Take My Life

Take My Life
chapter 45



Dimulai dengan terbangun dalam dekapan Lauro, pagi milik Nathalia tak seperti biasa lagi. Biasaanya ia selalu memulai hari dengan perasaan kosong dan menyakitkan.


Kini tak lagi, rasa nyaman juga merundung kehidupanyan saat ini. Lihat saja sekarang, Sebuah tangan kekar yang melingkar di atas tubuhnya, Dan matanya dimanjakan oleh dada bidang membuat semburat merah memenuhi pipinya.


Melihat itu saja membuat Nathalia mengingat kegiatan panas tadi malam, berputar bagai kaset rusak di kepalanya.


Bagaimana bisa mereka bercinta di gedung pencakar langit ini? Rumah sakit! Bukan hotel atau sejenisnya.


Nathalia bergerak pelan untuk meneliti setiap inci wajah makhluk tuhan ini.


Lauro morales manusia ciptaan tuhan, mungkin tuhan menciptakan manusia sesempurna ini sambil tersenyum sehingga terciptalah  Rahang kokoh yang di hiasi bulu tipis, bulu mata lentik yang tertutup dan masih setia menjelajah alam mimpi.


Bahkan ia rasa tuhan terlalu tak adil pada Lauro, wajah bak titisan dewa, kehidupan yang apik, pekerjaan yang mulia dan kedua orang tua yang baik membuat Lauro mungkin tak pernah mengalami apa itu rasa sakit.


Tunggu! Evgania.


Cinta pertama?


Bahkan sudah dua belas tahun pria ini masih mengingat gadis itu? Apa yang telah gadis itu lakukan sehingga Lauro, pria yang terkenal sering kali mengganti wanita ini masih memendam rasa cinta.


Nathalia begitu penasaran.


Nathalia menuntun tanganya untuk menyentuh rahang Lauro tapi tertahan di udara, ia tak ingin mengambil resiko pria ini akan terjaga.


"Bisakah kita bersama--" ucapan Nathalia terhenti, ia terkejut saat tangan Lauro menangkap tanganya dan meletakn pada pipi lalu berakhir pada bibirnya.


"Kita pasti akan selalu bersama selamanya"


Nathalia mematung, ia tak bisa menghadapi Lauro, karena seperti jalang yang memperhatikan mangsanya salam diam.


Lauro menarik dagu Nathalia untuk kembali mendongak kearahnya "Tatap aku"


"Aku akan selalu bersamamu" ucap Lauro dengan suara dalam yang terdengar sangat sexy, tapi justru membuat Nathalia mengingat Axelin, karena pria itu dulu juga mengatakan hal yang sama, tapi pada akhirnya ia akan bertemu pada sebuah kekecewaan.


Takdir, ya tak ada yang bisa melawan jika tuhan sudah berkehendak bukan?


Tapi tak munafik bukan, sebagai manusia biasa, Nathalia sampai enggan menjalani kehidupan.


"Berhenti mencemaskan hari esok, nikmati hari ini dan jadikan itu sebuah kenangan, agar tak pernah menyesal karena tak melakukan apa apa"


"Justru kenangan itu yang menikamku lebih dalam"


Lauro tersenyum menanggapi ucapan Nathalia "jadi kau menyesal karena telah mengisi harinya dengan tawa bahagia?"


"...."


"Kau menyesal telah mencintainya dan membuatnya merasa manusia paling sempurna?"


"..." tak ada jawaban, tapi kali ini Nathalia menggeleng pertanda ia tak menyesal.


"Cinta bukan hal sempurna yang membuat kita tak pernah mengenal luka. Justru luka perlu untuk membuatnya bukan hanya sekedar rasa. Yang mudah menghilang saat dia telah tiada"


"Sekarang kau mencintainya dengan terluka untuk selamanya"


"Tegurat di ingatan bahwa dia adalah sosok sempurna yang pernah membuat kau bahagia dulu" jelas Lauro.


Nathalia tak bisa berkata lagi lalu berhambur dalam dekapan pria itu. Ia begitu bersyukur karena pria ini mampu menjadi bentengnya untuk berlindung.


"L"


"Hmmm"


"Kau mencintaiku?"


"Ya"


"Sebesar apa?"


"Jangan pernah menanyakan sebesar apa cintaku karena kau takan pernah menemukan ujungnya"


"Apa sebesar cinta mu pada Evgania?"


"..." Lauro terdiam sehingga membuat Nathalia sedikit cemburu, mungkinkah Lauro   mencintainya tak sebesar ia mencintai Evgania?


"Lupakan saja" ucap Nathalia akhirnya tak ingin memperkeruh suasana.


"Kau mencintaku?" Tanya Lauro pada akhirnya


"..." bahkan sampai pertanyaan mudah ini Nathalia tak begitu yakin untuk menjawab. Ia mencintai Lauro, tapi bagaimana dengan Axelin.


Keheningan terjalin cukup lama sehingga Lauro kembali mengetatkan dekapanya di punggung Naked Nathalia.


"Pelan-pelan saja, suatu saat kau akan menerimaku tanpa paksaan"


"Aku mencintaimu" ucap Nathalia pada akhirnya dengan begitu lirih seolah ia tak ingin orang lain tahu dengan apa yang ia rasakan.


"Aku tak mungkin melupakannya, karena aku di sini karena..." Nathalia tak sanggup melanjutkan kata katanya lalu air matanya mengambil alih perkataan itu.


Kristal bening itu meluncur deras bersama luka hatinya. Semakin hancur perasaan Nathalia jika mengingat hal itu.


"Aku tak pernah memintamu untuk melupakanya, seburuk apa pun seseorang di masa lalu dia tetap pernah menjadi bagian hidupmu, apa lagi dia... dia pria hebat yang pernah melindungimu dulu, jangan jadikan pengorbananya sia-sia"


"Tapi..."


"Evgania adalah masa laluku, cinta untuk kalian berbeda"


"Aku takut..." Nathalia masi terisak "aku takut kau hidup dalam bayanganya, kau terlalu baik untuk menjalani--" jari telunjuk  Lauro menyentuh bibir Nathalia sehingga menghentikan ucapan wanita itu


"Syuut... aku tak masalah menjadi bayangan siapapun asal itu bisa membuatmu bahagia"


Tangis Nathalia makin pecah mendengar kalimat Lauro barusan, wanita mana yang tak bahagia mendengar itu?


"Terimakasi"


Waktu berlalu Nathalia telah siap dengan pakaianya setelah membersihkan diri tadi. Keheningan tercipta di antara mereka karena masi sibuk dengan kegiatanya masing-masing.


"Hmm sayang..." pergerakan Lauro terhenti saat ia hampir saja membuka pintu kamar.


Nathalia menoleh dengan masih mengancing kemejanya "hmmm"


"Ku rasa kita harus honeymoonkan?"


Nathalia mengernyitkan dahinya "mungkin" sebenarnya Nathalia memang ingin mengatakan ini tapi mempunyai suami dokter sepertinya berhayal seperti itu terlalu sulit.


"Kau ingin kemana?" Tanya lauro melepaskan handel pintu lalu melangkah mendekati Nathalia.


Mendapati perlakuan mesum Lauro, yang saat ini sudah mengenepikan rambut Nathalia dan tanganya membantu mengancingkan kemeja dari belakang membuat fikiran Nathalia blank.


"Italia?"


Nathalia mengeleng hingga Lauro meletakan dagunya di atas bahu Nathalia.


"Maldives"


Sejujurnya Nathalia sangat ingin kesana


"Bukankah pasienmu..."


"Aku bisa mengambil cuti dan mencari dokter untuk pasienku yang masih dalam status kritis"


"Apa tidak apa-apa?"


"Hmm.."


"Jadi, katakan... kau ingin kemana?"


"Aku ingin pergi kehidupan masa kecilmu" ucap Nathalia mantab, dari pada harus ke tempat romantis. Sepertinya akan lebih baik  jika ia berada di mansion seraya mengetahui kehidupan masa kecil Lauro.


Lauro mengernyit pertanda ia sedikit bingung "kau yakin?"


"Hmm..." Nathalia mengangguk mantab


"Kehidupanku tak sesempurna yang ada di fikirkanmu sayang"


"Jangan mencari tahu tentang masa lalu atas diriku, aku takut kau akan sakit nanti"


Nathalia sedikit kecewa, mendapati kalimat Lauro seperti menolak, apa hanya Evgania yang boleh mengetahui itu.


Lauro menghela nafas pelan karena raut wajah yang sedang Nathalia tampilkan.


"Baiklah"


Nathalia menoleh dan berbalik untuk berhadapan dengan Lauro, mencari tahu apakah pria itu terpaksa.


"Jika kau temukan sesuatu tentang aku di masa depan dan itu membuatmu hancur, ku mohon tetaplah di sampingku... hmmm" ucap Lauro di lanjutkan dengan mencium dahi Nathalia.


"Ayo kita pulang ke mansion daddy, dan berkemas"


"Kemana?"


"Rumah masa kecilku"


TBC


😩😩😩😩


Ada yang masi bangun 01:31 😂