
1 tahun kemudian
Toko perhiasan di salah satu Mall besar ini terlihat di padati manusia. Memang seperti biasa toko ini akan ramai pelanggan tapi sepertinya kali ini sedikit berbeda. Toko itu hanya ramai dari luar karena hampir semua orang, baik itu laki laki atau perempuan mereka hanya menonton dan terkadang berbisik pada temanya.
Adegan seorang pria yang tegah berlutut di hadapan Nathalia menjadi penyebabnya.
"Aku mohon kasi aku kesempatan sekali lagi," ujar pria itu tidak merasa malu.
Nathalia dengan penampilan yang sedikit berbeda. Wanita itu mengenakan dres merah menyala yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Di tambah lipstik merah yang menaikan sedikit kesan dewasa di wajahnya. Gadis itu terlihat acuh dan tersenyum meremeh.
"Dengar ya, jos. Jangan membuatku mengatakan hal yang sudah ku katakan sebelumnya!" Lalu Nathalia mencoba melangkah meninggalkan pria itu. Tapi sayang langkah kakinya terhenti, pria itu memegang kaki kanan Nathalia.
"Tha kau tidak bisa memutuskan hubungan kita seperti ini"
Nathalia menghela nafas kasar. Jujur tempramen gadis ini beberapa bulan terakhir meningkat dan dia sangat membenci hal seperti ini. Nathalia mengibaskan kakinya untuk melepaskan cekalan pria itu.
"Berhenti bersikap konyol. Joseph!" ujar gadis itu menatap lepas kearah orang orang berkumpul "jangan membuatku mengatakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Dan harus kau tau aku tidak bermain dengan para SAMPAH!"
"Tha aku di jebak. Aku tidak kenal wanita itu ,ak... " pria itu kehabisan kata kata untuk menjelaskan apa yang terjadi. Ini semua di karena seorang wanita mengodanya untuk melakukan hal yang tidak bisa ia tolak. Tetapi hal itu tertangkap basah oleh Nathalia.
Nathalia mundur beberapa langkah untuk kembali ke posisinya semula. Lalu setengah membungkuk untuk menatap lebih dekat mata pria itu
"Ck! Aku hanya mengulang ini sekali. Pastikan ini masuk ke dalam kepalamu yang hanya ada dada dan **** Itu!"
"Kita.... pu.. tus" Nathalia menekan setiap pelafasan huruf itu.
"Tha..."
"Syut..." Nathalia mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir pria itu.
"Aku tidak trima alasan apa pun! Bagiku kau sekarang hanyalah Sampah! Pria yang bermain di belakang gadisnya tak lebih baik dari stumpuk sampah yang menjijikan" Nathalia mengucapkan kata kata menyakitkan itu dengan nada sesantai yang ia bisa.
Lalu Nathalia meninggalkan joseph yang tertunduk lesu. Melenggang keluar toko perhiasan di sambut sorak gelak tawa dan cibiran orang orang yang ada di sana.
Lalu Nathalia tersenyum miring menikmati sekali lagi dalam minggu ini dia menghancurkan hati pria. Begitulah akhir akhir ini rutinitas gadis itu. Menghamburkan uang, berkencan, klub dan minum membuatnya melupakan apa itu kisah kelam.
Tiba tiba ponsel dalam tas mungilnya bergetar. Ia sedikit bersusah payah mengambil ponsel itu, liat saja tangan kirinya sudah penuh dengan 4 tas belanjaan berwarna putih dengan logo merek ternama.
"Dimana?"
"....."
"Owh oke aku segera kesana"
Saat ia ingin memasukan ponselnya ke dalam tas. Muncul nama dan foto pria tampan di layar ponselnya. Itu Ray kakak gadis ini. Mengabaikan panggilan itu, ia lebih memilih menyimpan ponselnya dan langsung pergi.
💓💓💓💓
"Kau benar benar kejam!" Gelak Ami
"Aku.." ucap Nathalia sekenanya. Ia sebenarnya tak begitu peduli dengan topik ini gadis itu menatap keluar kaca melihat keindahan kota dari cafe di lantai 2 ini.
"Siapa lagi jika bukan kau nona?!"
"Aku tidak melakukan hal yang salah"
"Memang manusia mana yang membayar gadis lain untuk menghancurkan hubunganya sendiri? Sinting!" Lagi lagi Ami tak bisa menghentikan gelak tawanya.
"Aku hanya membalas apa yang sudah seharusnya" ucap Nathalia sambil menyesap minuman dingin di depanya.
Bukan tanpa sebab Nathalia melakukan itu pada joshep. Pria pemilik toko perhiasan ternama itu beberapa minggu yang lalu juga mempermalukan seorang perempuan, mungkin pacarnya, dari yang Nathalia dengar pria itu meninggalkan gadis itu hanya karena ia sudah tertarik pada wanita lain.
Mengingat kejadian itu saja mampu membuat Nathalia menimbulkan rasa jijiknya pada Pria yang tak berguna. Hidup ini begitu menyakitkan, lalu apa salahnya kita membantu tugas tuhan dalam menghukum manusia tak berguna?
Tatapan para pria yang mengagguminya dan ocehan Ami tak begitu ia pedulikan. Ia hanya melihat keindah yang di berikan tuhan untuk di nikmati. Tapi dalam diam ia sebenarnya lebih menikmati perasaan kosong yang lebih dari setahun ini menggrogoti pikiranya.
Bentuk perasaan yang mengerikan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata kata. Hanya ada dua pilihan di antara perasaan kosong itu, mengkahiri hidup secepatnya atau mati secara perlahan karena tekanan perasaan ini.
Nathalia mengambil tasnya di atas kursi di sampingnya. Lalu memasukan ponselnya kedalam tas. Saat ia berdiri, justru tindakan Nathalia membuat Ami mendongak untuk melihat wajah Nathalia.
"Kemana?"
Dari pada menjawab, Nathalia lebih memilih membuka tasnya dan menampilkan layar ponselnya pada Ami. Ami mengangguk paham. Lalu tanpa sepatah katapun Nathalia melenggang meninggalkan temanya.
"Nanti malam kau harus datang! Ia sangat kaya!" Triakan Ami sebelum Nathalia jauh meninggalkannya.
Jika tadi Nathalia terlihat sangat malas untuk melakukan apa pun. Kini gadis itu berhenti melihat ke arah ami lalu menampilkan senyum manis dan memberi isyarat oke dengan jarinya. Pria yang akan berkencan denganya ibaratkan pohon uang yang akan mengupdate setiap barang barangnya. Bagaimana mungkin Nathalia tidak menyukai hal itu.
Setiap langkah Nathalia di perhatikan oleh pria. Kaki mulus yang di hiasai sepatu hell cream dan dress merah sexy dengan bagian punggung yang hanya di tutupi oleh beberapa silang tali mungil. Penampilannya sangat menujukan kesan dewasa gadis yang masi berusia 21 tahun ini.
Bagi Nathalia, menghadapi tatapan laki laki seperti itu sudah biasa. Bahkan itu menjadi hal yang lumrah baginya setelah menjadi pribadi yang baru.
.....
Nathalia menutup pintu mobil, sebelum itu ia telah menyuruh supirnya untuk membawakan barang belanjanya keatas. Langkah kakinya di sambut kensunyian rumah besar yang di dominasi warna putih ini.
Ini adalah hal yang biasa, bahkan dari ia kecil ia selalu merasakan hal ini. Jika tidak Ray yang selalu membagikan kasih sayangnya ia mungkin tidak akan kuat menjalani hidup sepi sebelum ia bertemu dengan Axelin.
"Apa yang kau lakukan?!" Suara itu sangat familiar, tapi nadanya kini sedikit trlihat asing.
Nathalia menoleh kearah suara, menatap tak suka dengan sikap Ray akhir akhir ini. Pria itu lebih sering mengomelinya dari pada menyayanginya seperti dulu.
"Hanya bersenang senang" ucap Nathalia merasa tak bersalah seraya melepaskan tab itu dari tanganya keatas sofa.
Ray mengusap wajahnya dengan kasar, seolah ia benar benar frustasi melihat apa yang terjadi pada adiknya akhir akhir ini. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau melakukan ini lagi?" Ucap Ray yang tak mengerti lagi jalan fikiran Nathalia.
"Aku hanyak mejalani hidupku" ucapan Nathalia sekenanya. Lalu memilih pergi melewati Ray tapi tanganya sempat di cekal oleh Ray.
"Kau juga tidak melanjutkan pengobatanmu?"
Nathalia menoleh kesamping menelurusi tangan kekar Ray yang menghentikan langkahnya dengan tatapan Tajam.
"Aku sudah sembuh!" Ucap Nathalia sedatar yang ia bisa.
"Apa kau akan menghancurkan hidupmu dengan semua ini tha?!" Teriakan Ray sayup sayup terdengar sebelum pintu putih ini tertutup.
Pov Nathalia
Tak ada yang pernah paham dalam kalut masalah batin yang aku alami saat ini. Kehilangan seseorang dengan cara yang tak wajar itu membuat luka tak kasat mata tertanam abadi!
Jika ada yang bertanya apakah aku menghancurkan hidupku dengan semua ini?
Apakah mereka lupa hidupku telah hancur setahun yang lalu? Dimana aku melihat Axelin menahan sakit hanya untuk menyelamatkanku?
Jika seandainya
Ya... kata seandainya yang merusak fikiran ku saat ini. Segala kemungkinan mustahil yang selalu aku alukan untuk kehidupan saat ini. Jika saja seandainya X tidak datang menemuiku.
Jika saja seandainya X berada di kantornya saat itu. Mungkin dia akan ada bersamaku saat ini.
Merelakan?
Ck! Itu hanya kata kata munafik manusia yang tak pernah berada di posisiku. Aku telah mencoba segalanya untuk hidup. Menghapus semua kenangan yang dia tinggalkan untuku?
Aku merelakan kepergianya. Tapi semua yang ku lakukan itu sia sia. Setiap aku ingin melupakannya justru membuatku semakin merindukanya.
Perasaan ini kosong, kekosongan yang mengerikan membuat aku ingin berlari dari kenyataan menyakitkan perlahan tapi pasti mengikis kewarasanku
Aku mengambil foto Axelin. Ini adalah satu satunya foto yang aku miliki, setelah usahaku untuk melupakanya. Aku menatap dengan susah payah menahan buliran kristal bening memaksa ingin keluar dari mataku.
Aku selalu bertanya apakah ini memang sudah berakhir?
Bisakah itu terhapus seutuhnya?
Bisakah aku merelakanmu?
Bisakah aku menghapus kenangan yang bahkan dulu begitu ku cintai?
Itu tak bisa terjadi lagi!
Aku tak bisa mendekatimu.
Aku ingin berlari Menuju tempat dimana aku tak bisa lagi memikirkan tentangmu.
Kau telah pergi dan kenangan yang tersisa terasa begitu menyakitkan.
Kenangan yang kau tinggalkan untukku itu berubah menjadi sebuah duri tajam.
Enyahlah dari ingatanku ini. Foto dengan bingkai putih itu kini terlihat buram karena air mataku telah mengambil alih peranya.
Satu tetes kristal bening menyentuh kaca foto pria yang memeluk mesra dirinya. Kesunyian kesakitan tergabung menjadi kesatuan menjadi cambuk kejam yang memukulku setiap hari.
Pov author
Nathalia memeluk erat foto itu, meringkuk di balik selimut tebal hangat berwarna pink ini. Menangis dan menangis itulah yang di jalani Nathalia jika mengingat sosok Axelin.
Sudah setahun berlalu tapi ternyata Axelin tetap hidup dalam bayang bayang hitamnya. Inilah penyebab utama Gadis itu kini hidup menjadi orang lain. Menikmati dunia malam, minuman keras dan pria seolah itu telah menjadi cirikhasnya. Menjalani kehidupan rapuh menjadi dirinya sndiri itu amat sangat menyakitkan.
Memang mimpi buruk dan rasa cemas sudah jarang di alami oleh Nathalia. Semua itu berkat alkohol dan kehidupan bebas yang baru ia geluti.
Beberapa bulan yang lalu Nathalia mencoba terapi atas arahan Ray. Tapi Nathalia menghentikan pengobatan itu dengan Alasan sudah sembuh.
Bukan tanpa alasan.
Dosis obat kejiwaan itu sangat keras, rasanya saat Nathalia meneguknya ia merasakan seperti serangan jatung sampai terkadang ia sempat menyerah dan memilih untuk mati.
Belum lagi serangan panik secara mendadak yang di alami oleh Nathalia seakan ia kembali melewati masa sulit itu. Masa di mana ia melihat Axelin tertancap luka itu. Wajah kesakitan Axelin membuat Nathalia ingin lari sekuat yang ia bisa dari kenyataan yang pahit ini.
Hypnotrapi tidak semudah yang di bicarakan dokter Lauro. Mengingat orang itu adalah Nathalia. Mungkin Nathalia adalah salah satu wanita paling pembangkang di muka bumi ini. Tapi dulu masih dalam status yang wajar.
Jika lauro ingin menghindari mengunakan metode ego personality. Tapi tanpa sengaja hasil hypnotrapis itu malah membentuk ego personality yang baru bagi diri Nathalia. Dan sialnya Nathalia memilih untuk menghentikan terapi itu. Dengan alasan dia 'sudah sembuh'
Sekarang jiwa yang berkembang pada diri Natahlia adalah jiwa paling buruk yang ia miliki.
TBC
tukan? jangan selalu menilai orang lain jahat. karena kamu g tahu apa yang telah ia alami sampai ia bisa menjadi sosoknya saat ini. masa lalu itu milik mereka dan masa depan bersama mereka adalah atas settingan kita. selalu berbuat baik walaupun gk ada manfaatnya ama diri sendiri 😘
Ada yang tahu gimana pertemuan Lauro dan Nathalia?
yang udah baca Apk sebelah tolong balik deh karena story itu bakal ay tarik dan akan ay revisi 😂 sini aja deh bacanya 😂