Take My Life

Take My Life
chapter 44



Kebahagian Lauro adalah berhasil melakukan operasi dan pasien cepat melewati masa kritis. Lalu setelah kedua keberhasilan itu terjadi ia bisa menarik garis bibirnya untuk naik keatas.


Dengan kemeja biru yang di balut jas putih khas dokternya, Lauro berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Matanya mengedar melihat rumah sakit yang terlihat megah setiap harinya.


Lauro membalas sapaan dari beberapa perawat yang ia temui dengan senyum tipis. Lalu ia berbelok untuk masuk ke dalam ruanganya.


"Sayang..."


Hening...


Lauro berfikir Nathalia akan menyambutnya dengan tatapan yang mengemaskan. Karena tadi pria ini berjanji pergi sebentar saja.


Lauro melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganya. Jika di hitung mungkin tiga jam lamanya ia meninggalkan gadis itu lagi.


setelah pulang dari makam Evgania, Lauro ingin mengatar Nathalia pulang, tapi bukan Nathalia namanya jika tidak keras kepala, wanita itu bersikeras untuk menunggu Lauro.


Lauro telah menjelaskan bahwa pekerjaanya tidak mengenal waktu, seperti pekerja kantor yang bekerja dari jam sembilan pagi dan selesai jam lima sore. Dunia kesehatan itu kejam apa lagi Lauro dokter sepesialis yang harus siap di telfon kapan pun saat ada pasien gawat darurat.


Lauro harus mengutamakan pasien karena penangannan nyawa tersebut hitungannya detik bukan jam.


Lauro membuka jas putih khas dokternya lalu menyampirkan di atas singgasanya. Lauro fikir Nathalia berada di toilet.


Tok...tok...tok


"Sayang" nihil tak ada jawaban dari balik pintu putih toilet.


Lalu Lauro menyusul ke kamar khusus tempat ia biasa beristirahat. Pria itu masuk ke kamar simpel yang berdominasi warna putih layaknya sebuah hotel.


Disana, di atas ranjang beralaskan handuk merah, seorang wanita terlelap dalam tidurnya dengan ponsel di depanya, sepertinya wanita itu benar-benar kelelahan setelah menunggunya terlalu lama.



Lauro berjongkok tepat di atas kepala Nathalia dan mencium puncak kepalanya.


"Maaf"


Lauro terduduk di lantai lalu menyenderkan tubuh bidangnya di sisi ranjang dengan memalingkan wajah untuk terus menatap wajah Nathalia.


"Maaf karena aku kau mengalami ini semua"


" percayalah cintaku tulus setelah semua yang terjadi"


"Jika saja aku tidak melakukanya..." Lauro tak bisa melanjutkan perkataanya, lidahnya kelu dan penyesalan bertubi tubi datang menghiasi dadanya saat ini.


"Aku bingung harus memulai dari mana" ucap Lauro pada akhirnya. Pria itu meletakan kedua tangan di atas tumpuan lututnya.


Lauro mengusap wajahnya, ia tak tahu harus mengadu kesiapa tentang sesuatu yang ia tutupi sejak lama. Mungkin hanya johan yang menjadi bentengnya, tapi pria itu meminta Lauro bersikap gentelman.


"Awalnya aku memang hanya ingin menjagamu, aku ingin kau aman dan aku tak pernah berfikir akukan setakut ini dengan reaksimu kedepanya"


Kejujuran akan bersanding dengan sebuah kehilangan, dan Lauro tak bisa membayangkan ia sekali lagi di tinggal oleh wanitanya.


"Denganmu aku merasa berbeda, lebih mengerti bahwa hatiku akan terbuka jika kau yang memasukinya" Lauro mengenepikan helayan rambut Nathalia yang menghalangi wajahnya.


"Bisakah aku egois ingin memilikimu tanpa persetujuanmu nanti?" Bisik Lauro tepat di depan wajah Nathalia.


"L..." Nathalia membuka matanya, mencari kesadaran sepenuhnya. Bola Mata indah di bawah bulu lentik itu menangkap wajah Lauro yang tampan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Buru buru Nathalia bangkit dan duduk di atas ranjang lalu merapikan rambutnya.


"Sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Nathalia gelagapan seperti seorang gadis yang kepergok baru bangun tidur oleh gebetanya.


"Kau sudah cantik"


Kalimat singkat Lauro membuat jantung Nathalia berdegup kencang. Dan semburat merah memenuhi pipi Nathalia. Seketika hawa di sekitar Nathalia berubah menjadi panas hingga gadis itu menyentuh pipinya dan mengipas dengan jari.


Lauro terkekeh geli, menurutnya wajar Nathalia bertindak seperti itu. Di umur yang baru memasuki masa matang, 21 tahun. Tubuh seorang gadis akan di penuhi oleh koktil biokimia yang membuat ia seperti kencanduan pada sosok pasanganya.


Lauro yakin saat ini Nathalia akan melihatnya bagai sosok yang terlalu sempurna, dan itu membuatnya Lauro semakin takut akan sesuatu yang akan terjadi di depan.


Nathalia beringsut dengan lututnya untuk turun tapi seketika satu sentapan tangan membuat Nathalia jatuh di dada bidang Lauro.


"Mau kemana?" Bisik Lauro menatap manik biru mata Nathalia.


"Hmm... a.. aku" Nathalia salah tingkah, ini terlalu mendadak dan buru buru.


Tolong jelaskan bagaimana ia harus bereaksi, saat seseorang dengan wajah bak titisan dewa menatapmu saat kau baru saja membuka mata?


"Kau menginginkanku?" Lauro menikmati setiap proses ilmiah yang datang padanya, pada dasarnya seorang pria yang jatuh cinta akan mengalami perubahan hormon dan bio kimia yang memabukan,


Seorang pria yang jatuh cinta akan mengalami penurunan tingkat testosteron sehingga membuatnya mudah mellow, seperti tadi. Ia begitu takut kehilangan Nathalia


Tapi bukan Lauro jika ingin terjatuh lagi. Ia sudah cukup menahan rasa terdahulu dan berakhir dengan sebuah penyesalan.


"L lepas... kita di rumah sakit" seru Nathalia saat menyadari kemana arah perkataan Lauro.


"Memangnya kenapa?" Lauro makin mengetakan pelukanyan hingga membuat Nathalia makin terjebak, Lalu matanya melihat sekeliling "ini kamarku" bukankah sudah pernah Lauro katakan jika rumah sakit adalah rumah kedua buatnya.


"Tapi L" protes Nathalia berhenti saat lauro menyelipkan rambutnya di belakang telinga


Lauro tak mengatakan apa apa, hanya menatap Nathalia untuk sesuatu yang lebih, dan hanya tatapan itu membuat tubuh Nathalia terasa asing. Nathalia mengigit bibir bawahnya untuk mengurangi kecanggungan.


"Jangan di gigit bibirnya"


"Hah" Nathalia terlihat bingung, memangnya kenapa? apa disalah dengar? Lalu seperkian detik kemudian Lauro mendorong tubuh Nathalia untuk berbaring di atas ranjang dengan tubuh Lauro berada di atasnya.


"Kau membuatku tak bisa bertahan sayang"


Kedua tangan Lauro mengunci pergerakan Nathalia, seolah dia adalah mangsa yang akan lauro lahap saat ini juga.


Nathalia menatap mata Lauro yang di penuhi kilat gairah, ini memang bukan yang pertama. bahkan mereka telah melakukanya tiga kali tapi tetap saja Nathalia merasa gugup bila berhadapan dengan Lauro.


Lauro menjatuhkan ciumanya pada ceruk leher Nathalia, dan tangan kanan Lauro mengambil alih tugasnya.


Lalu Lauro mencium bibir ranum Nathalia dan menyesap secara perlahan. Seperti saat ini bibir Nathalia adalah candu baginya.


Nathalia mengerang, menikmati setiap cumbuan? Tak ada persiapan sama sekali, wanita ini begitu tekejut dan hanya bisa meremas kemeja Lauro hingga kesadarnya terkumpul.


"Tunggu.."


Lauro menghentikan cumbuanya saat Nathalia menghentikan tangan Lauro di dadanya.


"Pintunya" ucap Nathalia pelan


Lauro tak menjawab ia hanya menuntun tangan nathalia untuk melingkar di atas lehernya, berharap ia bisa melakukan hal yang tertunda.


TBC


🙊 ih kok mesum sih 😩


Maap ay masi polos ini jari ay yg ngetik ay g tau apa2 😂😂😂😂😂🏃‍♂️