
WARNING TYPO BERTABURAN UDAH KEK MANTAN NYAKITIN MATA 🤣
....
Dinginnya angin malam menusuk kulit kaki Nathalia. Karena ia mengenakan dress pendek dan itu bertambah pendek karena posisi duduknya yang memeluk tubuh tinggi Lauro.
"Kau kedinginan?" Lauro mengelus paha Nathalia di sisi kanan kakinya, sesampainya mereka di lampu merah.
"Seharusnya pertanyaan itu untuk dirimu sendiri!" Ketus Nathalia
"Kau menghawatirkanku?" Lauro makin mengelus paha putih itu. Menengakkan tubuhnya supaya lebih masuk ke dekapan Nathalia.
Pria ini benar benar memanfaatkan situasi yang ada. Memangnya pria mana yang tak suka bila di peluk gadis cantik?
Samar samar kilat menampakkan wajahnya. Hal itu membuat Nathalia reflek menyembunyikan wajahnya pada bahu kokoh Lauro. Melihat kearah langit lalu tangan kanan Lauro membelai puncuk kepala Nathalia, sebelum ia mulai menjalankan motornya.
Mengakhiri niat awal, pria itu memilih membelokkan stang motor ke kanan. Melaju dengan kecepatan tinggi mengikuti jalan sepi.
Rintik hujan mulai membasahi bumi. besamaan dengan itu, motor Lauro belok masuk ke dalam basment khusus sebuah gedung apartemen. Sampai motor itu masuk ke dalam ruang besar di sana terdapat puluhan motor sport.
Bahkan motor seri RC213v-s dengan harga fantastis itu ada beberapa warna di sana. Sepertinya benar pria ini benar benar penggila kuda besi.
Lauro telah mematikan motornya tapi Nathalia tetap pada posisinya memeluk erat tubuh Lauro dari belakang dan menenggelamkan wajahnya pada tubuh Lauro.
Lauro menyadari tubuh bergetar Nathalia, pria itu menggenggam erat tangan Nathalia yang melingkar di perutnya.
Ini adalah salah satu alasan dari banyaknya alasan Lauro memilih Nathalia. Gadis ini masi mengalami PTSD "Post Traumatic Stress Discoder" gangguan stres yang timbul setelah mengalami peristiwa luar bisa, misalnya kecelakaan atau bencana alam.
Lauro mengingat jelas bagaimana dia mulai mengikuti kehidupan Nathalia karena teman temannya.
Flashback on
"Kenapa kalian disini?"
Satu kalimat sederhana cukup mengungkapkan keterkejuran Lauro. Ketika tangan kokohnya membuka pintu ruang kerjanya yang di dominasi warna putih itu.
Keempat sahabatnya sudah dengan santai menunggunya di dalam ruangan. Xavier yang sibuk bermain game online di komputer miliknya. Evan dan Elroy yang duduk santai di atas sofa bersisian dengan jendela.
Santai?
No! Elroy sibuk dengan tab yang ada di tangannya. Sedangkan Evan pria itu mungkin sibuk dengan permainan game online yang kini banyak di gandrungi para pria. Matthew? Pria itu berada di balkon yang terhalang dinding kaca. Pria itu spertinya sedang menelfon seseorang.
Bunyi pintu terbuka dan kalimat sederhana dari bibir Lauro merengut perhatian Xavier dan Elroy. Tidak dengan Evan. Pria itu masih fokus pada ponselnya seolah Lauro yang kini berjalan kearahnya itu adalah sosok tak kasat mata.
"Apa kabar bro?" ucap Xavier yang kini telah berada di depan Lauro dan memeluk pria itu secara jantan.
Elroy dan Matthew yang telah selesai dengan ponselnya juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Evan masih tanpak acuh. Karena dia yang lebih sering bertemu dengan Lauro. Bahkan bisa di katakan ia lebih sering bertemu Lauro ketimbang ibunya sendiri.
"Bisakah kau tidak memainkan permainan bodoh itu lagi!" ucap Lauro yang duduk di sofa panjang di sebelah Evan. Setelah ia merebut ponsel yang kini di ambil oleh Matthew.
Tentu saja umpatan dari bibir Evan tak terelakan lagi. Pria itu membenci saat ia hampir menang pasti ada saja orang yang menganggu dan membuat ia gagal untuk naik pangkat.
Dengan majalah yang tak terlalu tebal Elroy memukul kepala Evan karena ucapan Evan yang terlalu vulgar. Mungkin kebersamaanya dengan Alana membuat pria itu jarang atau bahkan tak pernah mengumpat lagi.
"No ponsel saat kita bersama jerk!" Matthew membuang ponsel Evan secara asal.
"Shit!" Evan mengusap kasar wajahnya membuang muka kearah jendela kaca untuk meredam kesalnya.
"Bagaimana kondisi sofia?"
"Baik" sambar Xavier
"Lalu Alana?"
"Jangan menanyakan wanitaku. Kau pasti tahu maksud kedatanganku" ucap Elroy terkesan acuh tapi bukankah pertanyaan itu tersirat kekepoan yang mendalam.
Dan Elroy bukan jenis manusia yang suka beramah tamah.
"Maksudmu?"
"Bagaimana kondisi wanita itu?" Matthew mengambil duduk di sebelah Lauro. Pria itu duduk di tangan sofa. Karena sofa berwarna cream yang di duduki lauro ini hanya bisa di duduki dua orang saja.
Bahkan Lauro tak pernah mengingat siapa pun yang pernah menghangatkan ranjangnya.
Wanita?
Wanita yang mana? Lauro menatap Matthew, Elroy, Xavier lalu saat ia menatap Evan, pria itu menapilkan seringai licik di sebelahnya.
Ia tahu apa yang sedang di tanyakan Elroy sekarang.
"Damn!" umpat Lauro sebelum memiting leher Evan. Karena pria bermulut ember itu membuat semuanya terasa sulit.
Jika tadi Elroy memukul kepala Evan dengan majalah yang di gulung. Kini giliran Xavier yang duduk di atas meja di depan Lauro dan Evan yang memukul kedua kepala kedua pria tampan itu.
Seolah itu adalah perinta untuk berhenti.
"Stop it" ucap Xavier dengan seringainya.
"Ini sudah terlalu lama untuk kau menutup mulut jerk" Evan berusaha membela diri dan memilih untuk pindah tempat duduk.
"Siapa gadis itu? Ku dengar dia mirip dengan ..." Matthew menghentikan kalimatnya seraya menatap Elroy yang duduk tak jauh dari Lauro.
"Sekilas ya sedikit... tsk! Bukan mirip!. Mata, bibir dan warna kulitnya berbeda matt" tegas Lauro seolah membayangkan fisik Nathalia.
"Aku sudah melihatnya dan aku bertanya bagaimana kondisinya! bukan wajahnya!" sambar Elroy.
Seoarang kakak laki laki jelas tahu bagaimana wajah adiknya, walaupun beberapa tahun berlalu. Dan Elroy setuju dengan ucapan Lauro. Hanya saja ia turut prihatin mendengar kejadian naas yang menimpa gadis kecil itu.
Bisa di katakan Elroy bukan pria baik tapi saat gadis kecil memikul beban sebesar itu membuatnya merasa harus melindungi. Agar Ev kedua tak akan pernah ada.
Kejadian yang tak mungkin di inginkan semua wanita di bumi ini. Kehilangan seseorang yang ia cintai dengan cara yang sangat mengerikan. Bahkan Elroy ikut terluka saat melihat kondisi Nathalia walaupun dari foto yang ia dapatkan dari suruhanya.
Lauro menghela nafas pelan, membuktikan ia cukup lelah untuk membahas hal yang menurutnya tak penting.
"Gadis itu membatalkan jadwal terapi selanjutnya. Saat sugestinya belum tertanam sempurna"
"Lalu?"
"Lalu apa?" Lauro tak mengerti dengan pertanyaan Xavier.
"Shit! Kenapa kau sebodoh ini?" Xavier terlihat kesal karena ketidak pekaan sahabatnya pada dampak hypnotrapi.
"Apa?"
"Jika sugestinya tak selesai dan ia menghentikan terapi secara sepihak maka akan terbentuk ego personality baru untuk membentengi dirinya sendiri"
Untuk pertama kali dalam hidup Lauro, ia merasa menjadi manusia tak berguna dalam hidupnya.
Kenapa ia tak berfikir pada dampak hypnotrapi?Â
Lauro diam dengan masih menatap Xavier yang masih duduk di atas meja di depanya. lalu tanpa berfikir panjang pria itu melangkah pergi keluar ruangan. Sebelum membanting pintu ruang kerjanya dengan kuat.
Itu adalah sosok Lauro yang sebenarnya.
Flasback off
Nathalia seolah tersadar ia turun dari motor , dengan masi bersusah payah menghentikan tanganya yang bergetar. Mungkin bisa di katakan otak Nathalia saat ini lambat merespon segala situasi yang terjadi.
Lauro turun lalu menyentuh tangan Nathalia, menuntun untuk melingkar di tubuh Lauro. Mendekap wanita itu, mengelus rambut Nathalia
"Aku ada di sini baby. Aku tak akan pernah meninggalkanmu .... lagi"
Jangan lupakan bahwa yang berbicara pada Nathalia saat ini adalah seorang pemain wanita.
TBC
maap ay lama bgt update.. aduh ampun banget cuacanya 😂😂😂 udh panas aja ini badan ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ naro wajan di kepala buat ceplok telor keknya mateng ini 😂 pak presiden nyitap laptop ama hp karena kliatan banget ay udh kaya zombie 😂 dan ini baru bisa up dikit 🤣🤣🤣 KOMEN YANG BANYAK ya!!! kalo g ay update besok banyak2 eh gak deng 😂😂😂 bencada ae 😂 storyanya masi pecah pecah belum di susun 😂
karena ay baru bisa megang hp komenya ay bls bsk centha 😂 maap ay skrg lagi sok sibuk biar kek orang2 😂😂😂