Take My Life

Take My Life
extrapart 02



Lauro masih berkutat dengan organ dalam tubuh manusia di atas meja operasi ini. Tanganya begitu cekatan saat menyambungkan pembulu darah ke mesin jantung paru (heart lung machine).


Beberapa tetes keringat serta turut mebasahi pelipisnya hingga seorang perawat bertugas untuk menyeka keringat itu.


Suasana begitu mencekam saat Lauro sudah begitu fokus pada pasien di depanya ini. Berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada pekerjaanya, karena beberapa saat yang lalu sebuah berita bahwa Nathalia tiba-tiba masuk kedalam ruangan persalinan membuat Lauro khawatir.


Jika sudah seperti ini, seorang Dokter harus mengabaikan kehidupanya, karena satu nyawa sedang merintih memohon pertolongan tanganya.


"Tahan" ucap Lauro memberi arahan pada asistennya yang ada di depanya.


Lauro mulai menjait bagian dalam rongga dada, lalu mengangkat beberapa kasa yang sudah di gunakan untuk menahan pendarahan tadi.


Lauro melakukanya begitu tenang tanpa ada raut gelisah sedikitpun, tapi jangan di tanya. Sungguh, saat ini hatinya tak tenang terbukti mata itu terus menyipit sebagai bukti ia selalu berusaha mengumpulkan konsentrasi penuh, dan membuang jauh-jauh fikiran tentang Nathalia.


Karena pada dasarnya ini operasi Citto, tak semua Dokter bersedia melakukan operasi berbahaya ini.


Beberapa jam berlalu hingga Lauro bisa tersenyum saat menyatukan tulang dada itu dengan kawat khusus. Lalu meminta asistenny melanjutkan kerja menjahit bagian luar.


"Syukurlah, pantau terus kondisinya" pinta Lauro yang telah mundur dan di bantu oleh perawat lain untuk membuka baju khusus bedahnya.


"Terimakasih Dok"


"Terimakasih atas kerja keras kalian" Lauro membuang sarung tangan kedalam bak sampah lalu membuka baju khas bedah itu dan menganti dengan baju dengan warna yang sama.


"Selamat Dokter, bayimu perempuan" ucap seorang perawat yang baru memasuki ruang operasi.


"Aku sudah tahu" Lauro tersenyum "dia pasti secantik ibunya"


"Aku sudah menjadi seorang Daddy" ucap lauro mengedipkan matanya sebelum berlari meninggalkan ruangan.


Rasa pegal di kaki karena berdiri sekian lama tak terlalu ia rasakan, kaki itu terus berlari melewati lantai ini dengan senyum abadi yang merekah di wajahnya.


"Wohoooo" teriak Lauro di lobby saat ia sudah memasuki gedung besar ini, karena gedung tempat ia melakukan operasi tadi berbeda.


Semua mata tertuju padanya, jika alasanya tampan itu sudah biasa. Tapi, jika gila ini baru yang perdana. Maklumi saja karena dia pemilik tunggal Rumah sakit besar ini sekarang, jadi takan ada yang berani menegurnya.


Kaki itu berhenti di depan lift.


"Sial, kenapa tak satu pun situasi yang berpihak padaku hari ini" tangan itu terus memencet tombol lift. Ia cukup waras untuk tak mengikuti egonya yang menyuruhnya untuk naik tangga darurat saja.


Ia bisa mati kelelehan jika melakukan itu. Bagaimana bisa ia mati saat dia sudah berada di posisi ini? Setelah ia melewati beribu rasa sakit. Never!


Lauro ingin bahagia bersama istri dan anak-anaknya.


Ting!


"Malam dok" sapaan seorang perawat menyambut kedatanganya ke dalam lift ini.


"Malam"


"Kau sudah bertemu Mrs. Morales Dok?"


"Aku akan kesana"


"Ini" ujar perawat itu menyerahkan ponsel dari dalam sakunya, serta layarnya menampilkan sebuah foto seorang wanita di atas ranjang pasien sedang mencium seorang bayi.



"Cantik" ucap Lauro seketika lalu menekan layar ponsel untuk menghapus foto itu.


"Loh--" perawat itu sedikit terkejut dengan tindakan Lauro, kenapa dia menghapus foto itu?.


"Aku tak ingin berbagi wajah putriku dengan siapapun?" Ucap Lauro dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


"Dia putriku, kesayangan seorang morales!" Setelah mengucapkan itu Lauro kembali berlari keluar lift, karena lift telah terbuka.


"Beritahu siapapun yang memiliki foto Aurora, untuk segera di hapus!" ujar Lauro berteriak di ujung jalan pada perawat itu.


Perawat itu hanya melongo sembari berfikir, siapa itu Aurora hingga pintu lift tertutup dan menghentikan pandangan di antara mereka.


Lauro telah sampai pada kamar perawatan Nathalia, wanita itu telah di pindahkan ke ruangan ini sejak dua jam yang lalu.


"Sayang" suara Lauro mengudara, berjalan lambat sekaligus mencerna apa yang terpampang di depan mata.


"Daddy" ucap Nathalia, seolah sedang mengajarkan anaknya yang masih bayi untuk melihat Lauro.


"Aurora?" Tanya Lauro yang di balas anggukan dan senyuman oleh Nathalia.


Aurora Morales adalah nama putri mereka yang sudah mereka siapkan dari jauh hari. Sebuah kristal bening mengalir di pipi Lauro seolah mengungkapkan bertapa bahagianya dia saat ini.


"Terimakasih sayang" ungakap Lauro, kemudian sebelah tanganya merengkuh Nathalia dan Mencium dahi itu sekilas.


"Maaf ya, aku tak bisa menemanimu tadi"


"Tak masalah, kau melakukan yang terbaik?" Tanya Nathalia yang di balas anggukan oleh Lauro.


"Masih terasa sakit?"


"Iya rasanya seluruh tubuhku patah-patah"


"Maafkan aku"


"Haha ... aku bercanda sayang"


"Aku tahu itu semua benar, pada kenyataanya tubuh manusia hanya bisa menahan sakit hingga 45 Del (unit rasa sakit) sedangkan melahirkan,  seorang wanita bisa merasakan hingga 57 Del"


Nathalia tersenyum, bangga karena dari semua rasa sakitnya. Tuhan mengirimkanya seorang manusia berkwualitas dewa seperti ini.


"Terimakasih" ucap Lauro sekali lagi.


"Dia wajib bangga" ucap Nathalia ingin mengubah suasana, mengusap pipi gembul putrinya dengan jari telunjuknya.


"Memiliki Daddy sehebat dirimu"


"Dan sekuat mommynya" sahut Lauro tak mau kalah. Hingga mereka pun tertawa.


"Seperti keluarga bahagia, ya!" Ketus Emily, gadis dengan hak sepatu 12centi masuk dengan di susul oleh seorang pria tampan siapa lagi jika bukan Evan.


"Harus" balas Lauro.


"Kau masih tak menyukaiku?" Tanya Nathalia sembari menyenderkan punggungnya di ranjang.


"Tak ada alasan untuk aku menyukaimu" Emily berjalan menghampiri Lauro, serta menyentuh Aurora kecil "selamat datang di dunia cantik" ucap Emily gemas, berbading terbalik dengan nada yang ia ucapkan pada Nathalia.


"Sebentar lagi kita juga akan memilikinya, baby" ucap Evan menggoda gadisnya.


"Tutup mulutmu itu!" Ketus Emily.


"Jangan mengotor telinga Aurora dengan perdebatan kalian" tungkas Lauro mencoba menjauhkan putrinya dari hadapan Emily.


"Dia yang mulai, L" rengek Emily


"Jangan menyentuh anakku jika kau masih membenciku!" Sela Nathalia pada Emily, karena sedari tadi gadis itu ingin menyentuh putrinya.


"Jangan terlalu percaya diri, tak ada alasan juga untukku untuk tak menyukaimu"


"Lalu?"


"Wajahku sudah tersetting untuk seperti ini dari lahir"


Hingga semua yang ada di sana tertawa, begitulah seorang Emily. Gadis cantik yang selalu ingin terlihat arogant padahal sebenarnya ia memiliki hati yang baik.


"Ajari aku menggendong dia" pinta Emily.


"Jangan! ayo kita bikin saja, Baby"


"Evan, sekali lagi kau mengeluarkan ucapan mesummu aku bersumpah akan menikahimu sekarang juga!"


"Ancaman yang paling ku tunggu" Evan tegelak keras hingga Aurora kecil terusik dan menangis.


"Kau membuatnya takut, Evan"


"Sorry"


"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Lauro setelah menyerahkan Aurora kecil pada Nathalia.


"Bulan depan" ucap Evan dengan senyuman menggoda Emily.


**Bersambung ke extra part 03


ay terhura 😘😘😘 pada baik banget tmn2 ay di Nt ini haha g ada yang marah2 padahal ay udh lama ilang


eh maap janji ay kmrenkan cma extrapartnya cma 2 tpi ini ay bikin 4 part gppkan 🤣


lagi halu ini astagfirullah**


NB: fotonya ay hapus dulu biar cpt lolos ya 🤧🤧🤧 ntr ay review lgi ama foto