Take My Life

Take My Life
chapter 41



"Hy L..." ucapan Emily terpotong saat mata indanya menangkap pemandangan yang benar benar tidak ingin di lihatnya saat ini.


Emily sangat kesel saat melihat pria dambaanya muncul bersama wanita siluman iblis ini, wanita itu terlihat sumringah memeluk otot bisep Lauro dengan santai hanya karena pria itu sekarang sudah berganti status menjadi suaminya.


Lalu apakah ia bisa leluasa seperti ini? Menjijikan!


Apa lagi tangan Lauro yang melingkar di pinggang ramping si siluman iblis membuat emosi Emily berada di ubun ubun.


"Kalian disini?" Ucap Lauro santai seraya menuntun Nathalia untuk duduk di sofa yang sama dengan Evan.


"Seperti yang kau lihat" balas Evan


Tapi...


Lauro meringis saat melihat wajah Evan yang di hiasi memar biru "kenapa wajahmu?"


"Dia" ucap evan Evan memberi kode bahwa gadis itu, Emily yang tak jauh darinya. seolah memberi jawaban bahwa wanita gila ini adalah penyebabnya.


"Lalu sebelahnya?" tanya Lauro lagi karena memar di pipi kirinya jauh lebih pekat.


Evan memberi sebuah isyarat pada Lauro bahwa disana ada Nathalia, dia tak nyaman berbagi hal dengan orang yang baru ia kenal meski pun wajah itu terlihat sangat familiar.


Nathalia yang cukup paham dengan situasi ia menepuk kedua pahanya untuk menengelamkan Emosi, dan hampir berdiri sebelum seseorang mencekal tanganya untuk duduk kembali dan menutun Nathalia masuk dalam dekapanya.


Lauro menatap tajam pada Evan "Dia istriku! dia takan kemana mana, jika itu terlalu penting untuk mu sampai tak bisa di dengan Oleh istriku"


" kau bisa menyimpanya sendiri" tegas Lauro. Karena mungkin jika berada di posisi Nathalia ia juga akan sedih karena di anggap sebagai orang asing.


Ucapan Lauro membuat Emily memutar bola matanya, malas. ia cukup muak berada disini. Demi tuhan... Ia hanya ingin bertemu L bukan wanita laknat ini. Dan dia juga tak pernah bermimpi akan menyaksikan drama murahan ini sekarang!.


Nathalia cukup senang mendengar kata kata Lauro barusan, tapi ia tetap tak ingin menjadi batu sandungan oleh kedua pria ini.


Dan ia cukup malas melihat gadis yang ada di sebrang. Cukup wanita itu tak menganggu Lauro maka Nathalia akan membiarkanya.


"Oh... tak apa L, aku ingin ke kamar mandi, kalian bisa lanjutkan aku tidak akan mendegarnya" ucap Nathalia mantab dengan menyindir Evan.


Evan mengikuti pergerakan Nathalia hingga gadis itu masuk kedalam pintu putih kamar mandi.


"Kurasa Ev dan Nathalia benar benar kembar L" seru Evan


"Wajahnya ciptaan manusia liat saja garis wajah wanita itu" celetuk Emily yang paham akan garis operasi.


Lauro menghela nafas kasar "bisakah kau membedakan Evgania dan Nathalia?"


"Jelas berbeda nathalia gadis penipu dan Evgania adalah temanku" sambar sarkas dari Emily kembali mengudara.


"Kurasa kau harus memperbaiki bahasamu tentang istriku Em!" ucap Lauro datar dan raut wajah yang seperti biasa seolah sekarang ia sedang bercanda mengatakan itu.


"Jaga ucapanmu" jelas Evan untuk mempringati Emily, Emily meremas kedua tanganya di atas rok. Ia ingin menangis saat ini.sungguh! kenapa kedua pria ini membela si penipu ketimbang dia.


Dia adalah orang terpenting bukan mahal si perempuan penipu murahan itu!


Dia harus membalas Nathalia dengan hal yang takan pernah wanita itu lupakan.


Harus!


"Mustahil ada yang semirip itu L, setiap aku melihatnya aku merasa ada Ev dalam dirinya, hanya tatapan itu..." Evan mengalihkan tatapanya pada Lauro seolah meminta pembenaran "ya hanya tatapan itu yang membuat aku sedikit asing"


"Kau tau Ev terlalu lembut untuk kita dan Nathalia sepertinya pas untuk kita seperti... seseorang" ucap evan melirik Emily yang menatapnya dengan tatapan membunuh


"Jangan menyamakanku dengan orang lain!"


Lauro menarik penutup kepala khas dokter bedahnya dan melemparkan itu keatas meja. Kenapa semua orang begitu bodoh untuk membedakan Nathalia dan Evgania.


"Evgania seumuran dengan Keyra istri kenzo jika ia masi hidup dan istriku masih berumur 21 tahun. apakah setelah ini kau masih memikirkan bahwa mereka kembar?"


Evan terkejut bahkan ia tak menyangka bagaimana bisa Lauro mengetahui umur Evgania setelah dua belas tahun kepergian gadis itu?


Toh tak ada salahnya, itu hanya cara Lauro mengekspresikan sayangnya pada gadis itu.


"Cobalah mengenal Nathalia tanpa embel embel Evgania, belajarlah menyayangi dirinya karena dia terlahir bukan menjadi pengganti orang lain" jelas Lauro dan membuat keheningan terjalin cukup lama.


"Kenapa wajahmu?" Tanya Lauro mulai penasaran dan itu menjadi ucapan pertama setelah keterkejutan yang melanda.


"Oh ini" Evan menjelaskan bahwa pipi kananya akibat nenek sihir yang saat ini menatap dinding kaca seolah menulikan telinganya, pura pura tak tahu atas memar di pipi Evan.


Karena menurutnya Evan pantas mendapatkan itu, bagaimana brengsek gila ini mencumbunya tanpa 'rasa'.


Dan pipi kirinya karena Matthew pria itu datang setelah adegan cumbuan dan melihat ada bercak merah di leher adiknya. lalu ia menyampaian sapaan dalam bentuk bogem mentah. sungguh Evan merasa itu adalah hari yang paling buruk.


Bagaimana bisa adik dan kakak itu bergitu semangat menghakiminya atas sebuah rasa yang tak begitu Evan pahami.


Lauro tergelak "Kau pantas mendapatkanya" lalu matanya menangkap wanita yang baru saja keluar dari toilet.


"Kau lapar sayang?"


"Hmmm.." Emily berdehem cukup keras sehingga Nathalia mengalihkan tatapanya pada gadis itu.


"Ku peringatkan bahwa aku dan Evan manusia, dan kami ada di sini!" Ketus Emily.


Mengabaikan ucapan Emily dengan senyumanya. lalu lauro kembali menatap Nathalia meminta jawaban.


"Lumayan, jika kau tak terlalu sibuk"


"Well... kenapa kau membawanya ke sini L? Bukan gaya mu sekali" Emily berkata dengan nada santai tapi Nathalia tau tersimpan arti sindiran disana.


"Owh... aku yang ingin ikut" ucap Nathalia melangkah lebar dan berjalan mendekati Lauro.


"Karena kau taukan sekarang ini terlalu banyak gadis murahan yang mengincar suami orang" ucap Nathalia dengan nada manja bersender di bahu Lauro dan menatap nyalang pada Emily bahwa ia siap membatai gadis ini hidup hidup.


Lauro terkesima melihat Nathalia, sedangkan Evan hanya tersenyum lalu menatap Emily, ia tau Emily hancur hanya saja ia tak ingin membuat Emily jatuh dalam kubangan kegoisan dan ia harus tau bahwa dunia berputar bukan hanya untuknya.


Lalu tangan besar Evan menggengam tangan Emily, mengalihkan tatapan gadis itu karena Evan tahu sebentar lagi mata indah itu akan mengeluarkan cairan kesakitan


"Ayo" Evan tau ini bukan perkara bagus lalu ia akan membatalkan kegiatan mereka berikutnya


Bersama dengan ajakan Evan, Lauro menawarkan makan siang di depan rumah sakit ini, karena disana ada apartemen yang menyediakan sky garden lounge and resto.


Karena pasien tadi masi butuh penangan khusus hingga ia sadar, Lauro tak ingin membiarkan istrinya kelaparan dan tak ingin mengabaikan tanggung jawabnya.


"Aku ikut" sambar Emily cepat dan sukses membuat Evan melongo. Benar hanya Emily wanita tak tahu malu dan bodoh di dunia ini.


"Memangnya ada yang mengajakmu?" Tanya Nathalia tanpa sungkan, Nathalia sangat yakin jikan Emily tak sekedar adik dari teman Lauro. Ia tak bodoh untuk menangkap tatapan Emily adalah tatapan memuja suaminya.


Emily mentralkan nafasnya berusaha tenang, ini tidak boleh seperti ini, benar-benar tidak boleh. Emily tidak boleh kalah sekarang bahkan dalam hidupnya ia belum pernah merasakan kekalahan.


"Hem ayo... aku sudah lapar" Evan kini mulai bersuara, ia tak tega melihat Emily sekarang menjadi orang asing di antara mereka.


"Ayo L" Emily mulai antusias dengan berdiri dan menghampiri Lauro. Tapi secepat kedipan mata kaki mungil berbalut high heel 12 centi itu kembali mundur kebelakang bersama dengan tarikan tangan Evan di kunciran rambut Emily sehingga membuat wanita itu mengaduh.


"Sakit!" Emily menatap Evan dengan tatapan mematikan sedangkan Evan melangkah masa bodoh dengan mendahului Emily menyusul L dan Nathalia.


TBC


1 persatu ya di buka biar g gila ini ay 🤣🤣🤣🤣🤣


Emily



Evan