Take My Life

Take My Life
chapter 32



Perias baru saja melakukan sentuhan terakhir pada riasan Nathalia. Sekarang gadis itu telah siap dengan gaun putih . Gaun berlengan panjang yang mengekspos punggungnya. Rambutnya kembali di sanggul dan di sematkan mahkota senada dengan warna gaun. Itu mempertegas leher Sexy seorang Nathalia.


Nathalia penasaran, siapa pasien itu karena fikirannya entah kenapa terus memikirkan wanita paruh baya yang lelap dalam tidurnya. Dua belas tahun? Hampir mustahil.


tapi Nathalia sedikit bersyukur karena ada kerabat yang begitu meyanyangi wanita itu. Karena dua belas tahun mereka masih setia menunggu lelapnya wanita malang itu.


Lauro berjalan menuju kamar mandi, Nathalia juga heran ada apa denganya. Sejak tadi, sejak mereka pulang dari rumah sakit. Lauro sperti menulikan telinganya, atau lebih tepatnya Nathalia merasa saat ini begitu besar beban yang sedang di pikul pria dengan rahang kokoh itu.


"L" panggilan Nathalia begitu pria itu kluar dari kamar mandi lengkap dengan tuxedo hitamnya, ini ada percakapan pertama mereka setelah kembalinya mereka dari rumah sakit.


"Are u oke?" Tanya Nathalia pelan, bisa di katakan sekarang Nathalia sedikit peduli padanya, spertinya tak ada salahnya Nathalia meruntuhkan satu benteng yang selalu ia bangun untuk bisa mengetahui masalah yang pria ini hadapi.


"Aku?" Tanya Lauro, lalu terbitlah senyum devil, senyum yang biasa pria itu tampilkan.


"Aku baik baik saja baby, aku menunggu pertanyaan itu, ternyata kau masi peduli padaku" ucap Lauro sebelum mengedipkan matanya.


Seketika rasa kesal menyelimuti tubuh Nathalia. Disaat ia serius pria ini sepertinya selalu saja bercanda.


"Tunggu!" Ucapan Lauro mengalihkan padangan Nathalia kearah Lauro. Lauro berjalan mendekati Nathalia. Sedangkan gadis itu menatap Lauro dengan tatapan penuh tanya.


"Kau siapa?" Lagi, pertanyaan tak masuk akal kembali pria ini lontarkan.


"Kau kenapa?!" Tanya Nathalia mencoba melihat kebelakang mungkin pria ini menanyakan perias yang ada di belakang Nathalia. Tapi wajahnya tertahan saat pria ini menangkup wajahnya. Saat ini ia hanya di perkenankan menantap Lauro.


"Kau siapa?" Tanya lauro lagi tepat di depan Nathalia.


"Aku atha L"


"Aku tak percaya"


Nathalia tak cukup sabar untuk segera memukul kepala pria ini, agar ia kembali waras, lalu...


"Aku takan menikahi siapapun selain Nathalia! Bahkan bidadari sepertimu tak layak mengantikan posisi istriku" ucap Lauro yang entah mengapa menimbulkan semburat merah di wajah Nathalia. Ia di gombal oleh suaminya di depan belasan wanita yang ada di dalam sana. Demi tuhan bahkan Nathalia melihat beberapa gadis tata busana disana yang tersenyum seperti mendambakan Lauro.


Dan itu membuat sesuatu dalam diri Nathalia tak sabar untuk tak mencakar wajah wanita itu.


"Ayoo jelaskan!" Ucapan Lauro kembali membuat Nathalia berfikir, bibir kebanyakan lotion itu akan mengeluarkan gombalan jenis apa lagi?


"Coba jelaskan kenapa kau bisa secantik ini"


Kata apa yang cocok untuk menjawab pertanyaan Lauro saat ini? Tolong!


"Ternyata benar"


"Apa?"


"Bidadari turun kebumi itu tidak hanya sekedar mitos"


See... Nathalia sadar bahwa membiarkan Lauro berada di sisinya. Membuatnya melanggar satu lagi peraturan bahwa ia harus siap terluka. Karena cinta satu kata rumit yang bisa membuat kita menangis dan bahagia disaat bersamaan.


"Kau siap?"


Untuk pertama kali dalam hidupnya setelah kehilangan setengah hidupnya, Nathalia melangkah pelan bersama Lauro dengan hati yang ikhlas. Berjalan berdampingan seolah sekarang mereka memiliki rasa yang setara.


Mungkin...?


"Akan ku buat ratusan pria di luar sana iri karena aku memiliki wanita secantik dirimu" benar, Nathalia semakin yakin bahwa lauro, pria ini terlalu mematikan untuk di dekati.


Nathalia berjalan begitu hati hati dengan ekor gaun perlahan tapi pasti mengikuti langkahnya. Sekarang keduanya berada di depan pintu besar. Hanya di batasi pintu ini. Di sebelah sana sudah menunggu ratusan tamu undangan hanya untuk menyaksikan mereka berdua.


Nathalia gugup...


Lauro tahu kegugupan Nathalia. dan dia menepuk pelan punggung tangan istrinya. Memberikan kehangat lewat senyumnya, Seolah mengatakan masih ada aku di sini. Sehingga bisa menciptakan senyum di bibir Nathalia.


Pintu megah itu terbuka. Lalu Efek asap mengambil peranya. Membuat kedua pengantin itu seperti manusia yang berasal dari negeri khayangan.



Suara tepuk tangan dan decak kagum menyambut kedatangan mereka. Karena paras keduanya membuat siapa pun enggan untuk mengalihkan pandanganya.


Pesta berjalan begitu meriah, suasana kekeluargaan dari pesta ini begitu terasa karena konsep private wedding ini membuat pengantin bisa menyapa tamu yang jumlahnya tak terlalu banyak.


Sehingga sekarang Nathalia berada di antara Alana, Keyra dan Sofia. Nathalia merasa sedikit hangat karna ketiga wanita itu tak seperti kebanyakan kerabatnya. Yang terlalu memandang derajat sosial. Walaupun istri para bilionaire lantas tak membuat mereka butuh pengakuan untuk sebuah status.


Apa mungkin ketiga wanita ini baik padanya karena menganggap karena posisi mereka sekarang setara?


Sepertinya tidak, lihat begitu sederhana pembicaraan mereka. Sofia yang menceritakan bagaimana ia bertemu Xavier, saat itu sofia secara gamblang meneriaki pria rupawan itu pencuri hanya karena Xavier salah membawa tas mereka di airport.


Keyra yang begitu polos dan lemah lembut. Alana yang tegas dan ramah, Nathalia berani bertaruh jika ketiga wanita ini adalah wanita luar biasa yang pantas memiliki hati semua pria tampan itu. Bahkan Nathalia merasa begitu kecil, karena pernikahan mereka ini adalah aturan tanpa adanya rasa cinta. Dan tak layak untuk di bagikan pada siapa pun, terlalu menyedihkan!


Lalu sentuhan di tangan Nathalia mengalihkan pandanganya kearah wanita paruh baya dengan kecantikan yang abadi. Nathalia tau, wanita ini adalah wanita yang menangis saat menantapnya tadi di bawah altar.


Angel menyentuh pipi Nathalia, menatap dengan kerinduan yang mendalam. Lalu matanya menatap Lauro. Seperti biasa tanggapan Lauro hanya tersenyum simpul.


"Nathalia" ucap Michel membenarkan.


"Hmm" Angel menghapus air matanya untuk meredam emosi yang merebak bebas dalam dada "maksudku Nathalia"


Nathalia bungkam, ia tak mengerti dengan situasi yang terjadi. Alana datang menyentuh kedua bahu Angel mencoba menenangkan mertuanya.


"Al, bagaimana ini" Angel menyentuh tangan Alana, mencoba mencari pertolongan di sana untuk menenangkan sebuah kefrustasian yang tak berkesudahan.


"Tha, hmm maaf bisa---"


"Bisahkah aku memelukmu" sambar Angel. Dan itu membuat Nathalia mengangguk kikuk.


Nathalia merasa tak pernah mengenal wanita ini. Untuk ukuran manusia yang baru pertama kali berjumpa apakah ini tak terlalu berlebihan. Lalu Elroy yang tak pernah ingin menatapnya.


Sebenarnya ada apa ini.


Kedua pasangan itu kembali berjalan menuju singgasana mereka setelah sesi menyapa para tamu.


"Itu ibu Alana?"


"Elroy" jawab Lauro singkat.


"Apa dia begitu ke setiap orang yang baru ia temui?"


"Hmmm tidak"


"Lalu" Nathalia duduk  dengan di bantu beberpa orang untuk merapikan ekor gaunya.


"Takdir, kita punya jatah masing masing untuk merasakan 'sakit', Anty Angel merasakan sakit karena berhadapan dengan takdir kehilangan seseorang seperti dirimu"


"Maksudnya?"


"Elroy memiliki adik perempuan"


"Mirip aku?"


"Hmm kurasa"


"Kau kenal?"


"Kau berminat menjadi wartawan baby?" Ucap Lauro karena ini adalah topik yang paling ia hindari. Tapi sepertinya gadis ini terlalu ingin tahu.


"Bukan begitu maksudku. Jika dia mirip aku dan kalian semua menganggapku adalah dia kalian salah besar"


"Jelas"


"Aku tidak kembar,  jika dia menganggapku adalah seseorang itu"


"Kau marah?"


"Maksudnya?"


"Ya karna dia menganggapmu adalah seseorang itu, bukan dirimu yang sekarang"


"Benar juga ya, aku harus marahkan?"


Lauro melongo melihat sisi lain dari Nathalia. Gadis ini ternyata terlalu polos dan selalu ia tutupi dengan sikap arogant yang timbul karena gangguan bipolar mungkin masi di tingkat defresif. Menjalani kuliah umum membuat Lauro sedikit banyak mempelajari setiap penyakit itu.


"Selama kau masih bernafas, cobalah untuk berjalan dengan baik. Jangan pernah berfikir untuk menghentikan kehidupanmu, hanya karena takdir baik tak berpihak padamu"


Kalimat demi kalimat Lauro membuat Nathalia terdiam, ia bukan gadis bodoh yang tak mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Jika saja" Lauro mengambil tangan Nathalia untuk memperlihatkan bekas jaitan di sana "kau tak tertolong saat itu, mungkin Mama Maria akan menjadi seperti Anty Angel. Karena kau terlalu Egois meninggalkannya"


Nathalia bungkam bahkan untuk melawan perkataanya Lauro ia tak tahu harus memulai dari mana.


"Pasti akan ada yang tersakiti atas kepergian seseorang"


Benar! Tak banyak orang yang tau posisiku saat ini!.batin Nathalia


"Cintai dirimu, melangkahlah kedepan, karena hidupmu bukanlah kesalahan"


TBC


ulu2... gimana ini udh ada yng bisa nebak 🤣 kemaren yang nebak kembar mana suaranya 🤣 ay mls sih nulis yang di fikirkan orang lain 🤣🤣🤣🤣


cini cimlie dulu di potoin ama bebeb