Take My Life

Take My Life
chpater 09



Dia bahagia dengan ilusi semu itu. Tak berharap lebih, ia berharap disana Evgania damai dalam tidurnya. Seperti senyum bahagianya saat ini. Karena hidupnya penuh dengan awan duka yang perlahan membuatnya memilih jalan yang salah.


Seperti biasa saat pintu kaca ruang operasi itu terbuka, ia akan di serbu oleh keluarga dari pasien. ini adalah hal yang paling Lauro sukai sepanjang ia menjadi dokter.


"Bagaimana kondisi adikku?"


Satu pertanyaan yang sama, yang ia dapati dari orang yang berbeda. Tapi kali ini sedikit berbeda karena. Kepanikan itu membuat Lauro bersusah payah menahan tawanya.


Pria tampan dengan otot kekar itu terlihat shirtless. Karena bajunya telah ia korbankan untuk menutupi luka adiknya. Apa lagi wajah panik itu sangat tak cocok di sandang oleh pria itu. Lauro kenal siapa Ray. Pria itu adalah laddykiller di club milik evan.


Playboy dengan kata lain pria itu adalah playboy kelas senior.


Kemudian matanya beralih pada wanita dan pria paruh baya di samping Ray. Wajah datar Lauro menghilang di gantikan senyumΒ  manisnya.


"Operasi berjalan lancar. Dan ia sekarang dalam tahap pemulihan. Bisakah kita berbicara di ruanganku?"


"Ku rasa ini serius. Bukan hanya luka luar. Luka tak kasat mata miliknya juga harus di obati" jelas Lauro sebelum mempersilahkan keluarga pasien berjalan untuk mengikutinya.


Β 


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Β 


Sinar cuaca cerah menerobos dengan lancang menembus dinding kaca ruangan yang dominasi warna putih itu. Lauro duduk di sofa berwarna cream di dalam ruanganya yang terbilang cukup kecil. Untuk ukuran pewaris rumah sakit besar ini.


Karena sebagian ruangan telah di sulap oleh Lauro menjadi kamar pribadi Karena pada saat mengapai gelar dokter spesialis mungkin dunianya hanya rumah sakit ini.


Di sana hanya ada dia dan Ray. Karena Mr & Mrs romanov sedang di ruang perawatan Nathalia. Apa lagi sepertinya kondisi kesehatan Mr.romanov sedikit buruk.


"Ku sarankan Mr. Romanov menjalani pemeriksaan X-ray"


"Tidak semudah itu dok! Dia bukan pria yang suka berdiam diri di rumah sakit"


"Aku melihat sesuatu yang ganjal" sebenarnya Lauro telah mendiagnosis Mr.romanov. berkecipung di dunia kedokteran membuat Lauro dengan mudah mendiagnosis tanpa alat dan diagnosisnya selalu benar.


Tapi sepertinya Lauro enggan mengatakannya. Karena diagnosis seperti itu bisa di anggap gila bagi kebanyakan para dokter. Mereka harus percaya pada mesin atau yang paling mendasar adalah cek darah.


"Apa?"


"Kusarankan ia melakukan pemeriksaan" kata Lauro setelah meneguk tehnya. Lalu meletakan teh itu kembali pada piringnya dan kemudian berakhir di atas meja.


"Bagaimana kondisi Atha?"


"Atha?" Lauro tampak bingung.


"Nathalia" Ray mencoba memperbaiki kalimatnya.


Lauro hanya tersenyum simpul lalu membenarkan jaz dokternya.


"Dia baik baik saja"


Ray hanya menaikan satu alis lalu bersedekap seolah memberikan waktu pada Lauro untuk menjelaskan lebih lanjut. Karena Ray bukan pria yang sabaran atau pria yang suka berbelit belit.


Lagi lagi lauro menangapinya dengan enteng. Ia merindukan Elroy jika seperti ini. Karena sikap proktektif Ray pada Nathalia sama halnya Elroy pada Ev dulu. Hanya saja Elroy tak terbiasa menujukan sikap itu. Elroy yang kini telah berganti status menjadi seorang suami itu sangat sulit untuk di hubungi.


"Di kondisi fisik ia baik baik saja. Yang sakit itu jiwanya"


Sebenarnya sedari tadi Lauro sedang mencari kalimat yang tepat untuk tidak menyingung perasaan Ray. Memangnya kakak mana yang rela adiknya di katai?


Gila? Yang benar saja L.


"Bukan maksudku untuk --"


"Aku mengerti" balas Ray yang tak di sangka oleh Lauro. Ia mengira Ray akan menghiasi wajahnya dengan bogem mentah atau lebih parah kaki panjang itu akan menerjang tubuhnya.


Seperti yang ia selalu dapati saat Ray di club Evan. Selain playboy nyatanya pria itu adalah biang keributan. Dan berakhir dengan Evan dan Lauro yang menikmati pertunjukan adu jotos itu.


Apa lagi mereka dengan gilanya memasang taruhan akibat perdebatan itu. Evan mungkin satu satunya pemilik klub malam yang membiarkan perkelahian. Ia bahkan mengabaikan peringatan ayahnya untuk menutup club itu


Oke kembali ke masalah kepribadian Ray, dengan kata lain Ray adalah pria **** dengan dasi dan jas mahalnya.


"Aku tahu permasalahanya" kata Lauro seolah senang bermain main dengan rasa cemas Ray.


Sebelum menerima amukan Ray. Lauro kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku pernah berada di posisi Nathalia. Ya walaupun aku tidak sampai berfikir untuk melakukan yang ia lakukan sekarang"


"Ini semua salahku" Ray frustasi dengan menghela nafas kasar dan meremas rambutnya hinga mencuat keluar.


"Jika saja aku tidak --"


"Belum ada obatnya untuk itu" dalam diam Lauro tersenyum miris. Miris sekaligus menertawakan kegagalanya dalam mengobati luka.


"Itu hanya bisa di obati dengan niat diri sendiri"


"Benar! Tapi ada jalan untuk menimbulkan rasa itu"


"Maksudnya?" Ray terlihat berminat. Seolah ia mendapati titik terang dalam perjalanan gelapnya saat ini.


Jika dulu tujuan hidupnya adalah menjaga dan membahagiakan adiknya.


Sekarang ia hanya ingin adiknya sembuh dan kembali menjalani kehidupan yang sebenarnya. Ia ingin ada seorang pria yang mampu membuatnya melupakan Axelin. Karena luka seperti itu harus di obati dengan cara yang sama. Yaitu cinta.


Dan itu tak mungkin bisa seorang Ray berikan pada Nathalia.


"Mungkin kita harus mencoba hypnotrapy?" Lauro mencari persetujuan Raynold


"Jelaskan!"


"Hipnotherapi adalah terapi yang dilakukan pada subjek dalam kondisi Hipnosis" Lauro membenarkan duduknya karena merasa tidak nyaman saat membahas masalah ini


"Neuro-hypnotism yang berarti 'tidurnya sistem saraf' Orang yang terhipnotis menunjukan karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak"


"yang paling jelas adalah mudah disugesti. Hipnotherapi sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi" jelas Lauro panjang lebar.


"Ini hanya cara untuk memunculkan rasa baik pada jiwa Nathalia sebelum kita masuk dalam proses penyembuhan jiwa"


Dan aku tak tahu itu berhasil atau tidak. Karena sampai saat ini aku juga masih menjalani penyembuhan itu.Batin lauro


"Apakah berhasil?"


"Maksudku begini. Kami telah membawanya ke psikolog. Dengan kenggan Nathalia membuat psikolog itu memilih untuk membatalkan jadwalnya. Karena dia takut akan memicu stres berat pada Atha"


"Dia meminta untuk memberikan jarak antara pengobatan dan tragedi"


"Kita mencoba untuk mengobati jiwa bukan untuk menyembuhkan. Disini kita membantu Nathalia untuk kembali menumbuhkan rasa ingin hidup. Karena yang bisa menyembuhkan jiwa itu adalah dirinya sendiri"


Lauro tersenyum lalu menompang wajahnya pada tangan kanannya yang bertumpu pada sofa.


"Aku mengenal psikolog, psikiater dan hipnotrapis handal"


Ray mengangguk seolah paham. Lauro adalah dokter dan sudah seharusnya ia mengenal orang orang handal di bidang seperti ini.


Ternyata apa yang di pikirkan Ray salah. Orang yang handal dalam bidangnya itu adalah orang yang berperan sejak 10 tahun yang lalu untuk menyembuhkan jiwa Lauro yang sempat 'rusak'.


"Jika aturanya adalah psikolog kemudian psikater lalu memasuki tahap hipnotrapis. Kita akan memulai untuk melakukan hipnotrapis terlebih dahulu"


Sungguh Ray tak mengerti dengan apa yang sedang Lauro katakan. Memangnya apa bedanya antara psikolog, psikiater dan hypnotrapis. Baginya semua itu sama saja.


"Aku menginginkan yang terbaik untuk adiku"


"Seharusnya kau memahami maksudku, atau bertanya maknanya karena hypnotrapi bisa berakibat fatal bila di lakukan dengan remeh" Lauro sedikit tak suka dengan sikap Ray yang menghilangkan overprotektifnya.


Lauro takut kelalaian Elroy bisa terjadi pada Ray. Di dunia ini tidak ada yang harus kita percayai seratus persen. Karena semua manusia mempunya tingkat kebaikan yang berbeda.


"Aku yakin kau melakukan yang terbaik untuknya" ucap Ray.


"Kau percaya padaku?"


"Dari pada aku mencari apa yang kau katakan. Lebih baik aku mencari tahu siapa dirimu Dokter Lauro Rexi Morales!" Ray menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa. Seolah saat ini ia benar benar bisa bernafas lega.


"Baiklah" ternyata Lauro terlalu meremehkan pria di hadapanya ini. Pria itu lebih dulu mencari tau siapa Lauro. Predikat dokter terbaik berada di tanganya.


"Apakah mengungkit masalah itu tidak akan membuatnya kembali histeris?" Kalimat Ray mampu merendam keheningan yang sempat tercipta.


"Aku tahu masalah yang di hadapi Nathalia karena aku berada di tempat kejadian saat itu"


"Dan kenapa aku melakukan hipnotrapis terlebih dahulu? Itu Karena aku ingin ia mengingat duka itu di bawah alam sadarnya. Sehingga mudah untuk menyuntikan sugesti penghilang rasa sakit tanpa harus merusak ego personality"


TBC


Aduh Ay lu nulis apaan sih πŸ˜‚


Gile bener ay pas nulis part ini. Percayalah 1 chapter ini ay ngeditnya sebulan πŸ˜‚


Lemah!


Ya elah, ay ini g pernah depresi apa lagi bercita cita jadi depresi jadi g ada pengalaman, baca artikel juga banyak artikel yang mngatakan A B C dan thank buat ..... lupa ay nama cwe itu karna udah lama banget, dia orang inggris yang mau sharing tentang pengobatanya.. tapi katanya tetap dengan mengingat tuhan adalah faktor penyembuh utamanya ceunah πŸ˜‚


Bagi yang pernah ngerasain gila atau punya cita cita jadi gila bisa sharing ama ay.. jadi gampang nih nulis cwe yang depresi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚