
Hujan masih setia membahasahi bumi. Rintik hujan yang pelan tapi pasti cukup membasahi pria yang kini sedang berlari memasuki supercar black metalic itu.
Deru angin dingin malam membuat pria itu sedikit bergetar manahan dingin yang menerobos lancang sampai ketulang, Walaupun dengan erat ia memeluk dirinya sendiri sambil terus berlari kecil, kemudian membuka pintu mobil.
Pria itu menghela nafas kasar menghempaskan tubuh tingginya dalam empuknya kursi mobil sport milik sahabatnya itu. Lalu ia melihat ke belakang seolah mencari seseorang lewat kaca hitam mobil itu.
Seketika tak menemukan apa yang ia cari. Pria itu memutuskan untuk menunggu dan mengeluarkan ponselnya dari balik jaket kulit hitam yang kini membalut tubuh kekarnya.
Kali ini mata indah itu kalah telak, karena senyum manis itu merekah melihat foto seorang gadis yang sedari dulu berhasil merampas hati pria itu hingga tak bersisa.
Cinta pertama adalah cinta yang sama sekali tak pernah hilang dari kenangan. Bahkan jika orang yang berhasil menarik perhatian kamu untuk pertama kalinya, jatuh kedalam hal yang bernama cinta telah 'tiada'.
Sepertinya dia akan selalu ada dalam benak dan ingatanmu. Dan itulah yang sekarang di rasakan oleh Lauro Rexi Morales, pria tampan dengan tubuh kekar, hidung mancung dan tatapan tajam seolah menjadi ciri khasnya. Tapi semua kearoganan itu hilang saat senyum cutenya hadir.
Pria yang duduk di dalam mobil ini tak henti hentinya menatap ponselnya. bukan membalas chat atau bermain game, seperti kebanyakan pria pada umumnya.
Lauro hanya menatap, ya hanya menatap layar ponsel itu. Menatap foto seorang gadis yang mampu membuatnya tak pernahย melirik gadis lain. Seolah hatinya telah di kunci rapat oleh gadis itu.
Bahkan sudah 11 tahun berlalu dan gadis itu telah damai di dalam tidurnya yang abadi, tapi nyatanya tetap tak membuat seorang Lauro Rexi Morales melepaskan sosok Evgania Elsa Mclan begitu saja.
Cintanya abadi sama seperti keabadian matahari yang selalu menemani bumi.
Ck! Ya tak selalu ada tapi tak pernah lupa. Pasalnya walaupun sosok Evgania tak pernah terlupakan nyatanya lauro adalah seorang pemain wanita klass berat. Tapi tak ada yang berhasil mengantikan posisi evgania sebagai cintanya.
Suara pintu mobil sport ini membuyarkan lamunannya. Seorang pria tampan masuk di balik kemudi dengan sesekali melirik Lauro yang kini kembali menyimpan ponselnya.
"Ugh... dinginya" suara itu terdengar bergetar karena menahan dinginya angin berselimut hujan seolah bersepakat menghatamnya saat berada di luar mobil. Evan tampak memeluk dirinya sendiri untuk mencari kehangatan.
"Hufft.. apa tak bosan kau selalu menatap fotonya?" Ucap Evan meremehkan sahabatnya itu.
"Apa kau tak ingin seperti Elroy dan Xavier?"
"Mereka telah menikah dan sekarang tengah menunggu buah hati mereka" Evan stevano yang mulai menghidupakn mobil sport miliknya.
"Ck! Kau sedang curhat tuan?" Kata Lauro yang mengabaikan perkataan Evan dengan mengenakan sefty belt.
"Aku serius L!" Evan menatap sahabatnya dengan tatapan memperingati.
"Aku lebih serius Van" lauro tertawa keras saat iya menyebut nama terakhir sahabatnya. Karena ia tahu Evan tak suka di panggil dengan sebutan 'van'. Dia manusia guys bukan mobil.
"Sorry" ringisan Lauro setelah menerima hadiah sebuah tatapan maut dari sahabatnya.
Kemudian kedua pria itu kembali terdiam menikmati perjalanan sunyi karena mengingat ini hampir tengah malam. Belum lagi hujan yang menguyur deras dan hawa sejuk yang membuat segelintir orang akan memilih meringkuk di bawah hangatnya selimut tebal.
Lalu pikiran Lauro lagi-lagi teralih pada wanita yang tadi tersenyum di layar ponselnya. Baginya hanya Ev yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang, yang mampu membuatnya merasa cemburu. bahkan jika Ev hanya bermanja dengan Elroy-kakak kandungnya.
sosok Evgania juga yang mampu membuatnya patah hati dan terpuruk hingga beberapa tahun. Sebelum mencoba bangkit walau mesti merangkak meninggalkan kesakitan.
"Deras sekali hujannya!" Evan sesekali melihat keluar kaca menatap langit pekat.
"Kita ke club?? Sepertinya hanya tinggal kita yang akan sering mengujungi surga dunia itu" tawar Evan
"No! Dude, tidak malam ini. Besok pagi aku ada praktek. Aku tidak ingin mengoperasi seseorang dalam keadaan mabuk" kata Lauro sedikit bercanda.
"Dan semua itu hanya harapanmu" Lauro melirik Evan yang kini fokus menatap jalan sunyi dengan kabut samar karena hujan rintik rintik itu cukup untuk membatasi pandangan.
"Aku senang menjadi dokter walaupun dulu aku merasa tertekan"
Lauro mulai mengingat awal masa keterpaksaanya menjalani profesi ini. Dimana ia harus terpisah belajar dari para sahabatnya yang menempuh pendidikan managemen bisnis.
Bahkan tak jarang Lauro bolos kuliah hanya karena terbang ke luar negri menemui para sahabatnya. Dan kemudian mendapati kemurkaan sang ayah. Mengingatnya saja mampu membuat Lauro terkekeh geli.
"Tapi sekarang aku bahagia" ucap Lauro tulus
"Jujur melihat para pasienku bisa berkumpul dengan keluarganya membuatku dadaku hangat" jawaban Lauro tersenyum manis dengan menatap kosong pemandangan gelap di balik kaca mobil.
"Seandainya saja aku bisa menyelamatkan---"
"Behentilah untuk membahasnya L. Atau aku akan membunuh Noah dan meruntuk Roy supaya dia kekal di neraka" kata Evan dengan suara yang naik satu oktaf.
Kekecewan itu terpatri jelas di wajah pria tampan itu. Bagaimana tidak? Jika temanmu sejak dari di taman kanak kanak menyakiti adik perempuan sahabatmu dan membuat sahabatmu yang lain kehilangan cinta pertamanya. Mungkin rasa benci itu tak bisa di jelaskan dengan kata kata.
"Haha tenang! semua itu rencana tuhan jerk" jelas Lauro mencoba menenangkan sahabatnya.
"Lalu kenapa kau teru---"
"Kan seandainya dude, seandainya" tegas Lauro berusaha mencairkan suasana.
Sejujurnya Lauro sudah ikhlas akan kepergian cinta pertamanya. Namun tak menutup kemungkinan bahwa rasa kecewa dan cinta masih setia menemani perjalanan hidupnya.
Mungkin setelah kejadian itu Lauro bisa berfikir sedikit lebih dewasa.
Karena pada dasarnya ia tahu bahwa tuhan selalu punya rencana indah di balik rasa sakit.
Karena
Ada luka yang tak perlu di ceritakan
Ada rindu yang tak bertuan
Ada tangis yang tak harus di dengar
Ada cinta yang tak mesti memiliki
Rasa sakit itu wajar tergantung kita menyingkapinya. Terpuruk dalam duka? Atau bangkit menerobos keindahan.
Mungkin hanya Lauro yang berbeda dengan temannya yang lain. Jika yang lain berbahaya karena memang itu adalah sosok pengusaha sesungguhnya. Mereka melihat peluang dan bermain dengan campur tangan politik. Dan kebaikan akan mengubur mereka dengan keterpurukan yang nyata.
Berbeda dengan Lauro. Pria itu seolahย menjadi sosok malaikat di antara para temanya, di samping sikap mesum dan jahilnya. Bukankah dokter berkerja ikhlas tanpa tipu muslihat sedikitpun? Dan itulah yang selalu Lauro terapkan dalam hidupnya.
"EVAN AWAS DEPAN" kata Lauro yang terkejut dan dengan cepat menarik stir mobil agar berbelok. Sontak Evan dengan cepat menginjak rem. Sampai terdengar suara decitan ban mobil. Beruntung mereka belum memasuki jalan yang menurun. Sehingga mobil itu dengan aman berhenti sempurna.
TBC
Hiya2 nungguin lanjutanya ya ๐๐๐๐ kaum bar bar di persilahkan menuliskan komen ๐๐๐