jika salah maapkan karena semua medice disini di tulis dari berbagai artikel kedokteran.


Maap jika typo ay ngantuk 🤣🤣🤣🤣