
Acara telah usai satu jam yang lalu sekarang Nathalia sudah berada di dalam kamar dan telah lepas dari segala keribetan, apa lagi jika bukan peralatan wedding.
Nathalia berjalan masuk ke kamarnya. Karena kamar yang di pakai untuk merias terakhir kali adalah kamar Lauro.
Syukurlah kamar itu terlihat sepi, dan setelah mengunci pintu Nathalia bisa bernafas lega. Ia menyadarkan tubuhnya di pintu membayangkan segalanya.
Malam pertama!
Nathalia tak tahu mengapa ia bisa memikirkan itu saat ini. Bukankan Lauro telah berjanji tak akan melakukannya jika ia tak mengizikan?
Tapi yang tak bisa di percayai itu adalah dirinya, Nathalia menampar pipinya sendiri dan mengelengkan kepalanya untuk menghapus segala fikiran Erotis itu.
"Enyahlah dari fikiranku L keparat" Nathalia cukup kesal karena otaknya saat ini hanya memikirkan Lauro.
Ia berjalan menuju kamar mandi. Mandi dalam air hangat pasti akan meluruskan segala keteganganya. Nathalia suka dengan wangi sabun ini. berendam dalam bathup benar-benar obat dari kelelahan.
Beberapa saat berlalu ia telah siap dengan Gaun tidurnya, sebuah dres dengan tali spageti dengan bahan yang cukup tebal. Lupakan tentang lingerie karena itu hanya di pakai oleh pasangan yang menikah karena cinta.
Cinta?
Entahlah bahkan Nathalia tak mengerti apa yang ia rasakan pada Lauro, pria itu terlalu memabukan jika di kenang. Dan terlalu sulit untuk di lupakan.
Nathalia cukup terkejut dengan saat kakinya menyentuh lantai kamar setelah ia keluar dari kamar mandi.
Bola mata di bawah bulu mata lentik itu mengakap sosok pria dengan balutan boxer dan kaos oblong putih duduk di atas ranjang dengan senyuman yang menawan.
Dan lebih terkejutnya lagi ruangan indah itu sekarang hanya ada sebuah ranjang.. dimana sofa dan kursi santai di depan jendela.
Nathalia sepertinya tak terlalu ambil tahu, yang terpenting saat ini adalah. Detak jantungnya berdetak tak karuan ini lebih parah saat ia masi bersama Axelin dahulu.
"Duduklah" Tawar Lauro seraya menepuk ranjang yang ada di sebelahnya.
Nathalia berjalan dan duduk tepat di sebelah Lauro lalu merapikan roknya, karena rok itu yang pendek sama saja dengan memancing kejantan Lauro.
"Maaf, spertinya mommy telah merencanakannya sejak awal. Maafkan dia yang terlalu sering menonton drama" tawa Lauro kikuk.
Demi tuhan sekarang Lauro gugup? Seorang presiden playboy di negara matador itu gugup hanya karena seorang wanita yang mungkin tak pernah masuk dalam levelnya?
Apakah karena status sialan ini?
Lauro berdehem untuk mengeser duduknya. Sepertinya kedekatan mereka itu menjadi konflik besar saat ini. Ayolah... dia lelaki dewasa yang normal.
"Ku tepati janjiku"
"Apa"
"Soal melakukan itu, hm... hmmm kau tak usah takut"
"Owh baiklah"
Lauro bertanya dalam hati, mengapa ia bisa seperti ini?
"Tidurlah di ranjang, aku akan turun" Lauro bergegas menuju pintu balkon.
Oh shit... Lauro benar-benar memberikan sella lima jempol, pintu balkon ini terkunci. Wanita tua itu benar-benar pintar dalam menyiksanya.
Oke... mom jangan salahkan aku jika, aku tak lagi bisa menyayangi wanita,
setelah ini bisakah ia menjaga janjinya sebagai laki-laki dewasa?
Tiba tiba Lampu kamar mati total hanya ada lampu luar yang memberi penerangan dalam ruangan itu.
Thank god, kau penyelamat!.batin Lauro.
Setidaknya dalam keadaan gelap gulita ini ia tak harus melihat wajah istrinya yang super cantik.
Tapi saat ia membalik ternyata Nathalia dari tadi berada di sampingnya, wajah gadis itu terlalu mengoda dalam ruangan temaram ini.
"Terkunci?" Tanya Nathalia pelan.
"Eh.. iya..." Lauro menyentuh tengkuknya yang tak gatal. Untuk mengalihkan suasana canggung ini.
Astmofir apa ini ya tuhan! Ini aneh.
"Hm... mungkin terjun bebas"
"Hah..."
"Kamar ini tepat di bawah kolam berenang kau lupa?"
Nathalia menaikan dagunya, memejamkn matanya seolah berfikir. Ia mengangguk membenarkan perkataan Lauro. Sekaligus tersenyum, Nathalia sekarang terlihat sudah lebih santai berhadapan dengan Lauro.
Tanpa ia sadar bahaya sedang manghantuinya setiap saat. Lauro bisa saja lepas kendali jika terus seperti ini.
Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung dan bibirnya sexy. Mungkin kah Lauro bisa menahannya?
"Kenapa kau terlalu cantik sayang"
Lauro menyentuh pipi Nathalia, merayap menyentuh tengkuk gadis itu untuk menarik wajah Nathalia maju mendekat. Lauro mecium lembut bibir ranum Nathalia. Menikmati benda kenyal manis yang terlalu memabukan, lebih memabukan dari beberapa minuman mahal.
"Bisakah kita?" Tanya Lauro menatap kedua bola mata Nathalia mencoba mencari persetujuan disana.
Nathalia bungkam, bahkan sistem tubuhnya seperti tak berfungsi dengan baik, di saat hatinya ingin menolak tapi satu pun dari organ tubuhnya terlihat kaku dan suka rela menerima perlakuan Lauro.
Lauro mengangkat tubuh Nathalia dengan menyentuh kedua bokong Nathalia. Menggendongnya seperti Anak kecil, masi dengan bibir yang menyatu. Sepertinya sekarang Lauro tak ingin melepaskan pangutanya walaupun sekejap.
Bibir Nathalia bener menjadi candu baginya, apa lagi setelah mengenal Nathalia secara intens membuatnya tak berminat bermain dengan para wanita.
Bukan karena kehadiran Nathalia, hanya saja ia ingin Nathalia menghargai hubungan ini, ia selalu ingin orang lain melakukan apa yang selalu ia lakukan.
Lauro jenis manusia yang memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin di perlakukan.
Lauro mendudukan Nathalia di atas ranjang. Lalu sepelan mungkin tangan Lauro berjalan mencari cela untuk ber'main'. Tapi hampir sampai di titik intim Nathalia seolah sadar. Ia mendorong tubuh Lauro.
"Maa.. maafkan aku" Nathalia berlari memasuki kamar mandi tanpa memperdulikan Lauro yang sekarang sedang menahan sakit di bagian intimnya.
Memalukan...! bagaimana ia bisa di tolak saat sudah seperti ini?
Lauro tak percaya ia bisa selancang ini? Bahkan dalam hidupnya Lauro tak pernah mengalami penolakan. Lauro merasa seperti pecundang yang tega menyakiti Nathalia.
Lauro menampar pipinya, bagaimana bisa ia tak bisa menahannya? Ia menutup matanya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Maafkan aku sayang"
Detik jam masi menghiasi udara di ruangan temaram itu. Sudah empat puluh lima menit berlalu dan Nathalia belum kembali. Lauro duduk dan menatap pintu kamar mandi yang masi tertutup sejak tadi.
"Apakah dia takut?"
Lauro memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi karena ini terlalu lama seseorang beraktivitas di dalam kamar mandi.
"Tha..."
Tok.tok.tok
"Kau baik baik saja?"
"Tha?... aku minta maaf"
"Aku berjanji takan mengulanginya lagi" ucap Lauro tulus
Tak mendapatkan jawaban Lauro sempat berfikir untuk meninggalkan gadis itu, mungkin kehadiran Lauro bisa membuat gadia itu bertambah takut, tapi fikiran tentang bipolar gadis itu. Lauro mencoba membuka pintu dengan menekan hendel pintu.
Ternyata....
TBc
ternyata apa 🤣🤣🤣🤣
ini ichik2 ehemnya mau di skip ato gak?
tim skip mana suaranya 🤣
udh segini dulu ya 🤣🤣🤣 ntr kalo kebanyakan ay up malah marah.. g kuat.. kekenyangan 🤣🤣🤣 ay ini emng paling pengertian 🤣🤣🤣