
"Daddy, I love u" ucap Aurora kecil sebelum ia berlari ke arah taman Mansion untuk menghampiri Hana.
"Jangan lari-lari, baby" Lauro menggeleng melihat tingkah putrinya yang kini sudah memasuki usia lima tahun, sembari menatap hasil karya Aurora di kukunya.
Jari jemari Lauro yang seharusnya tampak gagah ini, sekarang berubah menjadi sangat imut dan manja pasca Aurora mengoles cat kuku berwarna pink di kuku ayahnya.
Lalu teko dan cangkir mainan di atas meja menjadi saksi, bahwa tadi Lauro telah meminum cairan tak kasat mata dari putrinya.
"Kau terlalu memanjakanya, L" suara lembut berasal dari belakangnya mengusik lamunan Lauro, hingga pria tampan itu menoleh mengikuti pergerakan istrinya yang berjalan mendekat.
"Aku hanya ingin dia menikmati masa kecilnya dengan bahagia"
"Tapi, tidak seperti ini" Nathalia menuntun tangan Lauro untuk ia letakan di atas pahanya, lalu mengambil kapas dan cairan pembersih cat kuku, untuk mulai membersihkan kuku-kuku manja itu.
"Ini bisa ku bersihkan, Tapi kenangan masa kecilnya tak bisa ku ulang lagi" Lauro tersenyum lalu melihat putrinya yang sedang bermain boneka dengan Hana.
"Aku hanya tak ingin dia merasakan apa yang aku rasakan" tutur Lauro berikutnya, cukup dia dan hanya dia yang boleh merasakan pedihnya kehidupan masa kecil.
Nathalia menghela nafas pelan, perbedaan cara mendidik anak menjadi konflik rumah tangga mereka saat ini. Tapi, Nathalia sadar bahwa apa pun yang Lauro katakan pasti benar adanya.
"Jadi, setelah nanti kau kerumah sakit, butuh waktu lama untuk kau kembali? Begitu?" Ucap Nathalia mencoba menganti topik, dan membahas tentang ucapan Lauro tadi malam yang meminta untuk mengantarkan sebagian pakaiannya kerumah sakit.
"Begitulah" Lauro terus memperhatikan putrinya.
"Apa tak bisa setiap minggu kau datang mengunjungi kami?"
"Aku bukan tak mau, masalahnya virus yang menyerang dunia kali ini begitu sulit untuk di kenali"
"Lalu?"
"Saat aku sudah selesai, aku akan selalu menghubungimu"
"Kau tetap tak bisa pulang?" Rengek Nathalia.
"Semoga saja semua ini cepat berlalu dan secepatnya kita bisa hidup tanpa di penjara seperti ini"
Nathalia menunduk, ini sama saja melepaskan suaminya kemedan perang, mereka berperang dengan virus yang mematikan. Yang tak ada jaminan bahwa mereka akan bisa selamat.
"Aku tak punya pilihan lain, aku bisa saja pulang tapi aku tak jamin bahwa aku tidak terjangkit, karena penyakit ini menular bahkan tanpa gejala"
"Kau bisa?" Tanya Lauro kembali memastikan.
"Ku coba"
"Jangan selalu memarahin, Aurora. Dia tidak nakal. Hanya saja dia terlalu aktif untuk ukuran anak perempuan"
"Aku hanya takut karena terlalu memanjakannya akan membuatnya Egois"
"Memiliki anak perempuan itu sama seperti kita memiliki sebuah telur, jika di biarkan maka diakan lepas tapi jika kita genggam terlalu erat dia juga akan pecah"
"Aurora, jangan kasar pada temanmu!" teriakan Nathalia mengudara saat Aurora menepis tangan Hana begitu kasar.
"Aku heran kenapa dia begitu kasar" tanya Nathalia begitu frustasi.
"Mungkin keturunan dari tetangga" sindir Lauro yang sudah tergelak "mana mungkin ia keturunanmu, mommynya baik seperti ini" ucapan Lauro langsung mendapat tatapan tajam dari Nathalia, tak lupa bukan Nathalia adalah wanita paling bar-bar di muka bumi ini.
"Sorry"
Nathalia langsung berdiri saat Aurora mendorong Hana hingga gadis kecil berusia sekitar 6 tahun itu hampir terjatuh, dan itu membuat Lauro langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa sayang"
"Ini mainanku" kata Aurora sedangkan, Hana hanya bisa menunduk dan berjalan mundur untuk menjauh.
Lauro menyentuh pipi Hana dengan lembut, mengambil mainan di tangan Aurora dan memberikannya pada Hana.
"Ini bukan mainanmu, ini mainan Hana, sayang"
"Tapi aku suka, lagian dia tak bisa berbicara. Dia tak pantas punya mainan bagus!"
"Aurora!" Bentak Nathalia.
"Apa Daddy mengajarkanmu seperti ini? Aurora Morales?"
Aurora menunduk, karena jika Lauro sudah menyebut nama lengkapnya. Itu artinya terselip amarah di sana.
"Katakan" tegas Lauro lagi.
"Aku hanya ingin mainan itu" ucap putrinya dengan suara lemah "aku hanya mempertahankan apa yang sudah aku miliki"
"Dengar! Kau hanya boleh mempertahankan milikimu! Bukan mengambil hak orang lain dan menjadikanya milik mu!"
"Maaf"
"Lalu mengatakan kekurangan orang lain itu tak juga bagus, ayo minta maaf"
"Tapi, Daddy ..."
"Apa kau ingin Tuhan, marah dan mengutukmu?" Ancam Lauro.
"Hana, aku minta maaf"
Hana yang tadi sedikit sedih, perlahan mulai menujukan senyumnya.
"Hana sayang, Daddy datang" suara bariton dari utara mansion mengudara, hingga membuat Hana berlari dan memeluk seseorang yang sekarang telah ia anggap sebagai ayahnya.
Zayn
"Apa kau baik-baik saja sayang?" Tanya Zayn pada putrinya.
"Aurora memu--" ucapan Nathalia terhenti saat Aurora memeluk kakinya pertanda untuk menghentikan ucapan aduan itu.
"Aurora kenapa?" Tanya Zayn dengan menuntun Hana untuk mendekat kearah Lauro, Nathalia dan Aurora.
"Aku nakal, uncel" jawab jujur Aurora.
Lalu tarikan tangan Hana mengalihkan tatapan Zayn. Hana memberikan isyarat yang mengatakan bahwa ia senang disini karena Aurora baik.
"Benarkah?" Zayn mengangguk dan tersenyum melihat Hana.
"Hana benar uncel, aku jahat. Tadi aku mendorongnya, dan mengatakan hal jahat padanya." °Aurora berjalan kedepan dan menyerahkan tangannya untuk mendapatkan hukuman karena kenakalannya.
Tapi yang di lakukan Zayn adalah,
Pria tampan itu bertekuk lutut di depan Aurora untuk menyamakan tinggi keduanya lalu mecium kedua tangan mungil itu.
"Ini hukuman yang pantas untuk gadis kecil nakal sepertimu, Hana mengatakan kau sangat baik padanya"
"Benarkah?"
"Hana, aku menyayangimu" Aurora berhambur memeluk tubuh Hana, dan membuat gadis berambut hitam itu sedikit bingung. Pasalnya ia tak begitu paham dengan bahasa yang di gunakan Aurora.
Hingga Zayn menjelaskan maksud Aurora dalam bahasa yang gadis itu mengerti.
"Terimakasih sudah menjaga putriku" ucap Zayn pada Lauro.
"Kau tetap ingin menjaganya?" Tanya Lauro lalu menatap gadis kecil malang di sebelah Zayn.
"Untuk beberapa saat ia akan menjadi putriku, jika ia telah menemukan hidupnya yang asli aku akan mengembalikannya"
____________________
Hari-hari berlalu, dan kerinduan Aurora pada ayahnya semakin bertambah setiap hari hingga membuat Nathalia bingung.
Pria yang berprofesi sebagai Dokter itu jarang sekali mengabari keadaanya. Hingga tak ada cara lain dari Nathalia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Aurora kecil.
Tanda basah di pipi Aurora sebagai bukti bahwa ia begitu merindukan Lauro, gadis itu menangis sebelum akhirnya terlelap di samping Nathalia.
Nathalia mengusap rambut halus putrinya yang sedang terlelap, lalu dering ponsel di atas nakas membuyarkan lamunannya, Nathalia menekan remot di atas nakas untuk mengidupkan cahaya kamar karena ini sudah memasuki pertengah dini hari.
Di layar ponsel terpampang nama dan foto suaminya.
Malam sayang, lambaian tangan Lauro dan senyumanya terpampang jelas di layar ponsel.
"Kau, baru selesai?"
Oh iya, aku baru saja membersihkan diri. Bagaimana kabarmu? Maaf karena sudah dua hari tak menghubungimu, Lauro mengusap dagunya. Untuk membuang rasa kantuk karena terlihat jelas bahwa pria itu sangat kekelahan saat ini.
"Harusnya kau tanyakan tentang Aurora bukan aku"
Memangnya kau tak merindukanku?
"L" tegas Nathalia serius.
Iya bagaimana dia?
"Dia terus menangis, berharap--"
"Aku baik-baik saja Daddy" sela suara Aurora yang ternyata telah terjaga dan kini mendekati Nathalia.
Itu membuat Nathalia memutar bola matanya jengah. Ternyata buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Gadis kecil ini berkata dia tak apa-apa padahal dari tadi dia menangis dalam diam karena berharap Lauro pulang.
Bahkan tak jarang Nathalia menemukan Aurora akan duduk termenung di samping jendela menghadap gerbang mansion, berharap di ujung jalan sana Lauro dengan kuda besinya memasuki perkarangan Mansion.
"Apa kau merindukan Daddy, girl?"
Dan pada dasarnya Aurora hanyalah gadis kecil biasa, yang mengangguk lalu menunduk dan berakhir untuk menyembunyikan tangisnya dalam pelukan Nathalia.
"Oh putriku" ucap Nathalia lalu mencium puncak kepala Aurora.
"Daddy, sedang menjalani tugas menjadi superhero yang menjaga dunia sayang" ucap Nathalia di setiap kecupanya.
"Aku hanya ingin Daddy bersamaku, mom"
Baby, Daddy juga sangat merindukanmu. Doakan Daddy baik-baik disini ya.
"Daddy kapan pulang?" Tanya Aurora.
Secepatnya
"Kapan itu? Ini sudah 3 minggukan mommy?" tanya Aurora yang di balas anggukan oleh Nathalia.
Daddy juga berharap bisa secepatnya menemuimu, baby.
"Aku sayang Daddy"
Tentunya sayang Daddy jauh di atasmu, goda Lauro.
"No!!! rasa sayangkulah yang lebih tinggi" ujar Aurora kecil tak mau kalah.
"Kenapa dengan hidungmu??" Tanya Nathalia saat melihat lecet merah di pangkal batang hidung Lauro. dan mengehentika perdebatan anak dan suaminya.
Oh ini.. karena terlalu lama memakai masker medis.
"Kau bekerja menyalamatkan orang lain, tapi kau sendiri mengorbankan kesehatanmu"
Ini sudah pilihanku, sayang
"Semoga Tuhan memberkatimu"
Semoga Tuhan selalu menjaga kita semua. Ucap Lauro sembari memberikan kecupan onlainya. Berharap rasa rindu yang mengebu dalam dada dapat terobati meski hanya dalam video call pendek ini
Pada dasarnya Seorang Dokter adalah pahlawan tanpa tanda Jasa. Bahkan saat ini ia mengorbankan dirinya dan keluarganya demi menjaga kita semua. Maka tetaplah di rumah untuk memutus tali penyebaran Virus.
Sudahkah kalian melakukanya? Kalau begitu selamat kau telah resmi menjadi gadis Lauro morales. Dan semoga di kehidupan nyata kalian menemukan pria sesempurna Dia.
........
hahaha maap jika ay bahas topik momok ini. di awal chapter dlu ay menemukan beberapa komen bahwa pembaca ay ada yang berprofesi sebagai perawat.
di tengah pademi ini ay mau ucapin makasih buat kalian yang hebat 😘😘😘😘 semoga sehat selalu.
kalian luar biasa sayang.
ada yang masih mau Extrapart 04?
#dirumahaja
ohya buat nemenin hari-hari kamu
ay keluarin story ringan nih yang bikin kamu ngerasa awet muda wkwkw
Ragaku
Jonathan
i hate bastrad
ini 3 novel ay
caranya Klik foto ay masuk kebagian karya disana kalain bisa nemuin ke 3 abang2 ini
Doain ay bisa nyelesain semuanyaa 😘😘😘😘
mau nantangin diri sndiri biar g hiatus lama2
NB: fotonya ay hapus dulu, btr kalo udh lolos ay review ulang make foto ya centah