Take My Life

Take My Life
chapter 13



Setelah berjuang menyelamatkan nyawa Mr.romanove membuat Lauro mampu melebarkan senyumanya. Operasi yang memakan waktu berjam jam itu berjalan lancar.


Pria berambut hitam legam itu berjalan menuju ruanganya. Rumah sakit tampak sepi memang saat ini sudah memasuki dini hari. Hanya ada beberapa petugas rumah sakit dan beberapa perawat yang mengecek kondisi pasien.


Pria dengan senyuman menawan itu membalas sapaan beberapa orang yang di lewatinya dengan mengangguk samar, lalu mengambil jalan lurus menuju lift. Sebenarnya ia lebih suka mengunakan tangga hanya saja Berdiri beberapa jam dan konsentrasi teregut habis membuat tubuh Lauro sangat lelah.


Satu tangan tengelam di saku dan satu tangannya lagi tengah sibuk mengeser layar ponsel. Lauro baru saja mengaktifkan ponselnya dan beberapa notif pesan dan miscall memenuhi layar ponsel.


Siapa lagi jika bukan Sella,ibu Lauro. Yang paling banyak menelfonnya, karena perjodohan kali ini berjalan lancar di gagalkan oleh Lauro.


Saat tangan kanannya membuka pintu ruangan. Ponselnya kembali bergetar. Lauro melirik jam di pergelangan tanganya. Jam 02.45 dini hari.


Ia yakin Sella benar benar marah. Karena jam segini wanita yang membesarkanya itu tak juga tidur. Lauro mengeser layar ponsel.


"Pulang!"


Dugaan Lauro salah. Itu memang nomor ibunya tapi yang menelfonnya saat ini adalah ayahnya. Hanya johan yang bisa berbicara sesantai dan sedatar itu namun terdengar mengerikan oleh lawan bicaranya.


Lauro hanya mendesah pasrah. Ia tak tau jika ayahnya kini bergabung dengan komplotan ibunya, untuk cepat-cepat menikahkannya. Ini pasti karena Xavier dan Elroy penyebabnya.


Hell.. demi apa pun Lauro enggan pulang. Ia tak ingin berdebat lagi dengan ayahnya. Dia masih muda dan tiga bulan lagi ia baru akan memasuki umur 30 tahun. Muda bukan?


"Oke" jawab Lauro pasrah jika saja bukan karena kesehatan ayahnya. ia pasti sudah mengikuti jejak Elroy untuk bermusuhan dengan ayahnya sendiri.


💓💓💓


Baru saja Lauro menginjakan kaki ke teras rumah sakit. bola mata bulat itu menangkap seorang wanita cantik dengan tubuh sexy berlari sambil menangis memasuki pintu rumah sakit.


Mungkin bisa di bilang keterlaluan tindakan Lauro saat ini, di saat wanita itu menangis panik, pria ini hanya tersenyum manis. Dadanya menghangat.


"Dia lucu"


Satu kata mengambarkan apa yang ada di pikiran Lauro saat ini tentang Nathalia romanov. Gadis yang biasa ia lihat menari mengikuti rentak disk joke, gadis yang dengan enteng mematahkan hati pria kini terlihat menangis tersedu berlari tanpa sendal memasuki rumah sakit.


Wajar bukan seorang anak menangis karena ayahnya sakit?!


Ponsel dalam jaket kulit Lauro bergetar, oke ini bukan saatnya pria ini tercekat tentang Nathalia karena ada dua bom yang menunggunya di rumah saat ini.


💓💓💓💓


Lauro menginjakkan kakinya di ubin teras berwarna terang, semua terasa begitu damai. Keheningan malam dan kesunyian menyambut langkah kaki Lauro yang entah kapan terakhir kali pria yang kini menyandang gelar Dokter Toraks dan Kardiovaskular menginjakkan kakinya di mansion ini.


Lauro tidak bisa memastikan karena sepertinya sudah lama sekali. Terbukti dari beberapa ornamen yang berubah letaknya, cat dinding berbeda, lalu pintu megah ini entah sejak kapan bertukar bentuk.


Bahkan penthouse Lauro yang tak begitu jauh dari rumah sakit tak begitu sering Lauro lihat, sebab Lauro lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit, kamar perempuan dan jika mendapat libur panjang pria bermata hitam itu akan mengunjungi sahabatnya yang berada di kota berbeda.


Lauro mendorong pintu itu untuk masuk ke dalam, pandanganya di sambut lampu gantung yang makin besar, semua barang yang sudah berpindah tempat dan semua terasa asing, tanpa berfikir terlalu lama Lauro melangkahkan kakinya menuju lift untuk smpai ke lantai 3. Tentu saja menuju ruang keluarga. Lauro tak melupakan niat utamanya ia pulang.


Sembari menekan angka pada dinding lift. Lauro melirik jam yang melingar di pergelangan tanganya. Tepat jam empat pagi. Ayolah... apa sella dan johan tak terlalu keterlaluan dengan semua ini?


Bahkan ini bukan pertama kalinya Lauro membatalkan perjodohan gila yang entah berapa ratus kali yang di sodorkan ibunya.


Benar baru saja Lauro sampai di ruang keluarga, aura yang bisa membuat Lauro bergindik sudah terpancar, Well.. sepertinya ini bukan hanya tentang wanita yang tadi siang ia tolak.


"Pa... gi mom, dad" sapa Lauro yang kini menjatuhkan dirinya kesofa lembut terasa asing baginya, ini baru lagi?


Wah ... L kau benar benar anak berbakti.


Lauro menghela nafas "sorry mom, aku membatalkanya lagi"


Ia sadar betul akan kesalahanya, ia ingat betul wajah sella saat memberikan foto itu di rumah sakit sekitar tiga hari yang lalu. Tapi Lauro tetap tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia butuh perempuan yang menghargai dirinya sendiri bukan hanya perempuan yang mampu bertekuk lutut padanya hanya karena ia tampan dan kaya, Ck! Bahkan Lauro punya milyaran wanita yang rela melebarkan kakinya untuk ia sentak dalam dalam.


"Apa kau gay?"


WHAT!!!


Lauro menarik wajahnya ke samping sampai tepat pada wajah johan. Ia benar benar terkejut, terlebih merasa tertarik. entah ide briliant dari mana ayahnya menemukan kata menjijikan itu. Jika dia gay lalu yang ia sentak setiap malam saat libur itu apa? Lauro hanya tak memberikan hasil tapi ia memberikan kepuasan. Benarkan?


"Bisa kau ulangi perkataanmu dad?" Lauro memastikan apa yang ia dengar benar. Tapi bukanya menggulang. Johan malah berdiri dan melemparkan tab 8 inci di sebelah sofa Lauro.


Lauro bingung, ayollah... siapa pun tahu yang di butuhkan Lauro saat ini adalah bantal dan selimut, bukan pertanyaan tak masuk akal ini.


Shit! Di layar Ipad terpampang sebuah artikel hari ini, yang Lauro yakini pembuat berita konyol itu adalah wanita yang tadi siang ia tolak.


"Pewaris tunggal rumah sakit terbesar di Granada adalah penyuka sesama jenis" Lauro membaca judul artikel itu. Memangnya siapa lagi jika bukan dirinya. Lauro menjatuhkan wajahnya pada telapak tangan yang di sanggah oleh lututnya.


Mengusap lembut wajah itu, dan tersenyum. Ini benar benar lucu. Haruskah ia memberikan bukti keperkasaanya pada wanita itu? Atau membuat wanita itu tegila gila padanya hanya karena ucapan manis yang selalu Lauro berikan pada semua gadis yang menarik perhatianya?


"Aku akan membereskan ini!"


Lauro meletakan tab itu di atas meja lalu saat ia hendak beranjak tanganya di cekal oleh Sella yang sejak tadi menjauh darinya.


Sella berhamburan kedalam pelukan anak tunggalnya ini. Menangkup wajah Lauro, melihat penuh rasa sakit.


Memangnya ibu mana yang tak hancur, dengan pernyataan bahwa anaknya memiliki penyimpangan seksual. Bahkan sudah satu tahun ini Lauro tak pernah menginjakkan kakinya di rumah ini.


Lauro mengeram, jika tadi ia tak terlalu masalah karena namanya tercoreng. tapi, melihat sSella begitu sedih dengan berita itu membuat Lauro mendegus tak suka, bisa jadi saat ini yang ada di pikiran Lauro adalah membuat mata cantik yang ia lihat tadi siang tertutup rapat untuk selamanya.


"Pilih" kata Johan sebelum menjatuhkan 3 lembar foto yang ada di atas meja.


ASTAGA!


AGAIN!!!


Baru saja Lauro menikmati wajah cantik ibunya, menghapus air mata itu. Dan sekarang ia di hadapakan dengan hal yang sama dengan orang yang berbeda?


Oh dad! Jangan mengikuti jejak mom


"Kau harus membuktikanya sayang?" Kata Sella, oh tuhan cobaan berat macam apa ini.


Lauro menyentuh tangan ibunya yang menyentuh pipinya lalu menilik tiga wajah di atas kertas foto.


Menghela nafas kasar. Menuntun tangan sella untuk menjauh darinya.


"I'm sorry mom"


Mungkin ini keputusan terberat Lauro. Biasanya pria dengan tingkat senyum paling manis ini selalu mengiyakan permintaan ibunya. Walaupun berakhir dengan kehendaknya sendiri.


Tapi sekarang, sepertiny Lauro harus belajar mengtakan tidak untuk setiap hal yang ia tidak mampu. Memberikan kesakitan mungkin lebih baik dari pada melambungkannya tinggi trus menjatuhkanya ke dasar itu lebih menyakitkan. Berjalan mundur lalu berbalik arah pergi meninggalkan kedua org tuanya.


TBC


komen centah 😂😘