
Setelah membersihkan tubuh, Nathalia mengenakan pakaian yang di berikan Lauro. Sebuah tangtop biru hingga pusat yang di lengkapi jaket jeans dan celana jeans ketat dengan warna yang senada.
Pintu kamar terbuka tapi Nathalia tetap tak mempedulikanya, ia lebih sibuk merapikan rambut, memangnya siapa lagi jika bukan Lauro. Mengingat mereka hanya berdua di dalam penthouse yang bisa di katakan seluas rumah Nathalia.
Nathalia terkejut merasakan tiba tiba ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. Dan ia sudah cukup jelas melihat siapa yang memeluknya dari kaca besar yang sedang mempertontonkan mereka.
Lauro melihat Nathalia seperti bernafsu ia mengecup leher Nathalia yang di tutupi rambut tergerai.
"Wangi"
Lauro menatap wajah Nathalia di pantulan kaca "cantik" lalu tersenyum, mecium sekilas pipi Nathalia lalu pergi meninggalkan gadis itu.
"Sarapan sudah siap baby" kata Lauro sebelum menutupi pintu putih
Nathalia tersadar saat suara klik pintu sudah tertutup. Shit! Kenapa dia tidak bisa berfikir jernih ketika Lauro menyentuhnya?
Apakah dia sudah gila?
Nathalia memejamkan matanya, berusaha mengusir emosi dalam dada. Ia benar benar frustasi karena membiarkan sentuhan fisik. Dan itu berarti dia telah melanggar satu peraturan, bisa jadi karena ini pintu usang berdebu di hatinya mulai menampakan cela.
Tapi Ego dalam dirinya mendorong keras, tak membiarkan Lauro menepati ruang itu. Karena selamanya Axelin telah bertahta.
Lauro juga takan pernah betah pada satu wanita, fikir Nathalia, dan itu terbukti tak ada satu wanita pun yang menjalani hubungan dengannya.
Baru saja kaki Nathalia menginjak lantai ruang makan ini. Aroma masakan kesukaan Nathalia menyerbu indra penciumanya.
"Duduklah baby" ucap Lauro, mengisyaratkan dengan matanya untuk Nathalia duduk di kursi tak jauh darinya.
"Siapa yang masak?"
"Satpam di bawah" ucap Lauro dengan Nada mengoda Nathalia.
Nathalia merasa senyuman yang selalu Lauro tampilkan adalah palsu, buktinya tadi saat dari kejauhan, saat Melihat pria ini sendiri, Wajah itu menampilkan emosi silih berganti menghiasi wajah tampan itu.
Dia seperti menyimpan seribu rasa sakit. Dan Rindu adalah puncak sebelum semuanya berubah saat matanya menangkap pergerakan Nathalia datang dan berganti dengan senyum manis.
"Kau tak kerja?"
"Sudah ku katakan ini hari liburku baby"
"Hmm enak" Nathalia menganggukan kepalanya seolah mengiyakan semua rasa itu.
"Aku bahagia melihat kau tersenyum" lauro menikmati wakah Nathalia dengan tangan kanan menyanggah pipinya.
"Berhentilah untuk mengodaku, karena itu takkan pernah berhasil"
"Aku tak mengodamu, aku hanya mengungkapkan kegilaan terbesarku hanya satu kata dan itu ada namamu di dalamnya"
Nathalia cukup tersedak mendengarkan kalimat spontan dari Lauro, mungkin pria ini memang di desain bermulut manis. Mengabaikan gombalan Lauro Nathlia lebih memilih pertanyaan yang dari dulu ingin ia tanyakan
"Kenapa kau menerima perjodohan ini?"
Lauro terdiam sejenak, mencoba memilih kata "Jika aku mengatakan semuanya karenamu, apa kau percaya?"
"Tidak"
"Lalu kenapa bertanya?"
"Karena aku ingin tahu"
"Dan bibir bisa berdusta, Anggap saja aku memilihmu karena ingin menjagamu" mungkin kalimat ini adalah kalimat jujur yang pernah Lauro ucapkan.
"Aku masi bingung untuk apa kau memainkan hati pria?"
"Untuk uang" jawab Nathalia sekenannya. Memangnya siapa yang peduli tanggapan Lauro padanya.
Lauro mengernyit, Romanove Grup bukanlah perusahan kecil di Granda ini. Dan itu bukan alasanya yang tepat.
"Aku bisa memberikan seberapa banyak yang kau mau"
"Aku ingin mengakses seluruh kekayaanmu"
"Oke"
Nathalia cukup terkejut dengan jawaban yang terlontar dari bibir tipis nan sesual Lauro.
"Jika aku memberikanya bisakah membuatmu berhenti?"
"Kau mulai mengaturku?!" Desis Nathalia.
"Kau bisa menjalankan apa pun di hidupmu kecuali pria, mereka itu makhluk berbahaya"
Tentu dengan senang hati Lauro mengangguk. Mengiyakan semua yang terlintas di kepala gadis ini.
"Lalu kau?" Tanya Nathalia
Menumpukan kedua sikunya ke atas meja lauro menompang wajahnya, memperhatian Nathalia dengan seksama
"Aku pria dewasa dan aku membutuhkan wanita"
"Dan kau bebas menikmati wanita di luar sana setelah menikahiku?"
"Untuk apa?"
Sunyi terjalin cukup lama karena Nathalia tak mungkin menjelaskan maksudnya, karena ia cukup tau dengan jelas pria ini bukan pria mudah.
"Kenapa aku harus mencari di luar, jika wanita secantik dirimu sudah menungguku?"
See... Nathalia mulai sadar jika ia benar benar telah melempar topik paling sensitif. Dan Nathalia ingin mengakhiri ini semua tanpa 'kalah'.
"Aku takan menyentuhmu jika kau tak meminta, aku bisa bersabar sampai kau menyerah. Jangan pernah lengah, aku bisa mencuri hatimu tanpa kau sadari"
Nathalia memutar bola matanya, dia harus secepatnya membatalkan pernikahan ini. Karena Nathalia sadar cara terbaik menghadapi Lauro adalah dengan berlari. Menjauh untuk menghentikan segala kemungkinan terburuk.
"Dari pada memahami orang lain, terkadang lebih sulit memahamin keinginan kita sendiri" Lauro telah berdiri, mengambil jaket jeans yang tersampir di kepala kursi lain.
Nathalia sadar membiarkan Lauro masuk ke dalam hidupnya adalah bahaya terbesar yang pernah ia lakukan. Pantas saja ia disebut playboy nomor satu yang bermain tanpa mematahkan hati wanita.
Apa pun yang ia ucapakan adalah benar. Nathalia sudah merasakan sesuatu yang lain dari dalam dirinya. Dan itu berkat Lauro, itu telihat jelas saat tangan kanan Nathalia menyentuh dadanya.
Aku benar benar harus menjauhi lucifer satu ini!
ππππ
Ini pemandangan tak biasa bagi Nathalia, mungkin bisa di hitung dengan jari adegan sperti ini. Maria menyiapkan segala makanan di atas meja.
Nathalia masuk ke ruang makan di ikuti langkah Lauro di belakangnya, benar seperti sepasang pengantin baru yang datang mengunjungi orang tuanya.
Nathalia menyentuh kepala kursi, ia bersiap menerima segala amukan dari Maria yang menatapnya tajam.
"Pagi ma..." kalimat Lauro menerbitkan senyum Maria.
"Pagi sayang, ayo duduk, maaf jika Nathalia merepotkanmu. Dia memang banyak kekurangan, semoga kau mengerti"
Entah bagaimana respon Lauro karena saat ini Nathalia memblakangi pria itu. Dan Nathalia tak bisa menahan matanya untuk tidak melirik pria itu.
"Tidak, Nathalia yang gadis manis"
Oke jika seperti ini, serahkan saja semuanya pada Lauro. Sepertinya pria itu memang ahli dalam memenangkan hati siapapun.
"Masakanya keliatan sangat enak" ucapan Lauro terdengar tulus "wangi" Lauro mengendus aroma masakan itu, lalu seperti biasa senyuman itu merekah.
Mungkin terlalu ketara, seperti ibu ibu pada umumnya yang menyukai pujian atas masakannya. Apa lagi itu adalah maria, ibu yang satu ini mungkin masuk katagori ibu yang tidakΒ terlalu pandai memasak. Karena bisnis adalah pekerjaan utamanya.
"Ayo makan sayang"
"Kami sudah makan" bantah Nathalia, lalu mendapakan tatapan tajam dari Maria. Lalu matanya belari menatap Lauro dengan tatapan --benarkan?
"Sedikit saja, mama sudah memasaknya" ucap Lauro sebelum menarik kursi untuk Nathalia duduki.
Selain bermulut manis mungkin attitude priaΒ ini cukup membuat Nathalia mengcungi jempol.
Tapi sedetik kemudian Nathalia bersukur karena masakan Maria hari ini sungguh tidak enak! Lalu mari kita liat bersama sama bagaimana pria ini,Β apakah ia masi mampu untuk menampilkan mulut manisnya?
Nathalia sangat menantikan itu!
"Hmm... seperti dugaanku.. ini enak"
Nathalia melongo mendengar ucapan Lauro. Bahkan tumpuan siku kanannya dia atas meja terjatuh melesat karena tiba tiba gadis itu menoleh melihat wajah Lauro.
Tak ada raut wajah aneh disana. Pria itu terlihat tulus mengatakanya. Jelas jelas makanan itu asin dan pahit karena di masak terlalu lama.
Bahkan Nathalia tak tahu bahwa selain pengoda yang handal, pria ini juga pembohong yang mahir.
TBC
katanya berbagi itu indah πππ nih ay bagiin π cinta ama rambut bg L yg sekarang lenih macho tpi futunya masi dkit πππ
ay sengaja nyari futu Jade yang tebel makeup karena ini sttnya dia masi toxic π harus dpt feelnya... maapya bebe