
"Heh...Apa ini? Ceritanya sama!" ucap Nathalia seraya terus melihat novel yang ada di tanganya.
"Kan setelah ini dia pasti selingkuh! Sudah ku duga" Dengus Nathalia meremehkan segala sengketa di dalam novel yang ia baca.
Sudah dari tadi wanita cantik di atas ranjang ini di sibukan dengan sebuah novel, bahkan Lauro yang sedang fokus pada macbooknya juga ikut geleng geleng melihat tingkah istrinya.
Bisa jadi dia mengerutu dan tertawa terbahak bahak setelahnya, menikmati setiap sentuhan penulis dalam novel tebal ini.
"Sayang, istirahatkan matamu" ucap Lauro sembari meletakan macbook di atas meja yang sudah tertutup, ia melirik jam di atas nakas ini sudah memasuki larut malam.
"Tunggu L, ini masih seru." Bantah Nathalia seraya membalik lembar novel dan kembali tertawa.
"Kau bisa membacanya besok, sayang"
"Iya sejam lagi, lihat ini tinggal sedikit" Nathalia menunjukan tebal lembar yang akan dia baca selanjutnya
"Bukankah kau bilang tadi ini membosakan?" Lauro mencoba mengingatkan Nathalia dengan segala ucapan sejak ia mulai membaca novel ini. Bahkan tak jarang dia mengeluarkan kata makian untuk penulis novel.
"Ini sudah berbeda, tapi memang mirip ya idenya terlalu pasaran"
"Jadi yang salah?"
"Salah?" Nathalia bingung seketika "Tentu penulisnyalah, dia tak mencari ide yang fress" tegas Nathalia berikutnya.
Lauro tergelak dan mengusap rambut Nathalia, lalu duduk di samping ranjang "itu salahmu, kau membaca roman picisan, kisah percintaan yang mungkin semua manusia di bumi mengalaminya, hal yang terlalu basi untuk di perbincangkan"
"..." Nathalia terdiam, tak mampu membantah terlebih apa yang Lauro ucapkan adalah benar.
"Mungkin hanya jalanya saja yang berbeda" jelas Lauro lagi.
"Hmm... sebentar lagi, ini sudah part yang aku suka" ucap Nathalia seenaknya dengan mata terus terpaku pada lembar novel.
"Kau sepertinya terlalu menyanyangi Novel ini?" Tanya Lauro bersedekap di depan dada lalu menilik Nathalia yang tak bergeming
"Sampai akhirnya kau lupa menyayangi matamu sendiri?" Perkataan sarkas Lauro membuat Nathalia menoleh.
"Aku selalu menjaga jarak bacaanku L, aku tahu harus seperti apa" bantah Nathalia dengan segala Egonya. Bukanya Nathalia tak pernah kalah karena selalu meletakan egonya di puncak gunung. Tinggi dan sulit tersentuh.
"Bukan kah fisik butuh istirahat sayang, sama halnya dengan ini" Lauro menggerakan jari membentuk lingkaran tepat di depan mata Nathalia.
"Matamu juga harus di istirahatkan, seseru apa pun aktifitas yang kau lakukan jika itu hanya bersifat merilekskan otak, maka kau harus memberi jeda"
"Masi ada esok untuk melanjutkanya" jelas Lauro panjang lebar kali tinggi, nada ituΒ terlalu lembut untuk ukuran seseorang yang tadinya sempat menyindir.
"Tapi ini seru L" rengek Nathalia. Well...Β otak bisa berfikir tapi hati tak bisa menipu saat rasa penasaran dunia fiksi menarik kesadaranmu.
Akhirnya Lauro hanya menghela nafas. Ia cukup paham dengan apa yang Nathalia rasakan "Lima belas menit lagi" peringatan Lauro berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi mereka.
Menit berlalu hingga pria tampan ini telah menganti pakaianya dengan kaos oblong melangkah keluar kamar mandi, tapi sayup-sayup suara tangisan wanita membuatnya cemas.
"Hey... ada apa?"
Nathalia terisak, membiarkan air matanya jatuh berantakan, bahkan suaranya terdengar putus-putus karena isak tangis yang masih mendominasi.
Lauro kebingungan bukankah tadi saat ia tinggalkan, Nathalia terlihat tertawa dan bahagia menikmati alur yang di suguhkan. Tapi sekarang kenapa?
"L... aku..." bahkan Nathalia tak sanggup membiarkan lidahnya menjelaskan kenapa hatinya tersentuh, begitu berat dan menyakitkan.
"Hey... tenanglah" Lauro menarik Nathalia kedalam pelukanya, berharap bisa menyalurkan ketenangan. Tapi yang terjadi adalah, wanita cantik dengan piayama merah ini malah meledakan tangisnya.
Bahkan Lauro tak tahu harus berbuat apa, alih-alih menanyakan Lauro hanya mampu menepuk pelan pundak Nathalia dan mencium lembut rambut istrinya.
Dan tak lama kemudian Nathalia sudah selesai mengeluarkan rasa gundah, tapi sisa isakan masih mendominasi pergerakanya.
"Sekarang katakan" ucap Lauro lembut.
"Kisahnya sama seperti apa yang aku alami" Nathalia menunjukan Novel yang tadi tergeletak di atas paha Nathalia.
"Bukankah sudahku katakan, bahwa roman picisan itu adalah hal yang terlalu basi dan sudah sering di alami."
"Tapi... ini" suara rengekan Nathalia kembali mengudara hingga Lauro memijit pangkal hidungnya.
Lauro teringat tentang perjalanan hidup Nathalia, lalu tanganya naik keatas untuk mengusap pipi Nathalia.
"Bisa jadi apa yang kau rasakan saat itu, juga di rasakan oleh manusia lain di belahan bumi lain"
"Berhentilah menangis, masa lalu tak pernah berubah, jangan resah tentang masa lalu. Karena masa depanmu selalu tersenyum menyambut kedatanganmu" ucap Lauro membuat perasaan Nathalia campur aduk.
Terlebih karena merasa usapan lembut dan ucapan yang terasa menenangkan. Tapi justru itu membuat Nathalia merasa bersalah.
Lauro adalah pria terbaik yang pernah ia temui. Mungkin tak terlalu berlebihan mengatakan itu karena Axelin dan Lauro adalah sosok yang berbeda.
Pria ini yang selalu pintar menghargai wanita, pria ini yang selalu pintar mengontrol emosinya, pria ini yang selalu tulus dalam setiap ucapanya. Lalu pria ini yang bisa menerima kekuranganya sampai saat ini. Karena hampir dua tahun perjalanan cinta mereka tetap tuhan tak mengizikan malaikat kecil hidup di penjagaan keluarga kecil ini.
"L... kisahnya benar benar seperti kisahku"
"Lalu"
"Aku berusaha untuk masuk karena takut di permainkan oleh fikiranku yang sempit, tapi yang ku temukan malah ..." jelas Nathalia yang selalu mengikuti semua nasehat Lauro tapi di akhir kalimat wanita ini malah mengetatkan pelukanya
"Dan kau jadi tak mau membaca hingga akhir?? Kau tak ingin mempelajari bagaimana penulis itu menjelaskan penyelesaian atas konflik yang tercipta?
"Aku tak bisa L"
"Memangnya cerita tentang apa?" Ucap Lauro yang begitu penasaran, dengan mengambil Novel, membaca kalimat demi kalimat tapi Lauro tetap belum bisa menangkap inti dari buku yang mungkin sama tebalnya dengan kita suci sun go kong.
"Istrinya tak bisa memberikan keturunan dan keluarga pria meminta si wanita untuk di duakan, pria itu harus menikah lagi" bersamaan dengan ucapan Nathalia Lauro menutup buku dan melemparkan buku itu ke dalam tong sampah di sebelah nakas coklat ini.
"Jangan membaca hal hal yang menyesatkan seperti itu" ucap Lauro tak suka. Well... bukan salah novel, itu hanya fiksi yang bermasalah adalah istrinya kenapa dia tak bisa membedakan mana fiksi dan kenyataan.
"Maafkan aku" ucap Nathalia lirih tapi tak terdengar seperti inilah konflik batin yang selalu wanita itu pendam.
"Sudahlah, jangan meminta maaf. Aku menikahimu, karena kau wanita terbaik untukku bukan karena bersalah apa lagi karena anak, urusan anak itu milik tuhan jika sampai nanti tetap tuhan tak mengizikan, kita bisa mengapdopsi anak" walaupun aku berharap tuhan sedikit berbaik hati, menitipkan malaikat itu pada kita, ucap Lauro dalam hati.
Terlalu munafik jika Lauro mengatakan ia tak perlu keturunan, tapi yang terpenting adalah. Bagaimana Nathalia bisa hidup tanpa tekanan lagi.
"Karena seluruh hidupku adalah untukmu, maka tujuanku adalah membahagiakanmu"
Perasaan membuncah hebat saat ,lagi lagi Nathalia mendengar kalimat penenang dari Lauro. Benar! Mungkin Nathalia hanya perlu ikhlas menjalani takdir.
Memiliki Lauro adalah anugrah terindah yang pernah tercipta untuk dirinya, seseorang yang mampu menerima Nathalia meski sedang tertanpa ribuan duka.
Hidup bukan tentang bagaimana kita bisa bahagia tapi, bagaimana kita bisa tersenyum saat hati sedang terluka. Karena tuhan selalu punya pelangi indah di setiap badainya.
TBC
Augh ah.. ay udh nyoba nulis yang benar tapi dimana2 berita tentang corona π readrs yang budiman dimana pun sayang sayang ay berada.. tetap sehat tetap bahagia π karena kamu adalah dunia terindah bagi seseorang π
Eh adek.. udh makan belom sini akang suapin π