
Nathalia duduk termenung di bawah pohon rindang, di bangku taman fakultas fashion design. Menghirup dalam dalam udara segar yang berani menari di sekelilingnya.
Nathalia telah resmi menjadi mahasiswa desainer fhasion di universitas ternama di Valencia ini. Bisa di bilang ini langkahnya untuk menyetarakan posisinya agar layak menjadi istri seorang dokter tampan.
Tanganya terulur kedepan dan matanya menatap pada jari manis yang tersemat sebuah cincin bermatakan berlian yang berkilau.
Cicin pernikahanya, ya.. ini terhitung sudah tiga bulan ia menikah dengan Lauro Rexi Morales.
Jika dulu ia berfikir menikah akan menghambatnya karena sebuah aturan resmi dari pria bergelar suami, menjengkal hidupnya. Tapi itu tak pernah ia rasakan.
Lauro terlalu membebaskanya, Nathalia bebas memiliki hidupnya. Bertemanlah dengan siapapun, pergilah kemana pun asalkan tahu batasan karena ia sekarang telah milik seseorang.
Padahal yang sebenarnya Nathalia inginkan adalah rasa cemburu dari Lauro, pria itu akan marah saat ia jalan atau dekat dengan laki laki lain, seperti banyaknya novel romanc picisan yang selalu ia baca.
"Nata!..." suara seruan terdengar dari arah lain.
Nathalia mengangkat wajahnya kedepan untuk melihat siapa yang memangil, siapa lagi orang yang sok kenal ini. Bukan sombong, bisa di bilang dengan parasnya dan nama belakangnya membuat Nathalia menjadi incaran banyak mahasiswa disini.
"Nata..." dengusan kelelahan keluar dari bibir gadis berambut merah ini.
"Nathalia" jelas Nathalia meluruskan.
"Oh iya.. Nathalia, sedang apa?" Tanya gadis itu untuk memulai pembicaraan. Karena seperti yang beredar Nathalia adalah satu satunya mahasiswa yang paling sulit di dekati. Belum lagi tatapan mata tajamnya.
"Duduk" jawab Nathalia singkat, benarkan bahwa sekarang ia sedang duduk. Kenapa juga gadis ini harus menanyakan pertanyaan bodoh itu.
"Oh... kau masih ada kelas?" Tanya gadis itu ramah.
"Ada satu lagi, kenapa?" Balas Nathalia benar benar bosan
"Tidak.. aku hanya ingin tahu, kenapa kau disini sendiri, padahal terlalu banyak yang ingin mengenalmu. Tapi kurasa kau selalu menghindar"
"Apa sekarang aku menghindar?" Balas Nathalia sakartis. Mungkin kau memang perlu mengenal orang tersebut jika ingin menilai. Dan ia rasa gadis ini terlalu sering mendengar omong kosong tetang dirinya.
"Benar juga ya, oh ya namaku vanesa"
"Hmm salam kenal" lanjut gadis itu dengan senyum sumringah. Yang di balas tatapan malas oleh Nathalia.
"Kau pulang dengan kakakmu lagi hari ini?"
"Kakak?" Tanya Nathalia penasaran.
"Pria yang selalu mengantarmu itu, sangat tampan"
Oh, sepertinya gadis licik ini mendekatinya karena Lauro "Dia suamiku" senyum kemenangan tertampil apik di wajah Nathalia.
"Seriously?" Gadis itu begitu terkejut mendapati jawaban Nathalia.
"Kenapa?"
"Ku kira itu kakak mu, jadi morales? Kau menantu morales?" Nada itu tak seramah tadi tapi Nathalia cukup senang bermain dengan manusia bermuka dua seperti ini
"Ya"
"Wah kau hebat pasti kau dari keluarga kaya jugakan?" ucap Gadis itu dengan senyum manis lalu matanya menyusuri penampilan Nathalia. Seperti biasa Nathalia terlihat begitu modis dengan balutan pakaian, tas dan sepatu branded. Belum lagi tas yang ada di instagram wanita itu. Tas limited edition dengan harga fantastis.
Nathalia turun dari bangku taman dan menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan
"Romanove" lalu gadis itu pergi meninggalkan calon bibit pelakor wanita murahan itu.
Inilah alasan Nathalia tak ingin berteman dengan siapa pun kecuali Ami.
Sebagian dari mereka hanya memperhatikan wajah dan harta, lalu jika ia tak memiliki semua itu ia akan menjauh menganggapnya hanyalah setumpuk sampah.
Nathalia berjalan di lorong kampus, ia melihat seorang wanita bertubuh sedikit gempal terjatuh dan di tertawakan oleh beberapa mahasiswa.
Lalu ada juga yang melemparinya dengan botol bekas minuman dan kertas.
Biasanya Nathalia tak peduli, tapi sekarang kakinya yang terbalut sepatu wedges 10 centi, melangkah kearah gadis korban bullying. Ia lebih kesal pada korban bullying itu dari pada beberapa mahsiswa disana.
Nathalia berdiri di depan gadis itu, menatap malas lalu menjatuhkan tasnya ke arah gadis itu.
"Berdiri" ujar Nathalia.
Setelah gadis itu berdiri dan memberikan tasnya, Nathalia menatap beberapa orang disana dengan tatapan setajam trisula poseidon.
Tangan Nathalia terangkat membersihkan rambut gadis itu di dari tetesan coklat dari botol minum.
"Menangislah jika kau di perlakukan tak baik oleh para iblis" ujar Nathalia menyindir semua orang disana. Semua terdiam karena kecantikan dan tahta Nathalia mampu membuat siapa pun menghargainya. Walaupun ia mahasiswa baru.
Lalu Nathalia menarik gadis itu, untuk pergi menjauh dari kumpulan manusia-manusia tak berakal seperti itu.
Sekarang mereka duduk di sebuah bangku di danau kecil tepat berada di fakultas performing art.
Nathalia dia tak bersuara menyaksikan isak tangis gadis ini, Raquela adalah mahasiwa jurusan perfomance yang selalu di rundung bullying bukan karena parasnya, tapi keluarganya.
Ayahnya terjerat kasus korupsi hingga ia menjadi seperti sekarang, melampiaskan kekesalannya dengan makanan dan jatuh miskin. Gadis itu juga bercerita ia pernah menangis dan melawan tapi rundungan bullying makin parah menimpanya.
Semua manusia mempunyai masalahnya sendiri, Nathalia tau akan itu karena ini. Tiba tiba ia merindukan Lauro.
"Tenanglah" ucap Nathalia.
Nathalia mengulurkan tanganya "bertemanlah denganku, Kau mau?" Ini adalah ajakan pertemnan oertama yang Nathalia lakukan seoanjang hidupnya.
"Benarkah? Ini bukan prank kan?" Gadis itu melihat ke sisi lain, karena ia pernah di lakukan seperti ini lalu sesaat kemudian ia kembali di tertawakan.
"Jika aku miskin apa kau masih mau berteman dengan ku" Nathalia melirik ke Raquela di sela-sela ia membalas pesan Lauro.
"Tentu" gadis itu mengangguk antusias "jika kau tahu aku dulu, apa kau masih mau berteman denganku?"
"Maksudnya?" Nathalia bingung
"Aku dulu terlalu menikmati kekayaan ayahku, terlalu menganggap semua orang akan menyayangiku jika aku jatuh miskin, tapi nyatanya orang yang dulu baik padaku bisa lebih tega membullyku" seketika kalimat Raquela menampar telak pipi Nathalia.
Mungkin ini adalah maksud sebenar Lauro. Memahami hidup dan mensyukuri hidup agar bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.
Deru mesin motor terdengar mendekat, tak perlu di lihat itu siapa. Nathalia sudah tau itu adalah Lauro dari motor dan tato yang timbul malu malu di kaos hitamnya menjadi bukti.
Nathalia melirik Requela, Nathalia memang type wanita yang berhati hati. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa tak semua manusia baik. Ia ingin tahu reaksi Raquela
Gadis itu menunduk seperti menghindari kehadiran lauro. Nathalia tersenyum lalu melangkah kearah Lauro. Setelah sebelumnya menyapa Raquela sebagai salam perpisahan.
"Hay cantik" sapa Lauro yang membuka kaca helmnya.
"Bukanya kau masih satu kelas lagi? Kenapa memaksaku untuk menjemputmu" omel Lauro membantu Nathalia untuk naik ke atas motor.
"Aku merindukanmu" ucap Nathalia memeluk Lauro dari belakang?
"Kau punya teman?" Tanya Lauro lagi sekalian terkejut karena selama ini gadisnya pasti selalu sendiri. Menghindari seseorang yang datang mendekat.
"Hmm... ya.. baru"
"Kau pulang dengan siapa?" Tanya Lauro pada gadis itu sekedar berbasa basi
"Huh.. eh.. hmmm" Raquela terlihat salah tingkah yang membuat Nathalia juga tertawa
"Jika tak ada yang menjemputmu, aku akan kesini lagi untuk menjemputmu" goda Lauro yang langsung di bantah Raquela dengan lambaian tangan, Menolak.
"Take care cantik" ucap Lauro sembari menstater motornya lalu berlalu dari sana. Menyiksakan syok pada Raquela. Bahkan saat ia masih kaya pria ramah dan setampan itu tak pernah menganggapnya ada.
TBC
Bosan g sih yang manis manis aja?
Kalo gitu ay kasih yang yang dikit asem abis ini 😂