Take My Life

Take My Life
chapter 37



Hari ini begitu indah, matahari bersinar tepat di atas kepala, seorang gadis kecil berkisar sepuluh tahun masih asik menekuk dan meluruskan kakinya agar ayunan itu terus mengayun.


Seraya mata bulat seperti bulan punama itu menatap lurus kedepan seolah enggan melepaskan kepergian seseorang. Ya, di sana ada seorang wanita dengan dress biru yang terlihat sedikit lusuh, berjalan perlahan menjauh.


Gadis itu mengalihkan tatapanya, melihat banyaknya orang disana, dengan Ice cream dan makanan di tanganya. Tapi tidak denganya, ia hanya menikmati hari indah cerah ini dengan terus mengerakan ayunannya. Dia ingin terbang tinggi setinggi burung untuk mencapai kebebasan.


Waktu berjalan hingga kini matahari seolah telah lelah menampakan wajahnya, cahaya itu terlihat murung bersembunyi di balik awan dan begitu tega meninggalkan gadis kecil yang memeluk kedua lututnya, tak jauh dari ayunan seraya menunduk dengan wajah penuh linangan air mata.


Entah sudah berapa lama ia menangis, tempat yang tadi terlihat ramai dan 'bising' sekarang hanya tinggal beberapa orang saja perlahan tapi pasti suasana makin mencekam. Dan yang paling penting wajah dan matanya terlihat bengkak.


Tak ada yang peduli padanya, atau sekedar menanyakan kemana arah gadis ini pulang. Mereka terlalu tenggelam dengan dunia mereka sampai telinganya terlalu tuli untuk mendengar isakan tangis gadis kecil yang mulai kedinginan.


Hingga suara petir menyambar membuat tubuhnya perlahan bergindik ngeri dan berlari mencari tempat persembunyian di bawah pelukan pohon rindang.


"I...ibu aku takut"...


...


Keringat dingin menghiasi tubuh Nathalia, wanita dalam pelukan pria itu tampak begitu tak nyaman dalam tidurnya. Hingga kelopak mata di bawah bulu mata lentik itu terbuka menampilkan bola mata biru seindah bulan purnama.


Kepala Nathalia yang tadinya terasa sedikit pusing, sekarang ia malah terpaku pada sosok tampan yang sedang terlelap tepat di depan matanya. Bahkan rasa sakit kepala yang biasanya bisa membuatnya menangis, berhasil ia tahan walaupun cukup menyiksa.


Nathalia merona, mengingat adegan panas mereka. tubuhnya terasa seperti di aliri listrik ribuan volt yang menghantamnya secara bersamaan, ketika mengingat bagaimana Lauro memperlakukannya secara lembut dan menyentuhnya dimana-mana.


Nathalia mendongakkan kepalanya dan mendapati Lauro yang tertidur dalam damai. Dengkuran halus lembut begitu di rasakan Nathalia dari pria ini, mungkin dia terlalu lelah.


Nathalia melihat wajah Lauro yang di hiasi jambang halus, rahangnya yang kokoh dan bulu matanya yang lentik begitu damai dalam tidurnya


"Apa rasa kita setara?"


Tunggu!


Rasa?!


Bahkan Nathalia tak mengerti rasa apa yang sekarang sedang melekat di hatinya.


pelariankah?


Keterpakasaankah?


Atau kepurapuraan?


Tapi sekarang fikiranya hanya fokus pada pria yang sekarang memeluknya, bahkan Nathalia sudah jarang memikirkan Axelin, karena sikap Lauro yang menurutnya terlalu manis membuat otaknya hanya bekerja memproses data hanya untuk diri Lauro.


"Apakah aku jatuh cinta pada suamiku sendiri?" Gumam Nathalia nyaris tak terdengar.


Sepertinya benar mengingat bagaimana perasaan ini kian membuncah bahkan jika tidak berlebihan, ini lebih dari yang ia rasakan dulu, saat bersama Axelin leonidas.


Maaf, itu karena Lauro terlalu pintar memainkan hatinya.


Posisi ini begitu intim, Nathalia yakin di bawah selimut ini mereka tak mengenakan apa pun. Dan itu membuatnya semakin malu. Bagaimana caranya nanti ia menghadapi Lauro ketika mereka terbangun bersama dengan kondisi ini??


Nathalia bergerak sangat pelan untuk mengeser tangan kekar Lauro yang memeluk tubuhnya, ia harus sangat hati-hati agar si pemilik mata indah ini tak terbangun dengan kondisinya yang sekarang tanpa sehelai benang pun.


Berhasil, wanita ini telah lepas dari kukuhan tangan Lauro, yang harus ia lakukan sekarang ada bangkit perlahan dan segera meninggalkan Lauro.


Tapi kemudian...


Tanganya tercekal dan kembali tertarik untuk masuk kedalam pelukan Lauro. Tak ada yang bisa Nathalia lakukan selain menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Jika di dalam komik mungkin wajah Nathalia penuh di hiasai Rona merah super pekat.


Lauro terkekeh bersusah payah menyembunyikan gelaknya dengan mengigit bibir bawahnya sembari terus melihat Ekspresi Nathalia yang belum pernah ia lihat, dokter muda dengan wajah tidak sopan ini. Lauro menarik selimut untuk menutup tubuh Nathalia. Agar tak terlalu dingin karena saat ini wanita itu sedang tak memakai apa pun.


"Kau mau kemana?"


"...." Nathalia bungkam, ia tak bisa menyembunyikan bertapa malunya ia saat ini.


"Kau malu?" Tanya Lauro sembari menyentuh tangan Nathalia untuk pergi dari wajah itu.


"Sana-sana" Nathalia mendorong wajah Lauro untuk tak terus menatapnya.


Bagaimana bisa pria ini tak merasa malu mengingat ini adalah yang pertama mereka?


Ohya... Nathalia lupa jika yang sekarang seranjang dengannya adalah playboy cap kadal, hal seperti ini sepertinya adalah makanan sehari hari buatnya, dan entah kenapa itu membuat Nathalia kesal, Sangat kesal hingga Nathalia ingin pergi jauh dari Lauro saat ini juga.


Ia berusaha bangkit mengabaikan segala Rasa di fisiknya yang terasa sakit.


"Mau kemana?" Tanya Lauro menghentikan pergerakan Nathalia.


"Bukan urusanmu!" Ketus Nathalia mencoba menepis tangan Lauro, beruntung rambut panjang Nathalia menutupi punggungnya yang mulus.


Bahkan Lauro tak terkejut dengan perubahan sikap Nathalia, pria itu memeluk Nathalia dan menyembunyikan kepalanya dalam ceruh leher Nathalia.


Lauro meilirik nakas, karena ia merasa sangat lelah bahkan ia merasa matanya baru saja terpejam, benar saja sekarang jam masi menunjukan pukul tiga pagi"Jangan pergi, ini sudah jam tiga pagi" ucapan Lauro di ceruk leher dengan mata terpejam, menikmati aroma tubuh istrinya.


Nathalia sedikit bingung dengan perkataan Lauro, memangnya kenapa? Apakah ini gombalan lagi? Serius demi apa pun Nathalia tak berminat untuk hanyut dalam rayuan seorang dokter muda bernama Lauro Rexi Morales.


Never!


"Kurasa Cinderella pergi meninggalkan pangerannya jam 00.00 bukan jam tiga pagi" bisa Nathalia rasakan saat mengatakan itu Lauro tersenyum karena terasa di atas bahunya.


Nathalia memutar bola matanya jengah, bahkan kisa cinderella tak ada di kepalanya saat ini. Bagaimana bisa pria ini mengatakan itu?


Tangan Lauro mulai bergerak menjalar mencari hal yang seharusnya, sehingga membuat Nathalia melenguh menahan sesuatu.


"Ini bukan lagi story cinderella sayang, sekarang ini waktunya story sleeping beauty, karena aku harus membuatmu tertidur tapi sebelum itu aku harus membuatmu sedikit kelelehan sayang" ucap Lauro sebelum ia bangkit dan mengkunci pergerakan Nathalia.


Bahkan Nathalia tak di berikan kesempatan untuk menolak karena saat ini pria itu sudah mencium Nathalia membuktikan bahwa semuanya akan terulang.


"Lauro Rexi Morales! Kau gila!!!" Pekik Nathalia di bawah kukuhan tubuh Lauro


"Bukankah sudah ku katakan, kegilaanku hanya satu dan ada namamu di dalamnya, bisa jadi penyebabnya dirimu, mohon hentikan kegilaanku ini sayang" Lauro menampilkan senyum devilnya.


"Jangan pernah menyalahkanku jika kau tak bisa menghentikan itu" ucap Lauro sebelum kembali memberikan cumbuan itu.


TBC


maap kemaren itu lama krna cahpter berbau mesum 😩😩 jadi di tolak 2x aduh 😭 sesakit itu rasanya di tolak ini mah lebih sakit dri pd di tgl pcr pas lagi syg2nya ( plis deh hampir stiap menit manusia reproduksi untuk menghadirkan cwo yang baik np yg bejat di tangisi 🤣).... yang mau baca versi g skip ada tgl pindah ke w******


ay up 1 karena kalo ay up 3 (36, 37, 38) misalnya 36 g ditrima langsung up 37 pasti jdi hancurkan chpternya... jdi mohon pengertiannya para pejuang bucin 😘


selamat menebak sayangku 😘 1 puzzel udah ay kasi...


Hiya2 cuma mau bilang 🤣 kalo baca pakai mata jan pakai hati karena baper gak di tanggung BPJS wkwwkwkwk