Take My Life

Take My Life
chapter 43



Saat matahari hampir sampai pada tempat peristirahatanya, cahaya malu malu keoranye menghiasi setiap penjuru langit. Senja menyapa dengan lambaian kenyaman yang menggoda.


Di hamparan tanah luas ini, Emily dan Evan turun dari mobilnya begitu juga Lauro dan Nathalia yang juga turun dari motornya.


"Sudah lama sekali aku tak kesini" seru Evan.


"Ini..." Nathalia sedikit bingung, kenapa mereka berada di sini? Bahkan tak ada satu pun dari ketiga manusia ini yang berniat untuk memberitahukan kemana mereka akan pergi tadi.


"Hmm... aku ingin mengenalkanmu pada seseorang" Ucap Lauro sembari menuntun tangan Nathalia untuk masuk dalam kawasan peristirahatan terakhir manusia.


Nathalia tahu jelas ini adalah tanah pemakamam pribadi karena di gerbang depan, saat mereka memasuki area pemakaman ini, gerbang depan di ukir dengan lambang L&M. begitu melewati gerbang matanya di manjakan oleh pepohonan yang tertata rapi.


Saat dia sudah benar-benar sampai pada lokasi pemakaman Keheningan menyambut kedatangan mereka, kenyamanan penuh damai menemani perjalanan mereka.


Langkah demi langkah mereka melewati makam demi makam seseorang yang telah usai dalam hidup yang melelahkan. Hingga langkah Lauro terhenti pada sebuah batu persegi hitam mengkilap berdiri kokoh di atas permukaan tanah.


Ini adalah rumah Evgania sekarang yang tidur dalam keabadian.


"Aku datang baby" ucap Lauro penuh senyuman kerinduan, dan itu terlihat jelas dari lirikan mata Nathalia.


Pria itu melangkah memberikan setangkai bunga mawar putih yang masih segar. Lalu di susul oleh Evan dan Emily juga meletakan seikat bunga Gladiol putih.


Emily menyentuh lama batu nisan itu seolah menyampaikan bahwa ia benar-benar menyayangi gadis yang sedang tertidur di bawah sana. Lalu melangkah mundur untuk menyetarakan posisi Lauro.


Di nisan hitam berbentuk persegi terukir nama Evgania Elsa Mclan. Wanita yang usianya sudah dua puluh enam tahun jika ia masi hidup.


Siapa?


Nathalia bertanya dalam diam, ia melirik Evan, Emily dan terlebih Lauro menatap makam itu dengan sorot penuh kerinduan.


Tangan Lauro terulur menyentuh lengan kurus Nathalia dan menuntun untuk berdiri tepat di depan batu, seolah batu itu adalah sosok seseorang.


"Hay Ev... apa kabarmu disana?"


"Aku pernah bercerita padamu tentang dia, bukan?" Ucap Lauro menatap batu itu. Seolah bermonolog.


"Dia Nathalia, yang sekarang telah menjadi istriku..." ucapan Lauro terhenti lalu tersenyum dan menuntun tangan Nathalia untuk naik keatas menyentuh bibirnya, Lauro megecup cincin pernikahan mereka dan memperlihat pada sosok Evgania yang ia yakini sedang memperhatikan mereka "tak perlu khawatirkan aku lagi"


"Karena aku telah bahagia saat ini baby" jika tidak salah lihat Nathalia melihat ada kristal bening yang menetes di pipi kanan Lauro. lalu secepatnya di tepis oleh pria tampan ini.


Lauro menghirup dalam-dalam udara yang mulai mendingin untuk mengurangi Emosi yang baru tercipta "Ku harap begitu juga dengan dirimu"


Lauro mendekap tubuh Nathalia dari samping "dia adalah seseorang terpenting dalam hidupku dulu" kini giliran lauro memperkenalkan Evgania pada Nathalia.


"Jauh sebelum aku bertemu denganmu, adik dari Elroy dan putri tunggal dari aunty Angel yang memeluk mu tempo hari, kau ingat?"


Nathalia tampak shock, mengangguk mantab lalu menoleh pada batu hitam itu. Bingung.


"Pacarmu?"


Lauro melebarkan senyumnya dan menggeleng "bukan, dialah penyesalanku, terlalu lama menipu diriku sendiri" karena pada dasarnya memang benar, Evgania blum pernah sempat menjadi kekasihnya. Bisa jadi sampai saat ini gadis itu hanya menganggap L adalah sahabat dari Elroy.


Nathalia menaikan alis matanya pertanda ia tak mengerti.


"Dia cinta pertamaku" ucap Lauro terus terang dan membuat wajah Nathalia berubah sedikit muram. Lauro menatap gemas pada Nathalia dan menyentuh puncak kepala wanita itu


Bukan hal tabu bagi seorang wanita, cemburu pada sosok yang dulu pernah menghiasi hati suaminya, walaupun itu sudah lama berlalu.


Egois?


"Sekarang hanya kau baby" jelas Lauro pada akhirnya.


Emily mundur perlahan, hingga pergerakanya terhenti karena Evan mendekap kedua bahunya. Emily mendongak menatap Evan, lalu Evan mengeleng seraya berkata 'dont be crying' tanpa suara.


Jika ada yang mengira Emily akan bahagia karena kepergian Evgania, sebab ia begitu mengangumi sosok Lauro, mereka salah. Gadis ini begitu menyangi putri keluarga Mclan itu, karena sosok Evgania bak kakak kandung bagi Emily.


"Ev..." suara Emily mulai bergetar dan sebutir kristal bening jatuh di pipi kiri Emily "I miss you when Im sad. I missed you when Im alone. But I most miss when I’m happy" Emily tak bisa menahan segala kesedihanya, ia begitu merindukan sosok Evgania di kehidupanya yang terasa datar dengan semua orang yang terlalu sibuk dengan aktifitas mereka.


Melihat Emily yang mulai menangis, Eva langsung melangkah kedepan menutup tubuh mungil Emily "Jangan dengarkan dia" sambar Evan seolah sekarang adalah waktunya untuk memonolog pada adik sahabatnya ini


"kau tau diakan? Kebahagiaanya adalah menyulitkan orang lain, jadi kau tak perlu pedulikan dia" ucap Evan seraya tersenyum.


"Karena kau tahu, 13 jam dalam hidupnya hanya untuk menga--- oh shit" kalimat Evan terpotong lalu berganti dengan umpatan, saat kaki mungil Emily yang terbalut sepatu 12 senti menendang tulang keringnya.


Emily menyentuh kakinya yang terasa sakit, karena mungkin tulang Evan tebuat dari beton "Kau gila? Kau mencemarkan nama baikku di depannya!" Ketus Emily melupakan kesedihan yang sudah di lapisi amarah saat ini.


"See... kau bisa lihatkan? Bagaimana dia berpura-pura" ejek Evan lagi yang membuat Emily makin meradang.


"Aku tidak berbohong berengsek!!!" Emily berjinjit untuk menyumpal bibir sensual Evan, bahkan gadis itu sudah tak sabar untuk menguburkan pria ini hidup-hidup.


"Aku bersumpah Ev, aku benar benar merindukanmu, percayalah padaku" jelas Emily takut jika mendiang Evgania salah paham akan dirinya.


Lauro menghela nafas "seharusnya aku menanyakan umur kalian saat aku akan mengajak kesini"


"Aku sudah dewasa" bantah Emily cepat.


Lauro hanya mengendikan bahu untuk menyindir pernyataan Emily barusan. Sehingga membuat emily menatap Evan dengan tatap setajam belati. Semua karena pria brengsek ini.


Pertengkarang kecil terjalin dan usai dengan sendirinya saat berjalannya waktu.


"I miss u so much baby" ucap Lauro pada akhirnya dan menuntun Nathalia untuk meninggalkan area kedamaian.


"Bahagia disana" ucap Emily seraya melambaikan tangan ingin meninggalkan Evgania.


Nathalia menoleh kebelakang, ia terlalu penasaran akan sosok cinta pertama Lauro.


Kapan gadis itu tiada.


Kenapa gadis itu pergi


Dan sebesar apa pengaruh gadis itu di hati Lauro.


Apakah kisah mereka sama? Lauro juga menjalani luka yang ia rasakan? Kepergian seorang kekasih dengan cara yang menyakitkan?


Jika ternyata benar, tak ada yang lebih baik darinya, bisa jadi Lauro menyembunyikan hal yang lebih buruk dari yang Nathalia bayangkan.


Ini pertama kalinya Nathalia benar-benar penasaran atas kehidupan seseorang. Nathalia melihat Lauro, senyum itu selalu ada di wajahnya. Sekarang Nathalia baru menyadari.


Bahwa senyuman yang selalu ia gunakan adalah topeng untuk menutupi kabut duka di hatinya. Lihat saja sekarang walau tak berhadapan pada siapa pun mata itu menatap kedepan meneliti perjalanan dan senyumnya tak pernah pudar.


TBC


Maaf lama 😭


Feelnya g ada 😭


Sesulit itu bikik karakter baik 😩 enakan yang berantem2 ae šŸ˜‚