
Jangan pernah merasa puas atas sebuah pencapaian apa lagi merasa 'tinggi'. Karena semua itu hanya akan membuat mu jatuh ke dasar yang paling hina.
Mungkin Nathalia sekarang paham akan kalimat itu, Rich bukanlah pengusaha abal abal. Ia termasuk salah satu pengusaha yang cukup di perhitungkan di spain.
Lalu Axelin adalah pewaris tahtah Leonidas dan itu pernah membuat Nathalia menjadi seperti putri dalam dongeng.
Melihat mobil mewah yang sedang ia naiki saat ini membuat Nathalia harus bersusah payah menelan salivanya yang terasa sekeras batu.
Nathalia berani bertaruh bahwa hanya dengan harga interior mobil ini mampu membeli mobil satu lagi dengan jenis yang sama.
Sekarang mobil mewah ini sedang berjalan, dan ia merasa sedang berada di kamar. Terlalu nyaman untuk mengambarkan suasana sebuah mobil yang sedang melaju.
Lihat saja seluruh kabin menyandang gaya luxury, dari mulai dua kursi yang di ubah dengan bahan terbaik. Ada pembatas kaca hitam antara supir dan mereka. Lalu sebuah LED TV yang sedang menyala menampilkan sebuah film perang kesukaan Lauro.
Magice window yang mengontrol cahaya matahari, menambah kenyamanan dalam kabin. Dan semuanya membuat Nathalia penasaran.
Pria yang duduk di sampingnya hanya diam menikmati sesuatu yang mungkin biasa ia dapatkan.
"Kenapa sayang?" Tanya Lauro yang mulai terganggu dengan tingkah Nathalia yang sedari tadi tak bisa tenang.
"Mobil daddy terasa sangat mewah ketimbang milik papa" tutur Nathalia, Rich memiliki mobil dengan jenis yang sama tapi rasanya kenapa ini begitu berbeda.
"Ini mobilku sayang"
"Ha..." mungkin Ekspresi ini trlalu berlebihan dan Nathalia menyadari itu.
"Kenapa?"
"Bukankah kau?"
"Miskin?" Tebak Lauro dengan terkekeh geli
"Bukan, bukan itu maksudku" bantah Nathalia cepat,tak mustahil bagi seorang Lauro memiliki mobil ini karena pekerjaanya dan ia berada di keturunan mana sudah menjadi modal utama itu bukanlah hal yang sulit buatnya.
"Aku memang tak terlalu menyukai mobil, hanya saja mobil itu kebutuhan bukan keinginan"
Nathalia mengangguk paham
Tapi sepertinya ini terlalu berlebihan L.
Mobil berhenti, dan itu terasa saat tak lagi ada getaran bunyi mesin. Lauro menekan panel control di tengah untuk menurunkan LED TV dan menurunkan kaca hitam pembatas antara driver dan penumpang, agar ia bisa terhubung dengan pengemudi.
"Ada apa?"
"Sepertinya ada kecelakaan di depan"
Lauro secepatnya turun dari mobil tapi belum beberapa detik berlalu ia kembali lagi untuk menemui Nathalia.
"Jangan turun, aku hanya sebentar saja" ucap Lauro sembari menentang tas hitam dengan menyentuh pipi Nathalia, lembut
Nathalia merasakan sedikit getaran di tanganya, ia tak sanggup bila sekali lagi berhadapan dengan sebuah kecelakaan. Tapi rasa penasaranyan mendorong reaksi yang di timbulkan oleh traumanya.
Nathalia turun lalu melihat orang orang berkerumun membentuk satu lingkaran untuk melihat satu objek.
Bersyukur tak ada satu darah pun di sana.
Karena mungkin saat ini pria ini sedang mengalami luka dalam.
Nathalia berusaha sekuat tenaga menghentikan tanganya yang bergetar hebat dengan terus melihat Lauro yang sekarang sudah membuka tas hitamya. Bahkan tak jarang Nathalia memukul tanganya sebagai peringatan untuk segera berhenti.
"Kau baik-baik saja tuan?" Tanya Lauro
bersikap tenang.
"Anda tau anda berada dimana tuan?"
"Bagian mana yang sakit tuan?" Lauro bertanya terus menerus untuk terus membuat otak pasien bekerja agar tak hilang kontrol, seraya membuka tas hitam yang di bawanya.
"Da.....dada"
Lauro mulai memeriksa dada pasien dengan stestoskop.
"Tesion pneumothorax" ucap Lauro lirih lalu beralih menatap orang yang berdiri mengelilingi mereka. Lalu matanya menatap Nathalia yang berdiri tak jauh darinya.
"Kapan ambulans akan datang?" Ucap Lauro seraya memberi isyarat mata pada Nathalia untuk pergi dari sana.
"Sekitar 10 menit lagi"
Lauro menghela nafas kasar, meminta orang orang bergeser untuk tak menghalangi cahaya matahari. Memotong baju pria yang sekarang sesak nafas dan wajah yang mulai pucat.
Membersihkan area dada, lalu menusuknyaa dengan jarum besar khusus untuk menangani pasien torakosentesis. Hampir seluruh orang disana tercengang dengan tindakan Lauro.
Menit menit berlalu setelah serah terima pasien, Lauro melangkah mendekati Nathalia lalu menarik gadis itu dalam pelukanya.
"Tenanglah, aku disini" ucap Lauro menenangkan dengan terus mengusap rambut panjang Nathalia.
"Kau membunuhnya?" Tanya Nathalia pelan dengan kondisi tubuh yang berangsur membaik.
Lauro melepaskan pelukanya dan menatap Nathalia dengan tatapan gemas.
"Kau menusuk dadanya seperti itu? Dia bisa mati L"
"Itu tindakan medis sayang, aku hanya mengambil udara yang memenuhi dadanya" jelas Lauro dalam bahasa yang paling simpel
"Benarkah"
"Iya" ucap lauro menuntun Nathalia untuk kembali ke mobil.
Waktu berlalu hingga perjalan panjang mereka terhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berdesain eropa klasik.
Deru angin Laut menyambut pendengaran Nathalia.
Ternyata rumah itu berdiri di samping Laut biru. Saat Nathalia berjalan ke arah belakang rumah, maka pemandangan Laut luas mehias matanya.
"Selamat datang di kehidupan masa kecilku"
Ucap lauro yang memeluk Nathalia dari belakang dengan menatap laut yang sama.
"Kau tinggal di sini?"
"Iya"
"Bersama mommy and daddy?"
"No, aku tinggal bersama pengasuhku"
"Lalu daddy and mommy?"
"Daddy terlalu sibuk dengan rutinitas rumah sakit dan wanita itu tak ingin aku, karena baginya kehadiranku sama saja menurunkan kecantikanya"
"Mommy sella--"
"Bukan, mommy bukan ibu kandungku"
Mendapati tatapan penuh iba dari Nathalia membuat hati Lauro terluka. Lalu ia pergi meninggalkan Nathalia tanpa kata.
"Maaf" ucap Nathalia dengan rasa bersalah
Tapi beberapa detik menit kemudian saat Nathalia hendak berbalik menikmati Lautan, suara motor mendekat mengambil alih perhatianya.
"Kepantai?" Tanya Lauro yang menatap Nathalia dengan kedua tangan menyilang di tangki motor.
Nathalia membeku, ia tak tahu harus bahagia atau pun sedih. Apakah benar tak perlu mengurusi masa lalu? Baru saja ia tahu kenyataan bahwa masa kecil Lauro tak seindah bayanganya. sekarang ia di tawarkan kebahagian dari si pria si empunya masalah.
"Ayooo" ucap Lauro kembali meyalakan motornya.
Nathalia duduk di atas motor dan memeluk Lauro dari belakang.
"Maaf"
"Its oke baby, lambat atau cepat kau harus tahu siapa diriku"
Mereka menungangi kuda besi mengitar jalan di samping laut lepas. Pepohonan bakau tertata rapi di sepanjang sisi Laut.
Pohon kelapa juga menyajikan hal yang sama, ini begitu indah bahkan terlalu indah dari pada menikmati keindahan negara lain.
Pada dasarnya bahagia itu kita yang ciptakan dengan orang yang kita cintai maka hal sederhana akan berubah menjadi istimewa.
Langit mulai gelap dengan matahari telah masuk ke peraduanya. Angin dingin mulai mengambil peran.
Lalu nathalia menegakan tubuhnya dengan motor yang masi melaju, menaikan kedua tanganya membiarkan angin menerpa seluruh tubuh dan rambutnya. Terasa damai dan nyaman
Izinkan aku membahagiakanya...
TBC
Karena pak su lagi dinas keluar kota jdi gpplah begadang 😂😂😂😂