Take My Life

Take My Life
chapter 57



Nathalia terbangun membuka matanya perlahan, bergelung mencari kehangatan seperti pagi sebelumya. Karena seperti biasa pendingin ruangan yang di stel dengan suhu rendah membuat gadis itu kedinginan.


Nathalia makin bergeser hingga ujung ke ranjang dan blam...


Ia berguling jatuh ke lantai. Beruntung selimut yang lumayan tebal masih mengcover tubuhnya. Nathalia mengaduh merasakan kerasnya lantai kamar, kemudian terduduk dan melirik ranjang yang kosong.


Dimana Lauro? Tanyanya lalu mengedarkan matanya menyapu ruangan, sepertinya juga tak ada manusia di kamar mandi terbukti dengan tak ada cahaya lampu yang menyelinap keluar.


Lalu kepalanya menoleh ke arah nakas,  jam masi menunjukan angka tujuh pagi. Bahkan matahari belum berani menampakan wajahnya.


Tapi fikiran liarnya terhenti saat ada memo kuning bersanding dengan mawar merah yang Nathalia yakini berasal dari meja hias dekat balkon ruang santai.


Aku kembali kerumah sakit sayang.


Nanti nona Solana akan membawakan sarapanmu, jangan lupa minum obatmu. Kabari aku setelah bangun sayang



Te amo


Nathalia memutar bola matanya,malas. Di saat dia sedang kalut kenapa pria itu memilih ke rumah sakit dan meninggalkannya?


Apa ia kalah dengan pesona rumah sakit?


Atau apa dia kalah cantik dari rumah sakit?


Dia di nomor duakan karena rumah sakit!


Oh god... bolehkah sekarang Nathalia cemburu pada gendung tinggi dan besar itu? Ini sangat tidak elegan! harusnya ia cemburu pada seorang wanita. Lalu Nathalia akan senang hati melampiaskan kemarahanya dengan menyiksa gadis itu


Tapi Begini?


Tolong jelaskan bagaimana cara ia marah?


Karena berhadapan dengan pelakor tapi berwujud batu besar?


Mengambil setangkai mawar yang ada di atas nakas, Nathalia menilik memo dan bunga yang ada di tanganya.


Sebenarnya ia merasa cara Lauro meninggalkan pesan terlalu kuno, apakah pria itu tak bisa mengirim pesan di ponsel? Kita hidup di jaman modren. Tapi tak apalah, ia yakin Lauro hanya ingin terlihat romantis.


Nathalia membuang memo secara asal, lalu mencium bunga di tanganya. Dan teringat perkataan lauro tadi malam.


ini adalah alasan utama aku menikahimu. Aku tidak ingin siapa pun menyakiti wanitaku


Mungkin Nathalia kecewa, karena semua ini bukan murni perjodohan, semua ini terjadi atas perintah Lauro. Biarpun Lauro memulai dengan awal yang salah. Tapi tak apa karena setiap harinya Lauro menghujaninya dengan kata lembut, cinta yang tulus dan senyum yang manis.


Mengingat masa kecil Lauro membuat Nathalia begitu penasaran bagaimana pria itu bisa berbesar hati menerima takdir kejam yang tak peduli pada hatinya.


Setidaknya satu hal yang harus Nathalia syukuri setelah mengetahui rumit masalah hidupnya.


Rich dan Maria tak pernah menelantarkanya, saat ia sakit Rich dan Maria akan hadir paling depan.


Ketika Nathalia menjalani perawatan wajah yang membuat ia harus menjalani hari hari dengan wajah palsu, Marialah wanita yang tak tidur karena menjaganya.


Maria sosok ibu sempurna untuk Nathalia. Biarpun  wanita itu selalu mengomel, tak begitu bisa memasak dan hobby mengatur hidupnya membuat Nathalia bersyukur pernah hidup menjadi putri mereka.


Ray yang selalu menjadi tamengnya, saat Nathalia melakukan kesalahan. Ray akan maju paling depan melindunginya. Nathalia ingat saat ray menghacurkan mobil pacarnya sendiri karena ia di bicarakan oleh wanita itu.


Dan Rich yang selalu memeluknya dengan sayang saat ia menangis, kata menjual dan di manfaatkan sepertinya sulit untuk Nathalia cernah saat ini.


Karena keluarga itu adalah keluarganya, mereka tak pernah melukai Nathalia walau seujung kuku.


Semua kenangan itu membuat Nathalia menunduk dan memeluk lututnya. Lalu kembali air mata memainkan peranya.


"Aku harus apa ma?" Rintih Nathalia dengan isaknya.


"Aku membutuhkanmu pa" ucapnya lagi karena biasanya Rich akan memeluknya.


"Ray... aku tak kuat"


Ruangan besar itu di hiasi isak tangis Nathalia. Wanita itu begitu rapuh. Ia ingin berlari mencari perlindungan keluarganya.


Oh tidak... itu bukan keluarganya. Nathalia tak tahu sekarang harus melakukan apa. Bisa di katakan ia tak peduli pada kehidupan lamanya. Atau keberadaan keluarga kandungnya, karena sampai detik ini otaknya masih menolak untuk itu.


Nathalia mengambil ponselnya di atas nakas lalu mengaktifkan. Ada ribuaan panggilan tak terjawab dari Maria, Rich dan juga Ray.


Ratusan pesan juga tak menghiasi ponselnya. Sejak semalam ia tak mengecek ponselnya.


Mama:


maafkan mama nak


Kau anak mama


Kau anak kandung mama



Papa:


Tha papa minta maaf


Angkat telfonmu nak


Tha


Dengarkan papa menyayangimu



My brother:


Prince aku sayang padamu


Jangan pernah tinggalkan aku


Kembalilah padaku


Aku akan menjagamu


Hanya itu yang bisa di tampilkan saat Nathalia mengeser kebawah layar notifikasi. Nathalia tak berniat membuka satu persatu pesan itu. Pesan yang membuatnya luka itu tertancam lebih dalam.


Mungkin saat ini Nathalia butuh waktu untuk perlahan menerima semuanya.


Lalu tanganya bergerak mengetik nomor seseorang yang akhir akhir ini memeluk dunianya.


"Dimana kau L" gerutu Nathalia saat berkali kali telfonya tak terjawab


"Buat apa kau menyuruh aku menghubungimu jika kau tak pernah membawa ponselmu" maki Nathalia pada ponsel seolah itu adalah sosok Lauro.


Nathalia naik keatas ranjang lalu mengucir rambutnya. Melangkah kearah jendela dan membukanya. Terlihat cahaya di langit mulai terang walaupun matahari belum menampakan wujudnya


"Setidaknya duniaku belum berakhir" ucap Nathalia menghirup udara itu pelan pelan.


Lalu ia bergegas kekamar mandi dan membersikan diri. Well... semalam ia bertemu ****** yang menjijikan, sudah seharusnya dia mencuci tubuhnya agar kotoran ****** itu tak terus menempel.


Nathalia akan membuat perhitungan pada joseph. Mungkin dia harus membawa kayu untuk mematahkan tubuh pria itu nanti. Tidak mati setidaknya membuat pria itu menyesal karena telah mencumbunya.


Lihat saja!


Kaki Nathalia terhenti saat kakinya menuruni anak tangga. Matanya terpaku dan lidahnya kelu melihat yang terlentang tidur di atas sofa dengan bentuk layaknya pengemis. Itu Ray yang sudah dua belas tahun ini menjadi kakaknya



Lalu matanya juga menangkap sepasang manusia yang selama ini menjadi dunianya.


Apa yang mereka lakukan di sini? Sepagi ini?


Apa mereka menginap?


Lalu kenapa tidur di ruang keluarga, Lauro punya banyak kamar di penthouse ini. Nathalia belum siap bertemu mereka sekarang.


"Tha"


Suara lembut milik maria  menghentikan pergerakan Nathalia untuk kembali naik ke kamarnya.


"Kemarilah nak" sambung Rich


Nathalia berbalik melihat Rich dan maria. Papa dan mamanya telah bangun tapi Ray masi nyaman dalam tidurnya, pria itu masih sama. Masi terlihat menyedihkan.


Maria menyusul Nathalia dan menuntun putrinya untuk bergabung bersama Rich.


Sudah lama sekali Nathalia tak merasakan ini, sekarang rasanya mereka makin jauh apa lagi kali ini malah tercipta pagar tak kasat mata yang memisahkan mereka.


Ya, sebuat kenyataan bahwa Nathalia bukan siapa siapa. Nathalia duduk di antara Rich dan Maria. Nathalia tak tahan lagi. Wanita itu menangis sejadi jadinya, melepaskan segala beban yang tercipta dalam dada. Sebuah cara halus untuk mengatakan bahwa ia butuh pertolongan, ia sudah tak kuat.


TBC


Gak kuat 🙈 ay harus tdur dlu 😂 dri pda di paksain ngedit tpi typonya bnyak 😂



     



Lagi nyari kang somay