Take My Life

Take My Life
chapter 60



Lauro baru saja meletakan jas khas dokteranya di stand hanger tapi lagi lagi ponsel di atas meja merenggut perhatianya, merasa kesal sejak tadi Emily terus menelfonya. Ini sudah terhitung tiga puluh kali gadis berambut gelombang itu menelfonya.


Lauro mengabaikan lalu memasukan ponsel itu ke dalam kantong celana bahanya dan membuka pintu ruangan.


Lauro berniat pulang cepat hari ini, meskipun sekarang sudah masuk kata terlambat. Ya, jam sudah menujukan angka sepuluh.


Ini sudah sangat terlambat!


Baru saja lauro keluar dari ruanganya dan melangkah memasuki lorong panjang ponselnya kembali berbunyi. Shit... Lauro mulai jengah Lalu mengambil ponsel, tapi bukan lagi Emily melainkan Evan.


"Hal--" dugaan Lauro salah, sekarang suara wanita berintonasi seperti ibu tiri yang menderu pendengaranya. Siapa lagi jika bukan Emily.


Kenapa kau tak mengangkat telfonku L perkataan Lauro terpatahkan oleh bentakan dari sambung Line telefon


"Aku sibuk, ada apa?" balas Lauro tenang karena memang terdengar gelak tawa dari samping gadis itu. Evan sedang bersama gadis super cerewet ini


Hanya memastikan keadaanmu


"Ku dengar kau berada di rumah sakit tadi? Kau baik baik sajakan?"


Hmm.. yea... caroline operasi usus buntu dan aku harus memastikan keadaanya.


"Asistenmu?" Tanya Lauro tak begitu ingat pada teman teman Emily


Benar, aku benar - benar pusing kenapa dia harus sakit di saat jadwalku padat.


Lauro tergelak melihat tingkah Emily yang seperti ingin selalu terlihat jahat, padahal bisa di bilang Emily adalah gadis baik, lihat saja saat asistenya sakit. itu bukan kewajiban Emily untuk menjaga tapi yang di lakukan wanita itu jauh dari bibir tajamnya, hanya saja terlahir sebagai putri bak dongeng membuat ia terlalu semena - mena.


"Bagaimana hubungan mu dan Nathalia?" tanya Emily tanpa basa basi.


Lauro menghela nafas dalam dalam, ia terlalu malas jika hidupnya menjadi konsumsi public "Baik baik saja" balas Lauro terlalu datar.


Karena Nathalia yang pingsan, dan identitas pasien bernama Darsha terkuak membuat gempar rumah sakit, sehingga perawat yang bermain dengan para sahabatanya mengetahui masalah yang selama ini ia tutupi. Ini pertama kalinya Lauro menyesali mengenal para playboy itu.


Kau yakin, balas Emily memastikan.


Memangnya kenapa? Kau berharap Nathalia meninggalkan-- augh sakit bebe, suara Evan terdengar. Mungkin pria ituΒ  tak bosan bosan mengganggu adik sahabatnya.


Makanya jaga mulutmu sebelum aku merobeknya. Ketus Emily


Kau mau ku cium? balas Evan


Tutup mulutnya bastard sialan


Dan Lauro langsung mematikan Telfon. Sepertinya tak ada waktu meladeni kedua manusia itu. Sekarang kedua sejoli itu pasti sedang adu otot.


Lauro bergegas keluar rumah sakit untuk menghampiri kuda besi kesayanganya. Menaiki motor yang baru resmi menjadi anggota garasinya ini lalu Memakai jaket andalan dan helm.


Pria tampan dalam balutan helm hitam itu menaikan kecepatan motor, membelah kota hingga rintik rintik hujan ringan juga menemani perjalanya.


Ketika sampai di sebuah gedung pencakar langit, Lauro memasuki lobby apartemen yang terlihat selalu ramai lalu berjalan memasuki lift untuk sampai ke penthouse miliknya.


Sesekali ia juga mengangguk samar saat seseorang yang mengenalnya menyapa.


Suasana damai menyambut kedatangan Lauro. Terlihat begitu sepi dan semua lampu menyala sempurna pertanda ada seseorang di dalamnya.



"I am home..." Lauro mancari keberadaan istrinya.


"Baby..." lauro berjalan pelan, meletakan jaketnya di atas kursi lalu beralih ke arah meja makan untuk sekedar meneguk segelas air.


Lauro telah sampai di pintu kamar mereka, ruangan yang temaram karena hanya di terangi lampu tidur di atas nakas.


Dan terlihat seseorang wanita tengah bergelung di balik selimut, sehingga mengembangkan senyum di bibirnya. Mungkin terlalu berlebihan, saat mengatakan jika melihat Nathalia rasa lelahnya hilang entah kemana.


Tapi percayalah itu memang benar.


Lauro berjalan kearah sisi ranjang dan duduk tepat di sebelah istrinya. Meletakan ponsel dan jam tangan di atas nakas lalu menatap wajah 'ayu' Nathalia yang damai dalam mimpi.


"Cantik" kata spontan keluar begitu saja dari bibir Lauro.


"Terimakasih karena masih bertahan bersamaku sayang" ucap Lauro menyentuh rambut Nathalia lalu merunduk untuk mencuri kecupan dari pipi wanitanya,Β  lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersikan tubuhnya.


🏍🏍🏍🏍🏍


Benar, tak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Nathalia telah menghilang.


Matanya menoleh kekamar mandi berharap si pujaan hati ada di sana. Tapi nihil, kamar mandi tampak sunyi, menandakan tak ada seorangpun disana. Lalu tatapanya beralih, Lauro melirik kearah jam digital di atas nakas.


"Jam tujuh lewat lima delapan" Lauro tertawa sumbang "dimana kau Tha?" bahkan matahari baru saja ingin keluar dan istrinya sudah hilang dari tempatnya "ini masih terlalu pagi untuk dia pergi" keluh pria tampan itu pelan.


Sebenarnya ini seminggu setelah pengakuan Lauro, dan syukurlah sepertinya Nathalia tak terlalu menyalahkan dirinya. Saat itu Nathalia masih menjalani kehidupanya seperti biasa meskipun bisa di bilang jarak tak kasat mata di antara mereka mulai tercipta.


Lauro cukup memahami itu, ia tak berharap banyak untuk Nathalia bisa memaafkannya, Nathalia masih mau pulang ke-penthouse ini saja sudah sangat ia syukuri.


Lauro tersenyum miris dan menutup wajahnya dengan kedua tangan yang memperlihatkan otot bisepnya, memikirkan tentang tiga hari ini Nathalia yang seperti menjauhinya.


Contohnya seperti, ia pulang saat wanita itu telah terlelap dan sekarang Nathalia sudah tak ada di tempatnya sesaat setelah ia membuka mata, mungkin sama seperti pagi - pagi sebelumnya, wanita cantiknya telah pergi kerumah sakit atau ke kampus dengan alasan terlalu banyak tugas.


Lauro mengambil ponsel dan benar sebuah pesan bernada dingin dari sang istri.


Aku berangkat.


See... bahkan Lauro tak bisa mengerti, apa yang membuat sikap istrinya sekarang sedingin balok Es. Bukankah masalah di antara mereka sudah terkuak dan pada saat itu juga Natahlia seperti bisa menerima segala kesalahanya.


Tapi mungkin berbeda cerita dalam tiga hari belakangan ini. Istrinya seperti memperjelas jarak di antara mereka. Lauro cukup yakin pasti ada hal lain yang mengganggu Nathalia.


Dering telfon tersambung, Lauro terduduk sambil mencoba menyambungkan line telfon pada istrinya, dan terlihatlah punggung indahnya tanpa di tutupi apa pun.


"Dimana kau sayang?" tanya Lauro lembut sesaat setelah line telfon tersambung


Kampus


"Sepagi ini?" Nada Lauro masih terlihat biasa, bahkan jauh dari nada seseorang yang sedang khawatir. Pria ini terlalu pandai berpura pura.


Aku ada tugas jika tak ada yang penting aku tutup


Tanpa menunggu jawaban dari Lauro line telfon itu sudah terputus, Nathalia telah menutup telfon secara sepihak.


Lauro mengela nafas pelan, seharusnya pria tampan itu marah, saat tahu istrinya berbohong. Ia tahu jelas tak ada tugas apa pun, dan hari ini tak ada mata kuliah apa pun yang akan di ikuti istrinya.


Jangan kira Lauro adalah type pria tak pencemburu, segala sesuatu miliknya harus tetap menjadi miliknya. Tapi Lauro terlalu pintar untuk bermain cantik.


Sebuah kehilangan mengajarkanya untuk penting menjaga dan melindungi apa yang seharusnya menjadi miliknya. Lauro tak ingin menyesal untuk kedua kalinya.


Dari segala aktifitas kampus Nathalia dan seperti wanita cantik itu bersama siapa, semuanya telah tersusun rapi bagai jadwal kerja Lauro. Orang suruhan Lauro akan mengabarinya saat wanita itu berada di luar gedung mewah ini.


Jadi tak heran bukan dimana ada Nathalia Lauro pasti akan datang saat gadis itu dalam bahaya. Lauro tersenyum miring saat melihat apa yang terpampang di layar ponsel.


Wanita itu masih berada di penthouse mewah miliknya, terlihat dari rekam jejak sistem pelacak yang terpasang di bawah batu berlian cicin pernikahan milik Nathalia.


Lauro membelai titik merah tersebut seolah itu adalah sosok istrinya, bahkan acap kali Lauro mencoba berfikir bahwa Nathalia sedikit menghindar karena masalah yg terkuak tiba tiba. Tapi bukankah waktu itu Nathalia seperti bisa memaafkanya?


Apa yang terjadi padamu sayang?


Kenapa kau menjauhiku?


Bisakah kau Ceritakan padaku?


Semua list pertanyaan ini ingin segera ia tanyakan pada Istrinya, tapi sayangnya Lauro tak ingin membuat Nathalia merasa terkekang. Wanita itu pasti punya alasan dengan semua sikapnya.


"I love u my atha" ucap Lauro sebelum mencium layar ponselnya dan kembali menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang lalu terbitlah senyum indah di bibirnya.


"Yea... aku telah tersesat dalam dirimu tha"


Lauro telah siap dengan kaos oblong hitam dan celana jeans panjangnya. Pria tampan itu tak praktek kerja hari ini. Karena tahu jadwal kampus Nathalia kosong makanya Lauro juga mengambil hari liburnya.


Tapi sayang, sepertinya Nathalia tak ingin bersamanya. Lauro menuruni pijakan anak tangga dan menatap ke lantai atas yang ia yakini masih ada Nathalia disana tapi tak terlalu yakin di kamar yang mana.


"Aku pergi" pamit Lauro, mungkin lebih baik ia mengikuti mau Nathalia, sembari mencari tau apa yang terjadi pada istrinya.


TBC



maaf lama ya.. mohon oengertianya.. story ini berat banget buat ay πŸ˜­πŸ˜‚ terlalu banyak yang harus ay pahami 🀭 semoga suka sayang