Take My Life

Take My Life
chapter 72 tamat



Lauro kembali pulang larut malam, sebab banyak sekali pekerjaan dirumah sakit. Lauro menekan sandi lalu membuka pintu penthouse.


Penthouse itu telihat sepi. Mungkin wanita pujaan hatinya telah terlelap, karena mustahil ia masih terjaga di jam segini.


Apa lagi Nathalia sekarang seperti dalam mood tak baik, mungkin karena ucapan dua wanita tempo hari.


Bahkan lauro heran kenapa mereka suka sekali menyakiti hati orang lain, apa untungnya menggoreskan luka pada hati seseorang?


Apa untungnya berkata kasar pada seseorang?


Itu masih menjadi pertanyaan Lauro sampai saat ini. Mungkinkah karena rasa iri? Lalu Apakah kedua wanita itu juga iri pada pria tuna netra tempo hari? Bahkan otak genius Lauro tak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan itu.


Lauro membuka pintu kamarnya, ternyata dugaan Lauro salah, wanitanya masih terduduk di depan sofa menikmati angin malam dengan jedela kaca yang terbuka.


"Belum tidur?" Tanya Lauro mendekati Nathalia. Mencuri cium sekilas pada dahi wanita itu.


Nathalia hanya menggeleng menatap Lauro, tak berniat mengeluarkan suara. Nathalia tampak begitu pendiam akhir ini.


Walaupun Lauro mengatakan bahwa ia menerima Nathalia apa adanya, tapi kekurangan seperti itu pada seorang wanita sangatlah fatal, apa lagi ucapan menyakitkan itu terlontar dari bibir seorang wanita.


Nathalia mencoba bersikap tenang tapi hatinya menolak itu semua, dan sepertinya malam ini Nathalia tak sesedih malam-malam sebelumnya.


Lauro menarik sofa bulat di samping Nathalia, menariknya dengan satu tangan untuk mengikis jarak di antara mereka.


Lauro meraih tangan Nathalia, menarik dagu wanita cantik itu untuk menatapnya, dan mengusap lembut wajah itu "masih sedih?" Lauro berkata pelan, mungkin perkataan ini tak perlu di tanyakan. tapi, Nathalia butuh sandaran untuk rasa sedih itu.


"Jangan di fikirkan itu lagi, lihat bulan di sana" ucap Lauro menujuk bulan purnama yang sedang percaya diri menujukan pesonanya "indah?"


Nathalia menatap bulan lalu, beralih menatap Lauro dan mengangguk, sebagai tanda pembenaran atas ucapan suaminya.


"Kau harus tahu di balik keindahan bulan purnama ia memiliki ribuan kecacatan, kelihatanya sangat indah dan halus, tapi sebenarnya bulan tidaklah rata, ia terdiri dari bukit bukit dan juga kawah.


"Bahkan bulan tak memiliki cahayanya sendiri, jangan merasa sedih hanya karena kau tak sempurna, lihatlah bulan ia tak pernah memperlihatkan kelemahanya.


"Begitu juga kau, berhentilah fokus pada kekuranganmu. Karena kau terlalu berharga untuk memikirkan itu. kau tak harus sempurna hanya untuk membuatku bahagia,bagiku kau sudah sangat sempurna untuk menjadi nyonya morales"


"Karena pada dasarnya kesempurnaan bukanlah ukuran sebuah kebahagiaan, bukan juga cara untuk menilai harga diri seseorang, dengan menerima dirimu apa adanya dan menghargai orang lain, itu adalah cara terbaik menujukan siapa kau sebenarnya.


"Semua manusia memiliki gelap dan terangnya masing masing. Jangan biarkan dirimu redup hanya karena seseorang menyeretmu dalam gelap"


Nathalia harus bersyukur, karena tuhan tak pernah meninggalkanya, ia ingin berlari kedalam pelukan Lauro, menujukan bahwa dia benar benar mencintai pria ini, bahkan tak ada sedikit pun keraguan. tapi...


"Sayang..." untuk pertama kali dalam hubungan mereka, Nathalia memanggil Suaminya dengan sebutan sayang membuat Lauro mematung, akhirnya penantian Lauro terbayarkan, istrinya benar banar miliknya saat ini.


"Maukah kau menerima seseorang dalam hidup kita setelah ini" tanya Nathalia dengan sebutir kristal bening jatuh dari mata kananya.


Raut wajah Lauro mengeras, senyumnya hilang, perasaan yang membucah hancur seketika. Ia mengingat novel yang menganggu fikiran istrinya. Bahkan sampai nanti Lauro tetap tidak bersedia menukar Nathalia dengan siapa pun bahkan dengan dewi afrodit sekalipun.


"Jangan pernah berfikir konyol, aku tak suka kau memikirkan hal seperti itu. Sampai kapan pun kau takan akan pernah terganti" tegas Lauro


Nathalia menegakkan tubuhnya, menatap Lauro yang juga menatap isi matanya dengan cara yang sama. Diusapanya rahang koko pria itu, dan terasa sedikit kasar karena bekas cukuran tadi pagi.


Nathalia tak akan pernah bisa berhenti bersyukur karena mendapatkan sosok luar biasa seperti ini. Yang selalu memberikan cinta yang sangat besar padanya.


Natahlia kemudian mencium Lauro dengan sangat lembut, yang di balas dengan hangat. Tak sulit mengembalikan Lauro seperti biasanya. Bisa di katakan Lauro tak bisa marah pada Nathalia.


Tangan kiri Nathalia mengambil sesuatu dari slot sofa. Meletakan sebuah alat tes kehamilan di tangan Lauro.


"Ini..?" Lauro tak percaya.


"M--milikmu?" mata Lauro telah berkaca kaca saat menanyakan itu, saat Nathalia mengangguk maka luruhlah butiran air mata kebahagian pria tampan itu.


Lauro meluk Nathalia mencium kening istrinya dengan terus mengucapkan kata terima kasih. Ini adalah kebahagian terbaik dalam hidup Lauro.


Tidak ada yang bisa membaca hari esok, bahkan satu detik dari saat ini. Tidak ada kata menyerah untuk sebuah perjalanan hidup, karena akhir segalanya hanya saat tuhan mengatakan waktunya pulang.


Jika Nathalia menyerah saat itu mungkin ia takan pernah menikmati hari ini, sebuah luka memang menyakitkan tapi membuat cerita tak hanya sekedar rasa. Ia akan tergores lekat di ingatan. Bukan malah mudah hilang terkikis waktu.


"Terimakasih untuk tak pernah menyerah" Lauro mencium kedua tangan Nathalia. Menggengam erat seolah begitu besar kebahagian yang baru menghantamnya saat ini


"Temani aku sampai tua ya?"


Lauro mengangguk mantab, disaat begitu banyak pertentangan, sandiwara, rasa sakit dan rasa bersalah mewarnai hidup mereka. Lauro tak pernah menyerah untuk Nathalia.


Jadi jangan tanyakan apakah Lauro siap pergi meninggalkan wanita cantik ini sekarang, besok atau kemudian hari, jawabnya pasti TIDAK AKAN PERNAH TERJADI.


Lauro memangut bibir Nathalia merebakan wanita itu di sandaran sofa. Dan membuat Nathalia mendorong dada bidang Lauro.


"Kau yakin melakukanya di sini?"


"Disini?" Gumam lauro pelan lalu kembali memangut bibir istrinya, sesuatu yang menyulut riak geli di perut Nathalia.


"Kau bisa menyakiti bayi kita L" dan ucapan Nathalia terhenti saat cumbuan  telah sampai di pada leher  wanita cantik itu.


Lauro berdiri dan membawa Nathalia, memangut kembali bibir istrinya. Membiarkan tanganya melingkar di leher Lauro, membiarkan nafasnya di curi saat Lauro menyesap bibirnya, keduanya seperti siap terbakar dalam riak bahagia. Merebahkan Nathalia di sofa dan siap melakukan malam wajib dengan perasaan bahagia.


Nathalia terlalu bahagia. Bahkan ia tak pernah memimpikan bahwa dia akan sebahagia ini. Bibir Nathalia mungkin lupa caranya berhenti tersenyum, karena setiap tarikan nafasnya selalu di hiasi senyum indah.


Benarkah kebahagian itu karena anak ini? Nathalia mengusap perut datarnya lalu tatapanya beralih pada dada bidang yang kini sedang mendekap erat tubuhnya, Atau karena pria yang telah terlelap di sampingnya ini. Dan Nathalia sadar ia telah bahagia sejak lama tapi terkadang hatinya masih terus menolak keberadaan Lauro.


Dari Lauro Nathalia belajar banyak hal, akan selalu ada cara bagaimana hati kita tersakiti, tapi jangan lupa kita masih punya  kuasa penuh untuk memaafkan.


Karena kejadian masa lalu tak akan pernah bisa di ubah, maafkanlah maka masa depan akan tak terasa terbebankan.


Jika ini adalah sebuah cerita, maka akhir ini adalah akhir terindah yang bisa Nathalia rasakan. Nathalia merapatkan tubuhnya mencari kehangatan disana.


TamaT


Terimakasih udah ngikutin story ini dari awal. Terima kasih udh menjadi bagian dari Nathalia dan Lauro


Terimakasih buat semua cintanya 😘


Vote comen dan like.. terima kasih sayangku 😘


Sampai jumpa di project ay berikutnya...


Ay sayang kalian semua