Take My Life

Take My Life
chapter 25



Evan benar-benar membenci hari ini dalam hidupnya, dimulai dari pagi ini seorang gadis gila mengedor pintu kamarnya. Bahkan EvanΒ  sendiri bingung, darimana gadis gila ini tahu dimana dia menginap di negeri matador ini?


Bayangkan dia baru sampai di spanyol jam tiga dini hari dan jam sembilan pagi gadis ini sudah menekan bel dan mengedor pintunya seperti orang kerasukan.


Dia Emily Barack , Adik perempuan Matthew Barack sahabat Evan. Tapi pria dengan kulit putih ini sama sekali tidak berniat menganggap wanita itu adik sahabatnya. Karena dia benar benar gadis yang merepotkan.


Seperti namanya Emily, gadis ini benar benar pekerja keras!, ia selalu bekerja keras dalam merepotkan orang lain.


"Evan lihat"


Evan mengabaikan gadis yang sedang berdiri di depanya ini. Evan bahkan bersumpah... jika bukan karena warisan ayahnya, Evan tak mungkin berada di Toko sepatu di salah satu mall ini. Anggap saja David stevano sangat menyayangi gadis menyebalkan ini karena mereka memang dekat.


Dan hubungan itu berakhir dengan...


Dia di paksa menemani bayi besar ini berbelanja!


"Evaaan... ayo lihat" rengek Emily tepat di depan wajahnya, dengan wajah memohon.



Merasa terusik Evan menggeretakan gigi untuk mengusir Emosi dalam dada, jangan lupakan tatapan tak suka pria itu yang membuat Emily tersenyum geli.


"Cantik?" Tanya Emily menujukan kaki mulusnya yang berbalut sepatu high heels.


"Ya"


"Ih.. kau kenapa? Cemberut terus!" Emily berjalan dan duduk di sebelah Evan.


"Kau tahu jawabnya!"


"Makanya jika kau ingin terbebas dariku, tolong beri aku jalan untuk mendekati Lauro!"


Inilah salah satu alasan dari seribu alasan yang Emily punya kenapa ia lebih dekat dengan Evan dari pada kakak kandungnya sendiri. Itu karena Evan bisa di katakan adalah bayangan Lauro, pria itu sangat dekat dengan Lauro.


"Dalam mimpimu! Lauro tak suka wanita datar sepertimu!" Evan mengatakan hal yang menyakitkan itu senteng yang ia bisa dengan terus memainkan game di ponselnya.


"Evan!..." Emily duduk di sebelah Evan dan hampir merampas ponsel itu.


"Shit! Jangan membuatku marah!" Evan murka. Menjauhkan ponselnya dan menatap Emily dengan tatapan tak suka.


Bukanya takut Emily malah menyentuh pipinya dan terkekeh geli menatap Evan. Ia benar benar menyukai sikap kasar dari Evan karena belum ada pria yang berani sekasar itu padanya.


"Kau tampan" ucap Emily sebelum mengedipkan sebelah matanya untuk mengoda Evan.


"Bocah! Bisa kita selesaikan semua ini?" Aku sibuk!" Ketus Evan.


Gelak tawa Emily mengisi udara di dalam toko itu. Emily menyukai umpatan kesal dari bibir tipis Evan. "Inilah yang membuatku selalu merindukanmu Evan"


Evan beranjak memasukan ponselnya kedalam jas. Lalu mencondongkan tubuhnya agar mendekati wajah Emily yang duduk di sofa.



"Hentikan gombalan recehmu atau aku akan membunuhmu saat ini juga" ancam Evan dengan dengan wajah bak malaikat sangat tidak cocok dengan kata kata yang baru kluar dari bibir tipis itu.


Lalu Evan memasukan kedua tanganya ke dalam saku sembari melangkah keluar stand.


Evan melangkah lebar berharap gadis gila dengan kaki pendek itu tak bisa mengejarnya.


Tapi yang ia dapatkan adalah keterkejutan. Gadis dengan mata grey persis seperti kakaknya itu kini sudah berjalan tepat di sebelahnya. Terkadang Evan heran sekaligus berfikir mungkin wanita adalah makhluk ajaib. Karena dengan sepatu yang Evan yakini mencapai 12 centi mereka masi bisa berjalan cepat bahkan berlari tanpa terjatuh.


Luar biasa!


Tapi langkah Evan terhenti saat tanganya tertarik oleh tangan kecil milik Emily. Evan sempat ingin marah tapi ekspresi gadis cantik dalam balutan dress mini warna merah kombinasi putih ini, ia mengurungkan niatnya. Karena Emily tengah menutup mulutnya yang menganga dengan tanganya sembari mengeleng menatap kearah berlainan.


Evan menyusuri pandangan Emily, bahkan Evan juga tak bisa mempercayai pemandanganya saat ini! Bagaimana tidak saat ia melihat sahabatnya, playboy kelas dewa sedang merangkulkan tanganya pada pinggang seorang wanita berambut coklat panjang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Oke, itu memang Nathalia tunangan Lauro. Tapi sepanjang perjalanan ia mengenal Lauro pria itu anti memiliki hubungan bersama seorang gadis di hadapan publik. Karena itu sama saja mematikan karirnya sebagai playboy senior dan ini sangat mustahil.


Keterkejutan Evan henyah tak bersisa saat cekalan di tangan pria itu mengerat, Emily mecengkram erat tangan Evan. Mungkin untuk mengalihkan sakit hatinya. Karena Evan saksi bagaimana Emily sangat menyukai sosok Lauro. Tapi otak yang di miliki gadis ini membuatnya sering gagal mendekati pria jenius itu.


Bahkan Evan ingat bagaimana Emily menyusulnya ke italy hanya untuk menumpang menangis tersedu di kamarnya karena gagal masuk ke universitas kedokteran milik keluarga Morales. Jangan tanyakan kenapa alasanya.


Evan sempat ingin membawa gadis ini dalam dekapanya, karena bagaimana pun menyebalkan gadis ini dia hanyalah gadis biasa yang bisa terluka.


"Dia mirip seseorang" tanya Emily dengan suara tercekat. Pandangan matanya tak bisa membohongin siapa pun karena saat ini dia tengah di landa kebingungan maha dahsyat.


"Ayo pergi" ajak Evan ingin menyelamatkan hati Emily untuk tak terluka lebih dalam. Evan berusaha bersikap baik.


Tapi Sepertinya Emily tak bisa beranjak dari sana "keturunan Mclan?!" Tanya Emily meminta pembenaran atas ucapanya.


Evan menghela nafas pelan, Menatap kedua pasangan itu yang kini masuk di toko pakaian ternama. "Bukan dia bukan Evgania, adiku itu telah damai dalam tidurnya"


"Dia Nathalia" Evan menjeda kalimatnya untuk tak melanjutkan kalimatnya yang ia yakini akan menusuk hati gadis ini lebih dalam "Tunangan Lauro" Evan tak punya pilihan lain. Karena mulai saat ini Emily harus melupakan Lauro untuk selamanya karena rasa cintanya itu adalah kesalahan mulai dari beberapa hari yang lalu. Saat lauro menyarungkan cicin berlian merah delima di jari manis Nathalia.


"Tu... tunangan? Kau bercanda!!!" Emily marah. Ia tak menyangka akan mendengar berita ini dari sahabat kakanya sendiri kalau pria yang ia kagumi sudah memiliki hubungam dengan wanita lain.


"Apa aku prnah membohongimu?"


"Tapi bagaimana bisa gadis itu memiliki wajah siapa tadi?"


"Ev"


"Oh ya Ev? Jangan bilang dia menjebak Lauro dengan mengoperasi wajahnya agar terlihat mirip seperti keturunan Mclan? Ucap Emily tak suka. Bahkan Emily sudah bersusah payah mendekati pria itu tapi nyatanya Lauro tak berminat padanya karena menganggapnya hanya seorang adik dari sahabatnya.


"Hentikan fikiran burukmu? Bisa saja saat ini L yang memanfaat gadis itu" ucap Evan membuatnya di hadiahi Emily tatapan setajam pedang.


"Kenapa kau membelanya? Apa kau menyukainya? Apa dia juga sudah memainkan hatimu?" Ucap Emily memukul dada bidang milik Evan.


See... bisa kau bayangkan bagaimana menyebalkan gadis ini? Evan memutar matanya malas. Apa semua harus memakai rasa?


"Kenapa para gadis jarang berfikir mengunakan otak? Kau tahu seberapa cintanya Lauro pada Evgania? Belum ada wanita yang bisa mendapatkan hatinya selain Evgania. Dan wanita itu berada di posisi ini mungkin saja Lauro menganggapnya bayang semu Evgania!" Jelas Evan


"Tapi bisa jadi gadis itu mengoprasi wajahnya agar telihat seperti Evgania Evan!" Balas Emily tak mau kalah! ia yakin, Lauro takkan pernah sejahat itu pada wanita. Lauro adalah pria terbaik sealam semesta selain ayah dan matthew kakak kandungnya.


Evan bercakak pingang mengalihkan tatapannya menatap krumunan yang menatap manusia bak dewi dan dewa itu dari tadi.


"Jika itu memang niatnya, dia tidak akan menunggu selama ini untuk mengaet Lauro! 12 tahun Emily! Itu bukan waktu yang sekejap"


"Bisa jadi dia menunggu Lauro mapan dan sukses?!" Bahkan Evan terkejut dengan segala fikiran negatif dari wanita kecil ini. Bagaimana isi kepalanya itu adalah hal yang paling keji.


"Dengar, baby! Emily... tolong dengar kau lupa siapa johan morales? Tanpa status dokter spesialis Lauro dia sudah menjadi mapan dan kaya sejak lahir. Kau paham!"


Awalnya emily mengangguk mengiyakan segala ucapan Evan, tapi jangan lupakan jika Emily gadis yang tak pernah mengalami kekalahan dalam hidupnya dia menghalau segala ucapan Evan tadi dan hampir beranjak meninggalkan Evan. Jika saja Evan tidak menarik kerah belakang dress emily.


"Mau kemana?"


"Memberi tahukan kebenaranya pada Lauro dan gadis sialan itu!"


***... Evan mengusap wajahnya untuk mengurangi rasa kesal. Lalu sperkian detik kemudian ia langsung mengambil alih tubuh ramping Emily. Ia mengangkat emily seperti karung beras di atas pundaknya.


"Evan!"pekik Emily terus memukul punggung kokok Evan.


Jangan lupakan tatapan manusia di sana dengan pasangan gila ini. Jangan pernah berfikir jika seorang Evan Stevano akan peduli ia terus berjalan menghiraukan tatapan orang lain.


"Diam atau aku akan melemparkanmu!"


Tak ada suara triakan dari Emily lagi yang kini berganti dengan isakan.


Evan menurunkan tubuh Emily dan menatap gadis itu dengan membungkukan tubuhnya. Karena demi ayam yang bertelur, mungkin Emily adalah gadis paling pendek sedunia.


"Baby... i'm so sorry. Tapi bisakah kau berhenti? Lauro tak pernah menganggapmu? Itu karena ia tak ingin menyakiti hatimu lebih dalam"


Emily terus menunduk seperti menangis tapi sedetik kemudian pergerakan gadis itu memancing umpatan kesal dari bibir sensual Evan.


Gadis dengan rambut panjang bergelombang sepinggang itu berlari kearah Stand yang Lauro dan Nathalia tadi masuki. Bahkan sekarang Evan berdoa dengan Heells 12 centi yang gadis itu pakai, gadis itu terjatuh sebelum ia bertemu Lauro. Agar Evan bisa menyeret gadis gila duplikat nenek sihir ini pulang!


Emily keparat!


TBC


maaf ay g bisa bikin semua karakter jadi novel... ay g kuat πŸ˜‚ siapa kemarin yang minta story Evan? ini ay kasi dikit ya πŸ˜‚πŸ˜˜


maaf jika alurnya terkesan lambat karena ini novel sayang bukan cerpen ay harus jelasin detailnya setiap bab. Novel itu perlu jiwa dan nyawa untuk hidup jangan buru2 ntr dia bisa mati 🀣 (ini menurut ay loh, karena ay baru nulis. jangan kasi tau yg lain ntr jdi g enak 🀣 sok2 bet penulis amatir ngebcot ) perhatikan setiap clue yang ay kasi di setiap babnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ untuk mecahin konflik klimaks. ay selalu makek konflik batin ya πŸ˜‚ ga ada pelakor di sini baby πŸ˜‚ ay g pande πŸ˜‚


jade weber as Emily barack





joshua honeycutt as Evan setavo